Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Baperan



Karena ada yang vote aku jadi mau up lagi.


JANGAN LUPA VOTE LAGI YAA...


Like nya jangan ketinggalan, komen jangan lupa wkwk maksa banget ya author.


"Au ah gelap."


akhirnya kalimat itu yang muncul dari mulut Akira, Farid tertawa geli mendengar jawaban Akira.


"Menggemaskan." gumamnya pelan, dengan tawa yang belum reda setelah bergumam pelan.


"Diem!" gertak Akira sebal dengan tangan yang melipat di atas perutnya.


"Okey, jadi kamu malu dengan kenyataan yang jelas sekali kamu perbuat?" tanya Farid meledek, 'bukannya tadi kami sedang bicara serius ya, kenapa sekarang malah jadi bercanda dengan aku yang jadi bahan ledekannya sih,' gerutu Akira dalam hati.


Wajahnya sudah semakin kusut dengan bibir yang mengerucut cemberut. Terkadang mencebik ke kanan atau ke kiri setiap tawa Farid meledak lagi dan lagi.


Sebenarnya apa sih yang lucu, ampun dah.


Akira menghentak sebelah kakinya dengan kesal lalu mulai berbalik meninggalkan Farid yang belum bosan mengejeknya.


"Eits, mau kemana?"


cekal Farid buru-buru pada pinggang Akira dan memeluk wanita itu dari belakang.


"Meninggalkan masa lalu dan mencari masa depan!" ketus Akira dengan kepala berbalik dan tubuh yang masih menghadap pintu, mendongak ke atas menatap wajah Farid.


Tangannya bergerak menyentuh kedua lengan Farid yang melingkar di atas perutnya, berusaha melepasnya.


Tapi dengan sigap Farid semakin mengeratkan pelukannya, menaruh dagunya di atas bahu Akira, menghirup aroma yang sudah lama ia rindukan.


"Lepas, ah!" bukan melepas, tangan Farid bergerak semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku gak bisa napas ntar." masih tidak mempan, Farid masih memeluk Akira.


"Jangan pernah bilang aku masa lalumu, karena aku yakin aku adalah masa lalu juga masa depanmu, begitu juga dengan kamu buatku." kata Farid yang sontak membuat Akira berhenti mengoceh dan memberontak.


"Kamu masa lalu, masa kini, dan masa depanku." kata Farid dengan masih bersandar di bahu kiri Akira.


Akira mematung dengan jantung yang berdebar keras, mendadak ia sulit menelan air liurnya sendiri.


Tahukah kalian, bagi Akira ini lebih mengesankan daripada kata cinta yang pernah Farid ungkapkan beberapa waktu lalu.


Akira berputar menghadap Farid, menatap mata elang lelaki itu, ia mencari kebohongan dalam mata lelakinya.


Namun, yang ia temukan hanya tatapan sendu seakan berharap bahwa ia akan di percaya oleh Akira.


Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh lembut rahang tegas Farid yang seketika menarik tangannya dari sana dan membawa Akira dalam dekapan hangat suaminya.


Astaga, bagaimana ini perasaannya luluh lantak, pertahanannya runtuh, ia membalas pelukan Farid dengan sangat erat, ia tidak munafik, ia mengakui bahwa selama ia menjauhi Farid, hatinya sangat merindukan lelaki itu.


"Maaf telah mengabaikanmu selama ini." gumam Farid dalam pelukan mereka.


Dan itu sukses membuat Akira yang tiba-tiba baperan semakin terbawa perasaan, rasa dimana ia tak ingin bodoh karena cinta telah hilang, akal sehatnya menghilang bersamaan dengan kalimat indah yang keluar dari mulut Farid.


"Aku mencintai kamu, tetaplah di sisiku apapun yang terjadi." kata Farid menatap Akira penuh harap setelah sebelumnya melepaskan pelukan kerinduan mereka.


"Far, aku---"


Hening. Akira nampak berpikir dengan terus mengulum bibirnya dengan mata yang bergerak kesana kemari.


Aduh, kenapa disaat kaya gini selalu bingung sih mau ngomong apa, gumamnya dalam hati.


"Emm, Far." Farid semakin fokus menatap Akira yang terlihat kebingungan, ia menanti balasan Akira dengan penuh harap, "Aku gak tau mau jawab apa, soalnya kata-kata kamu panjang banget." ucapnya sembari menggigit jari telunjuknya.


Boleh gak sih, Farid berteriak pada dunia bahwa ia memiliki istri selucu dan semenggemaskan ini?!


Farid mencubit kedua pipi Akira dan menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Lucu." katanya dengan senyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rapih.


"Awh, sakit!" protes Akira dengan pipi menggembung.


"Jadi kamu mau kasih aku kesempatan?" tanya Farid dengan senyum menggoda.


"Nggak tau ah!" sahut Akira kesal, ia merutuki dirinya yang selalu mudah terbawa perasaan dan gampang luluh, seperti tidak punya pendirian.


"Oke, aku anggap jawabannya iya." celetuk Farid dengan percaya diri.


"Dih, pede banget!"


Bukannya membalas Akira dengan kata-kata, Farid malah memberikan kecupan singkat pada bibir manis Akira.


"Ih memang aku udah bilang maafin kamu, belum ya, jangan pede dulu, maen cium-cium lagi." remeh Akira yang tidak di anggap serius oleh Farid, ia yakin Akira sudah luluh dan memaafkannya hanya saja istrinya itu terlalu gengsi.


"Itu bukan ciuman tapi kecupan, ciuman itu yang kaya gini nih." Farid mulai memajukan wajahnya demi untuk mencium bibir Akira, namun dorongan kuat pada dahinya ia dapatkan dari tangan Akira.


Farid tersenyum miring penuh arti, tak kehabisan akal ia mengekang kedua tangan Akira dengan tangannya meletakkannya di punggung Akira sembari memeluk erat Akira lagi dan bibirnya mulai menjamah bibir Akira.


Farid merasakan manisnya bibir Akira yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Jangan pergi lagi, disini saja."


ucap Farid setelah melepaskan tautan bibirnya.


Baru Akira akan melayangkan protesnya, tapi tertahan di tenggorokan karena ancaman Farid, "Jangan nolak, atau aku gak akan sekedar cium." sontak itu membuat Akira melotot tajam.


Dengan kasar ia memberontak,menggerakkan kedua tangannya yang di cekal Farid di balik punggungnya, "Lepas ih, sakit tau lama-lama."


Farid melepasnya perlahan dan membawa tangan kanan Akira dalam genggamannya lalu mengecupnya lembut, "Okey, ayo makan siang, sepertinya cacing di perutmu sudah tidak sabar." kata Farid dengan senyum meledek membuat Akira melotot ke arah perutnya sendiri. Ah, malunya, jadi Farid mendengar raungan cacing di perutnya.


Lebih dari itu, ia lebih malu karena ia tidak bisa mempertahankan benteng pertahanannya, akhirnya ia menyerah dan memberikan Farid kesempatan.


Bukankah ia terlihat seperti wanita yang tidak punya pendirian?


Bagaimana anggapan Farid nanti, pasti dirinya terkesan gampangan. Oh, Akira dengan segala pikiran buruknya.


Kenapa si aku gak ada keren-kerennya, gitu aja langsung baperan, ughh masa di kasih kata - kata gitu aja udah luluh, gerutunya sebal dalam hati dengan sesekali melirik Farid yang sedang tersenyum lebar di depannya, sembari menghentakkan kaki kirinya pada lantai marmer di bawahnya.


Baiklah, coba saja dulu.


I am said : Aku tuh udah capek buat part dimana mereka jauhan dan marah-marahan apalagi Akira cuma kebawa emosi aja, jadi aku bosen pengen satuiin mereka dengan aura cinta yang berbeda dari yang sebelumnya.


Dan soal Dean yang turut andil aku akan ungkap ketika mereka udah baikan kayanya lebih greget aja beda dari yang lain yang ke ungkap semua duluan baru baikan, aneh ya? Ya gini lah cerita ala aku. Maksa.