Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 6



I am okay, mungkin karena jalan ceritanya semakin banyak episode semakin aneh ya...


Aku down tapi berusaha untuk up


Happy Reading buat yang masih bersedia baca sampai part ini...


Maapkan author yang menyajikan cerita aneh ini huhu


yang penting follow IG author yaaa


@cottoncandy_zue


Nyatanya, malam yang Farid rencanakan gagal, Akira mengeluh lelah setelah mandi dan langsung tergeletak di atas ranjang dengan mata menutup rapat.


Wanita itu benar-benar telah tertidur pulas, saat Farid menyelesaikan giliran mandinya.


Pertama kalinya, lelaki itu menyesal telah membersihkan dirinya.


Paginya, ia harus memaksa matanya terbuka di pagi buta, Akira menyeretnya keluar untuk menghirup udara pagi di perkebunan teh.


Mereka berjalan bersama mengelilingi perkebunan teh setelah sebelumnya menempuh waktu untuk sampai pada tempat sejuk nan hijau tersebut.


Menjelang siang, Akira menyeretnya untung berkeliling kota bandung menjelajah kuliner untuk mengisi waktu makan siang mereka.


Akira benar-benar berkuasa, Farid hanya mampu menurut saja.


'Sekarang, kamu mengendalikan aku, lihat saja nanti, istri nakalku.' batin Farid.


Istrinya benar-benar mewujudkan liburannya, bukan honeymoon.


Karena menurut Farid, honeymoon itu artinya mengurung dirinya dan Akira di dalam kamar hotel sepanjang hari meneguk madu cinta.


Bukan seperti ini, menurutnya, mereka mirip seperti remaja yang sedang berlibur.


"Sayang, balik ke hotel yuk!" ajak Farid yang mulai lelah terus berkeliling, menuruti nafsu makan istrinya.


Tau sendirilah, Akira hobi makan, hobi masak, hobi kuliner, kalau tidak, mana mungkin punya restauran, cafe, dan sejenisnya?


"Kok pulang?" keluh wanita manis itu, ia mengecek jam tangan warna pinknya sebentar, "Masih jam satu, sayang." rengeknya.


"Terus kenapa? Justru kita harus kembali, karena suhu mulai memanas, sayang."


Tentu saja, Farid mulai merasa matahari menyengat kulitnya, Bandung memang lebih baik dari ibu kota, tidak sepanas disana tentunya, tapi berada di pinggiran jalan mencari makanan di antara pedagang kaki lima, itu membuat ia merasa matahari mulai menyengat kulit putihnya.


"Aku belum cari seblak paling enak disini, aku juga belum cari cilok dan cilor terenak disini, sayang." sahutnya merengek menggelayuti lengan suaminya.


"Besok lagi kan bisa."


"Aku ga mau ya besok besok, ntar yang ada gak jadi, kita disini cuma sebentar." Akira mulai merajuk.


"Bukannya buat anak, malah buat lemak honeymoon disini." gumam Farid.


"Ngomong apa kamu barusan?!"


"Apa?" tanya Farid pura-pura bingung.


"Yang ngajakin siapa, yang rewel siapa!" gerutu Akira sambil terus berjalan meninggalkan suaminya yang sedang melongo menatap punggung istrinya yang baru saja menggerutu.


Iya sih!


Yang mengajak kan Farid, kenapa juga dirinya selalu protes.


Ah, entahlah!


Ia mengusak rambutnya ke belakang dan mengikuti Akira lagi.


Ia mengikuti sang istri yang menghampiri kedai mie kocok.


Dan ikut menikmati menu disana.


Di Bandung, banyak makanan enak dengan nama unik tentu Akira takkan melewatkan kesempatan seperti ini.


Jika ia keluar negeri pasti tidak akan ada nasi timbel, oncom, cireng, karedok, cilok, cimol, seblak dan teman-temannya.


Akhirnya, Farid bisa bernapas lega, akhirnya istrinya mengajaknya pulang.


Keluar sejak pagi buta sampai hampir sore tentu membuatnya amat lelah.


"Sayang, kamu puas aku lelah, habis ini gantian aku yang puas kamu yang lelah." ucap Farid sembari merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Hah?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti, aku tau kamu tidak sepolos itu." tuduh Farid yang membuat Akira mencebik dan memutar bola matanya malas.


"Pikiran kamu gak jauh-jauh dari hal itu ya?" tanya Akira mengejek. Ia duduk di atas sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang.


"Biar saja, gini-gini kamu cinta setengah mati kan?" balas Farid ia menaruh kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantalan dan memandang Akira mengejek.


"Kamu--" serangan kata Akira terhenti kala ponselnya berdering.


"Matikan! Katanya mau quality time, tapi ponselmu tidak di matikan."


"Ini mama, mas."


"Jangan di jawab!"


"Tapi nanti apa kata beliau, dia pasti makin benci sama aku." lirih Akira dengan wajahnya yang sedih.


"Yaudah, angkat, keraskan agar aku bisa dengar."


Akira mengangguk dan segera mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya.


"Halo, ma?"


"Gak usah basa-basi." balas mama ketus di seberang sana. Akira hanya bisa bersabar mendengar nada kasar setiap mertuanya itu berbicara dengannya.


"Maaf, mama ada perlu apa?"


Farid yang sejak tadi hanya menyimak mulai bereaksi mendengar penuturan mamanya.


Tapi, tangan Akira mengisyaratkan agar ia tetap di tempatnya.


"Kami sedang di Bandung."


"Bandung? Ngapain?!" tanya wanita tua itu menekankan setiap katanya, setengah mengejek setengah marah.


"Mana Farid, saya mau bicara, saya bisa cepat mati jika terus mendengar suara kamu yang sok lembut itu, sok polos, sok lugu, tapi pandai menjerat anak saya."


"Kamu ya bisa-bisanya mempengaruhi anak saya, pakai ilmu apa kamu, dukun mana yang kamu pakai? Heran saya."


Segera, Farid yang mulai kesal merebut ponsel Akira dan mulai memanggil mamanya.


"Farid, kamu kemana aja, mama telepon gak di angkat?"


"Farid liburan dengan istri Farid, jangan ganggu, Ma." sahut pria itu terkesan dingin.


"Cuma liburan untuk apa kamu matikan ponsel kamu, ini pasti perbuatan istri sialan kamu itu kan?!"


"Udah ya ma, kami sibuk buat cucu untuk mama, biar mama gak kurang piknik kaya gitu, berpikir negatif setiap hari." ucap Farid malas lalu mematikan ponsel genggam Akira.


"Aku kan sudah bilang, matikan ponselnya!"


Memang tadi pagi, Farid mengatakan untuk mematikan ponsel masing-masing agar tidak ada yang mengganggu liburan mereka, meski maksudnya agar saat sedang panas-panasnya tidak akan ada adegan ponsel berdering menghentikan aktivitas suami istrinya bersama Akira.


"Mana mungkin, aku--"


"Kamu terlalu banyak membantah hari ini, aku harus menghukum kamu." ucap Farid setengah berbisik.


Ia langsung menggendong Akira dan membawa tubuh mereka ke atas ranjang.


Menikmati bibir manis istrinya, menjelajahi Akira hingga meninggalkan jejak di sekitar kulit leher wanita itu.


"Far, menjauh dari leherku, geli." ucap Akira di sela-sela kegiatan mereka.


Rambut Farid yang bertemu dengan kulit leher Akira membuat wanita itu kegelian sendiri.


"Kita sudah berjalan seharian, tapi kamu masih harum, selalu harum." puji Farid membuat pipinya memerah.


Entah, sudah berapa kali suaminya itu memuji nya setiap mereka berhubungan, tapi Akira selalu merona merah di pipinya, seperti mereka masih pengantin baru saja.


Melihat rona merah di pipi Akira, malah membuat Farid semakin gemas dan ingin terus berada di atas Akira setiap ia hari.


Tentu, ia harus menikmati kesempatan itu bukan? Dulu ia selalu enggan melakukannya karena berbagai alasan.


Tapi sekarang, tidak ada alasan untuk menahan hasratnya pada istrinya yang manis itu, tetapi nakal dan jahil sekali.


"Farid, kamu jahat." rengek Akira menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang hanya mengenakan kemeja putih yang tak terkancing sempurna.


Tangannya meremas kemeja itu tepat di atas dada suaminya.


"Jahat?"


Akira keluar dari persembunyiannya dan mulai melihat ke arah suaminya.


"Aku capek, capek banget, pinggangku rasanya kaya udah gak ada lagi." katanya sambil menggerakkan tangannya lucu.


Bagaimana tidak lelah?


Farid membuat istrinya berada dalam kuasanya sejak pukul tiga


sore hingga sekarang hampir pukul delapan malam.


Suaminya, seperti singa yang tak makan selama bertahun-tahun.


"Itu ganti rugi sayang, kamu sudah buat aku lelah seharian mengikuti kamu dan sekarang giliran kamu yang aku buat lelah demi aku." katanya tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu gak ikhlas?! Temenin aku jalan-jalan?! Iya?!" nadanya membentak namun ia mengucapkannya dengan merengek.


"Bukan gak ikhlas sayang, aku selalu ikhlas melakukan apapun demi kamu."


"Habisnya kamu minta imbalan, minta ganti rugi dan sejenisnya." rajuk Akira.


"Kamu manis dan jinak setiap kita selesai bercinta, aku suka." ungkap Farid yang lagi-lagi membuat Akira terpaksa menyembunyikan wajahnya dengan tangan yang meremas kemeja itu sampai kusut.


Akira selalu malu-malu, ia akan lebih merasa malu saat bayangan mereka melakukan hubungan suami istri terlintas dalam otaknya.


Benar-benar seperti pasangan baru saja.


Mendadak, Akira teringat sesuatu, tentang mertuanya yang tahu nama ibunya tanpa pernah ia beri tau.


"Mas, kenapa mama benci sama aku, aku rasa bukan hanya karena aku bukan dari kalangan kalian, tapi pasti ada yang lain." ucap Akira tiba-tiba.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya kita makan. Kamu harus mengisi tenagamu untuk nanti." ucap Farid menggoda di akhir kalimat.


"Mas! Aku serius loh."


"Jangan pikirin mama dulu, kita masih liburan kan, lebih baik pikirkan cara buat anak kembar."


Kalau saja ungkapan itu keluar dulu, saat ia belum mengalami sakitnya kehilangan anak yang bahkan belum pernah ia lihat.


Akira pasti akan dengan semangat menanggapi kata-kata suaminya.


Karena jujur, ia sangat mengidamkan anak kembar, meski akan sulit karena di antara mereka berdua tidak ada yang memiliki gen kembar.


Suaminya sangat mengharapkan anak, tapi ia saja takut untuk mengandung, tidak mengandung setelah berbulan-bulan berhubungan tanpa kontrasepsi saja sebuah keberuntungan baginya.


Artinya, ia masih bisa mengulur waktu.


Tapi, itu juga membuat jiwanya merasa khawatir dan kekhawatiran itu mulai kembali menyeruak memenuhi dadanya.


Duh, aku rasa part ini terlalu dewasa gak sih, aku serem sendiri ngetiknya.


yoo jawaabbb