
Aku ingin percaya padanya, tapi entah bagaimana ucapan wanita itu memberikan keraguan dalam diriku - Akira Shafeena Malik.
"Mas, beneran kamu nggak ada rencana balik sama dia lagi?" tanya Akira sembari memainkan kancing piyama suaminya, yang kini tengah memeluknya.
Farid menengok sedikit kebawah tempat Akira bersandar dilengannya.
"Kamu berharap sekali aku akan kembali dengan dia?"
Akira berjengit mendengarnya, ia mendongak menatap suaminya kesal.
"Bukan gitu loh, tapi kamu tuh! Kamu kemarin ketemu dia ya?"
"Mana ada aku ketemu dia? Bukannya aku sibuk bujukin kamu ya? Yang marahnya kaya ayam kehilangan anaknya" sahut Farid yang dihadiahi cubitan dipinggangnya.
"Sakit sayang!" pekik Farid.
"Ra, kamu harusnya lebih percaya aku dari pada ucapan orang lain, pasti ada yang pengaruhi kamu ya?"
"Nggak, udah deh gak mau bahas!" ketus Akira. Farid menyerah ia harus mengalah agar mood ibu hamil itu tidak kembali buruk, karna mood buruk Akira akan jadi mood buruk anaknya juga.
Saat sedang asyik melancarkan acara ngambeknya, terdengar getaran dari ponselnya.
Ah siapa sih pasti si lampir itu lagi, males deh ganggu banget gerutunya dalam hati.
Tak lama ponselnya berdering, ia abaikan karna sudah menebak siapa itu.
"Ra, angkat tuh aku mau tidur jadi berisik loh"
protes Farid, membuat Akira terpaksa mengambil ponselnya.
Kan, dia lagi dia lagi hobi banget usik hidup aku kaya gak ada kerjaan lain aja! protesnya dalam hati.
Ia menengok dan mendekat ke arah Farid yang sedang bersiap memejamkan matanya setelah melihat isi pesan dari Rayrin.
"Mas, jangan tidur dulu aku mau tanya!" pinta Akira dengan paksa menarik selimut Farid.
"Apa lagi si Akira?" sahut Farid malas.
"Mas, kamu pernah begituan sama Rayrin?" tanya Akira menyelidik.
"Begituan apaan sih yang jelas lah kalau ngomong"
"Itu loh, buat baby" ucap Akira malu - malu menundukan kepalanya.
Farid tersentak kaget, mendengar pertanyaan istrinya.
" Ya nggak lah, jangan gila deh kamu aku cuma pernah sama kamu aja tuh hasilnya! Jangan ngaco kamu kalau cemburu juga" cerocos Farid.
"Serius? Jangan pernah mau ya sama dia, kan kamu udah punya istri" rengek Akira manja, "Kamu gak kecewa kan sama aku karna aku hamil, kamu jadi-"
"Hushh, bicara apa sih sudah tidur! Makin gak jelas kamu"
"Ya aku takut, karena aku hamil kamu cari pelampiasan sama si Rayrin!" pekik Akira tak terima ucapannya terpotong.
"Aku bukan tipe laki - laki semacam itu ya, aku pria baik - baik tau, gak sembarangan nyentuh perempuan" ucapnya menyentil dahi Akira, membuat sang pemilik meringis kesakitan.
"Bersihin itu pikiran kamu, yang enggak - enggak aja mikirnya" ceramah Farid.
Bagaimana ia tidak akan berpikir macam - macam kalau Rayrin saja mengirimkan semacam itu.
Ups ! Sorry, mana bisa? Kamu kan hamil, lemah lagi*
Ya kira - kira begitulah isi pesan Rayrin yang membuat Akira jadi mempertanyakan hal aneh seperti tadi, padahal ia tahu tipe macam apa suaminya.
Rasa ragu terus menggerogoti hatinya, tapi ia dengan seluruh cintanya yang telah ia pertahankan selama ini, mencoba untuk mempercayai suaminya.
"Mas?" panggil Akira dengan merengek, terpaksa Farid membuka matanya yang baru terpejam.
"Kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Farid yang dibalas anggukan istrinya.
"Mau apa Ra?"
"Mau kamu, boleh ya?" sungguh Akira malu, sangat malu entah dimana harga dirinya yang selalu ia junjung tinggi selama ini.
"Masudnya gimana? Bukannya sekarang aku udah dideket kamu?" tanya Farid mengenyahkan pikiran liarnya.
"Ish! Kamu gak usah pura-pura gak ngerti deh, waktu kamu mau begituin aku kamu juga suka bilang gitu!" gerutu Akira kesal.
"Yaudahlah kalau gak mau!" pekik Akira, ia sudah membuang rasa malunya demi melakukan ini tapi malah ditolak, sial!
Ia membalikan badannya membelakangi Farid, tapi Farid mencegahnya dan mulai menindih Akira.
"Beneran mau? Boleh kan?" tanya Farid dengan senyum mesumnya.
"Nggak, tadi kan kamu sendiri yang nolak aku?" sahut Akira mengalihkan wajahnya.
"Udah ngajak gak bisa batalin seenaknya" ucap Farid yang langsung membungkam bibir Akira dengan bibirnya, faktor jarang menyentuh tubuh istrinya yang membuat ia langsung lupa diri dan tidak terkendali saat mendapat kesempatan melakukannya, tapi ia harus melakukannya perlahan mengingat ada bayi yang harus ia lindungi.
Akira hanya bisa melenguh dan mendesah dibawah Farid, ia harus menerima konsekuensi dari ucapanya tadi.
"Ughh...mas aku gak bisa napas..hh" ucap Akira sembari mendorong tubuh Farid menjauh, suaminya benar - benar seperti kehilangan kendali saat mencumbunya sampai membuatnya lupa bernapas.
"Aku gak bisa lepasin kamu, kamu yang mulai" ucap Farid menyeringai dan langsung menerjang istrinya.
.
.
.
.
Akira menatap dirinya dicermin yang ada dikamar mandi, ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia terpancing dengan bualan Rayrin dan menjatuhkan harga dirinya dengan mengajak suaminya melakukan itu?
Sekarang lihat? Dari leher sampai dada banyak bekas kecupan Farid, sepertinya hari ini ia tidak bisa keluar rumah, padahal hari ini ia berencana pergi ke Kafenya, sungguh sial!
Efek semalam sungguh luar biasa, ia harusnya ingat betapa ganasnya pria itu.
Seperti singa yang hanya makan satu tahun sekali dan berubah jadi bringas saat mendapatkan makanannya setelah sekian lama.
Sepertinya kali ini Rayrin salah langkah, ia justru membuat Akira dan Farid dekat semalam karna ejekannya.
Votenya guys jangan lupa
Oh iya minta pendapat dong enaknya dikasih visual Rayrin gak nih ?
Haduh tiap ngetik adegan begitu jantung author gak karuan jadi setiap nyempilin begituan suka gak jelas maaf ya readers bayangin sendiri aja dulu hehe