Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Alasan



Dengan perasaan terpaksa Farid memasuki rumah besar yang tidak lebih besar dari rumahnya, dimana ia dulu menghabiskan masa kecilnya hingga remaja.


Farid di sapa oleh supir pribadi mamanya, "Tuan muda, pulang, tumben..." sapa Mang Ujang dengan ramah dan lembut ala orang sunda.


"Iya Mang, mama yang suruh, sekarang orangnya dimana?" balasnya tak kalah ramah, walaupun angkuh Farid masih punya rasa sopan santun terhadap yang lebih tua meski Mang Ujang hanya supir.


"Tadi si Nyonya ada di taman belakang, gak tau deh kalau sekarang."


"Oh gitu, yaudah saya masuk dulu, Mang." yang di balas anggukan dan senyum dari Mang Ujang.


Baru kakinya menapaki ruang tamu, suara mamanya sudah menggelegar di telinganya.


"Nah, inget alamat rumah orang tua rupanya." sindir mama dengan sinis.


"Udah lah ma, langsung aja mau apa." ucapnya jengah.


"Kamu tu ya sama mama sendiri kaya begitu." kata mama sambil bersedekap sombong.


"Abisnya, mama nyebelin."


Papa yang sedari tadi diam mengamati interaksi istri dan anaknya langsung tekikik geli mendengar kalimat balasan puteranya.


Farid duduk di salah satu single sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.


"Papa, nggak kerja?"


"Di tahan sama mama kamu, gimana Akira?" tanya Papa.


"Dia oke, setelah ada aku."


"Pede banget kamu Far, bener-bener putera Danuarta." katanya membanggakan sambil tertawa geli.


"Eh eh eh... kalian kok malah bahas itu anak sih, gak penting banget." sarkas mama.


"Mama ini berlebihan, lagian seharusnya Farid nemenin Akira disana bukan malah disini." sela papa tak suka.


"Udah deh, lagian mereka itu kan mau cerai, sekarang mama mau ngomongin pernikahan Farid sama Rayrin." ucap mama dengan senyum lebar.


Farid melotot tak percaya dengan kalimat yang terlontar dari mulut ibu kandungnya tersebut.


"Ma, omong kosong apa lagi sih ini, Farid gak cerai ya sama Akira, gak akan!" katanya tegas dengan tangan menghempas angin tanda tak setuju.


"Loh, kan Akira udah gugat cerai kamu."


"Ma, jangan konyol! Setelah semua yang terjadi kenapa mama gak ada prihatin-prihatinnya bahkan sama anak sendiri!" kini papa Danu yang bersuara.


"Ma, aku masih baik dengan masih menginjak rumah ini setelah kekacauan yang mama dan wanita itu buat, jangan buat aku makin marah." ancamnya dengan wajah menahan emosi, kilatan amarah bahkan sudah terpancar jelas di matanya.


"Atau aku akan melakukan lebih dari sekedar menghancurkan karir wanita gila itu!" lanjutnya, lalu dengan segala amarah yang menumpuk di kepalanya ia segera meninggalkan rumah itu tanpa memperdulikan panggilan mamanya, daripada amarahnya meledak lebih baik dia pergi dari sana.


Setelah kepergian Farid giliran papa Danu yang menasihati istrinya yang entah ketempelan setan dari mana.


"Ma, jangan cuma karena keluarga Akira bukan dari kalangan atas, mama sampai sejahat itu." tunjuknya tepat di depan wajah sang istri.


"Mama cuma mau dapet menantu yang sepadan dan punya tata krama sederhana kok." balasnya bodo amat.


"Ya ampun mama, Akira itu kurang apa sih, sampai mama aja gak sudi punya cucu dari dia, padahal anak dia anak Farid juga."


"Pa, papa ini gimana sih, papa mau punya cucu pecicilan dari perempuan yang pecicilan, dari kekuarga biasa aja, dan lagi Akira itu banyak lakinya pa.. aku udah selidikin sendiri."


"Nggak kaya gitu ma, mereka cuma teman-teman Akira, itu artinya Akira orang yang baik punya banyak teman." sela papa tak kalah ngototnya dengan Mama.


"Heh pa, jangan-jangan papa udah di pengaruhi sama dia ya sama kaya laki-laki lainnya, astaga suami dan anakku sudah terpengaruh oleh wanita jahat itu." cerocosnya.


"Mama yang buta gak bisa melihat kebaikan Akira, keterlaluan!" bentak papa sengit dan meninggalkan istrinya sendiri.


"Nah kan, sejak kehadiran Akira papa jadi suka marahin mama, Farid jadi nggak nurut sama mamanya, Akira emang pengaruh buruk." omelnya dengan penuh kebencian.


***


Paling gak seneng Akira tuh, kalau lagi mewek terus di panggil atau di cariin kan jadi ribet bersihin ingus sama air mata. Dari tadi Akira tidak keluar kamar sama sekali sejak kepergian Farid, dia malah menangis lagi.


"Siapa yang cari kak." tanyanya dengan suara serak ala orang habis nangis.


"Tuh, temen kamu katanya." tunjuk Ariana dengan dagunya.


"Oh, Rangga."


"Hai Ra. Maaf baru kesini sekarang, turut berduka cita ya."


Ternyata, Rangga datang untuk itu, Akira pikir ada apa.


"Oh iya gak papa, makasih udah sempetin waktu kamu kesini." balasnya ramah.


"Apa sih yang nggak buat kamu." godanya yang membuat Akira cemberut lalu perlahan tertawa geli.


"Apaan sih Ngga, receh banget tau gak hahaha..."


Akira tertawa terbahak-bahak hanya dengan candaan receh yang Rangga keluarkan. Akira tak lagi waspada sebab ia tau dari akun sosial media Devi bahwa mereka akan menikah, jadi Akira santai.


Devi adalah junior mereka saat sekolah dulu, Devi menyukai Rangga tapi tidak dengan Rangga, siapa sangka akhirnya cinta Devi terbalaskan, kok jadi mirip kisah aku sama Farid ya, pikirnya konyol.


"Selamat ya, yang mau nikah semoga lancar sampai hari-H."


"Kok tau, kamu aja gak save nomor aku, Farid posesive banget ya?"


"Ya gitu deh, tapi aku liat di akun facebo*k Devi kalian udah pre wedding." jelas Akira.


"Maksudnya gak yakin gimana, Ngga?"


"Kan aku cinta sama kamu sampai detik ini, cuma kalau kamu bahagia ya aku oke." kalimat yang terlontar dari mulut lelaki gagah itu mampu membuat bibir Akira kelu dan menjadi gagap seketika.


"Ngga... kamu nggak bisa begitu kasian Devi, kamu harus lupain aku." ucapnya membuka suara setelah lama menciptakan keheningan di anataranya dan Rangga.


"Bener, mencintai istri orang lain apalagi istri teman sendiri itu gak baik, dan ini bukan waktunya bahas perasaan kamu, Ngga." tiba-tiba Farid masuk dan langsung mengungkap ketidaksukaannya secara tersirat.


Akira menoleh ke arah sumber suara dimana Farid berjalan dari ambang pintu menuju pada dirinya dan Rangga.


Lelaki itu dengan sombongnya duduk di sebelah Akira dan merangkul bahu wanitanya.


"Santai bro..toh sebentar lagi gue mau nikah." kata Rangga yang di ikuti tawa renyah.


"Yaudah tau mau nikah jangan godain istri orang." ketus Farid dengan tatapan tak bersahabat.


"Oke-oke, gue minta maaf, jangan lupa dateng ke pernikahan gue, gue pamit dulu, Ra aku pamit."


"Eh iya, hati-hati di jalan." Akira basa-basi yang di balas senyum Rangga dan tatapan protes dari Farid.


Setelah kepergian Rangga, Akira kembali ke atas di ikuti oleh Farid.


"Aku bawain kesukaan kamu." kata Farid sembari menunjukan beberapa bungkusan yang ia tenteng.


"Mendingan kamu pulang deh, jangan sok perhatian terus kaya gitu, gak bagus." sindir Akira yang berharap Farid akan sadar kalau mereka sudah akan bercerai.


"Kamu disini kenapa aku harus pulang?"


"Kita mau cerai kalau kamu lupa, aku bilangin kak Theo nih kalau gak mau pulang." ancam Akira yang mendapat reaksi tak biasa dari Farid.


Farid langsung mendekati Akira menaruh kantung bungkusan makanan di meja sebelah ranjang dan menyentuh kedua bahu Akira, "Aku gak mau menceraikan kamu kalau kamu lupa." balas Farid sengit.


"Dan untuk Mas Theo, aku udah bilang aku akan berusaha untuk kamu, aku gak akan mau ceraikan kamu." ucapnya penuh penekanan.


"Apa alasan kamu, bukannya dulu kesepakatan cuma satu tahun? Bentar lagi udah satu tahun setelah kita menikah, alasan anak? Anak kita udah gak ada!" celoteh Akira sarkastik.


"Kamu lupa? Aku mencintai kamu."


"Bohong!"


"Akira!" nada tinggi terlantun dari mulut lelaki itu membuat Akira tersentak kaget dan menangis saat itu juga.


"Apa susahnya kamu percaya aku cinta sama kamu?" nada pasrah kini terdengar mengiringi kalimat yang ia lontarkan.


"Susah Far, susah!"


"Kenapa? Kenapa susah?!" desaknya frustasi sembari mengguncang bahu Akira.


"Setelah semua kelabilan kamu selama rumah tangga kita berjalan, apa pantas aku percaya sama perasaan kamu?" tanya Akira dengan suara bergetar.


Diam. Farid bingung mau membalas apa lagi, apa yang harus dia katakan lagi sekarang. Tiba-tiba otak jenius yang jadi kebanggaannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


"Sulit rasanya untuk menerima, if your love is your reason to always beside me!


Sedangkan selama ini kamu suka gak jelas dalam bersikap kadang nolak Rayrin, kadang belain dia di banding aku."


Nah, inggrisnya Akira keluar tanda dia benar-benar jengah.


"Terakhir, kamu lebih percaya fitnah Rayrin dan hina aku juga anak aku."


Jleb. Kalimat yang sudah Farid wanti-wanti pada dirinya sendiri jangan sampai terlontar dari mulut istrinya. Karena kalimat itu mampu membuatnya merasa sangat bersalah dan melunturkan semangatnya.


"Apa perhatian aku selama ini gak cukup?"


"Perhatian saat kehamilan? Aku pikir itu ada karena aku hamil, gak lebih, Iya kan?"


Please, jawab enggak Far, semoga memang kamu mencintai aku, jawab enggak dan aku akan peluk kamu, karena aku rindu kamu banget.


"Terserah kamu mau berpikir apa tentang itu, aku terima tuduhan kamu kalau aku nggak jelas." tukasnya mengalah dengan asumsi Akira yang ia pikir sedang dalam masa berkabung dan tidak bisa berpikir jernih dalam berpendapat saat ini.


Farid pikir memberikan alasan lain tidak akan berguna, jika Akira seperti ini.


"Kamu, kamu... sekali gak jelas ya selalu gak jelas dasar kampret!" maki Akira tanpa filter yang membuat Farid agak terperangah, sudah lama ia tidak melihat Akira yang begini.


"Kira.."


"Bodo lah pergi sana, jangan deket-deket aku!" teriaknya sembari mendorong keluar tubuh Farid dari kamarnya.


"Ra, kenapa si itu suami di dorong-dorong, gak sopan atuh dek.." teriak Ariana histeris melihat kelakuan adik iparnya.


"Bodo amat, aku males liat muka orang gak jelas kaya dia!" ucap Akira kemudian meninggalkan Farid dan menutup pintu kamarnya dengan kencang.


"Yaudah, kamu jangan balik kesini dan segera tanda tangan." sahut Mattheo santai yang tengah duduk di sofa ruang tamu sembari matanya membaca koran di tangannya.


"Maksudnya?"


"Kalau adik saya udah gak mau sama kamu, ya jangan di paksa, gitu kan konsepnya?"


Sial, pokoknya tidak boleh seperti ini, kenapa jadi dirinya sekarang yang tak berdaya. Dulu, bahkan sekarang ia bisa saja menghancurkan ekonomi keluarga ini dan mengancam Akira kembali.


Tapi, kalau begitu caranya, Akira dan rasa cintanya pada Farid akan semakin pudar bukan?


gue nyoba update satu deh, semoga like nya banyak komentar banyak terus ada yang vote dan kasih rate bagus.


nunggu episode ini likenya 100 komentar nya 50 terus abis up ini masuk ranking 100 nah baru gue update lagi.