Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Meninggal



Saat sedang asik mengobrol mendadak ponselnya bergetar di balik saku celana jeansnya, dengan sigap Viara mengangkat teleponnya.


Viara mendengar dengan seksama apa yang di tuturkan oleh pemilik suara di seberang sana sembari menoleh ke arah Akira sesekali, setelahnya ia menatap Akira dengan raut tak enak.


Dengan ragu ia menoleh ke samping dimana Akira duduk sesekali menatap sekelilingnya seakan mengecek kondisi dan situasi,


"Ra, tadi kakak ipar lo telepon, dia bilang ada yang mau di sampein tapi kan ponsel lo aja hampir gak pernah di hidupin, terus gue bilang gue lagi sama lo jadi susah di hubungin karna susah sinyal."


"Yang bener ah, intinya kak Ariana sampein apa?!"


"Dia tanya Akira kemana aja, Farid nyari ke rumah terus--"


"Biarin aja kalau gitu, masih belum mau cerita takutnya kedenger ayah, ntar tensi ayah naik." potong Akira.


Viara semakin menunjukan raut wajah ragu dan tak enak hatinya.


"Ra ada lagi, ini penting...sebenernya tuh, duh gimana ya." Viara bingung dan semakin membuat Akira gemas.


"Apaan sih Vi, buruan ngomong." desak Akira yang membuat Viara semakin cemas dan panik, Viara memejamkan matanya erat ia tak mau melihat wajah kecewa sahabatnya ketika ia mengungkap hal ini.


"Akira, ayah meninggal." kata Viara yang membuat Akira dan semua yang ada di situ terkejut.


"Vi, bercanda lo gak lucu." sentak Akira.


"Beneran Vi?!" kini Tina yang bersuara, Viara semakin merasa tak enak menyampaikan kabar menyedihkan itu melihat reaksi dari semua orang.


"Kok bisa, kenapa?" kali ini Zia.


Sedangkan, Akira terdiam perlahan air mata menetes membasahi pipinya.


"Maaf, gue gak tau kak Ana bilang lo harus pulang sekarang juga, ayah lo meninggal, dia udah hubungin lo tapi selalu gak aktif dan beruntungnya hari ini dia bisa hubungi gue." kata Viara.


Akira merasa sesak di dadanya, harusnya ia tidak begini, ia membuat dirinya tak bisa menghabiskan waktu di sisa terakhir umur ayahnya.


"Kak, are you okay? Ayo, aku antar kamu pulang." ujar Rey dengan memegangi bahu Akira.


Butuh waktu paling tidak sekitar lima jam untuk sampai di rumah keluarga Akira. Mereka berangkat pukul 12.05 dan sampai pukul 17.00 Sesampainya disana ia tidak dapat menahan tangisnya saat melihat jenazah ayahnya sudah bersiap untuk di kebumikan sore itu. Ia tak sempat melihat wajah ayahnya sama sekali.


Setelah pemakaman sang ayah, Akira hanya terus menangis di kamarnya bersamaan dengan hujan lebat di sertai angin membuat sahabat-sahabat Akira terpaksa menginap di rumahnya.


Kini mereka sedang duduk di ruang tengah kediaman keluarga Akira bersama dengan Ariana yang memangku Leo sedangkan kakak lelaki Akira mengurus tamu yang masih datang melayat.


Ariana menengok ke arah tangga dan sekitar memastikan bahwa tidak ada Akira disana.


"Tapi jangan bilang-bilang Akira ya." katanya dengan raut cemas, merekapun mengangguk setuju, "Jadi, waktu itu suami Akira kesini cari Akira katanya kabur dari rumah, tapi paginya kami ga temuin Farid padahal waktu itu dia kami suruh menginap, kakak tanya ke suami dan berakhir kami berdiskusi tentang Akira yang kami sendiri ga tau keberadaannya,"


Ariana menjeda penjelasannya, ia menarik napas dalam-dalam seolah mencari kekuatan dalam bercerita, "Tanpa kami sadar, ayah dengar semuanya, ayah tanya gimana mungkin sudah berbulan-bulan anaknya gak pulang dan sekarang malah kabur ga tau kemana dalam keadaan habis keguguran, dia juga kecewa sama Farid yang gak kasih tau keadaan Akira yang koma saat itu." katanya lagi dengan suara serak menahan tangis.


"Ayah kaget, dia marah sama tindakan Akira dan Farid yang seolah gak anggap ayah, terus pingsan, kata dokter tensi ayah tinggi dan ayah juga kena serangan jantung, ayah kritis beberapa hari terus meninggal." kata Ariana lirih menyudahi penjelasannya.


"Jadi gitu, makannya kakak gak kasih tau Akira penyebab ayahnya meninggal?" ujar Viara meyakinkan dirinya.


"Iya, bilang aja ayah serangan jantung kalau dia tanya nanti, Akira pasti merasa bersalah banget kalau tau."


"Maaf kak, sebenarnya kami tau keadaan Akira sejak lama tapi karena kami rasa bukan hak kami bilang ke keluarga jadi, ya kami pikir Farid pasti kasih kabar." kata Zia prihatin.


"Yaudah bukan salah kalian, Farid juga udah jelasin sebelumnya, semua terjadi gitu aja dan mungkin saking sedihnya dia sampai lupa." kata Ariana mencoba memaklumi.


Tanpa mereka sadari obrolan mereka di dengar oleh Akira, Akira yang ingin keluar untuk minum terhenti ketika mendengar sayup-sayup pembicaraan tentang penyebab ayahnya meninggal. Ia berhenti dan bersembunyi di balik tembok yang menjadi tembok kamarnya yang memang berada di depan mulut tangga.


Ia mendengar semuanya dengan seksama dan langsung berbalik menangis dengan penuh penyesalan.


Sudah ia tidak tau ayahnya sakit karena kabur, sekarang ia tau bahwa secara tak langsung ialah yang jadi penyebab ayah meninggal.


Sepertinya sikap mandirinya berubah jadi egois, saking mandirinya ia sampai tidak memberitahu masalah dan keberadaannya, yang sekarang itu terkesan seperti keegoisannya.


Akira memandang fotonya bersama sang ayah dengan tatapan sendu, "Maafin aku yah, ayah tau anak ayah mandiri kan yah? Tapi anak ayah ini malah gak tau kalau sikap aku buat ayah kecewa dan bikin ayah sakit." katanya lirih sembari menitikan air matanya.


Pikirannya berlari ke arah Farid, pria itu tidak memberikan kabarnya pada keluarganya sama sekali. Apa dia lupa atau apa? Apa benar kata Ariana bahwa suaminya itu lupa karena mungkin terlalu terpukul dengan kondisinya?


Saat seperti ini, ia butuh Farid sebagai kekuatannya tapi itu tidak mungkin.


Ia sudah mengusir lelaki itu dan meminta cerai sebelumnya.


Rasa kesal, sedih,cinta,rindu,menyesal, semua bercampur menjadi satu.


Antara ia membutuhkan kehangatan pria itu di saat seperti ini dan harus kuat sendiri agar tidak terus tenggelam dalam perbudakan cinta yang ia ciptakan dengan Farid sebagai Tuannya.


Hampir lupa sama keluarga nya Akira, sampe pas masuk rumah sakit engga gue kabarin.🙈 jadi ayah Akira meninggal gara-gara authornya😭