
Awan masih gelap, karena memang ini masih pukul lima pagi di tambah hujan yang sangat deras menyiram bumi.
Hawa dingin tak terelakan apalagi angin cukup kencang dan itu sukses membuat Akira terpaksa bangun saat enak-enaknya tidur sembari memeluk tubuh suaminya yang hangat itu karena ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil.
Baru saja ia bangun dari posisinya, tangan kekar Farid sudah menahan Akira.
Akira langsung menghempaskan tangan jahil suaminya itu, tidak tau apa jika sudah di pucuk?
Eh, baru juga bergerak, tangan lelaki itu sudah kembali mendekap Akira dan membuat wanita itu terbaring lagi.
"Mas Farid, lepas ih." ia mulai protes sebab ia sudah tak tahan.
"Nggak, nanti aja bangunnya, Ki." Farid malah menindih tubuh Akira dengan kakinya yang sudah pasti berat.
"Duh lepas dong, ntar aku ngompol ini!"
Namun, Farid masih mendekap erat tubuh istrinya, ia seolah menulikan pendengarannya.
"Lepas gak?!"
Farid malah dengan enaknya memejamkan matanya dengan tenang.
Akhirnya, Akira menghadap Farid dan mendorong dada bidang suaminya.
"Sayang, ini masih pagi jangan menggoda aku sepagi ini." kata Farid dengan mata terpejam.
"Mau ulangi yang semalam? Kebetulan cuacanya mendukung sekali."
pria itu membuka mata dan menaikan alisnya menggoda sangat istri dengan tangan yang sudah mulai berkelana ke tempat-tempat favoritnya.
Akira tak habis pikir dengan suaminya yang malah berpikiran mesum, segera ia menarik telinga suaminya.
"Ih, mesum banget sih buruan minggir atau aku pipis disini nih?!"
"Iya-iya galak banget,udah lepasin jewerannya,Ki! Ntar merah aku enggak ganteng lagi." sahutnya menyerah dan melepaskan Akira dari dekapannya.
"Biarin! Biar tau rasa orang udah di pucuk di tahan-tahan!" omelnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ya, keributan semalam berakhir dengan yang panas-panas, jadilah Farid tidak mau membahasnya lagi, toh Akira juga bilang tidak meminumnya.
Kali ini ia harus percaya pada istri manisnya itu jika tak mau kejadian lama terulang.
Farid benar kan kali ini?
Dengan cekatan, Akira membalik telur yang sedang ia goreng meninggalkannya dan beralih ke wajan yang ia gunakan untuk memasak nasi goreng.
Kembali untuk mengangkatnya dan memasukan telur lagi ke dalamnya.
Farid yang sejak tadi bersandar pada meja memperhatikan istrinya itu mendadak merasa beruntung.
Setidaknya, jika ia miskin pastilah istrinya tidak akan merengek karena tak terbiasa memasak saat menjadi kaya.
Eh tunggu?
Jadi miskin?
"Tidak-tidak! Jangan sampai amit-amit." ia bergumam hingga membuat Akira berbalik dan menatap pria dengan kaos abu-abu dan celana pendek warna hitam yang sedari tadi memperhatikan dirinya tanpa ia ketahui.
"Farid? Sejak kapan disitu?" ia berbalik menanyai Farid sambil sesekali kembali berbalik menghadap kompor.
"Sejak kamu dengan cekatannya masak sarapan buat suami kesayangan kamu." jawab Farid merayu.
"Dih iyalah kesayangan, orang cuma satu." balas Akira nyeleneh sembari menuangkan kecap ke dalam wajan.
"Jadi kalo mendadak kita jatuh miskin kamu gak akan kaya yang di sinetron - sinetron itu kan? Ngerengek rumahnya kecil terus ga bisa masak deh."
"Ngomong apaan sih, Far. Kamu mau bangkrut?"
"Jangan sampai lah. Suamimu ini lelaki cerdas dan penuh perhitungan jadi aku jamin kita tidak akan bangkrut."
"Sombong."
"Memang iyakan? Kamu beruntung dapat suami secerdas aku."
"Iya-iya percaya. Lagian mas, siapa juga yang mau hidup miskin kerja yang bener awas sampe miskin."
Farid tertawa nyaring mendengar kalimat sang istri yang pasti hanya menakut-nakuti.
"Heh kok ketawa." Akira berbalik mengacungkan spatulanya ke arah Farid.
"Diem dong mas, kamu ketawain aku pasti, emang ada yang lucu apa?!" ucapnya ketus.
"Kamu gak konsisten banget sih, yang?"
"Gak konsisten apa?Terus apa tadi? Yang? Sayang maksudnya, alay deh kaya anak SMP pacaran aja." cibir Akira, lalu bergerak mematikan kompor, mengambil dua piring untuk menyajikan nasi goreng.
Hari ini akhir pekan, jadi ia akan selalu masak seperti ini untuk suaminya tanpa dua orang pembantunya.
"Kamu panggil aku kadang mas kadang Farid yang bener dong sayang." katanya sambil mengekor pada Akira yang berjalan menuju meja makan yang memang ruangannya berbeda dengan dapur, meja yang ada di dapur adalah untuk makan pembantu.
Farid duduk di ujung meja, "Memang kenapa sih, aku belom pernah kaya gitu, buat panggilan khusus untuk kesayangan."
Akira terkekeh geli mendengarnya, "Kamu alay tau mas."
"Manggilnya mas aja terus kenapa sih pake ada panggil nama, kalau panggilan lain cukup panggil sayang aja, bisa kan?"
Akira jadi geli sendiri, sejak kapan suaminya jadi lebay begini?
"Ya sekenanya aja gapapa kali." jawab Akira acuh lalu mulai duduk pada meja yang berdekatan dengan suaminya.
"Dosa kamu. Aku terlalu memanjakan kamu ya sepertinya?"
"Loh, kok gitu?! Mana bisa?!" peliknya sembari menaruh telur ke dalam piringnya dan Farid.
"Kamu perlu di hukum ya?" mata Farid menyipit memandang Akira. Ia masih belum menyentuh sarapannya, tangannya lebih memilih terlipat di atas meja sembari memandang Akira yang sedang di ajaknya bicara.
"Hukum apalagi ih, aku gak mau jadi istri orang jahat, aku kabur aja lagi nanti." ancam Akira sambil memotong telur ceplok dengan sendok.
"Eh kok gitu, kamu sekarang mulai main ancam-ancaman ya?"
"Ih kamu sekarang berisik deh, aku laper nih mau makan." keluhnya, ia mulai memasukan sesuap nasi ke dalam mulut.
"Mas, aku boleh pergi?" tanya Akira saat ia sudah selesai makan.
Farid meneguk minumnya sampai habis dan menatap Akira serius.
"Mau kemana lagi?"
"Sama temen-temen, liburan!" katanya seru dengan mata berbinar.
"Nggak! Ini akhir pekan, waktu kamu buat aku semuanya, lagian aku udah sering bebasin kamu main sama mereka." jawab Farid tak suka.
"Ih mas, tapi ini beda aku mau liburan." ia mulai merengek lalu berjalan mendekati Farid dan duduk di pangkuan suaminya, tangannya melingkar di seputar leher Farid, matanya menatap Farid dengan memelas.
Dasar Akira, jika ada maunya pasti begitu, ia tahu jika suaminya mudah di rayu olehnya sekarang.
"Aku gak akan luluh lagi ya sama rayuan andalan kamu."
"Ah, mas gak asik, aku kan pengen liburan."
bibirnya memberengut tak suka akan jawaban suaminya.
"Yaudah kalau begitu."
"Mas izinin?" ia berucap senang.
"Iya, tapi liburannya sama aku." lantas senyuman Akira memudar.
"Sama kamu setiap hari juga ketemu."
"Honeymoon kedua, yuk!" ajak Farid, tangannya mulai melingkar di sekitar pinggang Akira.
"Aaahh... pengen sama temen-temen mas... " rengeknya seperti anak kecil.
'Huh, gini nih kalo temen-temen belum nikah terus aku sendiri yang udah nikah, gak bebas.' keluhnya dalam hati, yah apalagi suaminya otoriter seperti Farid.
"Sama aku dulu, baru sama mereka." tawar Farid yang mulai Akira pertimbangkan.
"Jadi maksudnya, kalau aku mau honeymoon kedua sama kamu, abis itu aku boleh liburan sama temen-temen?" tanyanya mencoba memperjelas.
Farid mengangguk sebagai jawaban.
"Yes! Oke, aku setuju." ia beranjak dari duduknya di pangkuan Farid, mengecup pipi pria itu kilat.
"Yuk, mau kemana kita?"
"Kemana pun yang kamu mau."
"Oke, kemanapun?"
"Kemanapun sayang."
"Asik. Aku harus nikmatin hasil kerja keras kamu nih, sayang kan kalau uangnya nganggur di dalem bank? Hehe.. "
Paling tidak dengan liburan Akira akan melupakan masalah kandungannya untuk sementara waktu.
"Ya terserah kamu deh." jawabnya lemah, ia sedikit tak bersemangat karena liburan dengannya harus ada syaratnya, baru Akira antusias.
'Ya ampun Akira lebih sayang teman-temanya apa? Coba saja, jika tidak aku tawarkan begitu apa mau di ajak liburan berdua?' batinnya merasa miris dengan nasibnya.
Oke mulai dari sinilah kita akan bertemu dengan.....
Tebak coba siapa?
Btw, banyak yang bilang promosikan dilapak lain thor.
Aku udah sering promosi tapi mungkin disini emang lebih banyak tipe pembaca yang asik baca sampe lupa like dan komen.
Positif thinking aja, ya kan?
Soalnyaa, acuuu juga pernah jadi tipe reader yang kalo baca keasikan sampe lupa like komen buat dukung karya favorit aku.
Apa ini yang di namakan karma? 😫
Jawab dong!