
"Aku terpaksa, aku masih marah ya sama kamu!" sewot Akira sembari memberikan kado pernikahan pada Zia.
"Udah dong, kamu kan masih hamil, masa marah-marah terus, mending kita foto berlima-" seketika Tina menutup mulutnya.
"Ups! Sekarang kita cuma berempat ya? Huh, andai saja Risa enggak minggat." sesal Tina.
"Iya sudah, ayo sebelum penjaganya Akira balik lagi, nanti kita susah untuk quality time sama dia juga." peringat Zia.
***
Sedangkan, Farid selesai dengan kesibukannya karena di ajak berbincang dengan beberapa rekan bisnis dan teman yang kebetulan bertemu saat acara pernikahan Zia dan Sergio, ia segera mencari-cari keberadaan istrinya.
"Akira ini, baru saja di lepas sudah hilang bayangannya!" gerutunya sambil matanya terus mencari, Akiranya sudah tak nampak lagi di pelaminan padahal tadi izinnya mau berfoto bersama dengan geng gosipnya.
Bruk!
Tiba-tiba Farid merasa ia menabrak seseorang, sepertinya, matanya terlalu sibuk mencari Akira.
"Maaf, saya tidak sengaja." ujarnya tanpa menatap seseorang yang ia tabrak, Farid tetap mengelilingi seisi ruangan dengan matanya.
"Farid?"
segera, ia menoleh ke arah sumber suara.
"Valen? Kenapa bisa disini?" tanyanya heran, sebab jika di tinjau dari masa lalu, mana mungkin Zia mau mengundang mantan Akira yang adalah sahabatnya sendiri, tidak penting, bukan?
Dan Gio, juga tidak mengenal Valen kan?
"Menemani pacar. Pacarku sepupu mempelai pria." ujarnya santai sembari menoleh ke sampingnya.
Farid mengangguk mengerti, "Perkenalkan, namanya Zahra. Sayang, ini Farid temanku saat sekolah menengah dulu." gadis berambut sebahu itu mengulurkan tangannya.
"Ah, iya aku tau dia atasan Gio, yang sangat terkenal karena sukses di usia muda."
Farid menyambut uluran tangan dari Zahra sebagai sopan santun saja, tapi, "Mas! Kamu aku cari-cari, eh malah kenalan sama cewek cakep disini!" ujar Akira sebal, sembari menepuk bahu sang suami.
"Kamu darimana sih, aku cari sejak tadi juga." keluh Farid.
"Kamu yang kemana aja, capek cari nya." keluh Akira juga. Farid menepuk pelan dahinya, "Astaga, jadi dari tadi kita saling mencari."
"Aku doang lah, yang mencari. Orang kamu disini malah kenalan sama cewek." tuduh Akira.
Farid bersiap menjelaskan tentang Zahra, namun, "Astaga, Akira kamu masih saja pencemburu ya, tidak berubah masih sama seperti dulu, manja,manis dan pencemburu." celetuk Valen dengan wajahnya yang selalu terlihat santai.
"Hah?" kejut Akira mendapati Valen ternyata ada di depannya. Sedangkan, Farid langsung memasang tatapan tajamnya.
***
Seperti biasa, Rayrin akan bangun pagi memasak sarapan dan membersihkan rumah. Ia gadis mandiri, bukan gadis manja. Hanya saja, soal bebersih rumah ia agak kesulitan, perutnya sudah besar sekarang.
Bahkan ia harus mencuci menggunakan tangan, rumah ini hanya rumah untuk bersembunyi tidak ada alat rumah tangga seperti mesin cuci, jika dulu mungkin Rayrin akan memakai jasa laundry, tapi sekarang, ia harus berhemat. Persalinan bayinya sebentar lagi, banyak yang harus di persiapkan juga untuk menyambut kelahiran sang buah hati.
Sisa penghasilannya sebagai seorang model, memang banyak, tapi tentu sudah pernah ia gunakan sebelumnya.
"Hari ini kita makan ikan sayang, supaya anak mommy sehat dan kuat saat lahir nanti." ujarnya lembut dengan tangan mengusap lembut perutnya.
Segera, setelah menyelesaikan makannya, ia melanjutkan pekerjaan lainnya.
"Ah, aku belum menyapu halaman, pasti sudah seperti hutan saja." ucapnya gusar, pasalnya, sudah beberapa hari halaman rumahnya belum di sapu, karena ia malas menunduk sedangkan perutnya saja sudah besar begitu.
Mau tidak mau ia mengambil sapu lidi di belakang dan menuju halaman.
Entah ia sedang bermimpi atau tidak, entah dirinya sedang berhalusinasi atau tidak, pokoknya jika ini mimpi dirinya tidak mau bangun. Sesuatu yang terasa mustahil.
Lelakinya ada di sini, Kris.
Setetes air mata haru jatuh menetes ke pipi.
"Kris." gumamnya.
Kris yang merasakan suara Rayrin, langsung mengerjapkan matanya, ia menunggu pintu ini terbuka, karena sejak kemarin, setiap ia kesini, Rayrin tidak membukakan pintu.
Kris yang menyadari bahwa Rayrin telah berada di hadapannya, langsung saja bangkit dan memeluk erat Rayrin.
Rasa rindu yang selama ini ia tahan akhirnya ia curahkan dalam pelukan, meski dalam pelukannya ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Membuatnya mengurai pelukan mereka dan melihat ke bawah, tepatnya ke arah perut Rayrin.
"Ini anakku?"
Rayrin mengangguk pasti, "Iya ini anak kamu, anak kita, maafkan aku Kris aku mohon. Aku cinta sama kamu." ungkap Rayrin.
Kris langsung saja menatap Rayrin tak percaya, tangannya membingkai wajah cantik Rayrin.
"Kamu cinta aku? Aku enggak salah dengar?" tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari Rayrin. Lagi, ia memeluk penuh kerinduan pada gadis pujaannya yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya.
"Aku rindu sama kamu." ungkap Rayrin dalam pelukan Kris.
"Aku juga, aku juga sayang. Maaf sudah meninggalkan kamu." Rayrin langsung menutup mulut Kris dengan telapak tangannya sembari menatap lelaki itu tak enak.
"Harusnya aku yang minta maaf, kalau aku bisa jujur pada diriku sendiri, aku enggak akan menyakiti kamu, menipu kamu, lalu kehilangan kamu. Aku rasakan perasaan itu, tapi aku selalu menepis semua demi ambisi yang padahal bukan milikku, tapi paksaan orang tuaku."
"Maaf. Aku, aku mohon jangan pergi, kami butuh kamu." ujarnya lagi kali ini sesenggukan dengan air mata yang deras membasahi pipinya.
"Jangan. Jangan menangis, aku enggak akan meninggalkan kamu lagi, aku maafkan kamu. Mulai sekarang kita hidup bersama, tanpa pengaruh orang tuamu, ya?" tangannya mengusap lembut air mata yang masih terus mengalir.
Rayrin mengangguk pelan, "Mulai sekarang aku gak perduli apa kata dunia lagi, nyatanya hatiku menginginkan kamu, bukan Farid atau lelaki lainnya." karena pada kenyataannya, Rayrin selalu merasa hampa jika Kris yang biasa ada di sekelilingnya mendadak tak ada.
Namun, ambisinya tidak menyetujui apa yang hati rasakan.
Ada yang nunggu momen ini?
padahal aku belum puas buat Rayrin menderita, sumpah! Suka aja sama adegannya hehe.