Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Hate and Difense



Aku ingatkan untuk jangan lupa vote,like and comment yaa, Happy Reading!🌻😊


"Ma! Pantes gak sih tarik - tarik tangan? Aku sudah dewasa!" protes Farid karna mama menyeretnya masuk ke ruangan yang bahkan selalu ia jaga dari orang sembarangan.


"Farid! Rayrin bilang itu istri kamu hamil?Bener?!" sentak mama tanpa basa - basi dengan mata menatap tajam ke arah sang putera. Farid mencoba bersikap setenang mungkin dengan raut wajah yang ia buat tanpa ekspresi.


"Iya, Akira hamil" jawabnya.


Mama semakin membelalak tak percaya giginya mulai menggertak tanda ia mulai emosi tapi berusaha ia tahan.


"Farid, kenapa kamu bisa buat dia hamil sih? Rayrin lebih pantas jadi ibu dari anak - anak kamu daripada perempuan itu!" keluhnya dengan nada memprotes tajam dengan jari yang menunjuk - nunjuk ke arah pintu seakan menunjukan Akira yang berada diluar ruangan itu yang sedang ia maksud.


Mata Farid terbelalak kaget dengan ucapan sang mama, otaknya tak bisa berpikir lebih jernih lagi. " Apa maksud mama? Biar bagaimanapun sekarang dia mengandung anak Farid ma, cucu mama!" hardik Farid.


"Suruh dia gugurin aja Far, sebelum semakin besar terus kamu ceraikan dia, balik sama Rayrin, Rayrin bilang kok kalian masih saling cinta kan?" ujar Mama seolah tanpa beban.


Farid mencoba meredam emosinya mendengar kata - kata ibunya. Ia berusaha agar tidak melawan sang ibu yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Mama emang mau kamu menikah, tapi bukan dengan perempuan semacam dia, yang tidak ada sopan santunnya, mana pantas dia jadi menantu keluarga kita!" sambung Mama terus mengoceh yang semakin membuat emosi dalam diri Farid membara.


"Ma- "


"Atau kamu bisa tinggalin dia setelah bayinya lahir, yang penting kalian cerai buat apa bertahan sama dia Far, kalau kamu masih cinta Rayrin, mama juga setuju sekali kamu kembali sama Rayrin, bisa juga kamu-"


"Cukup Ma!" teriak Farid dengan suara lantang dan tegas, seketika menghentikan ucapan Mama, dan berhasil membuat wanita tua itu terkejut dan terdiam.


"Farid gak nyangka mama bisa sepicik itu dan gak punya perasaan, bahkan yang ada dikandungan Akira itu anak Farid ma, cucu mama juga, dan satu lagi, Farid sudah melupakan Rayrin"


"Kamu gak perlu bela dia Farid! Bisa saja ternyata dia hamil sama laki - laki lain, jangan lupa Farid, dia itu perempuan tidak tahu aturan yang punya banyak teman pria jangan kamu kira mama gak tau!" teriak Mama masih tak mau kalah beradu argumen.


Rahang pria itu mengeras berusaha meredam segala emosi yang membuncah didada,tangannya mengepal erat. Ya Tuhan, ingatkan dia bahwa yang sedang ia hadapi adalah ibunya. "Ma, mama orang tua Farid, jangan sampai Farid berteriak lebih keras dan melawan orang tua Farid,dan jangan sampai mama membuat aku membenci mama" lirih Farid dengan kilatan amarah dimatanya.


Mama langsung terdiam, namun kembali berargumen setelah menemukan ide.


"Kamu diapain sama istri kamu sampe bisa lawan mama? Jangan - jangan istri kamu itu sudah mempengaruhi kamu iya?!"


"Mama! Saya mohon mama keluar dari rumah saya sebelum saya tidak mempercayai anda sebagai mama saya lagi!" tegas Farid.


Mama menatap Farid tak percaya dan melenggang pergi dari ruangan anaknya ia berpikir bahwa anaknya telah diracuni oleh Akira. Bahkan saat melewati ruang tengah sempat - sempatnya ia melirik tajam menantunya. Mengacungkan telunjuknya pada wajah Akira dan menatap kesal.


"Kamu! Entah sihir apa yang kamu lakukan sampai anak saya membela kamu dan melawan saya! Saya benci kamu! Kamu cuma bawa pengaruh buruk untuk Farid!" hardik mama membuat kepala Akira yang tadinya tertunduk langsung terangkat menatap sang mertua karena kaget dengan hardikan mertuanya.


"Apa kamu tidak bisa tidak hamil dan cerai dengan anak saya agar ia bisa bersama Rayrin yang ia cintai? Atau karna sudah terlanjur gugurkan saja bisa kan?!"


Akira terkejut dengan kalimat yang disampaikan mertuanya, itu sungguh menyakitkannya.


Air mata Akira menetes bersamaan dengan perginya sang mertua dari hadapannya. Ia mendudukan dirinya disofa ruang tengah menunduk sedih dan menumpahkan air matanya.


Ya Tuhan, apa salahku sampai mertuaku sangat membenciku bahkan saat kehamilanku batinnya menjerit.


Ia berusaha kuat dan bangkit untuk menuju kamarnya, menghapus semua air mata dan mencoba biasa saja saat nanti berhadapan dengan suaminya. Sia - sia pertahanannya, air matanya terus menetes disetiap anak tangga yang ia jejaki.


Sedangkan Farid ia menjambak rambutnya kasar, ia tak menyangka ibunya bisa sekejam itu, menggugurkan anaknya? Apa mamanya itu sudah tidak waras?


Sama seperti Akira, Farid berusaha biasa saja dan tidak menunjukan emosinya. Ia harus tetap tenang saat menemui istrinya.


Ia keluar dari sana mencari keberadaan istrinya, ia tak melihat sosok itu diruang tengah, sontak ia berlari kembali ke atas masuk ke kamarnya dengan harapan menemukan istrinya itu berada didalam.


Akira segera menghapus jejak air matanya saat mendengar suara pintu terbuka.


"Hey, kamu disini padahal tadi aku susulin ke ruang tengah" ujar Farid seraya duduk disamping Akira yang sedang duduk dipinggir ranjang. Ada sedikit rasa lega dalam dadanya menemukan sang istri dikamar, jika mungkin ia masih diruang tengah pasti besar kemungkinannya mendapat cecaran dari mama.


Akira diam masih berusaha menetralkan suaranya agar tidak serak seperti orang menangis.


"Kok gak jawab?" tanya Farid, lalu dengan segera menyentuh dagu istrinya dan menaikannya agar Akira bisa menatapnya.


"Kamu menangis?" selidiknya saat melihat mata Akira yang memerah dan bulu matanya yang basah.


Akira hanya menggeleng, ia tak siap mengeluarkan suara atau ia akan tersedu - sedu saat itu juga.


"Jangan bohong Ra, itu matanya merah,hidungnya merah terus-" ucapan Farid terhenti saat tiba - tiba Akira memeluknya erat lalu menangis, meski tidak bersuara,meski tidak terisak, tapi pria itu tau istrinya sedang menangis kencang dipelukannya, karna air matanya membuat pakaian yang ia kenakan mulai basah.


Farid hanya diam dan mencoba memberikan waktu untuknya menangis, sembari mengelus lembut rambut Akira ia berkata - kata. "Ra, menangislah keluarkan suaramu,jangan ditahan" lirih Farid lalu mengecup rambut Akira.


Bersamaan dengan itu terdengar suara pilu yang menyesakan dada, Akira menangis sejadi-jadinya dipelukannya suaminya.


"Maafin aku, aku cuma pengganggu hidup kamu, aku dan anak yang ada dikandungan aku cuma membebani kamu" ucapnya dengan isakan.


"Jangan bicara semacam itu Ra"


"Tapi itu bener Far!" pekik Akira masih dengan menangis.


Farid hanya bisa mengalah daripada harus beradu pendapat dengan Akira yang sedang menangis kencang entah kenapa, yang mungkin akan semakin memperburuk keadaan ia membatin tentang apa yang mungkin terjadi hingga membuat Akira seperti itu.


Farid menyelimuti tubuh Akira yang sedang tertidur nyenyak,mungkin ia lelah karna terlalu lama menangis.


Ia mengambil ponsel yang ada disaku celananya lalu menghubungi Wisnu, ya karena kepala pelayannya itu selalu memantau apapun yang terjadi didalam rumah.


"Wisnu beritahu aku apa yang terjadi pada Akira saat aku tidak disana!"


"..."


Rahang pria itu mengeras tangannya mencengkram erat ponsel dalam genggamannya.


Sial ! Bisa - bisanya mamanya mengatakan semacam itu pada Akira sedangkan bayi mereka masih lemah!


Jika karna ucapan mama tadi membuat Akira dan bayinya kenapa - kenapa ia bersumpah tidak akan menjejakan kakinya dirumah orang tuanya lagi.


Ini Akira begimana sih orang yang buat dia jadi menantu mama terus buat Dia hamil juga si Farid, kenapa dia yang baperan terus ngerasa jadi beban?


bukannya si Farid yang buat dia jadi hidup terbebani?


gimana menurut klean?