
Farid
Sumpah!
Rasanya ingin sekali aku enggak perduli lagi tentang semua masalah-masalah itu. Rasanya, aku ingin pura-pura tidak tau.
Segalanya, seolah mau mengganggu.
Apa aku salah mencintai Akira?
Apa aku salah ingin hidup bahagia bersamanya?
Apa aku salah jika aku hanya ingin ketentraman dalam rumah tangga kami?
Menjadi sosok yang di cintai Akira adalah kebanggaan tersendiri buatku, siapa sih yang takkan bangga di cintai seorang wanita setia seperti dia?
Dia yang pernah aku ragukan kesetiaannya, aku hanya bisa tersenyum masam saat mengingat betapa bodohnya aku.
Bayangkan saja hampir delapan tahun, eh apa sembilan tahun? Pokoknya sejak usiaku tujuh belas tahun, di cintai seorang gadis cerewet yang sekarang jadi istriku.
Bisa gak sih?!
Aku pura-pura gak tau, kalau mama itu benci Akira, kalau Akira sedih karena mama, kalau Akira sedih karena gak hamil juga, kalau aku adalah sebab Akira penuh beban pikiran, kalau keluarga aku sendiri adalah sumber kesedihan untuk orang yang aku cinta, boleh?!
Bahagia ada, disaat aku dan Akira berdua, itu pasti dan aku hanya mau menciptakan bahagia saat bersama Akira.
Tapi, Akira gak se simple itu untuk lupain segala hal yang membuat kebahagiaan kami berdua terasa kurang.
Sekarang pun sama, saat Farell datang dan bilang, mama papa mau cerai.
Aku agak takut, Farell menyalahkan Akira, untungnya enggak.
Karena jujur saja, aku enggak pernah mendekatkan diri Akira ke seluruh keluarga, tau sendiri lah niat awal ku menikahi Akira, jadi enggak pernah terpikir Akira harus akrab dengan kakak ataupun adikku.
Lagi pula, selama menikah hanya masalah dan masalah, tiada waktu untuk saling mendekatkan diri dengan keluarga masing-masing, kami terlalu asyik dengan dunia kami berdua.
Untuk, mama.
Mama itu orang yang melahirkan dan membesarkan aku, terlebih kasih sayangnya seperti terlalu banyak hanya untukku kalau di banding dengan Fiora dan Farell.
Tapi, aku kecewa, sangat amat kecewa.
Mama itu sayang aku, aku sayang mama.
Tapi hatiku sakit kala mama menyuruh aku menggugurkan anakku sendiri.
Kala mama terlibat dalam konspirasi bersama Rayrin, rasanya aku enggan melihat wajah mama, bukan karena benci, bukan!
Tapi aku hanya takut, aku jadi menyesal terlahir dari rahim seorang Arrita Hasandani, seorang ibu yang selalu membanggakan betapa baiknya dan hebatnya aku sebagai seorang anak.
Aku hanya takut, semakin banyak kalimat kasar yang aku ucapkan pada mama, aku tidak mau membalas segala kasih sayangnya dengan semua kalimat yang hanya membuatnya sakit hati.
Tapi, bukannya sakit hati, mama malah semakin mendesak diriku untuk harus terus menjauh dari sosok yang aku juga cinta.
Aku takut mama sakit hati, tapi mama sudah tidak takut aku sakit.
"Farid? Anak mama pulang ke rumah?" itu sambutan mama kala aku sengaja datangi dirinya ke rumah siang itu.
Aku hanya tersenyum singkat dan masuk ke dalam rumah dimana di situ masa kecilku di habiskan.
"Akhirnya, kamu pulang, Farell mana? Bukannya kemarin kamu bilang, Farell tidur di rumah kamu?"
tanya mama sambil dirinya duduk di salah satu sofa ruang keluarga.
"Farell takut sama kalian, apa kalian enggak bisa untuk jaga perasaan anak-anak kalian? Terutama mama." desis Farid di akhir kalimat dalam hatinya ia merasa durhaka karena bicara seperti itu pada ibunya.
"Ma, sekali aja ma, lihat Akira dari sudut pandang yang positif." pintaku dengan nada memohon.
"Nggak bisa, Far. Dan gak akan pernah bisa." sahut mama lebih mirip seperti bergumam.
Mama cuma diam, menatap kosong ke depan, aku menghela napas berat. Kalau di suruh memilih antara mama atau Akira. Aku mau keduanya.
"Ma, mama sayang aku kan? Aku tau, aku bisa rasain mama lebih sayang aku ketimbang kak Fiora sama Farell. Buktinya, mama mati-matian cari jodoh yang terbaik buat aku, ma, sebelum ini mama itu wanita yang baik, paling baik, tapi--"
"Itu, kamu tau! Kenapa mama kaya gini?Ya karena Akira, anaknya si Marina itu kenapa mama tau? Dalam pandangan pertama aja mama tau dia anak Marina, dia terlalu mirip dengan Marina, Far. Mama benci."
Mama lagi-lagi begitu, tapi aku harus mencoba untuk enggak ikut emosi atau tidak akan ada yang terselesaikan sama sekali disini.
"Ma, Farid tau perasaan mama, tapi itu semua cuma masa lalu. Akira enggak salah, enggak kan ma? Akira gak tau apa-apa."
Mama terlihat mau balas ucapan aku tapi...
"Ma, coba mama pikir, mama ingat, apa Akira pernah salahin mama? Padahal, Mama yang suruh aku gugurin anaknya, mama sering maki-maki dia, mama bawa Rayrin untuk supaya aku tinggalin dia, mama --"
"Kamu salahin mama Farid?!"
mama menatapku tajam, ya, tajam.
"Mama jelas kesalahannya, tapi Akira? Coba kasih tau dimana salah istri Farid itu, ma?" tanyaku lembut, serius, aku bertanya dengan nada lembut, enggak kaya biasanya yang langsung emosi.
"Salahnya dia karena dia anak Marina, kamu masih enggak paham?!" bentak mama.
"Ma, mama yang aku kenal itu mama yang baik, yang sayang sama aku, yang selalu bangga sama aku, yang selalu lembut sama aku, ya walaupun waktu aku dewasa mama suka menuntut aku untuk nikah dan nikah, hingga akhirnya aku nikahi Akira, " aku menjeda ucapanku, bergerak ke hadapan mama, menggenggam tangannya erat dan hangat.
"Aku pilih Akira, karena, aku yakin dia yang terbaik, padahal waktu itu aku gak cinta sama dia, kenapa dia yang terbaik? Karena dia satu-satunya wanita yang terus mencintai aku tanpa syarat, tanpa lelah, tanpa batas. Bahkan mungkin kalau cinta bisa di makan, aku gak perlu beli makanan yang lain lagi, karena cintanya sudah sangat cukup buat aku."
Aku terkekeh kecil di akhir kalimat ku, aku juga terharu dan meneteskan air mata, aku tidak tau, kalau bicara dari hati ke hati bersama mama akan membuatku jadi emosional.
"Kalau di bandingkan antara Rayrin dan Akira--"
"Rayrin lebih baik!" celetuk mama memotong ucapanku, sebuta itu matanya karena kebencian? Apa mama gak bisa lihat betapa liciknya, Rayrin?
"Kalau kamu gak mau sama Rayrin lagi, gak masalah, mama masih ada perempuan lain buat jadi ibu dari anakmu."
"Ma, aku mohon jangan jadi jahat dengan menghalangi kebahagiaan aku."
"Farid, mama sayang kamu, sayang sekali! Tapi, Farid, mama enggak suka ada Marina kedua dalam hidup mama, dan dengan menikahi Akira kamu menyakiti mama! Farid, harusnya sebagai anak mama, kamu juga marah,karena apa? Ibu istri kamu adalah pembawa kesedihan terbesar dalam hidup mama, ibu kandung kamu!"
mama membentak, padahal aku sudah berusaha bicara sebaik mungkin.
Memang, harusnya aku bisa saja marah karena itu, tapi tidak!
Kalau Akira bisa mengalahkan amarahnya demi cintanya padaku, kenapa aku tidak bisa seperti dia yang selalu mencintai aku apapun keadaanku?
Bahkan meski kesalahan fatal aku lakukan dia masih memaafkan aku dan memberi aku banyak cinta.
"Mama, egois. Mama menyakiti hatiku, hati Akira, papa, Farell, Fiora juga. Cuma demi masa lalu mama, yang sudah lama berlalu.
Mama tau kenapa Farrell di rumahku? Karena dia takut dengan mama yang ingin dia tau masalah kalian berdua. Dan, ma.. kalau Akira bisa menerima aku apapun keadaan aku, kenapa aku gak bisa? Jadi,bisa kan mama lupakan semua itu,lagian ibu Marina udah gak ada."
aku masih mencoba menahan emosiku, entah kenapa mama begitu keras kepala, juga keras hati.
"Kalau kamu mau mama lupain masa lalu itu, ya kamu juga harus lupakan Akira. Akira bagian dari masa lalu kamu juga kan? Sebelum kalian bertemu lagi, Akira hanya bagian kecil dari masa lalu kamu yang hampir tidak pernah kamu ingat. Camkan itu Farid!"
Intinya disini, mama tidak terima aku menyuruhnya melupakan masa lalu yang besar, sedangkan Akira hanya masa lalu kecil yang harusnya mudah untuk aku lupakan. Disini dia sedang membandingkan.
Heh gimana ini, kesel gua lah sama emaknya Parid, dikasih ati minta rempelo, eh jantung.
coba jempolnya mana?
ini masih banyak bagian lo sebnrnya, tapi aku potong, kurang sajen soalnya.
Jadi ya.....
Besok aja lah lanjutnya
Nungguin yaa.... ?