Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
She's Weird #2



Akira rasanya enggan untuk bangun, cuaca pagi yang sangat dingin membuatnya ingin terus menggelung dirinya didalam selimut.


Namun, tubuhnya menolak keinginannya.


Tiba - tiba ia merasa ada sesuatu yang akan keluar dari tenggorokannya sontak ia berlari ke kamar mandi.


Namun, saat ia membuka mulutnya, tak ada apapun yang keluar.


"Ughh ngerjain aja sih" gerutunya.


Ia segera berbalik untuk kembali tidur, baru mau melangkah kini rasa ingin muntah kembali melanda, dengan terpaksa ia membuka mulutnya lagi, tapi nihil tak ada apapun yang keluar.


Ia terus membuka mulutnya dengan suara ala orang muntah berkali - kali.


"Ih nyebelin, masih ngantuk malah gini" ucapnya kesal.


Farid yang mendengar suara bising jadi terbangun dan segera menghampiri Akira.


"Kenapa sih, sakit?" tanyanya cuek.


Akira menengok ke belakang dengan suaminya berada diambang pintu kamar mandi. Anehnya saat melihat wajah suaminya ia merasa baikan.


"Nggak papa, kayanya gara - gara semalem gak jadi makan" sahutnya sekenanya.


"Makannya jangan membangkang sama suami lihat kan?"


"Iya udah sih, biasa aja lagian udah gak apa - apa"


"Mau makan?"


"Boleh?"


"Pakai nanya lagi, memang sejak kapan aku larang kamu makan"


"Yaudah, aku mau mie rebus rasa ayam bawang pakai boncabe biar perutnya anget" pekiknya girang.


"Eh makanan apa itu, nggak boleh biar nanti pembantu didapur buatin bubur"


"Yahh gak asik, aku maunya itu" rajuk Akira dengan bibir mengerucut.


"Tidak boleh! Nurut aja apa susahnya sih aku hukum nih"


"Tsk! Ngancem teroooss" ujar Akira dengan nada kesal dan mengejek jadi satu.


"Yaudah, asalkan bubur ayam" sambung Akira.


Akira memakan buburnya dengan sangat lahap sepertinya ia benar - benar lapar, bahkan ia sampai menambah porsinya.


Farid sampai menggeleng tak percaya.


"Emm Farid, aku mau ngomong boleh?"


"Itu barusan kamu ngomong, satu lagi jangan panggil nama, gak sopan sama suami"


"Ishh, gak mau alay geli tau gak panggil mas mas"


"Mau dihukum lagi?"


"Iih jangan baru juga mau izin"


"Izin ngapain?"


"Emm, boleh gak aku main sama temen - temen" tanya Akira pelan dan hati -hati.


Menunggu jawaban Farid, yang saat ini tampak berpikir.


"Jangan lah" sahutnya datar.


"Yaah kok gitu, udah lama gak ketemu mereka tega kamu" ucap Akira kecewa.


"Bolehin dong, ya aku janji bakal nurut apa aja perintah kamu selama tiga hari gimana?"


bujuk Akira.


Farid menimbang - nimbang sampai ia mulai membuka suara.


"Beneran? Apa aja?"


Akira mengangguk mantap rasa rindunya main dengan sahabat - sahabatnya membuatnya menghalalkan segala cara.


"Oke, tapi mereka yang kesini bukan kamu yang kesana"


Akira mengernyit heran.


Ini kayaknya aku rugi banyak deh, mana udah nawarin aku nurut apa mau dia lagi, sial banget rutuknya dalam hati.


"Kenapa harus disini?"


" Ya biar bisa aku awasin.Mau gak, gak mau juga gak rugi kok saya"


"Iya yaudah ntar aku bilang sama mereka"


Farid tersenyum simpul mendengar ucapan Akira. Sungguh dimatanya wanita itu terlihat sangat polos dan mudah dibodohi. Tapi itulah yang membuat gemas.


Akira memberi tahu tentang kebisaannya dengan syarat mereka berkumpul dikediaman suaminya, tanpa disangka mereka setuju apalagi Viara, dia sangat antusias dan penasaran dengan isi rumah yang pernah ia lihat dari luar saat menjemput Akira.


Dan disinilah mereka para geng barbar berkumpul, diruang tengah rumah itu. Akira memilih ruang tengah karna dekat dengan pintu kaca samping yang jika digeser akan menampilkan taman.


"Oh My God, Akira! Lucky banget sih lo, udah nikah sama orang yang lo suka, kaya pula" cicit Zia kagum.


Zia mah gak tau aja gimana susahnya Akira bernafas disini.


"Kampret si Akira, cariin satu dong buat gue yang kaya suami lo" ucap Risa asal.


"Tuh, suami lo kemana Ra?" tanya Zia.


"Ada, diruang kerja"


"Hah? Weekend gini dirumah masih kerja?" tanya Zia tak percaya.


Akira mengangguk sebagai jawaban.


"Parah tuh orang pantas cepet kaya, gue kira ngepet hahaa" gelak Zia tertawa kencang diikuti kikikan dari yang lainnya.


"Udah - udah kalian mau makan puding keramat gue gak?" tanya Akira menyudahi decak kagum dan ngawur para sahabatnya.


"Aaa mau Raa" rengek Tina manja.


Akira segera membawakan beberapa camilan juga puding susu kelapa dipadu rasa stroberi.


"Okey, jadi punya gosip terhangat apa kalian?" tanya Akira antusias.


Ya diantara yang lainnya Akira paling semangat soal mendengar gosip dan menggosip, tapi giliran temannya mencibir orang yang digosipkan ia malah dengan cuek membela si korban dengan dugaan - dugaan positif.


"Oh ya hampir aja lupa, tadi gue bawa kesukaan lo, pempek legend mak wati" ucap Risa semangat.


"Dih tumben nih anak kesambet apa lo Sa?" ledek Viara.


"Woaa thankyou tau aja lagi kangen pempek mak wati" ucap Akira girang.


"Nah masih doyan lo, gue kira udah nggak, kan jadi istri konglomerat muda" celetuk Risa.


"Suka lah, yang konglomerat itu dia bukan gue" sahut Akira sambil menuangkan cuka pempek.


Saat cuka pempek itu meluncur ke dalam mangkok tiba - tiba perutnya bergejolak.


Tenggorokannya seperti akan mengeluarkan sesuatu. Akira dengan cekatan mendorong mangkok itu menjauh.


"Sa, lo ngerjain gue ya kok bau gini sih cukanya basi nih!" tuduh Akira.


"Ya nggak lah Ra, mana ada gue ngerjain lo, baunya enak kok kaya biasa" ucap Risa sesaat setelah mencium bau cuka.


"Iya biasa aja kok gak bau" celetuk Tina yang ikut mencium bau cuka.


"Konslet hidung lo kali Ra, belum ngupil jadi gak bisa cium bau dengan benar" seloroh Viara. Sontak mereka tertawa terbahak - bahak.


"Bi Indah! Sini deh cium cukanya bau nggak? Kayanya Akira dikerjain sama mereka"


"Saya tidak mencium bau apapun Nona, bau nya sama seperti cuka pada umumnya" jawab Indah.


"Masa sih, tapi bau aku gak kuat sama baunya"


"Kaya orang hamil aja deh, sensitif sama bau - bauan" celetuk Zia ngawur.


"Jangan - jangan lo hamil Ra, asik keponakan baru" sahut Risa makin ngawur.


"Apaan sih nggak lah, cuma gini aja paling emang lagi sensitif aja" elak Akira.


Lama mereka mengobrol dan bercanda sampai waktu sore mereka mulai pamit pulang ke rumah masing - masing.


Akira kembali ke kamarnya dengan senyum cerah rasanya senang bisa bertemu mereka.


Akira tiba - tiba meredupkan senyumnya teringat ucapan Zia, hamil. Jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan itu. Ia belum siap bagaimana jika suaminya menolak, secara ia tak mencintai Akira.


Masa sih? Kan cuma dua kali lagipula... Kalau dipikir aku juga gak pakai pil kontrasepsi sih, tapi nggak deh nggak mungkin ! tolak Akira dalam hati.


Akira mulai membuka pintu kamar dengan mimik wajah seperti orang melamun.


"Sudah?" celetuk Farid yang sedang bersandar diranjang dengan ponsel di tangannya.


"Hah? Eung- udah" jawab Akira kikuk.


"Kenapa? Kok gitu jawabnya?"


"Nggak apa - apa, yaudah aku mau mandi"


"Kamu ngode?"


"Ngode apaan?"


"Biar aku temenin mandi" seloroh Farid.


"Yeeuu itu mah mau kamu aja!" sahut Akira dan berlalu ke kamar mandi, Farid hanya tersenyum melihat betapa gemasnya Akira tadi pipinya memerah dulu baru menjawab.


Ia yakin gadis itu berpikir dulu untuk membalas ucapannya.


"Heh tunggu dulu gadis nakal!" teriak Farid kencang.


"Apa lagi sih" sahut Akira kesal.


"Jangan lupa dengan janjimu"


Akira mengatupkan bibirnya dan memejamkan matanya kencang - kencang.


Sial! Ia lupa sudah berjanji semacam itu.


"Ya gampang lah itu sekarang, aku mau mandi ya bye!" ucap Akira berlari kencang.


Lagi - lagi Farid tersenyum gemas melihat tingkah Akira yang berlari ke kamar mandi, seakan - akan mau kabur dari terkaman hewan buas.


Aku ingatkan kalean untuk vote, like and comment


Itu jadi pacuan author untuk up,up, and up.


Terimakasih yang telah setia dengan karya author dan mendukung dengan vote,like, and comment kalian.