Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
48



Akira langsung memasang ekspresi waspada saat ia tahu ternyata sang suami sedang bersama sang mantan dari masa lalunya yang sangat amat ingin ia lupakan.


'Heuh, menyebalkan, kenapa Valen bisa disini sih, ada Zahra lagi.' keluhnya dalam hati sembari sesekali menyingkap anak rambutnya yang menutupi wajahnya.


Ia mencoba tersenyum meski sebenarnya malas, Zahra itu lainnya Azza. Kalau bukan Azza ya Zahra saingannya, tapi itu dulu, dulu!


Zahra itu sangat sinis pada Akira,apalagi saat dulu Valen memilih dirinya di banding wanita itu, jadi Akira malas bertatap muka dengan Zahra.


"Hey, Akira apa kabar? Oh, kamu sedang hamil?" ujar Valen sok terkejut.


"Hmm." dehem Akira menjawab dengan senyuman ringan.


Farid mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri, ia jadi waspada saat Valen mulai membahas apa tadi? Manis, manja, pencemburu, seperti dulu?!


Valen ini sudah punya kekasih masih saja!


"Azza mana?" tanya Akira basa-basi. Walaupun ia masih kesal pada Valen, canggung juga dengan Zahra tapi ia harus terlihat biasa, daripada di kira gagal move on?


"Kami putus." dan lagi dengan santai Valen menjawab.


"Hah? Tck! Aku kira kalian mau menikah." decak Akira tak menyangka.


Valen menggeleng, "Ternyata aku mencintai Zahra." ujarnya sembari menoleh ke samping di mana Zahra berada.


"Tck! Dasar lelaki aneh." gumam Akira yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Tapi ternyata Zahra mendengar itu.


"Siapa yang aneh?" tanya Zahra membuat mereka bertiga kebingungan.


"Tadi aku dengar Akira mengumpat, siapa yang kamu bilang aneh?" Zahra beralih menunjuk pada Akira.


"Valen." jawab Akira biasa-biasa saja, tanpa takut jawaban itu akan menyebabkan pertengkaran.


"Ki." peringat Farid yang mencium aroma bahwa istrinya sedang menantang musuh lamanya. Namun, sama sekali tidak di indahkan oleh sang istri.


"Iyalah.. aneh. Dulu lebih pilih aku, terus selingkuh sama teman aku, terus pdkt sama kamu, eh pacarannya sama teman kamu, terus sekarang?" oceh Akira dengan nada meledek.


'Duh! Ini ibu hamil suka sekali mancing keributan.' gerutu Farid dalam hati.


"Tidak punya pendirian!" ejek Akira.


"Kamu!" sentak Zahra.


"Aku kira hubungan kita sudah baik-baik saja, Ra. Tapi mungkin kamu masih tidak terima aku putuskan ya?" sela Valen dengan raut wajahnya yang kesal.


Akira langsung mengelus-elus perutnya, "Duh amit-amit. Mana mungkin!"


"Benar, jangan-jangan kamu masih berharap sama Valen, iya?!"


"Maaf.Aku sudah bersuami, suamiku lebih tampan dari pacar kamu, lebih kaya, dan punya tata krama yang lebih baik serta berpendirian." lawan Akira.


Sedangkan, Farid mulai kelimpungan, Akira kok di lawan. Istrinya kan doyan ribut, kecuali mama Rita, yang lain pasti di sikat.


"Akira, sudah." Farid kembali memperingati kala ia tahu, bahwa para tamu mulai menyadari adanya perdebatan.


"Tapi-"


"Sudah sayang, kita pulang saja, hm?" ajaknya sembari mengusap lembut bahu istrinya.


"Kasihan, Tuan Farid yang terhormat memiliki istri tak tahu aturan seperti kamu!" ejek Zahra, Akira hendak melawan, namun Farid lebih dahulu memperingatkan.


"Jaga ucapanmu! Berani-beraninya kamu mengatakan hal itu, bahkan dirimu tidak lebih baik dari istriku! Sekali lagi aku mendengar ejekan untuk istriku dari mulutmu, kamu akan tahu akibatnya!" ancam nya, yang bahkan membuat Akira bungkam, ingat kan? Farid pandai mengancam.


"Farid, ingat. Akira yang memulai perdebatan." bela Valen.


"Dia hanya berbicara kenyataan, kekasihmu saja yang langsung terbakar. Kalau yang di katakan Akira salah, kenapa harus marah?"


"Lagi pula sepertinya, kesalahan ada pada Zahra,yang mau saja di permainkan olehmu." tangan Zahra mengepal kuat di bawah sana.


Ia benci kenyataan yang di ungkap oleh Farid, barusan!


Zahra mencintai Valen, selalu. Meskipun lelaki itu datang dan pergi sesuka hati.


Baru saja berseteru membela Zahra dan lelaki itu dengan mudahnya bisa terpesona dengan wanita hamil. Sangat tidak berpendirian bukan?


"Hh... Akira semakin cantik, kehamilannya membuatnya semakin manis dan seksi,aku jadi tertarik." ungkap Valen, tak sungkan padahal ada Zahra di sampingnya yang sudah semakin menatap tajam pada Akira karena cemburu.


Farid memejamkan mata sejenak berusaha meredam emosi yang tersulut hanya karena kata-kata Valen yang mungkin orang lain anggap lelucon, tapi tidak baginya.


"Terimakasih, sudah mencampakkan Akira dan memberi ku kesempatan untuk mendapatkan wanita sesempurna dia." ujar Farid berusaha tenang, lalu segera membawa pergi Akira dari hadapan Zahra dan Valen, tanpa mau menatap keduanya lagi.


***


"Tck! Dasar, aku tidak tahu jika dengan tampang pas-pasan itu Valen menjadi seorang playboy." omel Farid sembari membuka jasnya yang kemudian di terima Akira untuk di masukan pada keranjang pakaian kotor.


Farid berjalan mendekati Akira membalikkan badan Akira agar menghadapnya.


Dengan jemarinya ia menelusuri seluruh wajah Akira, "Mata ini, kenapa matamu sangat indah. Lalu hidungmu, kenapa bisa cantik seperti ini, dan bibirmu juga manis dan seksi. Alismu juga sangat bagus."


Farid beralih pada rambut hitam legam milik Akira, "Rambutmu, lurus, lebat dan hitam, juga.." menghirup aroma rambut Akira, "Harum."


Akira menatap aneh pada suaminya, selama menikah belum pernah Farid memuji bagian tubuhnya secara mendetail begini. Farid melangkah mundur beberapa langkah memperhatikan tubuh istrinya yang masih terbalut gaun brokat warna silver.


"Shit! Bahkan tubuhmu semakin seksi saat mengandung!"


"Mas, kamu kok ngumpat, ingat aku lagi hamil." peringat Akira.


Farid kembali mendekat, lalu bersimpuh, membuat Akira semakin bingung di buatnya.


Tak lama, ia merasakan sentuhan di kakinya.


Farid melepas flatshoes silver nya, lalu menyentuh kakinya lembut dari ujung kaki sampai ke lutut.


"Far! Kamu, apa yang kamu lakukan, geli." protesnya, sembari memejamkan matanya kegelian tapi juga ada suatu hasrat yang ikut tersulut karena sentuhan itu.


"Kakimu indah. Dan semua keindahan dalam dirimu hanya milikku, aku tidak suka milikku di nikmati oleh orang lain seperti tadi." gumamnya, seraya kembali berdiri secara perlahan.


"Iya, aku milik kamu. Kamu kenapa sih?"


tanyanya bingung, namun tidak mendapat jawaban.


"Jangan dekat-dekat dengan Valen buaya itu lagi, aku tidak suka!" sewotnya sambil melepas kancing atas kemeja hitamnya.


"Lho, kan kamu yang dekat-dekat dia duluan." sungut Akira.


"Terserah! Pokoknya jangan pernah dekat dia jika tidak sedang bersamaku." tegas Farid lalu memeluk Akira posesif. Farid kesal, sudah sejak awal Valen itu seperti mengungkit yang telah lalu, ia agak biasa saja saat Valen masih membela Zahra, tapi akhirnya? Malah melirik istrinya, enak saja! Dengan tatapan memuja pula.


Farid khawatir kalau-kalau nanti laki-laki bernama Valen itu malah merayu istrinya lagi.


"Suamiku cemburu, hihi.. papa kamu cemburu sayang." gumamnya meledek dalam pelukan Farid. Sedangkan, yang di ledek semakin erat memeluk Akira, seakan tengah takut kehilangan.


"Aku gak akan berpaling, kalau iya. Pasti sudah aku lakukan sejak lama tahu." ujar Akira mengurai pelukan mereka lalu memukul pelan bahu kokoh suaminya.


"Aku cinta kamu, kok." ujar Akira.


"Tetap saja, kamu itu harus di awasi masih banyak lelaki selain Valen yang mengincarmu."


"Kamu berlebihan, mas. Aku udah nikah ini lho, perut juga udah isi anak kamu. Siapa yang berani godain aku, haha." berbeda dengan Farid yang tadi nampak tenang tapi uring-uringan saat di rumah.


Justru, Akira yang tadi berseteru malah nampak lebih santai. Ah, Akira senang jika Farid cemburu dengan hal kecil seperti tadi, bukannya itu berarti Farid juga sangat mencintainya?


**


Di sisi lain ada Rayrin dan Kris yang sudah kembali bersama, namun segalanya tidak semudah yang mereka kira.


Karma, Rayrin masih akan berlanjut.


Penasaran?


Karma kedua Rayrin. ha-ha-ha


vote ya