
Akira buru-buru mendorong wajah Farid, "Ngapain sih! Aku tau aku cantik tapi ya gak gitu juga konsepnya!" Farid terkekeh heran dengan kelakuan istrinya.
"Kamu sudah makan?" tanyanya menetralkan keadaan.
"Belum" jawab Akira singkat.
"Yaudah, makan sama-sama bertiga" ujar Farid yang membuat Akira tidak mengerti.
"Lah kok bertiga? Kan Gio kamu usir" tanyanya heran.
Tangan Farid terulur menuju perut istrinya yang mulai membesar, "Nih, sama dia" ujarnya dengan mengelus perut Akira lembut.
Bibirnya tersungging membentuk sebuah senyuman, begitu juga dengan Akira ia merasakan ketulusan Farid dalam menyayangi calon anak mereka.
Tiba-tiba Akira teringat sesuatu, " Ah ya ampun, ini jam berapa?" pekiknya kaget lalu mencari-cari keberadaan jam dinding, lalu bernapas lega.
"Untung masih jam 12.25" gumamnya.
"Kenapa?"
"Aku tadi undang teman-teman ke rumah, gak apa kan?"
"Iya, yaudah makan dulu" titah Farid yang dibalas anggukan oleh Akira, mereka makan dengan tenang, sampai Akira pamit untuk kembali.
"Aku antar!"
"Kamu gak sibuk?"
"Nggak, ayo pulang bersama aku juga ingin pulang, sudah tidak ada pertemuan penting lagi, aku akan bekerja dari rumah" jelasnya yang membuat Akira tidak sungkan untuk membiarkan Farid pulang bersamanya.
"Mas, aku lupa aku juga mau mampir buat beli kue donat buat camilan tambahan, kamu gak keberatan?" tanyanya was-was, yang tidak dijawab oleh Farid, tangannya langsung ditarik keluar.
Yasudahlah, kalau Farid diam Akira tidak berani bicara lagi, nanti dia bisa suruh Astuti atau pelayan lain saja.
Akira merasakan mobilnya berhenti, ia menoleh ke samping, dan tersenyum lega.
Huft buat gak enak saja, suamiku itu memang lebih banyak bertindak dibanding bicara ,tapi gerak-geriknya buat waspada aja batinnya merasa lega.
Mereka turun dan nemasuki toko kue, Akira sibuk memilih donat sedangkan Farid hanya diam saja menunggu istrinya selesai.
"Mbak, mau yang ini, ini, ini, sama yang itu ya, masing-masing dua" ucapnya menunjuk donat dengan lelehan cokelat bertabur keju dan kacang, juga dengan lelehan stroberi dan matcha.
Ia berbalik setelah membayar tagihannya dan menemukan suaminya sudah berada diluar toko dengan seseorang yang sepertinya ia kenal, tapi siapa.
Akira mendekat menghampiri mereka ternyata suaminya itu bicara dengan mantan kekasihnya, hadeh bikin malas saja.
"Mas, yuk balik!" ajaknya dengan buru-buru, jujur ia malas berlama-lama dengan Valen, nanti bisa jadi salah paham, meski sekarang ada suaminya tapi ia harus tetap jaga-jaga kan.
"Eh, Akira apa kabar?" tanya Valen menyapa dan menatap Akira intens dari atas ke bawah, membuat Akira tidak nyaman.
"Jaga matamu atau aku hancurkan!" ketus Farid tak suka.
"Calm down bro, lagi hamil ya kok kayanya gendutan?" tanya Valen yang membuat Akira memberengut, sungguh ia tidak suka dikatai gendut seperti itu, semalam Farid baru bilang dia masih seksi kok, tidak gendut.
"Iya! Sudah aku mau pulang, ayo mas!" ajak Akira sambil menarik lengan Farid.
"Widih, gerak cepat kalian! Mantap juga kau Far, aku ketinggalan jauh" seloroh Valen sembari terkikik.
"Makannya buruan nikah, biar gak ledekin orang melulu!" ketus Akira kesal dengan masih menarik lengan suaminya.
"Aku pulang, pembicaraan tadi bisa lanjut besok, datang saja ke kantorku" ujar Farid yang dibalas acungan jempol oleh Valen, lalu segera membawa Akira pulang.
"Kayanya kesel banget sama Valen?" tanya Farid menyelidik
"Tau tuh anak kamu kaya nya gak suka liat mantan mamanya" sahut Akira seadanya yang dibalas kekehan kecil Farid.
Saat sampai dirumah, ternyata teman-temannya sudah menunggu diruang tamu, ini semua gara-gara Valen yang ajak Farid ngobrol gak jelas, ia jadi telat pulang dan buat temannya menunggu, begitulah pikir Akira.
Teman-teman Akira tersenyum menyambut kehadiran Akira, tapi sedetik kemudian mereka menegang melihat Farid yang muncul dibelakang Akira.
"Woy, itu muka kenapa sih kaku bener kaya kanebo!" tegur Akira membuat ketiga manusia itu tersadar.
"Nggak papa kok Ra" sahut Zia gelagapan.
Setelah selesai mengurusi Farid, Akira beranjak berniat menata donatnya, tapi dihentikan Farid.
"Apa iya ya mereka takut sama aku?" tanya Farid dengan wajah polos membuat Akira tergelak kencang.
"Haha...bener mas, kamu gak liat muka mereka pas kamu masuk, makanya jangan nyeremin hahaha" ucapnya sambil tertawa.
Tawanya terhenti saat merasakan benda lembut dan kenyal menyapu permukaan bibirnya. Astaga, Farid sedang menciumnya.
Akira mendorong dada Farid karena merasa kehabisan nafas. Napas, mereka tidak beraturan, Farid menatap Akira dalam, dan mengusap bibir Akira dengan ibu jarinya dengan lembut.
"Bibir ini sudah berani terbuka untuk menertawakan aku ya?" tanya Farid yang membuat Akira tegang, dan langsung ngibrit ketakutan.
"Enak Ra, mau lagi dong!" ucap Tina sambil menyuapkan suapan terakhir dari dessert yang disuguhkan Akira.
"Yeuu kan lo udah makan satu box Tin, nih gue baik makan punya gue" tawar Zia, yang dibalas senyum bahagia Tina.
"Beneran? Yaudah malahan"
"Serius enak? Kalau iya mau gue masukin ke daftar menu kafe baru" ucapnya.
"Masukin aja Ra, enak kok" sahut Zia.
"Iya, masukin aja kayanya bakal laris deh dessertnya, cappucinonya juga enak" ucap Viara ikut menimpali.
"Kok gue perhatiin bibir lo agak bengkak ya Ra?" tanya Zia yang diikuti anggukan Tina.
"Hah, masa sih?" tanya Akira sambil menyentuh bibirnya.
"Iya, kaya bengkak gitu" sahut Viara.
Jangan-jangan akibat dari ciuman Farid tadi lagi, tapi kan itu tadi masa masih bengkak sih
gerutunya dalam hati.
"Digigit semut kali ya" ucap Akira.
"Semut apa Ra, semutnya besar banget ya sampe bisa bibir lo bengkak seksi gitu" goda Zia, yang membuat pipi Akira jadi memerah
karena malu.
"Sialan kalian ih!" hardik Akira.
"Aku gak ikutan loh... Eh guys besok keluar yuk main ke mall enak kali" ajak Tina.
"Nih anak kalau ngajak main selalu kesitu gak ada tempat lain apa?!" heran Zia.
"Yuk lah, pengen liat-liat baju bayi juga gue" sahut Akira setuju.
"Boleh gak tuh sama suami lo" celetuk Viara.
"Itu urusan nanti, gue aja yang bujukin" sahut Akira dengan wajah sombong.
"Ya iyalah lo yang ngomong, kalau kita, bisa dimasukin kandang macan sama dia" celetuk Zia yang membuat Tina tertawa kencang.
Sedangkan disisi lain, Farid tergelak menatap layar monitor yang menunjukan rekaman cctv rumahnya.
Ia tertawa melihat interaksi Akira dengan teman-temannya.
Mereka itu benar - benar satu jenis batin Farid menatap layar monitor yang menunjukan mereka semua yang saat ini berganti topik,dengan membicarakan tukang sayur dikomplek rumah Viara.
Mereka benar-benar penggosip ulung.
Semoga masih setia dikarya iniπ»π
Follow my account π
Masuk grup chat author kuy
Bisa sharing sharing cantik tentang story ini
atau story sebelah.