
Akira terbangun jam 4 sore, ia segera mandi untuk menyegarkan dirinya,matanya juga terasa tak enak karna bangun setelah menangis hingga tertidur.
Ia mengenakan dress rumahannya, ia turun mencari keberadaan suaminya yang tak ia temukan saat bangun.
"Wisnu!" panggil Akira pada sang kepala pelayan. Wisnu dengan setengah berlari menghampiri majikannya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"
"Tau Farid gak?"
"Tuan, diruang kerjanya Nona"
Ah iya kenapa ia langsung turun tanpa memikirkan kemungkinan lelaki itu ada disana, itukan jelas seperti tempat favorite suaminya.
"Yasudah terimakasih" ucapnya meninggalkan Wisnu ke dapur, mencari tahu apa para pembantunya sudah mulai menyiapkan makan malam atau belum.
Rupanya kedua pembantunya yang biasa memasak sedang memotong sayuran dan menyiapkan bumbu.
"Bi, masak apa?" tanyanya membuat kedua tukang masaknya menengok "Masakin kari kentang ya tapi dikasih suiran ayam" sambungnya tanpa memberi waktu pembantunya untuk menjawab sapaannya tadi.
"Baik Nona, apa ada lagi?" tanya Astuti memastikan.
"Emm, suiran ayamnya digoreng dulu ya kentangnya harus bener - bener mateng biar lembut ya" celotehnya panjang lebar.
"Baik Nona" mereka mengerti semenjak Akira hamil, ia jadi begitu cerewet dan juga jarang memasak seperti biasanya, ia hanya memasak saat ia ingin saja. Jika ada yang tak sesuai, Akira akan minta ganti, kalau tidak dituruti ia akan merajuk.
.
.
.
"Ra, pelan - pelan makannya nanti tersedak, gak ada yang mau minta punya kamu kok" ucap Farid melihat istrinya yang makan dengan lahap dan terburu - buru seperti orang kelaparan.
Akira hanya mengangguk menatap Farid sebentar sembari mengunyah sebagai jawaban.
"Ra, bisa kita bicara setelah ini?" ujar Farid setelah selesai meminum airnya.
"Mau ngomong apa?" jiwa penasaran Akira mulai bangkit.
"Minum dulu susunya, terus ikut aku ke kamar ya" Akira mengangguk setuju dan segera menghabiskan susunya, lalu mengikuti arah langkah suaminya.
Dan disinilah mereka sekarang, duduk berhadapan dibibir ranjang.
"Mau ngomong apa?" tanya Akira tak sabaran, ingatlah Akira itu sangat penasaran orangnya jika penasarannya tidak terjawab ia akan mendesak orang yang membuatnya penasaran sampai menjawab keingintahuannya. Singkatnya Akira itu kepo.
"Mulai sekarang, jangan ada yang disembunyikan, aku mau kita saling terbuka apalagi tentang mama" Farid menjeda ucapannya, menarik nafas pelan lalu kembali melanjutkan "Kamu nangis gara - gara mama? Kamu bisa ngadu kamu bisa protes ke aku, kalau mama sudah keterlaluan"
Akira bingung mau menjawab apa, ia diam terlampau bingung.
"Ra, aku bisa percaya sama kamu, karna aku tau sendiri sikap mama ke kamu, gak perlu takut Ra" ucap Farid seakan mengetahui kebingungan dan kebimbangan dalam diri istrinya.
"Farid, biar bagaimana juga dia itu kan ibu kamu, jadi aku gak bisa kalau bicara hal buruk tentang mama ke kamu" ucap Akira akhirnya membuka suara.
"Aku mau tahu, tadi siang mama bilang apa?"
Sebenarnya Farid sudah tau, tapi ia butuh penuturan Akira juga.
Walaupun kamu bilang akan percaya, sebagai orang yang tidak mencintaiku aku tak akan percaya padamu, kamu belum tentu akan menerima segala keluh kesahku, aku takut karna kamu tidak mencintaiku kamu hanya mencintai anak kita batin Akira.
"Jangan bohong,tadi kamu nangis!" hardik Farid.
"Ya, ya itu mungkin karena efek hamil aja jadi aku lebih sensitif gitu"
Apa yang kamu bilang Akira bodoh, tadi itu kamu terlalu menunjukan kesedihan sekarang tiba - tiba alesan gini, nyambung gak ya, percaya gak ni orang
Akira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Berharap Farid tidak akan mengintrogasinya.
"Emm, aku kenyang banget jadi ngantuk, aku tidur ya" Bohong, matanya masih segar mengingat tadi ia tidur siang, tapi demi menghindar dari pembicaraan dengan Farid yang mungkin bisa saja membuatnya terbawa perasaan.
"Ya sudah, tapi aku harap kamu benar - benar mau berbagi masalah kamu sama aku, aku akan bertanggung jawab atas kalian" ucap Farid membuat Akira tertegun lalu mengangguk dan meringsak pada bantal menarik selimutnya sampai ke dada.
.
.
.
.
Akira terbangun merasakan sinar mentari menyilaukan matanya. Ia melihat sebelahnya dan menemukan suaminya, ia tersenyum tipis melihat penampakan Farid yang sangat mempesona saat tertidur. Tidak tampak raut wajahnya yang kejam, tidak tampak juga kesan seram yang biasanya terpatri diwajah tampannya, Farid sungguh manis dengan bibir tebalnya yang merah terbuka sedikit.
Akira dengan jahilnya menyentuh bibir itu dan mencoba mengatupkannya membuat pemiliknya terganggu dan terbangun.
Dengan segera ia menyingkirkan tangannya saat mata itu mulai mengerjap. Namun, lagi dan lagi ia terlambat, tangannya sudah dicengkram oleh sang suami. Ia gugup bukan main ketahuan menikmati wajah tampan itu untuk kedua kalinya.
Ia merasakan gigitan kecil dijari manisnya.
Ya, Farid menggigit jarinya, "Nakal!" ujarnya gemas.
"Mm - maaf aku... aku mau mandi!" pekiknya lalu meninggalkan Farid yang terkekeh melihat kelakuan lucu istrinya.
"Akira, lucu dan menggemaskan kenapa baru sekarang aku merasakan rasa ini untukmu?" gumamnya pelan.
Akira memperhatikan perutnya yang yang tak tertutupi kain apapun karna ia hanya menggunakan crop top. Ia mengelus perutnya yang terpantul dalam bayangan cermin, membusungkan perutnya dan memundurkan dadanya memutar telapak tangannya diperut seolah sedang mengukur sudah seberapa besar perutnya.
"Babynya masih kecil sayang, belum waktunya perut ini akan membesar" ujar Farid yang tiba - tiba memeluk Akira dari belakang dan mengelus perutnya. Sungguh, ini membuat Akira salah tingkah.
"Aku cuma gak sabar aja mau liat perut aku besar, terus ngerasain dia yang tumbuh semakin besar disitu" ujar Akira sekenanya yang penting ia tidak terlihat salah tingkah.
Farid tersenyum tulus dan mengelus perut istrinya, " Aku gak pernah menyangka, kalau dia bisa tumbuh disini, karena sebelumnya kita gak pernah merencanakan untuk memilikinya, tapi entah kenapa saat aku tau dia ada, aku merasa ada perasaan lain yang belum pernah aku rasakan,yang membuat aku bahagia" ujarnya penuh perasaan.
Sudut hati Akira menghangat mendengar penuturan suaminya, tidak pernah ia sangka juga pria yang menanamkan benihnya secara paksa tanpa cinta bisa begitu tulus menyambut kehadiran si bayi.
Udah segitu dulu hari ini
Btw author lagi sibuk sekitar 4 hari ini jadi updatenya sedikit
Terimakasih untuk yang selalu setia menunggu karya saya
Jangan lupakan vote, like, and comment nya yaa🌻😊