Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Better Together



Rasa asing yang menyenangkan kini dirasakan pria itu, melihat wanita yang kini ia cintai berada dalam rengkuhannya, dalam pelukannya, beristirahat akibat dirinya yang telah menyebabkan sang wanita kelelahan dan enggan membuka mata padahal matahari hampir tinggi.


Bersamanya ia merasakan apa itu yang disebut menyenangkan. Merasakan rasanya tertawa lepas, juga cinta meski terlambat.


Andai ia dulu membuka hatinya lebih cepat, sudah pasti ia sudah bahagia dengan wanitanya itu saat ini. Bahkan, mungkin dengan satu atau dua anak.


Tapi dengan bayi yang masih dalam kandungan istrinya itu sudah cukup membuat dirinya merasa mendapatkan seluruh dunia. Ia berjanji akan memberikan seluruh cinta didunia hanya untuk Akira juga anak-anak mereka nanti.


Farid tidak tahu, dia akan jatuh sedalam ini dalam lubang asmara seorang Akira.


Yang dulu tidak ia pedulikan, selalu ia abaikan, dan ia remehkan.


Farid, pria itu menunduk mendekati wajah istrinya mengecup keningnya, lalu beralih ke telinga wanita itu dan meniup telinganya,membuat wanita itu yang notabenenya istri Farid, bergerak kegelian dan mulai mengerjapkan matanya,menyesuaikan dengan cahaya.


Wajahnya mendongak menatap suaminya yang sedang bertumpu pada sikunya dan miring menghadapnya. Tangannya tergerak untuk mengelus rahang tegas milik suaminya. Rasanya seperti mimpi ia bisa menyentuh suaminya dengan lembut. Karna biasanya selalu ada gengsi diantara hatinya.


"Kau sekarang sudah berani menyentuhku ya?" suara Farid menginterupsi pergerakan Akira dan menyadarkan dirinya yang masih setengah sadar.


Akira mengernyit sebal dan mengerucutkan bibirnya kesal. Sungguh, wajah bangun tidurnya dan bibir merona alaminya dipagi hari sangat indah. Akira saat bangun tidur adalah pemandangan terindah menurut Farid.


Akira memberengut dan mendudukan dirinya,menyibak selimutnya dan menurunkan kakinya, berjalan menghentak menuju kamar mandi.


Memberikan pemandangan lucu bagi Farid, dimana pagi-pagi ia sudah membuat istrinya kesal dengan wajah menggemaskan.


.


.


.


"Wah, kau sudah mulai membangkang rupanya?" ucap Farid berdecak tak suka, karena sejak tadi Akira tidak mau menurut akan kemauannya yang hanya ingin Akira tetap dirumah dan tidak perlu bekerja. Jelas saja Akira tidak akan mau, mana bisa ia meninggalkan usahanya yang ia bangun dengan susah payah itu.


"Bukan begitu, tapi kan kamu tau aku mendirikan itu dengan susah payah" sahutnya dengan wajah ditekuk seakan tak setuju, ingin melawan,tapi juga takut suaminya marah, kata 'kau' dalam penyebutan Farid menjadi acuan dirinya menetukan detik-detik kemarahan pria itu.


"Akira, aku ingin kamu tetap dirumah, memperhatikan aku dan anak-anak kita saja nantinya, bukankah itu terasa menyenangkan?" ucapnya penuh dengan perasaan, membuat Akira terdiam sejenak menatap mata elang suaminya.


Akira juga menginginkannya,bahkan itu impiannya, menjadi istri dan ibu yang baik yang mengurus keperluan anak dan suaminya sepenuhnya. Tapi, ia juga tidak bisa berhenti begitu saja, ia tau ia takkan kekurangan hidup bersama suaminya, hanya saja Home's Food seperti jiwanya.


"Aku juga menginginkannya, apalagi sekarang sudah hamil tapi, meninggalkan itu berat, mas" rengeknya dengan meremas bantal sofa yang ada diruang tengahnya, tempat mereka bersantai saat ini.


"Bukan meninggalkan Ki, tapi berhenti bekerja, kamu tetap memilikinya dan kamu bisa memantaunya sesekali." ucapnya meyakinkan sang istri.


"Yasudah" pasrahnya, Farid tersenyum senang menyambut jawaban Akira, akhirnya ia akan memiliki Akira tanpa gangguan dari luar, egois memang, tapi dengan begini akan mengurangi kemungkinan ia cemburu karena para pria yang akan mengganggu istrinya.


"Kamu gak apa-apa, gak pergi ke kantor?"tanya Akira dengan wajah serius.


"Nggak, apa kamu selalu lupa siapa suamimu?!"


"Tck, sombong!" decaknya tak suka, yang justru membuat Farid mencubit hidungnya gemas.


"Aww, sakit tau!" pekiknya sambil mengelus ujung hidungnya yang memerah.


"Akhirnya kamu teriak waktu kesakitan, biasanya diam saja"


"Aku juga hanya manusia biasa kali!" pekiknya kesal.


"Kemana?"


"Ikut aja, jangan banyak tanya!" ketusnya.


Akira tersenyum lebar dengan mata yang melebar juga, mata cokelat terangnya berbinar menatap pemandangan yang ada di depannya, ia segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan dirinya dari sana.


"Wow Far! Kamu bawa aku kesini?" pekiknya senang, berbalik menatap suaminya yang berada di belakangnya.


"Aku kira, oh my god! Baru kemarin kamu gak mau aku ajak ke pantai dan sekarang? You're the best hubby! "


Apa seriang itu reaksi yang akan diberikan Akira saat keinginannya terpenuhi seperti sebuah kejutan? Jawabannya adalah iya, Akira, seceria dan sesembarangan apapun cara bicaranya, seberani atau sepercaya diri apa dirinya, tetap dia adalah gadis pemalu yang tidak enakkan, ia selalu merasa keinginannya mungkin akan menyulitkan,maka ia akan membatalkannya begitu saja tanpa perduli pada diri sendiri.


Yang penting ia tidak membuat orang lain kecewa dan terbebani, atau membuat ia terpojok karena telah memaksa keinginannya.


Farid menatap senyum cerah dan binar dari bola mata wanitanya. Ia tau Akira menyukai alam liar, jadi ia membawanya ke pantai tanpa pengunjung, sepi tiada pengganggu, sunyi tanpa suara berisik dari kerumunan orang, menambah ulasan senyum bahagia Akira yang menyukai kesunyian.


Karena bagi Akira, dalam kesunyian dan kesepian sebuah tempat, akan menambah kebebasannya. Seperti saat ini, ia bebas berkeliling, bebas mengeksplorasi tempat ini.


"Mas Farid, bisa gak sih kita bermalam disini?" tanyanya hati-hati.


"Tidak! Memangnya mau tidur dimana, disini tidak ada hotel atau apapun, ini berada dipedalaman desa kalau kamu tidak tahu!"


"Aku tau, tadi kan lewat hutan-hutan juga"


"Ya sudah kalau tau" sahutnya cuek.


"Bisa tidur di mobil" usulnya.


"Tidak! Kamu wanita hamil mau pecicilan dengan tidur dimobil?"


"Galak banget" gumamnya pelan.


"Aku dengar!" sahut Farid, yang mendapat lirikan lesu dan pasrah dari Akira.


"Kumat nyebelinnya" gumamnya lagi, yang mendapat lirikan tak bersahabat dari sang suami.


Akira kembali menikmati suasana bebas yang ia rasakan, angin berhembus menerpa kulitnya,menerbangkan rambut panjangnya, sungguh ia suka saat ini.


Ia merasakan sepasang lengan merengkuhnya dari belakang dengan erat.


Siapa lagi kalau bukan Farid, suaminya yang melakukan. Rasanya menenangkan bersama Akira tanpa gangguan apapun seperti ini.


Dan menurut Akira juga menyenangkan berdua bersama Farid seperti ini, tanpa bayang-bayang Rayrin yang menghantui.


Akira berbalik menatap suaminya dengan lekat, " Mas, kamu tau aku menyukaimu sejak dulu, dan mungkin aku juga mencintaimu" ucapnya berani sembari mengelus rahang kokoh sang suami.


"Aku tau, sangat tau" sahut Farid menatap Akira sendu, tangannya tetap berada dipinggang Akira.


"Aku berharap suatu waktu, kamu melupakan wanita itu dan berada di sampingku tulus, tanpa alasan kehamilanku" ucapnya dengan penuh ketulusan, kali ini tidak ada sahutan dari suaminya, " Maaf, aku berlebihan" sergahnya lalu melangkah menjauh, namun lengan pria itu tidak akan membiarkan tubuh istrinya keluar dari rengkuhannya.


"Akira, aku tidak tau kenapa, tapi perlakuanku dan ucapanku sepertinya masih belum cukup membuatmu percaya, tapi kali ini percaya padaku, hanya kamu satu-satunya, aku merasa lebih baik bersama dirimu" ucap Farid tiba-tiba yang membuat Akira berdebar, ini bukan ungkapan cinta, tapi Akira yakin, suaminya menerimanya sepenuhnya. Kali ini, ia percaya sangat percaya, sepertinya ia takkan meninggalkan Farid, meski pria itu memintanya.