Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Nenek Sihir



Jangan lupa like dan komen setelah membaca, jangan lupa vote juga ya


Semakin banyak semakin semangat aku dalam menulis.


Like,komen, dan vote mungkin bagi kalian remeh,tapi sangat berharga untuk aku.


Karna disitu aku merasa karya ku di hargai.


Happy Reading....


Akira melangkah masuk ke rumah keluarga Malik, kakaknya sudah pulang dan dia kesana untuk memberi kabar pada Matteo bahwa ia sudah berbaikan dengan Farid.


"Gimana sih dek kamu, masa gitu aja langsung luluh, padahal kakak tuh udah takut-takutin tu anak, kalau kamu gak akan mau balik dengan mudah, eh malah... " cerocos Mattheo menyesali kelemahan hati Akira, raut wajahnya sangat masam.


Akira hanya diam, ia takut salah bicara, Mattheo saat marah adalah hal yang sangat menyeramkan baginya.


"Ya ampun mas, gak usah pake ribut, terserah Kikir lah dia udah dewasa lagian Farid baik kok." ucap Ariana menengahi.


Ariana memang pandai menengahi perdebatan di antara kedua kakak beradik itu sejak dulu, tak salah Mattheo memilihnya sebagai teman hidup.


"Kamu, udah di pikir mateng-mateng Kir?" tanya Ariana.


Akira mengangguk sebagai jawaban, "Ya dia baik kok kak, beneran dia kayanya udah cinta sama aku." lanjutnya dengan suara pelan.


"Kayanya?" sentak Mattheo semakin naik pitam.


"Bukan kayanya kok Mas, tapi memang saya mencintai Akira dan saya akan berusaha membahagiakan dia di sisi saya. "


Farid muncul mendadak di antara perdebatan mereka, rasanya hati Akira merasa sangat amat lega, Farid seperti angin sejuk di tengah panasnya mentari di musim kemarau.


"Saya janji hanya akan mencintai Akira, gak akan menduakan Akira, atau menghianati Akira." ucapnya penuh tekad di hadapan Mattheo dengan tubuh tegap dan nada tegas tanpa keraguan dan penuh keyakinan.


Akira menatap kakaknya penuh harap, sampai akhirnya Mattheo menghembuskan napas berat dan, "Oke, saya pegang janji kamu!" tegas Mattheo dengan telunjuknya yang mengarah ke wajah Farid.


Ah, akhirnya ia bisa mendapatkan Akira tanpa perlu mengancam perempuan itu.


"Kamu enggak kerja?" tanya Akira sembari meniup kuah baksonya.


"Perasaan aku tidak enak, jadi aku memutuskan buat jemput kamu, dan bener kan? Kalau aku tidak muncul pasti kamu sudah di kurung sama Mas Theo. " celoteh Farid.


"Kamu bisa gak ngomong biasa aja?" Farid mengerutkan keningnya merasa dia sudah sangat biasa saja, "Kamu kaya kamus berjalan, baku banget kata-katanya. "


lanjutnya sembari menambah sambal pada baksonya.


Kerutan di kening Farid memudar seiring dengan lanjutan kalimat yang Akira ucapkan.


"Jangan tambah lagi, nanti kepedasan."


"Tuh kan!" seru Akira menghakimi.


"Kamu nggak bisa ngomong kaya aku gini?"


"Bisa, aku pernah bicara kaya gitu sama kamu." jawab Farid datar.


Akira memicingkan mata mengingat, ah mana bisa banyak sekali mulut Farid melontarkan kata.


"Masa sih?"


"Sepertinya iya kok."


"Whatever, aku mau makan bakso, sepuasnya." katanya tak perduli sembari mengibaskan tangannya melewati wajahnya.


"Mau bawa pulang dong, boleh enggak?" tanya Akira dengan polosnya.


"Lambung kamu ada berapa?" tanya Farid tak kalah sok polosnya, sebab Akira sudah menghabiskannya dua mangkok bakso dan satu mangkok mie ayam bakso.


"Ish." Akira hanya mendesis dan Farid langsung memanggil si abang bakso dan memesan dua porsi untuk di bawa pulang.


Keren, sekarang Akira bisa mengendalikan Farid. Tangannya menopang dagu memperhatikan suaminya sambil senyum-senyum, Akira bersorak senang dalam hatinya, enaknya di manjain suami di turutin melulu lagi, gumamnya dalam hati.


"Udah liatnya? Aku tau aku tampan."


"Ganteng bukan tampan." ralat Akira masih tentang bahasa baku yang menurutnya tak nyaman di gunakan dengan hubungan mereka yang adalah suami istri.


Tapi di perjalanan Akira tidak mau pulang, katanya ia mau jalan-jalan. Terpaksa, Farid menyuruh supirnya untuk berhenti di sebuah pusat perbelanjaan.


Akira melepaskan jiwa aslinya yang suka berbelanja, ia mengajak Farid berbelanja kali ini bukan bahan makanan ataupun camilan, ia benar-benar belanja untuk kebutuhan penampilannya agar semakin menarik.


Mulai dari krim perawatan wajah, handbody, parfum, pakaian, sepatu, dan sebagainya.


"Kamu kerasukan apa sih bisa belanja sebanyak ini?" tanya Farid sembari terus mengikuti langkah istrinya yang tak kenal lelah.


"Lho, dulu kamu yang suruh aku belanja kaya gini, sekarang kok protes?" Akira mendongak menatap Farid yang sejak tadi ia gandeng lengannya.


"Ya kaya bukan kamu."


Ya, Farid tentu tak takut uangnya habis, hanya saja Akira tidak begini biasanya. Mungkin dulu masih sungkan, tebak Farid dalam pikirannya.


"Gapapalah sekali-sekali manfaatin suami kaya raya, kamu kan kaya kebangetan masa gini doang uang kamu abis?"


"Sembarangan, kalau perlu aku beli tempat ini." celetuk Farid


"Tck, sombong. Jangan sombong loh, nanti kena karma."


"Hush, ngomong yang baik-baik, apalagi ke suami sendiri, ucapan adalah do'a, Akira."


"Yaa... maap." jawab Akira tertunduk lesu.


Mereka melanjutkan, ah lebih tepatnya Akira melanjutkan perburuannya, ia dengan cepat menghampiri pakaian yang di pajang di sebuah toko pakaian dengan aksen mutiara di sekitar lehernya tentu membuatnya tertarik, Farid sampai kewalahan mengejar langkah cepat istrinya yang tiba-tiba.


Ia menyentuh lengan kanan pakaian dengan model terompet dengan butiran mutiara di sekeliling ujung lengan dengan tersenyum senang. Namun, senyum itu pudar saat ia merasa memiliki saingan dalam memiliki gaun hitam mutiara itu.


Ia menengok ke depannya, menatap wanita yang juga tengah menyentuh pakaian itu, "Nenek sihir?!" peliknya kaget.


"Singkirkan tangan nakal kamu dari baju ini, saya mau membelinya!" ucap Rayrin memerintah.


"Aku duluan pokoknya!" lawan Akira sengit, sampai akhirnya datang seorang wanita berseragam rapi,


"Silahkan Nona, spesial untuk hari ini diskon 30%, jangan sampai terlewat baju ini edisi terbatas dan hanya hari ini saja bisa mendapat potongan harga, siapa cepat dia dapat. " sapa seorang pegawai toko.


"Mbak, packing ini buat saya!" titah Rayrin, si pegawai mengangguk patuh. Namun, saat ia mau menyentuh pakaian itu suara Akira menginterupsinya.


"Jangan, saya yang mau beli itu! Saya duluan!" sahut Akira sengit yang memancing perdebatan di antara mereka, membuat pegawainya menjadi kebingungan.


"Ada apa ini?" tanya Farid yang baru muncul setelah kewalahan mengejar Akira, pegawai itu bernapas lega, sebab setelahnya Akira dan Rayrin berhenti berdebat.


"Farid, kamu, bukannya kalian---"


"Mas, aku mau itu aku duluan yang liat, tapi Rayrin, nenek ganjen itu malah mau ngrebut." adu Akira dengan memberengut.


"Bungkus itu untuk istri saya!" tegas Farid.


"Enak aja, aku duluan!" teriak Rayrin.


"Oh, jadi sekarang mba model sukanya barang diskonan?" cibir Akira dengan dagu terangkat menantang Rayrin.


"Dan kamu, istri konglomerat ngrebutin barang diskonan, cih memalukan!" balas Rayrin yang membuat Akira melotot tak suka,


"Apa?! Nggak terima?!" sentak Rayrin, Akira menatap memelas pada suaminya.


"Apa menghancurkan karirmu saja masih kurang ya?" tanya Farid santai namun penuh arti, yang membuat Rayrin melotot kesal.


"Sayang, kita bisa cari yang lain istriku tidak perlu berebut dengan wanita seperti itu."


"Tapi, aku suka itu kata mbanya juga itu edisi terbatas, cuma karena baru keluar jadi diskon." kata Akira menyakinkan agar ia tetap mendapat baju pujaanya.


"Ya sudah, saya beli semua stok yang ada, di toko ini." seketika mata Akira berbinar dan mata Rayrin mendelik tajam, lidahnya menjulur meledek Rayrin yang ada di hadapannya.


"Maaf Tuan, untuk saat ini disini hanya ada satu, barangnya akan datang esok hari."


"Antar ke alamat mansion saya, jika sudah siap."


Akira tersenyum semakin lebar saat si mbak-mbak mengangguk patuh akan perintah suaminya, punya suami kaya emang enak, sorak Akira dalam hati.


"Jangan ganggu kami jika kamu masih mau hidup tenang." ancam Farid lalu menarik tangan Akira keluar dari toko, Akira menyempatkan dirinya melambaikan tangan ke Rayrin, meledeknya dengan senyum mengejek lalu, "Wleee" menjulurkan lidahnya pada nenek sihir.