
Ingin punya banyak anak artinya harus siap untuk mengurus dan menghadapi karakter yang berbeda-beda dari mereka.
Kaisar yang pintar namun kadang suka bicara kadang juga bersikap dingin, Sam yang hampir sama dengan Kaisar, dan Ayura yang cenderung sangat pendiam dan tidak bisa ketinggalan mamanya.
Tapi pada mereka memiliki satu hal yang sama, sama-sama aktif dan membuat Akira suka kewalahan, meski pendiam Ayura suka menyentuh apapun yang membuatnya penasaran.
"Ayura taruh pisaunya jangan main itu!" teriak Akira saat melihat bocah tiga tahun itu meraih pisau buah di atas meja makan.
Ayura memasang wajah kesalnya dan mulai merengek, "Mama!" teriak gadis kecil itu.
"Mama, kakak nakal sama Sam, aku mau pinjam mainan kakak!" teriak Sam.
"Aduhh, Kai pinjamin dulu adiknya ya sayang yaa.." bujuk Akira dengan lembut sambil membawa Yura dalam gendongannya dan menghampiri kedua anaknya yang lain, yang ada di ruang tengah.
"Kenapa sih anak-anak?" tanya Rita yang datang dengan nampan berisi cheesecake.
"Kai ngalah dulu dong sama adik, tau kan adiknya cengeng?"
"Wlee, Sam cengeng!" ledek Kai.
"Ma..." rajuk Sam.
"Kai please..." pinta Akira entah kenapa hari ini Kai benar-benar menyebalkan mungkin karena ia memaksanya ikut ke rumah neneknya jadi bocah itu kesal dan berbuat ulah.
Kai masih terus meledek sang adik, Sam membalasnya dengan wajah kesal yang hampir mau nangis.
"Terserah kalian, mau nurut sama mama atau mama tinggal kalian disini sama nenek!" tegas Akira.
"Yaudah yuk dek, kita makan cheesecake buatan nenek, kita tinggalin kakak sama Sam." lalu ia mengajak Yura duduk dan memberikan sepotong cheesecake untuk sang gadis kecil.
"Mama mama!" teriak kedua bocah lelaki itu merajuk, mereka bisa saja bersikap cuek tapi pada mamanya, Akira.
Mereka mana mungkin bisa yang ada mereka manja dan berebut kasih sayang.
"Udah udah, makanya jangan suka berantem-berantem kasihan mama sudah capek eh kalian berantem." ujar sang nenek memberikan pengertian.
"Tapi, Sam itu suka ngeselin nenek, kakak capek-capek pasang semuanya biar jadi robot tapi adek rusak-rusak semua, kakak gak suka!"
Mendengar yang di katakan Kaisar, Rita jadi mengingat Farid waktu kecil caranya bicara sama dengan Kaisar, ia tersenyum manis.
"Tapi adek masih kecil kak,
"Kai juga masih kecil." sela Kaisar.
"Kakak,jangan suka nyela ucapan orang tua." Akira memperingati dengan halus, Kaisar menunduk dan berkata, "Maaf mama."
Akira menghampiri Kaisar yang sedang menunduk di depan neneknya itu, menggenggam lembut tangan kecil itu, "Kak, kakak memang masih kecil tapi di antara adik-adik kakak yang paling besar, jadi kakak harus bisa lebih ngerti, oke?" ujar Akira dengan lembut, ia tahu bagaimana anaknya, jika di beritahu dengan marah-marah yang ada Kaisar akan semakin tidak mau mendengarkan.
"Tapi mama, bilangin sama Sam jangan suka hancur-hancurin yang kakak buat." ujar Kaisar menunjukkan mainan yang telah ia rakit tapi jadi terbongkar lagi.
"Aku cuma mau pinjam tapi gak kakak kasih." ungkap Sam.
"Sam, kan bisa main sama-sama, jangan suka usil gitu sama kakak ya? Kakak juga kalau adiknya mau main di ajak, main bareng, oke?"
"Oke!" jawab keduanya bersamaan, memang yang agak sulit adalah Sam dan Kai saat bermain mereka sama-sama anak laki-laki itu membuat mereka tidak jarang berebut soal mainan, berbeda dengan Yura yang adalah satu-satunya anak perempuan, Sam tidak akan menggangu adik kembarnya itu.
Farid sampai di rumah, "Tuan, tumben pulang cepat?" ujar Wisnu menyambutnya.
"Aku ingin bertemu anak-anak dimana mereka?"
"Ah, mereka belum pulang, Tuan. Bukannya mereka sedang di rumah kerabat Nona Akira?"
"Ah iya, aku lupa!" Farid menepuk jidatnya bisa-bisanya ia lupa.
Ia memutuskan menghubungi Akira lewat telepon.
...****************...
"Sebentar ya, kayanya ada yang telepon mama." pamit Akira pada anak-anaknya yang sedang asyik makan cake bersama nenek mereka.
Seiring langkahnya, suara anak-anak yang bicara dengan nenek mereka jadi terdengar samar.
Melihat bahwa suaminya yang menelepon tanpa banyak mikir, Akira langsung mengangkat panggilan itu.
"Ya, kenapa mas?"
"Kamu tempat, kakak kamu ?" tanya Farid di seberang sana.
"Iya kan aku sudah bilang sama kamu tadi pagi, tapi cuma sebentar habis itu aku tempat mama." jelas Akira.
"Aku susul ya?"
"Kamu nggak kerja?" tanya Akira heran, ia melihat jam dinding masih pukul satu siang, tapi kenapa suaminya malah mau menyusulnya ?
"Aku pulang cepat, aku jemput ya kita jalan-jalan sama anak-anak."
"Wah beneran? Pasti anak-anak senang banget." jawab Akira antusias, soalnya jarang-jarang mereka bisa pergi berlima, weekend pun kadang belum tentu bisa, bukan suaminya yang tidak mau, tapi sudah di rencanakan eh tiba-tiba ada sesuatu yang harus di kerjakan.
"Iya sayang, aku kesitu sekarang!"
"Oke, mas love you!"
"Love you more, Mamanya Kai!" balas Farid lalu menutup panggilan.
Mereka sudah menikah lebih dari lima tahun tapi ia tidak pernah bosan mengatakan cinta pada Farid dan jantungnya tidak pernah lelah berdebar-debar setiap mendengar kata cinta dari suaminya.
Cinta gilanya, dari masa lalu yang sekarang jadi masa depan yang indah.
Tuhan sangat baik padanya menakdirkan lelaki impiannya berada di sisinya.
lagi gak?
kalau rame aku lanjut...
Terimakasih yang sudah mau mendukung karyaku...
lopyupulll hehehe