Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 20



Apa sih arti sahabat menurut kalian?


Aku, Akira Shafeena Malik.


Bagiku sahabat itu sama dengan keluarga, itulah kenapa aku suka sahabatku mendominasi dalam setiap jejak napasku, setiap kejadian dalam hidupku, aku selalu melibatkan sahabat, senang ataupun susah.


Aku bahagia punya mereka, ya mereka itu Ziana, Viara, dan Tina. Risa juga, seandainya perempuan itu enggak pergi dengan alasan yang menurut aku norak! Banget!


Kami sudah dewasa, bahkan umur aku sekarang sudah mau dua puluh enam. Gila ya gak kerasa.


Dan Risa itu setahun lebih tua dari aku, so harusnya dia lebih dewasa kan?


Aku benci alasannya. Apa itu namanya?Cowok! Sumpah benci banget alasan sepele bernama cowok.


Bukannya gimana-gimana sih, apa kalau cowok yang dia suka terus malah suka sama aku, itu artinya aku yang salah?


Aku buka Tuhan yang bisa mengendalikan perasaan manusia.


Aku hanya manusia biasa yang perasaannya di kendalikan oleh yang kuasa, yang hidupnya di kuasai oleh yang namanya takdir.


Oke, disini aku berada, di rumah Lareesa Ayudya atau biasa kalian kenal itu Risa.


Bodo amat ada orangnya atau enggak yang penting aku udah usaha, ya gak?


"Eh Akira?" sapa seorang lelaki jangkung yang kini membukakan pintu untukku.


Itu, Fathir kakaknya Risa.


"Risa ada kak?" tanyaku to the point, gak usah pakai lama!


"Risa ya? Memang kamu nggak tau? Risa baru kemarin pergi ke Bali."


What?! Cepet banget pergerakan itu anak, gila sumpah! Bentar-bentar udah gak ada, tiba-tiba udah maen di luar kota aja.


"Hah? Ngapain?" tanyaku sok kepo, padahal palingan tu anak hindarin aku.


"Katanya liburan sama temen-temen dia, kamu gak ikut memang?"


Aku menggeleng cepat.


"Yaudah kak, aku pulang aja kalau gitu." pamit ku pada kakaknya si Risa otak udang itu.


Sumpah ya, sampai detik ini aku masih belum terima alasan sampahnya Risa. Cowok!


Ah, sebel! Jadi kangen sama Farid, pengen peluk dia. Semanja itu memang. Ya cuma aku keseringan gengsi sih. Aku suka sentuhan dia, pelukan dia, bau napasnya dia juga aku suka, sampai bau keringatnya yang tercampur parfum mahal itu pun aku suka. Bangett. Tapi gengsi, sumpah! Kalau tiap hari ngerengek minta peluk, minta temenin, minta sama dia terus, kan kaya aku bukan istri yang pengertian.


Sudah hampir tiga hari.


12 jam lagi tepat tiga hari dia di Jepang.


Entah apa yang dia lakukan di sana.


Mungkin karena suamiku itu usaha di bidang teknologi, maka ia akan pergi ke negara dimana teknologi di kembangkan dengan begitu maju pesat dan hebat. Jepang, adalah salah satunya, bukan?


Aku lelah, jauh-jauh cari Risa.


Lah, dianya enak-enakan liburan di Bali.


Aku baru mau memasuki pagar rumah ketika tanpa sengaja aku melihat, Indah? Sama siapa? Ngapain ngobrol di pinggir jalan kaya gitu? Sore-sore pula.


Perempuan itu seperti sedang bicara serius dengan seorang lelaki, masa selingkuhannya, itu cowok masih muda seumur aku tapi agak tua dikit kali ya?


Apa anaknya?


Tumben, Indah ada ngomong sama orang lain di rumah ini dan itu kaya serius banget.


Yaudah lah, urusan dia itu, mungkin adiknya kali.


Mending, masuk rumah, capek!


Mau mandi yang lama berendam dengan air dingin, bukan air hangat, aku kurang suka.


Entah, kenapa baru aja masuk ruang tamu, aku gak liat ada Wisnu yang biasa sambut aku pulang, sepi sih, kaya gak ada orang.


Tapi, nyatanya...


"Surprise!"


Astaga, aku kaget, siapa ini? Aku baru sampai ruang tamu dan saat aku hampir memasuki ruang tengah ada


Suamiku? Farid?! Dia tampil keren dengan kaos hitam di padu jas warna coklat tua.


Apa aku ulang tahun?


"Happy Birthday, sayangku!" ucapnya mengecup bibirku dengan tangan kanan yang masih menopang kue tart itu.


Lalu, memelukku sebentar.


Aku saja lupa kalau sekarang tanggal tujuh belas, tentu itu tanggal lahirku. Itu artinya, usiaku bertambah satu tahun, aku jadi merasa tua.


Aku menatap suamiku dengan mata bahagia dan berkaca-kaca saat ia melepaskan pelukan kami


"Tiup lilinnya sayang!"


Rasanya bibirku ini ingin terus tersenyum, akun mendapat kejutan dari orang yang aku cintai, kejutan pertama.


Takkan aku lupa!


Aku harap di usia inilah aku membuatnya bahagia dan memberinya apa yang paling ia inginkan, itulah harapku, segera aku meniup lilin itu pelan. Mencium pipi suamiku mesra.


"Makasih, aku sayang kamu." ungkapku dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Aku juga sayang kamu, potong kuenya dulu."


"Kamu hutang penjelasan sama aku!" kataku lantang lalu menuju meja di ruang tengah untuk memotong kue tersebut dan menyuap nya pada suamiku. Ah senangnya. Rasanya aku seperti lupa apa masalahku.


"Semoga panjang umur, tetap sehat,semoga kebahagiaan selalu bersamamu, semakin cantik, semakin nurut sama aku, semakin apa lagi ya?" aku menunggu kalimatnya keluar tapi dia malah mendekati telingaku dan, "Semakin seksi!" bisiknya, sontak aku menepuk bahunya yang keras itu. Menyebalkan!


"Aku kangenn banget sama kamu." ungkapku melompat ke dalam pelukannya dan tanpa aku duga dia mengangkat ku jadilah aku di gendong olehnya, ia mengangkat aku pergi dari sofa yang nyaman menuju ke atas sandaran sofa.


Aku lingkarkan tanganku di balik lehernya, lalu dengan berani aku mengecup bibirnya, sekali. Lalu, mengecupnya lagi sedikit lama.


Dia hanya bisa tertawa, tangannya kan sedang mengangkatku.


Aku masih gemas dengan kejutan yang ia berikan. Aku kembali berniat mengecup bibirnya lagi dan bukan Farid namanya kalau diam saja, dia langsung menyambar bibirku dan akhirnya ia mendudukkan diriku juga di kepala sofa itu, yang biasa kami gunakan untuk menonton televisi.


Kami, menikmati apa yang kami lakukan.


Jujur aku rindu sekali. Aku yakin dia juga.


Farid menyudahi kegiatan kami dan melingkarkan tangannya pada pinggangku.


Menatapku sebentar dan, "Tutup matamu sebentar!" titahnya, masih dengan posisiku yang duduk di atas sandaran sofa dan ia berdiri di depanku.


Aku menurut, aku menutup mata hingga aku merasakan tangannya yang melingkar di pinggangku berpindah posisi ke leherku.


"Buka mata mu, sayang!"


Saat aku membuka mata hal pertama yang aku lihat adalah leherku yang disana melingkar indah sebuah kalung mutiara merah muda.


"Mas! Ini buat aku?"


"Bukan, ini buat Akira istriku yang paling berharga. I love you, so much." katanya yang membuat aku semakin merasa senang, ini tak akan aku lupakan.


"Sekarang, giliran aku yang minta hadiahku." katanya menyatukan kening kami.


"Kok kamu juga, kan yang ulang tahun aku." protes ku, tentu aku merasa aneh, apa dia minta imbalan dari hadiahnya barusan?


"Aku rindu, dua hari tanpa kamu, aku rindu wangi keringatmu setelah kita selesai ber-" segera aku membekap mulutnya yang nakal itu.


"Oh ayolah, sayang di dalam rumah ini sekarang hanya ada kita berdua, mereka semua aku usir dari rumah utama." katanya dengan tangannya yang bergerak-gerak di sekitar pinggangku.


"Jelasin dulu, katanya tiga hari kenapa dua hari udah pulang, terus kejutan ini--"


Ia mengecup bibirku sekilas.


"Memang cuma bibirku yang bisa membungkam mulutmu, nanti aku jelaskan sekarang waktunya bagi kita berdua untuk bersama-sama kan? Quality Time, sayang."


ia berbisik di depan wajahku dengan suara yang parau, pokoknya serak dan dalam gitu mirip suaranya Chanyeol EXO. Sumpah, ini membuat aku lemah. Apalagi aroma napasnya, aroma tubuhnya, aku paling suka itu.


Akhirnya, aku pasrah dalam kuasa lelaki itu.


Memangnya aku pernah menang darinya?


Dia terlalu berkuasa atas diriku, hatiku, cintaku, seluruh jiwa dan ragaku.


Niatanya mau buat se romantis mungkin, tapi kok gak nge feel ya akunya. Seluruh adegan udah terancang sejak kemarin padahal, pas giliran ngetiknya gua rada bingung jadi aneh gak sih?!


Kalian nge feel gak sih?


Yaamsyoonnggg, apa yang salah denganku😌