Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 14



Aku mau minta maaf nih seandainya gak sesuai ekspektasi kalian dimana season dua adalah musim dimana Akira bahagia selamanya.


Tapi gak mungkin alurnya flat aja kan?


Dan aku buat misteri di season pertama yang aku gantungin kan? Masa gak mau aku ungkapin, malah aneh.


Sebenarnya aku lebih berasa aneh, sebenarnya cerita ini udah gak buat aku minat lagi gara² kekeliruan aku pas up waktu itu di mana part Akira hamil itu cepet banget gak sesuai yang udah aku rancang.


Dari situ aku udah kehilangan namanya chemistry antar tokoh.


Jadi aku rubah lagi kaan disitu aku nyesel banget mau rombak tapi udah terlanjur di baca banyak orang 😌


Bersyukur lah aku di tengah kemumetan aku. masih dibaca ini story...


Nah, aku buat Suami Kualitas Premium tu buat pelarian aku buat cerita lagi dimana jangan sampe aku salah episode nuang idenya.


Mampir ya mampir............


Kasih pendapat gimana yang satu itu, okeee?


Akhirnya dengan izin suaminya datanglah Akira ke pesta pernikahan Diana, kakak Deanno, tertulis nama kedua mempelai di depan pintu masuk gedung pernikahan.


Tentu, tanpa Farid.


Suaminya malas melihat Deanno katanya.


Cih, dasar aneh.


Ia segera memasukinya, sambil matanya mencari keberadaan sahabatnya yang entah kenapa menjauhinya.


Beberapa kali berdecak kagum melihat dekorasi ruangan yang serba putih dengan bunga mawar kuning dan warna lampu juga kuning.


Tapi sebelumnya ia harus menemui kedua mempelai dulu bukan? Dengan langkah kecil karena gaunnya menyusahkannya ia mendekat ke pelaminan.


"Selamat mbak, wah lama gak ketemu udah nikah aja." sapanya ramah menjabat tangan wanita bertubuh mungil di depannya yang berbalut gaun pengantin warna putih gading.


"Iya dong, aku harus susul kamu, masa kamu udah nikah aku belum, gak lucu ah keduluan anak kecil." canda wanita itu, karena umur mereka memang terpaut jauh, sekitar tujuh tahun, karier yang membuat wanita itu tak juga memutuskan menikah.


"Oya, Dean mana?" seketika kepala Diana menengok kesana kemari mencari adiknya.


"Tadi disana." sambil menunjukkan tempat dimana ada Alvin yang Akira ketahui teman Deanno.


"Yaudah mbak, aku cari anak itu dulu,di belakang aku udah banyak tamu ngantri mau salaman hehe." putus Akira meninggalkan pelaminan.


Ragu-ragu ia menghampiri Alvin untuk bertanya, ia ragu karena mereka tidak saling kenal dekat, hanya saling tau saja.


"Mas Al, tau Dean gak?"


"Eh, Akira ya?"


Akira mengangguk dan tersenyum ramah.


"Anno tadi ke toilet katanya, tunggu aja di sini nanti juga balik."


Akira menimbang saran Alvin dan berakhir duduk di meja yang sama dengan Alvin.


Ia menarik salah satu kursi yang di tata melingkari meja bundar berlapiskan kain putih.


"Kamu lama banget gak keliatan bareng Anno." sebenarnya dari tadi Akira ingin tertawa mendengar panggilan akrab Alvin ke Dean, kenapa harus Anno gak Anna sekalian.


Namun, sedetik kemudian dia ingat, Anna kan sama saja dengan nama Diana. Ia mengulum bibir menahan tawa. Akira ini memang konyol!


"Hey Akira aku nanya kamu loh." tegur Alvin.


Astaga, Akira lupa tadi ia di tanya oleh Alvin.


"Oh, anu mas, soalnya sibuk sama karier masing-masing. Tapi tetep masih suka chatting sih."


"Dan sibuk sama suami baru?" tanya Alvin meledek.


"Ya mungkin juga."


"Maaf ya, aku ajak kamu ngobrol abisnya di tinggal Anno bosen ngobrol berdua sama Tio disini." kata lelaki itu basa-basi menunjuk sebelah kirinya yang terdapat lelaki tinggi, namun kurus dan berkulit kecoklatan.


"Gak masalah kak. Kami memang gak pernah ketemu selama dua tahunan terus ketemu pas dia lamar pekerjaan ke perusahaan suami aku. Bahkan pas aku nikah dia gak datang."


"Kamu yang gak undang dia?"


"Undang kok, tapi gak tau tuh orang gak dateng."


"Ya cowok mana yang mau dateng ke nikahan cewek yang dia suka?"


sahut Alvin santai. Pria berkemeja putih itu bahkan tidak menyadari ekspresi kebingungan Akira.


'Liat artikel pernikahan kamu aja dia nangis, apalagi datengin' batinnya mengolok sahabatnya yang nangis gara-gara cewek.


Alvin yang sadar salah bicara saat Tio mencubit pahanya jadi ikutan bingung juga.


"Itu Anno!" tunjuk lelaki itu ke arah belakang Akira.


'Untung tuh bocah muncul.' batin Alvin merasa lega.


"Yan! Di cari nih sama sobat cewek satu-satunya punya lo." celetuk Tio yang sejak tadi diam.


Deanno yang baru sampai di depan meja, hampir pergi kalau saja Alvin tidak menahan tangannya dan memberi isyarat melalui mata untuk duduk.


Akira hanya mendongak dari tempat duduknya berada mengamati interaksi kedua lelaki di depannya.


"Apa kabar?" Akira dengan ramah menyapa duluan.


"Baik."


singkat dan datar, Akira jadi sedih.


Merasa tak di anggap teman oleh pria itu.


"Kamu kemana aja beberapa bulan ini? Aku kehilangan kontak kamu."


"Kan minggu lalu kamu lihat sendiri, aku di Bandung." Dean menjawab datar sampai Alvin menegurnya melalui lirikan mata.


Dalam hati Akira merasa sangat tak enak, kenapa Deanno bersikap dingin padanya.


"Eh, Akira? Lama gak ketemu." sapa Mayra ibu Deanno dan Diana. Wanita yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tak lagi muda itu ikut duduk melingkar bersama mereka.


"Eh tante May, apa kabar?"


"Baik.Kamu makin cantik deh, bajunya cantik orangnya cantik pula." sambil memperhatikan Akira yang memakai mermaid dress warna kuning pudar.


"Tante juga, masih cantik aja dari pas terkahir kita ketemu." Mayra memang cantik ia bekerja di kantor catatan sipil dan mempunyai geng sosialita sendiri, meski levelnya tidak setinggi geng sosialita mama mertuanya.


"Udah lama banget loh, kamu juga udah nikah." kata wanita itu mengerucutkan bibirnya dengan wajah sesal.


Akira hanya tersenyum ramah dan santun menanggapi ocehan wanita itu.


"Bilangin tuh Anno, biar buruan nikah, masa kalah sama kamu." selorohnya melirik sang anak yang dari tadi datar-datar saja.


"Ibu apaan sih!"


"Iya kan? Kan kamu cuma mau dengerin apa kata Akira aja dari dulu, yang ibu kamu ibu apa Akira?" Mayra bercanda dengan nada tinggi mengundang tawa semua kecuali anaknya yang murung.


Deanno belum siap menerima kenyataan bbahwa Akira yang telah ia rusak hidupnya masih mampu bersikap baik padanya.


Akira?


Sambil tertawa ia melirik sahabatnya yang enggan berekspresi lebih.


"Tante, boleh aku pinjem Anno dulu?"


"Oh boleh-boleh, yang lama juga gapapa, bujukin tu biar cari cewek, kalau aja kamu belum nikah pasti kamu udah tante jodohin sama Anno." kata Mayra dengan nada dan ekspresi yang sangat menyayangkan pernikahan Akira.


Akira sudah berdiri tapi Deanno masih tetap duduk. "Kak, aku butuh bicara sama kamu." kata Akira berniat mengajak lelaki itu.


Alvin diam-diam menyenggol siku temannya dan berakhir Deanno ikut dengan Akira.


Akira membawa lelaki itu ke samping gedung acara. Mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke air mancur.


"Kak!" sebut Akira, ia berinisiatif memanggilnya dengan kakak, karena sikap Deanno berubah dingin padanya, ia tak bisa sembarangan bicara seperti dulu.


Lelaki itu hanya menengok tanpa menjawab.


"Kamu kenapa kaya gak respect sama aku gitu dari kemaren?"


"Biasa saja." jawabnya singkat sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahannya dan kembali lurus menatap air mancur di depannya.


"Apa, Akira ada salah sama kakak?"


Deanno hanya menatap air mancur tanpa berniat menjawab, hatinya bergemuruh.


'Bahkan sekarang kamu mulai segan sama aku, Akira memang seharusnya kita tidak saling dekat lagi, perasaanku bukan hanya membunuhku tapi juga menghancurkan kamu.' tentu itu hanya bisa di ucapkan Deanno dalam hati.


"Kak? Jawab. Apa kamu marah karena aku seakan lupa sama sahabat sendiri? Aku gak lupa kok kak, cuma emang ada beberapa hal yang buat aku fokus sama hal itu, aku tetep anggap kakak sahabat aku, bahkan kaya kakak aku sendiri, aku gak lupa kebaikan kakak, swear !" celoteh wanita itu panjang lebar sambil menunjukkan dua jarinya.


Wajah imutnya ia tampakkan dengan sangat manis, andai Deanno tak pernah melakukan kesalahan besar itu sekarang sudah pasti tangannya sudah mencubit pipi menggemaskan itu.


"Kamu bukan gadis remaja lagi, tapi wanita bersuami. Itu wajar." jawabnya datar.


"Tapi kamu kaya jauhin aku banget, aku salah apa, kasih tau dong!"


"Gak baik wanita bersuami terlalu lama berdua dengan lelaki lain. Jauhi aku jika kamu mau tetap bahagia." ucap Deanno mengakhiri percakapan mereka meninggalkan Akira sendiri masih dengan kebingungan.


Belum selesai masalah ibu mertuanya yang kejam sekarang Deanno mau sok misterius?


'Ini gak bisa di biarin!'


Ia mengejar lelaki itu dan menarik tangannya kasar.


"Kamu pasti sembunyikan sesuatu kan? Bilang aku salah apa, kenapa kamu gitu banget sama aku, bahkan gak mau sapa aku padahal aku di depan mata kamu. Kamu bahkan gak mau liat aku padahal aku lagi ajak kamu bicara. Kenapa?!"


cecar Akira dengan emosional, suaranya meninggi dan pertanyaannya menuntut.


"Lepas." titah Deanno tanpa mau melihat ke arah Akira.


Akira menggeleng kuat dan tetap mencengkram tangan lelaki itu.


"Kamu harus jelasin semuanya."


"Gak ada yang perlu di jelasin, lepas." ulang lelaki itu dengan suara mendesis.


Namun, Akira semakin menguatkan cengkramannya di tangan lelaki itu.


"Lepas, Akira!"


Deanno membentak dan menghempaskan tangannya membuat wanita itu tersungkur ke belakang.


Deanno meninggalkan Akira yang terjatuh dengan perasaan tak karuan, rasanya ia ingin menolong wanita itu.


Tapi, tidak bisa. Ia sudah tak pantas, meski hanya untuk menolong saja.


Matanya memerah dan memanas menahan air mata dan menahan betapa sakitnya melepaskan, benar-benar melepaskan wanita yang ia cintai entah sejak kapan, sejak wanita itu mengusiknya dengan kebisingannya? atau sejak wanita itu membuatnya merasa nyaman saling berbagi masalah berdua, bersama?


Akira, dulu adalah gadis remaja manis yang sangat percaya diri dan membuat dunianya semakin berwarna, meskipun hanya sering mewarnai harinya dengan chatting.


Tapi, karenanya perasaan luar biasa itu muncul dengan lancangnya.


Keceriaannya mewarnainya dan caranya berkomunikasi, membuat Deanno tertarik dan merasa nyaman di sisi wanita itu.


Melepaskan sesuatu yang bahkan belum sekalipun ia milikki. Ia pernah dengar, Akira suka padanya dulu, sebelum mereka dekat.


Dan itu yang membuatnya menyesal hingga saat ini, kenapa dulu ia tidak menanggapi Akira.


Sedangkan, Akira hanya bisa menatap kepergian Deanno yang terlihat tidak peduli sama sekali dengan mata berkaca-kaca.


Rasanya, ia ingin menangis di campakkan oleh sahabatnya sendiri.


Pertama, Risa menjauhinya dan sekarang Deanno? Entah, apa salahnya?!