Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
3 Days



Akira sedang berdiri didepan kaca kamar mandi mengecek seluruh tubuhnya, yang dihiasi bercak kemerahan.


"Sial! Kan beneran aku yang rugi bodoh! Akira bodoh! Ini gimana nutupnya yang disini?" ucap Akira merengek dan merutuki kebodohannya, karna telah menciptakan kesepakatan menuruti apa saja kemauan suaminya, perlu dicetak tebal apa saja.


Kalau dia yang dapat penawaran begitu tentu akan meminta kencan diluar seperti pasangan baru berpacaran tapi kalau manusia jenius,cerdik,nan licik seperti suaminya?


#Flashback


Akira selesai dengan mandinya, alangkah kagetnya ia menemukan suaminya seperti menunggunya didepan pintu.


"Astaga! Apa yang kamu lakuin disini? Mau mandi?"


"Tidak, aku mau menagih janji"


"Emm..janji itu ya? Eung i- itu-"


Sebelum Akira menyelesaikan ucapannya Farid memotongnya dengan manarik tangannya dan membawanya duduk diatas ranjang.


"Aku punya tiga hari kan dan kau akan menurut apa saja yang aku mau?"


"Iya benar tapi-"


"Itu dimulai dari sekarang"


"Eh! Kamu mau aku nurut apa sama kamu?" tanya Akira tersentak kaget.


"Kamu! Aku mau kamu" bisiknya mendekat ditelinga Akira.


"Maksudnya?"


"Ya aku mau kamu malam ini"


"Tapi aku gak b- mmphh"


Penolakan Akira tak terindahkan karna bibir Farid sudah lebih dulu merenggut bibirnya.


Bibirnya mulai berpindah ke leher Akira, membuatnya kegelian.


"Ughh, ini kan mas- ih sore" ucap Akira terengah.


"Jangan mencoba menggagalkmana? aku tidak akan melepaskanmu" bisik Farid dileher Akira, nafasnya terasa panas dileher gadis itu, membuat Akira mengerang tertahan.


Lagi - lagi mereka melakukannya dengan melewatkan makan malam, Farid bersumpah ia tak akan melepaskan miliknya, bisa - bisanya hampir 4 bulan pernikahan ia hanya melakukan dua kali. Ia sama sekali tak bisa menyentuh istrinya sebagaimana mestinya dulu, tapi sekarang ia tak janji bisa melepaskannya begitu saja.


#FlashbackEnd


Akira memekik kesal ia tidak mungkin keluar dengan keadaan begini.


"Kenapa sih teriak - teriak?" ucap Farid menghampiri Akira dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa kamu bilang? Enak banget kalau nanya" dengus Akira.


"Bagus kan?" sahut Farid memantulkan senyumnya pada kaca didepan mereka.


"Bagus? Gila ini orang"


"Hush, mau aku hukum?"


"Kebiasaan banget sih ngancem kaya gitu, lagian kenapa sih kamu minta hal kaya gitu emang gak ada yang lain apa?"


"Kan yang belum aku milikin cuma hak eksklusif untuk memiliki kamu, aku sudah punya segalanya sayang" ucap Farid dengan menopang dagunya dibahu Akira.


Ah ya Akira lupa satu hal, seorang Farid tidak akan kekurangan apapun cuma dia kekurangan cinta tapi bukankah ia berada dalam kekuasaan pria itu sekarang?


"Farid, kan aku udab dikuasai sama kamu"


"Tapi belum sepenuhnya, buat minta hak aku darimu saja masih sulit. Jangan panggil aku dengan nama" ucap Farid masih dibahu Akira.


"Loh kenapa, kamu malu ya ketauan aku lebih tua dari kamu hm? Aku tau kok tahun lahir kamu yang asli" ucap Akira menggoda dengan manaikkan sebelah alisnya bergantian.


Farid tersentak dan merenggangkan pelukannya, Akira mengambil kesempatan itu untuk menghadap suaminya agar semakin leluasa menggodanya.


"Kaget ya?" tanya Akira meledek.


"Tau dari mana?" tanya Farid heran.


Akira mengangkat kedua tangannya dan meletakannya dikedua bahu pria itu dengan senyum yang seakan tak pernah surut.


"Kamu lupa aku secret admirer mu? Aku tau aku beberapa hari lebih tua, kenapa sih kamu sok tua jadi setahun lebih tua dari aku?"


"Untuk formalitas saja, sudah berhenti bercanda!" sahut Farid datar.


"Diam atau aku hukum, ingat tiga hari kau harus melakukan apapun yang aku minta" tegas Farid.


"Aah gak seru, yaudah deh kalau udah ngancem, imut tau gak kalau marah" ujar Akira terkikik pelan.


"Imut lagi kamu waktu aku cium, pipinya merah kaya tomat"


Akira langsung terdiam dan memberengut karna malu.


"Ngomong apa sih kamu!"


"Kenyataan" sahut Farid cuek.


"Jahat!"


"Kalau gak jahat, sekarang kamu gak nikah sama aku!"


"Ah aku lupa kamu kan mengancam dulu baru melamar" jutek Akira.


"Sudahlah jangan begitu terus, masih banyak yang harus kau lakukan untukku" ujar Farid menyeringai.


------------------------------


Akira menggerutu terus menerus karna dikerjai oleh Farid dengan permintaan konyolnya, membuatkan teh setelah teh jadi, malah minta kopi,kopi jadi minta susu sungguh ia menyesal lain kali tidak lagi ia akan berucap begitu.


Dan sekarang pria itu minta dibuatkan kue parahnya sepanjang Akira membuat adonan pria itu terus menempel pada Akira seperti perangko. Kadang memeluk kadang mencium membuatnya tidak fokus. Jika ini dilakukan pasangan lain yang menikah karna cinta tentu akan amat romantis, tapi ini dilakukan mereka yang menikah karna kediktatoran Farid.


"Farid, kamu duduk aja deh, ntar kuenya gak enak jadinya gak bisa dimakan"


"Aku bisa makan kamu" sahutnya santai.


"Kamu nggak kerja? Ntar miskin loh"


"Aku gak akan miskin cuma karna gak kerja tiga hari"


"Ntar kalau Gio lakuin kesalahan gimana?"


"Kau sendiri yang bilang dia bayanganku, jelas dia tak akan melakukan kesalahan"


Akira terdiam, memikirkan cara apa lagi yang akan ia lakukan agar suaminya berhenti menempel, tak masalah jika ia mau makan kue, tapi jika begini caranya bagaimana ia bisa membuatnya dengan tenang?


"Apa? Apa lagi ayo tanyakan, kau ini payah sekali kau tidak akan bisa mengusirku" cibir Farid meremehkan.


"Oh iya lupa, kenapa kamu gak kerja tiga hari?"


"Terserah aku dong, aku bosnya" sahutnya sombong.


Akira memutar matanya jengah dan terlintaslah sebuah ide.


"Mas, lepas dulu ya nanti kalau kuenya gak enak gimana?" bujuknya selembut mungkin.


"Tidak mempan!" sarkas Farid.


Akira menyerah dan berakhir dengan posisi begitu, bahkan saat kuenya dikukus dan menunggu dimeja makan, Farid masih menempel padanya.


Harusnya ia merasa tersanjung, tapi yang ada ia canggung, karna yang begini bukanlah kebiasaan suaminya.


"Tiba - tiba aku tidak mau makan kue lagi, aku ingin keluar" ucap Farid saat Akira memotong kuenya.


Akira hanya bisa melongo tidak percaya.


Tapi ia percaya, bahwa suaminya kini sedang mengerjainya.


"Kau ikut bersamaku ayo cepat!"


"Ih gak mau keluar, leherku gimana?"


"Pakai turtle neck kan bisa"


"Panas tau gak! Kamu tuh mau enaknya aja, giliran susahnya di aku" protes Akira mencebikan bibirnya kesal.


"Sst.. Ingat janji kamu?"


Akira langsung melangkah pergi untuk mengganti pakaiannya, meninggalkan Farid yang tertawa puas karna berhasil mengerjai istrinya. Entah kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti ini, Farid tersenyum kecut mengingat hal itu.


Akira benar - benar membawa perubahan dalam dirinya. Akira yang dulu kehadirannya tidak ia sadari, Akira yang dulu ia tolak, Akira yang dulu ia pandang rendah.


Sepertinya aku mulai mencintainya, kalaupun ternyata perkiraanku salah, aku akan berusaha hanya untuk bersamanya batin Farid dengan senyum lirih.


C'mon kamu udah tertarik sama Akira kok sejak kamu cemburu liat dia sama cowok lain, tapi kamu aja yang meracuni otakmu dengan Rayrin 😂