
Farid memandangi wajah cantik di depannya, menatap penuh kasih pada Akira yang juga melihat dirinya aneh sekarang.
"Kenapa, Papanya Yura??" tanya wanita itu, ia menyebut Farid papa Yura karena memang suaminya sangat menyayangi Ayura lebih Sam dan Kai.
Wajar kan? Ayura satu-satunya putri di rumah mereka.
"Kamu capek ya? Ngurus anak-anak aku seharian?" tanya Farid menyingkirkan rambut nakal istrinya dan menyelipkannya di telinga.
Akira tersenyum,lalu lama-lama ia tertawa kecil, menatap suaminya dengan mata bulatnya yg berbinar karena tawa, "Anak kamu aja nih? Mereka juga kan anak aku, Mas."
"Iya, Kira. Tapi kan, yang urus mereka seharian kan kamu, belum lagi kamu ngurus usaha kamu, kamu benar-benar luar biasa sayang, bisa ngurus aku, anak-anak dan bisnis kamu." pujinya pada sang istri lalu membenamkan wajah cantik itu dalam dekapan hangatnya.
Akira mendongak dan mengatakan, "Kamu juga suami dan papa yang hebat kok. Makasih, sudah bekerja keras untuk aku dan anak-anak,kamu pasti juga capek tapi pas kamu pulang kamu masih harus menghadapi tangisan dan kenakalan mereka, belum lagi kalau aku bawel, hahaha." tawanya lebar di akhir kalimat.
"Kamu memang bawel sejak ada mereka." goda Farid menoel hidung mancung istrinya.
"Kalau kamu benar-benar merasa aku berjasa buat kamu, kasih hadiah dong, Mas." candanya.
"Itu gak masalah, memang kamu mau apa?Kamu bisa langsung beli, apa ada yang lain yang kamu pengen?" jawab lelaki itu serius sambil memainkan rambut halus sang istri.
Sedangkan, Akira nampak berpikir.
Memangnya, apalagi hadiah yang Akira inginkan, ia cuma bercanda memiliki Farid dan di percayai Tuhan untuk mengurus ketiga anaknya sudah hadiah yang terbaik baginya.
"Oh ya, kamu juga katanya makasih banget sama aku, aku mau bukti juga dari kamu, kalau kamu memang benar-benar berterimakasih." celetuk Farid, balas menggoda istrinya.
"Hmm, memang kamu mau apa dari aku, aku kan selama ini apa-apa juga dari uang kamu." jawab wanita itu sambil memanyunkan bibirnya yang membuat Farid gemas dan langsung mengecupnya tanpa permisi.
"Mau kamu malam ini." tukas Farid dengan sorot mata yang menyiratkan ada sebuah hasrat pada istrinya.
"Ah kamu, kesempatan dalam kesempitan!" Akira menarik hidung suaminya kesal, namun ia tetap memberikan apa yang jadi keinginan suaminya malam ini.
Setelah, lebih dari seminggu Farid terabaikan karena tamu bulanannya.
Di tambah mereka tidak selalu bisa menghabiskan waktu berdua dengan intim, sebab anak-anaknya selalu mengganggu.
Seringkali, Akira tidur bersama anak-anak, begitupun Farid.
...****************...
Pagi datang dengan kehebohan yang dibuat oleh Akira.
Akira bangun terlalu siang dan langsung mengerjakan segalanya terburu-buru sambil mengomel tidak jelas.
"Kamu sih, Mas! Aku kan jadi kesiangan!" omelnya pada sang suami sambil memasangkan dasi suaminya.
"Iya-iya maaf, semalam kan aku kangen kamu." jawab lelaki itu sambil sedikit menggoda sang istri dengan tatapan jahilnya.
"Sudah lah, jangan marah-marah terus." ujarnya lagi sambil menoel dagu istrinya lalu mengecup kening wanita itu.
"Dah ah, terus sarapan!" titah ibu dari tiga anak itu, yang mudah sekali marah hahaha ...
Sedangkan, Farid dan Kaisar sarapan, ia sibuk menyiapkan bekal untuk putra sulungnya, Ayura dan Sam berakhir di suapi dulu oleh Anna, salah satu pelayan mereka yang masih baru.
"Mas, nanti aku sama anak-anak mau ke rumah kakak ya? Boleh?" tanyanya sambil mengambil alih piring sarapan anak-anaknya dari Anna setelah selesai dengan bekal Kaisar.
Akhirnya, selesai kegiatan pagi itu berakhir dengan Kaisar dan papanya masing-masing pergi ke kantor dan ke sekolah bersama-sama.
Lega, sekarang ia mau membawa si kembar ke tempat kerjanya lalu baru ke rumah sang kakak, sudah lama ia tidak berkunjung kesana.
...****************...
"Eh, si kembar!" sambut Viara gembira, "Aaaahh, aunty kangen!" lanjutnya lagi mengecup kedua pipi Sam, hingga balita itu menjauh paksa karena risih.
"Mama, aunty bikin risih!" adu Sam yang memang sudah sangat pandai bicara di usianya yang masih tiga tahun berbeda dengan Yura yang kadang masih suka kurang jelas.
Yura juga cenderung pendiam dan takut bertemu orang baru, sepertinya ada bibit-bibit dari Farid.
"Hey lihat, aunty punya permen!" kata Viara sambil menunjukkan dua lollipop yang sangat menggiurkan dimata kedua bocah itu.
"Mau aunty!" ucap keduanya bersamaan.
"No, nanti giginya sakit." larang Akira.
"Yura mau itu, Mam." cicit gadis kecil pemalu itu.
"Sesekali gak apa-apa kalo, Ra." lerai Viara lalu menyerahkan permen pada kedua bocah itu, sedangkan Akira hanya bisa pasrah melihat anak-anaknya memakan permen lollipop yang super manis itu, padahal ia hanya takut gigi anak-anaknya bermasalah.
"Gimana Vi?" tanya Akira, sambil duduk di sofa bersama Sam dan Yura yang sekarang sedang diam asyik menikmati es krimnya.
"Bagus, masih selalu bagus, omset kita masih selalu naik setiap bulannya, nikah sama Farid memang pilihan pas!" cerocosnya.
"Lah apa hubungannya Via?!"
"Ada dong, banyak relasi bisnis suami lo pasti tertarik dan penasaran buat coba makan disini apalagi sejak suami lo itu suka ajak clientnya meeting disini."
"Hishhh, jangan pakai bahasa gue-lo kaya gitu di depan anak-anak nanti jadi ikutan." peringat Akira.
"Hmm iya-iya, ngomong-ngomong kabar si Rayrin gimana ya?"
"Terakhir sih, pindah dari sini tapi gak tau kemana, lama banget udahan gak denger kabar mereka."
"Deanno?"
"Udah nikah."
"Hah? Sama siapa?!"
Akira menggeleng pelan, "Kurang tau juga, tiba-tiba nikah dan aku gak di undang, aku datang juga karena mamanya telepon." jelasnya.
"Dah lah, malas mikirin masa lalu lagi, sekarang aja aku udah bahagia banget sama keluarga aku." lanjutnya.
"Iya-iya si paling bahagia." ledek Viara.
Lanjut lagi gak?
Ramein dongg biar author makin semangat update.
OHIYA... Aku lagi kerjain novel baru juga, judulnya Cinta Istri Pengganti, kali ini serius bakal lanjut, dan gak akan bernasib sama kaya cerita yang lainnya kok hehehe:)