
Begitu banyak lika-liku dalam perjalanan cinta Akira dan juga banyak hambatan untuk bertahan bersama lelaki yang dicintainya, Farid, ayah dari ketiga anak-anaknya.
Farid tidak menyangka, jika ia akan menyerahkan hidupnya pada wanita yang sejak dulu tidak pernah ia pedulikan kehadirannya.
Rasanya sekarang, ia tidak bisa hidup tanpa Akira-nya.
Tidak bisa tidur jika belum melihat Akira.
Tidak bisa tenang jika belum memastikan Akira baik-baik saja.
Tidak bisa makan jika bukan masakan Akira.
Hahaha, sekarang dia seperti bergantung pada istrinya itu !
Meskipun, istrinya sekarang jadi sangat cerewet maklum, mungkin karena sudah menjadi seorang ibu, Akira jadi sangat amat cerewet lebih dari pada yang dulu.
Pagi mereka selalu di hiasi dengan celotehan Akira, seperti sekarang istrinya itu sedang mengomel karena ia yang masih betah di tempat tidur.
"Mas, bangun buruan udah siang, harus antar Kaisar ke sekolah juga kan?!"
Ya, sekarang Kaisar sudah mulai bersekolah taman kanak-kanak.
Namun, bukannya bangun Farid malah menarik Akira dalam pelukannya, "Sebentar lagi." gumam Farid, sejak usianya dan usia anak-anak bertambah lelaki itu jadi lebih manja pada Akira, tidak se- disiplin dulu.
"Tuh kaya gitu, aku kan udah bilang tidur jangan terlalu malam, kerjaan bisa di kerjain di kantor, jadi paginya gak malas bangun, malah kaya Kaisar aja deh kamu, Mas!" cerocos Akira sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya.
Namun, lelaki itu malah makin mengeratkan pelukannya.
"Jangan bikin contoh yang gak bagus buat anak." celotehnya lagi.
Sssttt...
Lalu, tanpa aba-aba Farid membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya, cukup lama hingga, "Mama!"
"Mas, Kaisar!"
Akira dengan panik menjauhkan dirinya dari sang suami sebelum anaknya melihat kelakuan kedua orangtuanya.
Benar saja, tidak lama kemudian muncullah, seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan dengan mata bulat,hidung mancung dan pipi gembulnya yang masih di balut dengan baju tidur bergambar Pororo.
"Kai mau mandi cuma sama mama, nggak mau di mandiin nenek." ujar bocah lelaki itu sambil menunjukkan wajah gemasnya yang sedang merajuk.
"Hey boy, sudah besar mandi sendiri jangan minta mandiin mama." celetuk Farid usil.
"Papa sudah besar juga tapi tidurnya masih sama mama, yang bangunin bobo juga mama." jawab bocah itu dengan tampang polosnya.
Memang sejak hadirnya anak-anak mereka, Akira malah jadi seperti barang rebutan, terutama di antara Farid dan Kaisar.
"Udah ayo, kakak siap-siap ya!" lalu Akira menggandeng bocah itu keluar dari kamarnya dan memasuki kamar lain di sebelahnya.
Samudra dan Ayura, juga telah tumbuh menjadi anak-anak yang lucu.
Akira berhasil memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan tapi juga berhasil membuat dirinya kerepotan mengurus mereka semua, di tambah Farid ikut-ikut menjadi seperti bayi saja!
"Kai sama papa ya, makan sendiri soalnya adik-adik harus di suapi, kan adik-adik belum bisa makan sendiri kaya kakak." jelas Akira, Kaisar mengerti meski dengan wajah cemberutnya.
"Kakak kan sudah besar, juga sebagai kakak harus bisa jadi contoh nanti buat adik-adik jadi harus bisa mandiri, oke?" ujar Farid mengajari, Kaisar.
Sebisa mungkin, mereka harus bisa membuat Kaisar mengerti, walaupun terkadang mereka juga kasihan pada Kaisar yang juga ingin di manja.
Bukannya mereka tidak bisa memanjakannya, namun mengurus anak usia lima tahun dan dua balita sekaligus bukanlah hal mudah.
Akira mengurus mereka sendiri, hanya kadang-kadang saja mertuanya atau Fiora berkunjung, kadang Ariana juga datang.
Mereka sengaja tidak memperkerjakan pengasuh, karena Akira ingin semua anaknya hanya dekat dengannya bukan dengan orang lain, walaupun kewalahan dan harus mengorbankan Kaisar sedikit, karena Kaisar yang sudah lebih besar.
Akira selalu berusaha untuk bisa adil membagi kasih sayangnya terhadap anak-anaknya.
Untungnya, walaupun terkadang rewel Kaisar cukup pengertian di usianya yang masih kecil.
Disisi lain, Rayrin dan Kris berbahagia dengan keluarga kecil mereka, di tambah satu putri lagi yang mereka beri nama, Disha.
Disha hadir, saat usia Shine dua tahun.
Kebahagiaan seperti sudah Rayrin gapai, namun satu hal yang belum membuatnya sempurna, yaitu restu dari papa mertuanya.
Gengsi, lelaki tua itu begitu besar bahkan saat Shine lahir lelaki tua itu tidak datang.
Untungnya, saat kelahiran Krystal setidaknya papa mertuanya itu mau melihat cuci keduanya.
"Mama! Isha, nakal gigit kakak." adu Shine yang sepertinya baru saja bertengkar dengan adiknya.
Secara bersamaan, Kris dan Rayrin menghampiri tempat dimana kedua putrinya bermain, mereka tertawa karena kelucuan anak-anak mereka.
Rumah sederhana yang di tinggali dengan penuh cinta meski belum sempurna.
Namun, akhirnya Rayrin merasakan indahnya hidup bersama orang yang mencintainya.
Ia bersyukur bertemu Kris, meski pernah terlambat mencintai pria itu.
Namun, ia bersyukur sekarang karena pria itu sudi kembali padanya, menerima dirinya apa adanya.
Menjadi ayah yang luar biasa bagi putri-putrinya dan juga suami yang sempurna untuknya.
Boleh lanjutt???
Masih ada yang minat baca gak yaa???
Yokk dukungannya like komen vote
Biar author nggak raguu update nyaaaa
❤️❤️❤️