Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Blushing



Farid mengerti tidak seorang kakakpun yang rela adik perempuan satu-satunya mengalami hal semacam itu dalam kehidupan pernikahannya, tapi mana Farid tau kalau keegoisan dan harga dirinya akan menghancurkan cita cintanya di masa depan?


"Mas, saya tau saya salah dan saya akan pebaiki segalanya." ucapnya dengan bibir bergetar, oke, ini kejadian langka dimana Farid si presdir angkuh berbicara dengan bibir bergetar.


"Saya tidak mau salah ambil keputusan untuk adik saya, mungkin dulu saya cuek sama anak itu, karena saya pikir dia anak yang kuat apalagi sejak di tinggal ibu, dia sangat kuat bahkan menghadapi omongan ibu-ibu tetangga yang selalu mengoceh karena ketidakbecusan dia sebagai pengganti wanita di rumah ini,"


Mattheo berhenti sejenak menyesap kopinya dan menatap Farid sekilas lalu kembali menatap kosong ke depan,


"Saya menyesal saat itu ikut memarahi dia, Akira adik dan anak yang kuat di tengah cibiran orang dan pengabaian saya tanpa adanya dukungan, dia mandiri walaupun suka menghamburkan uang dan manja, jadi saya tidak akan rela melepaskan dia kembali pada lelaki semacam kamu yang berpotensi menyiakan dirinya!"


Mattheo menatap tajam Farid menuju kalimat terakhirnya.


"Saya akan berusaha mendapatkan kepercayaan Akira lagi, saya butuh waktu untuk itu dan tentu restu mas sebagai satu-satunya orang tua Akira sekarang."


kata Farid membuat Mattheo sedikit heran, harusnya lelaki di hadapannya ini tengah menunduk lemas karena menyesal bukannya membuat pernyataan seperti itu.


"Kamu masih tidak menyesal berbuat semacam itu pada Akira?"


"Saya sudah menyesal tapi bukan berarti saya akan terus menunduk lemah tanpa berusaha mengembalikan Akira ke pelukan saya." katanya mantap membuat Mattheo mulai goyah.


Tapi tidak, laki-laki ini harus tau dulu sulitnya mendapatkan Akira, pikir Mattheo.


Mattheo menatap Farid sejenak sebelum akhirnya meninggalkan pria itu sendiri setelah mengucapkan, "Tunjukan bukti dari maksud kata-katamu!"


***


Akira terpaksa membuka matanya saat pendengarannya terganggu oleh deringan ponsel yang sepertinya bukan miliknya.


"Ya ampun, punya Farid! Apa dia tidur disini semalem?" gumamnya yang langsung mendapat jawaban setelah mendengar gemericik air dari kamar mandi.


Tak lama kemudian, Farid keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Woy, bajunya kemana?!" pekik Akira kaget, membuat Farid yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh ke arah sumber suara.


"Aku kan habis mandi sayang, masa pake baju." kilahnya.


"Ya seenggaknya keluar dari sana udah berpakaian, gak telanjang dada begini."


"Supir aku belum dateng jadi sementara gini dulu, kenapa sih?"


"Kamu masih tanya kenapa? Ada aku disini Far, kamu gak malu?!" pekiknya keheranan.


"Kenapa malu, kamu kan masih istriku, lagian kamu udah pernah liat seluruh tubuh ini kan?" ucapnya menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya, Akira merasakan pipinya memanas saat itu juga.


"Ya ampun, pipi kamu merah kamu sakit?" tanya Farid pura-pura tak tau bahwa istrinya itu sedang manahan malu, sembari melangkah mendekati Akira yang masih duduk di ranjang dengan wajah bantalnya.


Farid menyentuh kening Akira, "Nggak panas." katanya lalu memindahkan tangannya mengelus pipi Akira yang memerah dan secara tiba-tiba mencubitnya gemas, "Uhh..imutnya." ucapnya yang sukses membuat Akira mendengus kesal.


"Ih ngapain sih! Emang aku udah maafin kamu seenaknya pegang-pegang!" marahnya sembari mendorong bahu telanjang Farid.


"Manis kalau lagi marah." kata Farid lalu dengan lancang mengecup bibir Akira.


Akira membelalak kaget berusaha mendorong Farid kembali, namun di saat yang sama Farid menekan lehernya agar semakin memperdalam kecupannya pada bibir Akira.


Farid bermain sebentar dengan bibir bawah Akira yang sudah lama ia rindukan,lalu perlahan melepaskan pagutannya.


Tertera nama mamanya, dengan malas Farid mengangkat panggilan mamanya.


"Kenapa ma?"


Kamu pulang kok gak bilang-bilang sih Far, harusnya kamu kan temuin mama bukannya di rumah perempuan pecicilan itu!


"Ma, jangan asal ngomong, aku kesini karena ayah mertua aku meninggal, apa pantas kalau aku malah pulang ke rumah mama?!"


Terserah, mama gak perduli, toh si papa udah ngelayat kemaren, pokoknya mama tunggu kamu sekarang!


Farid memutuskan sambungan teleponnya dengan raut menahan amarah. Bagaimana mungkin mamanya setidak berperasaan begitu.


Minimal, merasa prihatin atau apa kek, eh malah ngoceh gak jelas begitu, gumamnya dalam hati.


"Ki, aku mau ke rumah mama, kamu gak papa aku tinggal, sebentar kok gak lama." katanya sembari mengelus surai hitam milik Akira.


Akira menepis tangan yang ada di kepalanya menghempaskannya ke bawah, "Yaudah sana, lama juga gak papa." ucapnya sinis.


"Yakin gak papa?" tanya Farid meyakinkan.


"Ish, sejak kapan si kamu cerewet, gak balik juga gak masalah kok!" gerutunya kesal.


"Oke, sebagai gantinya nanti aku pulang bawain makanan kesukaan kamu." ujarnya lembut.


"Ish, gak usah sok perduli deh, mau kamu tinggal lagi aku juga gak masalah, emang aku anak kecil yang harus terus-terusan di jagain, mending kamu pulang ke rumah kamu dan --"


"Farid, Akira?" panggil seseorang dari luar kamar memotong kalimat tajam yang sudab Akira persiapkan. Akira segera turun dari ranjang dan membuka pintu yang menunjukan sosok Ariana.


Farid mengulum senyumnya sembari menatap punggung Akira yang sedang bercengkrama dengan Ariana.


"Apa kak?" tanya Akira.


"Ini tadi supirnya Farid bawain baju ganti." kata Ariana menyodorkan dua buah paperbag berukuran sedang.


"Oh, makasih kak."


"Iya, buruan kasih Farid, kasian kedinginan nanti." kata Ariana sembari melirik Farid yang duduk di ranjang.


"Biarin aja lah kak." ketusnya.


"Hush, gak boleh gitu Kikir." sergah Ariana.


"Yaelah kak, iya-iya!" sahut Akira pasrah.


"Jangan jahat sama suami Akira." ujar Ariana memperingati lalu meninggalkan kamar Akira tanpa mendengar jawaban dari adik iparnya itu. Akira berjalan mendekati Farid dan menyodorkan pakaian ganti untuk calon mantan suaminya itu.


"Makasih, istriku." ucap Farid senang sembari menjawil hidung mancung Akira, mengecup bibirnya singkat dan melenggang masuk ke kamar mandi.


"Ihh brengsek sok manis banget sih! Sorry, gak semudah itu gue bakalan luluh!" teriak Akira saat pintu kamar mandi sudah tertutup.


Farid hanya tersenyum geli mendengar teriakan istrinya.