Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Baby Boy



Akira telah berada di tempat kerjanya, sungguh ia rindu dengan tempat ini, sesungguhnya Farid masih belum mengizinkan, hanya tadi ia sedikit membujuk, ah bahkan banyak membujuk akhirnya ia boleh mengunjungi Home's Food dengan syarat bahwa pria itu ikut bersamanya, awalnya ia tak setuju karna sekaligus bertemu teman - temannya juga, bagi mereka itu kesempatan langka, mengingat Akira sulit diajak bertemu sejak menikah.


Suasana sangat canggung mereka berbicara dengan sangat hati - hati karna adanya Farid diantara mereka, inilah yang Akira takutkan tapi bagaimana lagi daripada tidak bisa sama sekali.


Bahkan Tina yang kesehariannya sangat berisik seperti malu dengan adanya Farid.


"Bicara saja seperti biasa, aku disini hanya menjaga istriku anggap saja aku tak ada" ujar Farid yang menyadari bahwa ada kecanggungan karena dirinya.


"Iya guys, ngomong aja kali, dia gak akan makan kalian kok santai aja" sambung Akira.


"Lah lo kok suka gak dateng kesini sih Ra, seringan nyerahin kerjaan ke gue" ujar Viara mulai membuka suara.


"Hmm itu, akhir - akhir ini gue harus istirahat, soalnya babynya lemah" sahutnya pelan dan santai.


"Baby? Maksudnya bayi? Lo hamil?!" tanya Zia penasaran.


Akira mengangguk mantap sebagai jawaban.


"Wahh bisa hamil juga lo!" pekik Viara asal lalu tertawa.


"Babynya cewek atau cowok Ra?" tanya Tina.


Akira menepuk dahinya pelan mendengar pertanyaan konyol Tina.


"Ya ampun ini anak, baru juga tiga bulan mana gue tau" cerocos Akira.


"Ya sapa tau gitu udah lama, ada dua bulan tau lo gak muncul kalau gak salah ngitung sih" ujar Tina cuek.


Viara mengangguk mantap.


"Setuju, udah lama gengs kita gak ketemu, eh ini malah si Risa gak ada"


"Kenapa sih kok gak bisa?" tanya Akira penasaran.


"Kerjalah ya kali gembala ayam!" sambar Zia.


"Yee biasa aja kali juminten! Emang sesibuk itu ya sampe gak bisa kesini? Kan udah sore masa belum pulang?"


"Tanya dong sama suami lo kan dia bosnya" tunjuk Zia pada Farid yang diam sejak tadi.


Akira memberengut kesal.


"Ah males, dia mah taunya itu aturan dia yang gak bisa dilanggar" ucapnya cuek lalu menyesap milkshake stroberinya.


"Udah selesai ngobrolnya, ayo pulang!" ajak Farid.


"Ih kan baru sebentar" rengek Akira.


"Kamu kan harus istirahat biar babynya kuat" bujuk Farid.


"Yaudah pulang aja Ra, biar babynya sehat jangan capek - capek, ntar kan kita bisa lanjut digrup chat" ujar Zia menengahi.


"Nah loh kesambet apa tuh bisa ngomong sebijak itu?"


"Ih Akira gak jelas, Zia kan pengacara tauk!" ucap Tina tak terima.


"Yaudah gue pulang ya, bye!" pamitnya pada teman - temannya.


.


.


.


.


.


Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam tapi Akira tidak bisa tidur, ia menatap wajah Farid disampingnya, memperhatikan dengan seksama wajah seseorang yang selama ini mengisi hatinya. Menyentuh dahi,hidung, sampai ke rahang dengan penuh penghayatan.


Orang yang memporak - porandakan perasaannya dengan segala tingkahnya yang menurutnya kelabu, tidak tertangkap kejelasannya, pria dengan hati yang penuh misteri. Jika dulu terkadang manis terkadang pahit sekarang ia benar merasakan manis dari perlakuan Farid padanya.


Terbesit rasa tak enak didadanya setiap ia mengingat rasa cintanya. Ia terlalu biasa untuk pria sesempurna suaminya.


Tapi setidaknya cintanya tak bisa dibandingkan dengan apapun yang pria itu miliki, bahkan cinta Rayrin tak akan mengalahkan cintanya pada Farid, itulah sebabnya ia mendominasi rasa cemburu dengan pertengkaran dengan Rayrin daripada harus menangis meratapi suaminya bersama mantan kekasihnya.


Terselip rasa benci saat pria itu menyakiti dirinya dengan tidak menghargainya. Namun, ternyata Akira hanyalah Akira yang bodoh akan cinta. Perasaannya mengalahkan segalanya, cintanya mengalahkan bencinya, kasihnya mengalahkan rasa bosannya bersama pria yang tak benar - benar menganggapnya.


"Apa babyboy ingin menatap ayahnya?" tanya Farid dengan mata terpejam, sontak itu membuat Akira kaget dan menarik tangannya dari wajah suaminya. Namun, tangannya ditahan oleh tangan kekar Farid, bersamaan dengan itu Farid membuka matanya.


Akira mengalihkan pandangannya ke bawah mengamati sprei turqoise yang melekat diranjangnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu" ujar Akira menunduk.


Farid tersenyum tipis dan menarik tangan Akira agar ia mendekat, lalu memeluknya erat.


"Jawab dulu, apa baby boy kita mau melihat wajah ayahnya? Kenapa belum tidur?" tanyanya lembut pada Akira.


"Eugh...itu.. Kenapa kau yakin sekali bahwa dia laki - laki? Kau mulai menyebutnya baby boy?!" protes Akira.


"Perasaanku saja" sahut Farid sekenanya.


"Aku yang mengandung dan aku harap kembar perempuan,tapi hasil USG hanya menunjukan satu janin" cerocos Akira dengan segala keluhannya.


"Mana bisa, kau hamil saat aku baru pertama kali melakukan itu padamu, lalu kedua dan ketiga, ah aku rasa yang kedua kau sudah mulai mengandung, harusnya untuk anak kembar kita harus lebih keras lagi membuatnya" cerocos Farid tak kalah panjang dengan Akira.


Akira berdecak tak setuju dengan ucapan Farid yang sedikit vulgar.


"Kau sedang mengalihkan pembicaraan ya? Huh jadi gemas!" ucapnya lalu mencubit pipi Akira yang terlihat lebih chubby karna kehamilannya.


"Apa tidak ada yang salah denganmu?" lirih Akira, sebab akhir - akhir ini suaminya semakin dekat dan akrab padanya.


"Apa?"


"Ya, selama ini kau berbeda dan -"


"Jangan lanjutkan aku tak mau mendengarnya, tidurlah ini sudah malam, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Farid sekedar memastikan sebab beberapa kali ia menemukan ranjang sebelahnya kosong karna Akira ternyata pergi ke dapur ditengah malam untuk makan. Mungkin pengaruh hamil membuatnya sering lapar dimalam hari.


"Hmm ini masih jam sebelas ya, pasti ada beberapa jajanan kaki lima yang buka, aku pengen" rengek Akira dengan mata berbinar, jelas ia tak akan melewatkan kesempatan semacam ini.


"Huft, tidak adakah yang lain makan di Amerika mungkin?"


"Harusnya kamu tuh bersyukur aku ngidamnya masih normal, kalau sekarang aku mau makan nasi padang dan belinya dipadang kamu pasti nyesel udah nawarin aku kaya tadi" cerocos Akira.


"Tinggal suruh Gio, gampang" sahut Farid santai.


"Ish kamu ya, ya kamu lah yang beli masa Gio, yang hamilin aku itu kamu apa Gio?!"


"Yaudah sekarang kamu mau?"


"Aku mau bakso isi telur puyuh, harus telur puyuh gak mau yang lain dan belinya harus diorang yang jualannya dipinggir jalan!"


"Ih ribet yang jual bakso kan banyak Ra, harus banget ya kaya gitu?" pekik Farid heran.


"Tuh kan baru gitu aja ngeluh, tadi sok nawarin makan di Amerika" ejek Akira.


"Yaudah oke, aku beliin kamu tunggu disini, terus pengen apa lagi biar gak bolak balik?"


"Aaa... aku mau ikut mau makan ditempatnya, terus aku mau donat yang ada lelehan saus matchanya" rengek Akira.


"Ih ribet deh kamu, ini udah malem, dingin terus donat di jam segini?" pekik Farid takjub.


"Yaudah kalau gak mau turutin tuh gak usah buat anak!" celetuk Akira yang langsung mengena tepat dihati Farid, benar - benar pedas ucapan istrinya itu. Kemanakah Farid sang Tuan Muda yang berwibawa dan tak bisa dilawan? Kemanakah Akira yang takut dengan ancaman Farid?


Okey! Demi istrinya yang sedang mengandung anaknya ia harus mengalah dan menuruti permintaan sang istri, lupakan dulu tentang gengsi dan harga diri.


komentar dong guys, kasih saran juga boleh


selamat membaca!