Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 19



Woy!


Update tiga kali nih, tau ah pokoknya semangat aja punya banyak ide.


follow gengs folloouuuuwww


@cottoncandy_zue


Suami Kualitas Premium


jangaaann lupaaa eaaa di cicip, eh di tengokk


Ya pokoknya, Akira speechless gitu, setelah mendengar kalimat romantis dari suaminya, semalam.


Ah gila, ia rasanya mau tengah terbang di sekitar hutan berduri.


Tau tidak? Banyak masalah yang belum selesai, tapi ia merasa ringan beban sedikit demi sedikit.


Suaminya, sangat baik.


Lelaki itu benar-benar mencintainya, benar-benar memilih menepati daripada mengingkari semua kalimat yang pernah di ucapkan pada Akira.


Akira sayang Farid.


Oleh karena itu, ia berpikir ia ingin melakukan program hamil, konsultasi dengan dokter.


'Nggak boleh takut, kehamilan itu anugerah terindah.' itu kalimat yang akhir-akhir ini ia bisikkan pada hatinya.


Kalau dengan cara sering berhubungan dan berdoa pada Tuhan masih belum mampu membuatnya hamil.


Ia juga harus melakukan usaha lebih.


Contohnya, ya itu tadi program hamil.


Tapi, tadi malam kata Farid, lelaki itu tak akan memaksa kalau ia belum siap.


'Siap gak ya, siap gak ya? Siap harus demi kebahagiaan suami.' itu yang sedang ia pikirkan.


Tadi pagi, ia juga mengungkit tapi apa kata Farid?


It's okay, gak perlu buru-buru, semalam aku bilang apa?


"Bener ya kata Farid, lagian masalah keluarga belum jelas juga titik terangnya."


gumamnya sambil mengaduk adonan keik.


Hari ini ia mengundang teman-teman. Jadi, Akira mau masak banyak. Biar bisa makan-makan.


Sekalian, ia mau mendiskusikan tentang Risa!


Akira merasakan kepalanya berdenyut, ia pusing memikirkan semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini.


"Ada aja masalahnya, astaga." keluhnya memegangi kepalanya.


"Nyonya, sakit?" tanya Tuti yang ikut membantu Akira.


"Enggak kok bi, cuma sakit kepala dikit. Jangan bilang apa-apa sama Wisnu atau dia bakal lapor suami aku." pintanya.


Farid memang agak lebay, protektif banget-banget. Ya pokoknya dia harus tau lah keadaan istrinya jangan sampai ada yang terlewatkan.


"Bi, ini apa ya?" tanyanya sambil memperlihatkan botol kecil dengan cairan bening ikut tersusun di deretan pewarna makanan koleksinya.


Tuti mengamati benda itu, sedangkan Indah langsung melotot tajam di ambang pintu. Agaknya, wanita itu lupa membawa rahasianya masuk ke kantong nya.


Berjalan cepat, "Nyonya, itu obat tetes mata saya, duh maaf saya sembarangan naruh." mengambil botol kecil itu tanpa permisi.


"Oh hati-hati bi, taruh apa-apa, takutnya keliru nanti sama barang yang lain terus malah masuk ke makanan kan bahaya."


"Maaf, Nyonya."


Akira hanya mengangguk dan kembali mencari warna hijau untuk adonan keiknya.


Disisi lain, ada Kris.


Ia merasa di peralat oleh wanita yang ia cintai. Ia menyesal karena hampir membunuh harapan kedua manusia tak berdosa.


Ia mengetahui sebuah rahasia kecil, Rayrin.


Bukan, tapi rahasia besar.


"Mas! Lo dengerin gua ngomong gak si, menurut lo gua harus ginana?!"


sebuah suara mencoba menyadarkan dirinya dari rasa terkejut tapi ia masih diam.


"Mas! Lo kelamaan di Milan lupa bahasa Indonesia ya?!" bentak lelaki itu tepat di depan wajah Kris.


"Sialan! Napas lo bau jengkol, Yan!" pekik Kris yang kaget karena Deanno berbicara tepat di depan wajahnya.


"Ya abisnya, lo Mas! Gua kesini curhat bukannya di kasih solusi, eh lo nya malah melongo. Kayanya lo harus racik obat buat ilangin keanehan lo deh, Mas!"


Ya, Deanno memang suka curhat dengan Kris, kalau soal masalah cowok, gak mungkin dong dia curhat sama Akira.


Mereka akrab karena sama-sama cowok, Deanno malas kalau dengan Diana yang super duper berisik nglebihin Akira.


Pernah sekali ia curhat pada Diana.


Cuma Kris yang bisa ia percaya di keluarganya.


"Anjir, lo!"


"Nah, masih tau bahasa anjir juga nih orang! cibir Deanno.


"Yan! Rayrin yang lo maksud itu model?" tanya Kris memastikan.


"Iya, mas. Kok tau?! Mas kenal?!"


"Banyak tanya lo, jawab dulu gua dah! Yang lo ceritain tadi itu beneran atau lo cuma halu? Jujur!"


Kris menuding wajah sepupunya dengan wajah sangar. Semoga, Rayrin itu Rayrin yang lain, harap nya dalam hati.


"Dih, setan! Lo kira gua orang gila, yang suka ngada-ngada cerita?! Serius gua, dan gara-gara tuh cewek hasut gua, sekarang gua gak punya muka buat ketemu Akira." wajahnya lesu saat mengatakan itu tapi matanya sarat akan kemarahan.


"Suruh siapa lo mau aja di hasut!"


ejeknya pada sang adik sepupu, padahal dalam hatinya ia lebih prihatin pada dirinya yang tengah di bodohi oleh wanita itu. Miris banget nasib lo, Kris! Sekalinya jatuh cinta langsung di tebas gitu aja dengan cara yang-- ah Kris tidak bisa mendeskripsikan rasanya.


"Apaan si, mas! Ini juga karena gua cinta kelewatan sama Akira, bukannya kasih solusi malah mojokin."


"Itu karena gua juga jadi korban, Yan. Rayrin juga manfaatin gua demi ambisinya. Sakit, Yan, sumpah!" tentu kata-kata itu hanya bisa ia tahan dalam hatinya.


Kris mengambil bungkus rokok di saku celananya, mengambil satu dan di nyalakannya.


"Mending, lo ngaku aja deh, lebih baik ngaku dari pada ketauan dengan cara yang gak elit."


"Gak elit gimana? Sial, lo buat kamar gua yang wangi jadi bau asep!"


Kris menyesap rokoknya sebentar dan menerbangkan lagi asapnya memenuhi kamar Deanno.


"Contohnya, kaya pas mendadak Rayrin ungkap bahwa lo secara gak langsung ada campur tangan nya sama pertengkaran mereka yang berujung buat tuh cewek keguguran. Dia bakal marah lebih parah, sama lo, Yan." ujar Kris menasihati.


Ia menepuk bahu adik sepupunya, "Mending, lo ngaku aja!"


Dan gua bakalan perbaiki apa yang udah gua lakukan pada orang yang sama sekali gak salah.


Sumpah, Kris masih shock sekali.


Sepupunya tadi mengajak bertemu katanya ingin minta pendapat.


Ia mau dong, secara Deanno satu-satunya saudara cowok yang paling akrab dengannya sejak kecil. Sudah seperti saudara kandung.


Alangkah, kagetnya ia mendengar curhatan sepupunya itu, cerita dari ketika Deanno menyukai Akira, lalu Akira menikah, lalu ia mengenal Rayrin, termakan bujuk rayu wanita itu dan membuat kehidupan Akira hancur dalam sekejap mata, lalu menerima teror dari wanita licik itu.


Ia sudah bertekad, pokoknya ia harus gagalin semua rencana busuk, Rayrin.


Diam-diam saja.


Eh, disana habis Akira bahas-bahas serius tentang Risa. Ia jadi menemukan sedikit titik terang. Risa suka Deanno, tapi Deanno lebih dekat dengan Akira, Risa suka Rangga, tapi Rangga terlalu respect dengan Akira.


Menurut, gadis itu semua lelaki yang ia suka menyukai Akira. Ia benci itu, ia benci Akira.


Sakit ? Tentu!


Mendengarnya dari mulut Tina saja ia sakit bagaimana jika Risa sendiri yang mengatakannya?


"Astaga hanya karena cowok! Norak lo Sa! Tau gak sih lo, Sa?!" bentaknya entah pada siapa.


Ponselnya berbunyi, Farid telepon, oke tenang, ia harus tenang agar Farid tidak khawatir atau cemas atau semacamnya lah.


Karena sekarang wajahnya benar-benar seperti orang emosi dan frustasi, stres tak tertolong!


"Iya, mas. Kenapa?"


Iya kenapa, ini sudah pukul enam sore, tapi malah telepon, jangan-jangan mau kerja lembur bagai kuda, lagi. Tebaknya dalam otak, ya dalam otak, bukan hati.


Akira mengerucut kesal mendengar pernyataan suaminya.


Sebentar sayang, cuma tiga hari aku perlu ke Jepang, baik-baik disana. Apa perlu Viara suruh tidur sana, temenin kamu?


"Gak! Gak usah! " ketusnya, ia benci berjauhan dengan Farid, benci! Apalagi di saat seperti ini, di saat ia butuh sandaran.


Sayang, jangan marah dong, aku janji aku bakalan usahain semuanya selesai dengan cepat


Akira memutar bola matanya malas sampai mata itu bertemu pada bingkai foto pernikahan mereka, yang di pasang tepat di depan ranjang nya, jadi saat ia merebahkan diri matanya bisa dengan mudah menemukan foto pernikahan itu


"Mas, gak pulang dulu gitu pamit sama aku, apa gimana kek, masa main langsung pergi aja, katanya janji gak akan ninggalin aku... " rengek manja mode on.


Cuma sebentar sayang, ini juga mendadak dan sangat penting, nurut ya istri mas, hm?


Selanjutnya, Akira hanya berdehem dan mematikan panggilan telepon Farid.


Lalu mengetikkan sesuatu yang membuat Farid nyaris tertawa saat ia baru mau memasuki area bandara dengan mobilnya.


'Mas, pokoknya harus pulang cepet, jangan lupa bawain oleh-oleh yang banyak, kalao enggak, aku ngambek gak mau nurut-nurut lagi. Semangat kerjanya biar dapet uang banyak, buat aku. Love you, mas 😘


Akira memang ajaib.


Gak ada part Akira-Farid lagi berduaan ya


kok jadi kurang nampol ya, ya ya ya gimana belom bagiannya, yaudah ya bye.