
NIH AKU UP LAGI VOTE SAMA LIKENYA DONG!
Niatnya kemaren mau up 2x tapi ngantuk banget ga jadi deh.
Makin kesini makin dikit, oya jangan lupa mampir ke Suami Kualitas Premium loh ya aku tunggu vote, like, dan komentar nya..
Sergio meminum minuman soda nya dengan sekali teguk lalu melemparnya sembarang arah. Sialan! Benar-benar sialan!
Membuat rencana agar selamat dari amukan bos dan ketahuan sampai begini tidak pernah ia bayangkan. Farid, bosnya itu sungguh mewujudkan ucapannya, gaji bulan ini di potong! Di potong bukan tidak di bayarkan, Farid juga punya perasaan. Tapi, sebagai gantinya ia harus bekerja kapanpun bosnya itu butuh, catat, kapanpun!
Ini sih sama saja Farid tidak punya perasaan, ia berjalan gontai di jalanan komplek perumahan bernama Green Nusa Residence.
Ya seperti namanya, areanya memang hijau banyak pohon dan tumbuhan, taman yang asri tersedia disini. Letaknya yang berada di sub urban atau pinggiran kota membuat cuacanya Tentu lebih adem.
Tentu, yang tinggal disini hanya kelompok orang-orang berrekening gendut. Harga tanahnya tidak bercanda.
"Arghh.. sial! Entah kapan lagi aku bisa menikmati keindahan tempat ini!" teriaknya frustasi, ia yakin 💯 persen. Waktu istirahatnya akan selalu terganggu sebentar lagi.
"Wah.. jadi bapak yang udah lempar kaleng sembarangan!" seru suara seorang wanita menghampiri Sergio dengan wajah tidak senang.
"Kamu?!" tangannya menunjuk pada wajah perempuan yang baru saja menghampirinya.
"Ya ampunn bapak ini gak tau cara buang sampah ya!" ucap perempuan itu lagi tanpa mengindahkan kata Sergio.
Sergio membuang wajahnya dan berlalu dari hadapan perempuan yang ternyata adalah Zia.
"Cewek sejenis Nona Akira itu merepotkan!" gumamnya pelan.
"Eh pak saya dengar ya!" teriak Zia dari belakangan.
Dengan malas Gio menengok ke belakang dan "Terserah!"
Zia melongo takjub mendengar jawaban aneh dan tajam dari Gio.
"Hadehh anak buahnya Farid ya sejenis sama Farid, nyesel gue pernah dengan suka rela bantu dia dapetin informasi tentang Akira dulu, kalo kagak kan dia pasti kena amuk Farid hihi.. " katanya sambil cekikikan.
"Ganteng-ganteng galak kaya anjing, ups!" sambungnya lagi dengan tangan kanan menutup mulutnya.
"Perempuan tidak tau tata krama!" celetuk Gio yang belum jauh dari posisi Zia, sebelum kemudian benar-benar pergi dari pandangan Zia.
"What? Dia bilang aku apa tadi?" tunjuknya pada wajahnya sendiri dengan mulut melongo.
Sedangkan, Farid dalam posisi sulit Akira memang tidak kabur, tidak marah, tidak kecewa tapi ia selalu menyebut kesalahan Farid saat mereka mulai berdebat, sungguh itu lebih jahat menurutnya.
Seperti sekarang, Akira sudah siap dengan jeans biru medium dan blouse kuningnya, baru saja ia melewati ruang tengah, Farid tiba-tiba bicara dari atas tangga, ia baru keluar dari ruang kerjanya
"Ini udah malem, mau kemana?" tanyanya
"Di rumah saja, gak usah kemana-kemana." dan akhirnya tidak mengizinkan Akira untuk bertemu Rey.
"Oh gitu ya, kemaren aja kamu gak perduli tuh!" sindir Akira.
"Nggak begitu, sayang maksudnya aku itu--"
"Apa?! Kamu mah selalu mau menang sendiri dari aku!" katanya ketus.
"Nggak baik perempuan bersuami ketemu laki-laki lain di malam hari." kata Farid kemudian dan berhasil membuat Akira berbalik dan masuk kamarnya lagi.
Ia langsung mengganti pakaiannya dengan camisole putih dengan motif kupu-kupu berwarna biru.
Dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lalu menarik selimut sampai ke batas leher.
Tak lama Farid datang menghampiri, Farid harus mengalah kalau tidak mau Akira tersinggung kan?
"Ki.." panggilnya setelah menutup pintu kamar dan melangkah menuju ranjang. Mendudukan dirinya di sebelah Akira. Tangannya bergerak mengelus pucuk kepala Akira.
"Bukan aku mau menang sendiri, tapi kamu kan bisa ketemu pas siang hari." katanya dengan suara lembut.
"Sejak kapan kamu pengertian dan selembut ini biasanya ngancem?" balas Akira yang membuat Farid harus pintar-pintar bersabar.
Demi apapun, ia tak suka kesalahannya di ungkit.
"Yaudah aku minta maaf."
"Kenapa minta maaf emang kamu salah apa, kayanya kamu selalu bener." balas Akira lagi datar, tapi cukup menguji kesabaran. Balasan Akira sejak tadi sungguh menusuk relung hati.
"Kira.. udah ya istirahat udah jam delapan, sebentar lagi mau jam sembilan." katanya masih dengan nada lembut.
"Loh biasanya juga kamu yang suka nggak tau waktu, tinggalin aku sering banget, lembur lah, ngerjain kerjaan kantor di rumah lah, kalo aku udah merem di tinggal kerja lagi." balasnya dengan mengoceh, lagi -lagi berisi suatu hal yang membuat Farid harus melebarkan dadanya, eh maksudnya tuh berlapang dada.
Jika Farid menyuruh Akira begini, Akira akan menjawab kelakuan Farid yang berlawanan dengan apa yang ia katakan pada Akira.
Ya Tuhan seperti mempunyai anak yang nakal rasanya, gumam Farid dalam hati.
"Akira, berhenti bicara dan istirahat atau aku bungkam mulutmu dengan bibirku!"
"Tuhkan ngancem, alah biasanya aja langsung nyosor juga kan emang pernah kasih notifikasi mau cium?!"
Wah, Akira nantang singa lapar sepertinya, karena setelahnya mata dan raut wajah Farid berubah seakan ingin menerkam mangsa empuk.
"Alamat salah ngomong!" kata Akira lalu menepuk mulutnya berulang kali.
EH KOK KONSEKUENSI NYA FARID BIASA AJA SIH, IYALAH ORANG FARID CUMA DI SURUH SERGIO KOK, KAN SERGIO DALANG NYA, YA POKOKNYA TERSERAH AKU WKWK