Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 7



Warning!


Yang gak suka adegan dewasa tolong ya skip aja, jangan paksa baca terus author di bully.


Pagi yang sejuk, cuaca mendung berkabut membuat Akira ingin sekali berlari keluar menikmati sejuknya udara.


Tapi tidak!


Suaminya terus menahan dirinya dan menelusuri dirinya di pagi hari.


Memeluk tubuhnya posesif dengan sesekali mencium pipinya, hidungnya, bibirnya dan semuanya!


Akira jadi kesal sendiri.


Apalagi dengan kalimat andalan Farid sekarang, "Dosa melawan dan menolak suami."


Menyebalkan!


Padahal dirinya sudah tak tahan merentangkan tangan lalu mennghirup udara sebanyak-banyaknya sembari menikmati kabut-kabut pagi yang di sertai mendung.


Tapi lihatlah!


"Mas lepasin ini udah jam delapan."


protesnya berusaha menyingkirkan tangan kekar suaminya yang melingkari perutnya.


"Tapi ini masih mendung, sayang."


"Makanya itu, aku mau nikmatin suasananya, suamiku." Akira merengek, ia mulai menggunakan jurus merayunya.


"Oke, ada syaratnya."


"Tck, gitu doang pake syarat, suami siapa sih?!" gerutunya tentu dalam hati, kalau tidak nanti jurus merayunya bisa gagal.


"Apa?"


Farid mendekatkan bibirnya ke telinga Akira, ia mulai berbisik.


"Biarkan aku menikmati kamu dan kamu menikmati aku."


Sejenak, Akira mencerna maksud sang suami. Hingga ia menangkap maksudnya, tubuhnya menegang.


Meski ini bukan yang pertama kali, namun cara suaminya meminta berbeda dari biasanya, kali ini berbeda.


Farid mencoba menggodanya!


Bukan meminta,merengek atau peluk cium sembarangan seperti biasanya.


"once again." bisik Farid dengan suara parau, serak dan dalam.


"What?" Akira pura-pura tak paham akan maksud suaminya.


"Make a baby, darl."


Farid mengucapkan kalimatnya dengan suara paraunya di sempurnakan dengan logat British yang membuat Akira terpaku.


Ia baru tau, suaminya sangat menggoda hanya dengan suaranya saat bangun tidur yang berbicara dengan bahasa Inggris.


"Kenapa diam, baby. Apa kamu tidak mengerti?"


Mustahil!


Akira tentu mahir berbahasa Inggris.


Bahasa Inggris adalah materi kesukaannya sejak sekolah dasar.


Namun, barusan suaminya membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.


"Umm.. aku paham, aku cuma... "


mendadak suhu tubuhnya memanas, hawa panas merambat ke wajahnya, membuat merah pipinya.


"Cuma?"


Farid meniup bagian belakang telinga Akira sebelum kemudian ia mengambil posisi di bawah, menyingkap selimut yang menutupi kaki jenjang istrinya.


Akira mendadak kaku, hanya dengan suara, bisikan, lalu tiupan ringan dan ia tak mampu memberontak seperti biasa?


Kini, tangan Farid begerak halus dari ujung kakinya, ke pahanya, perut, hingga sampai ke lehernya, membuat ia merasa geli.


Kini tangan pria itu berpindah ke belakang menyentuh ringan dan halus tulang punggungnya membuatnya refleks membusung karena sensasi geli yang tercipta oleh sentuhan ringan jari suaminya itu.


Namun, ia bukan ingin tertawa, tapi ia ingin mendesah, bahkan mulutnya mulai sedikit terbuka.


Apa-apaan ini? Mengapa dirinya selalu kalah dari suaminya? Ini tidak adil! Selalu dirinya yang bertekuk lutut.


Otaknya berteriak, agar jangan terlalu mudah dirayu dan tergoda oleh Farid.


Namun, tubuhnya berkata lain, ia menginginkan lebih dari sekedar sentuhan tangan suaminya.


Akhirnya, egonya menyerah sudah,


"I -- I wanna you," napasnya tercekat lalu ia berusaha melanjutkannya dengan suara sedikit terengah,


"to kiss and touch me hard, so hard. More than it, my hubby."


Akira berbisik menggoda di telinga Farid. dengan suara serak sedikit mendesah.


Dengan napas yang sedikit terengah karena sesak akan gairah yang memenuhi kepalanya yang ikutan memanas.


"Kamu mulai pandai menggoda rupanya. Okey, aku akan mencium dengan keras, sangat keras sampai bibirmu membengkak dan ku lakukan lebih hingga lututmu menjadi lemas." bukan dengan candaan namun dengan seringai seperti iblis.


Tidak mau berlama-lama, lelaki berambut hitam sedikit kecoklatan itu sudah menerkam mangsanya.


Tangannya sudah menjelajah ke bagian-bagian favoritnya.


Ia sudah berhasil menjebak mangsanya dan tak ingin membuat kesempatan itu menjadi sia-sia.


Akhirnya, ia tau bagaimana rasanya bercinta dengan Akira dengan rasa saling menggebu-gebu.


Dalam hati ia menyesalkan, kenapa tidak sejak dulu saja ia menggoda, Akira dengan berbahasa Inggris?


Ternyata berbahasa Inggris dengan istrinya lebih berguna dan lebih menarik ketimbang menggunakan kemampuannya itu untuk berbicara dengan partner kerja asingnya.


Kali ini, bahkan Akira sangat aktif, ia mulai berani menggantikan posisi Farid yang biasanya memimpin permainan.


Pagi yang harusnya mereka gunakan untuk menikmati indah sejuknya alam Bandung, justru mereka gunakan untuk saling menikmati manisnya madu cinta.


***


Akira berbaring terlentang dengan mata setengah memejam. Tubuhnya masih sangat lemas, kakinya seperti tak bertulang.


Ini percintaan terhebat menggeser posisi sebelumnya, karena kali ini ia juga ikut berpartisipasi.


"Kamu lelah sayang?"


Akira hanya mengangguk samar.


Ia heran, kenapa suaminya tidak memiliki rasa lelah sedikitpun.


"Aku hanya ingin segera memiliki banyak anak dengan kamu. Maaf, kamu jadi lelah." sesalnya menyatukan kening mereka.


"Itu cuma modus kamu aja kan, aslinya mah emang dasar mesum aja kamu." tuduh Akira dengan suara yang bisa di bilang pelan tak bertenaga.


"Huft! Beri aku susu stroberi, aku harus kembali segar untuk jalan-jalan." ia mendorong bahu suaminya lalu mulai bangkit dengan tubuh yang hanya di balut selimut.


"Oke, aku akan suruh pelayan hotel mengantarkannya."


***


Di lain tempat, seorang wanita dengan tawa kemenangannya dengan angkuhnya duduk di kursi goyang dalam sebuah ruangan temaram.


Ia sedang berbicara melalui telepon.


"Bagus. Lakukan itu, ikuti mereka, kemanapun! Jangan sampai mereka tau apa yang terjadi biarkan segalanya terjadi seperti takdir."


Ia menutup teleponnya dan matanya menatap tajam foto seorang pria dan wanita yang terpajang di depannya.


Dengan amarah ia melemparkan pisau hingga menusuk gambar sang wanita tepat di bagian wajahnya.


"Akira yang bodoh itu tidak akan tau, bagaimana aku akan membalas dendam, akan apa yang telah ia sebabkan."


Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.


"Kris!" Ia beralih ke kanan untuk melihat sosok lelaki yang pasti akan mengabulkan segala permintaannya.


"Aku mohon, terus lakukan itu untukku, kau tak mau aku menangis kan?"


Wanita itu sekarang sudah seperti orang gila, sebentar marah penuh dendam, sebentar ia memelas.


Pria yang ada di dekatnya kini tau, namun rasa sayangnya pada gadis kesayangannya membutakan matanya.


Ia akan lakukan apapun untuk kesenangan, Rayrin. Gadis yang selalu ingin ia lindungi dan ia bahagiakan sejak pertemuan mereka tujuh tahun yang lalu.


"Apapun, Ray. Meski aku harus menyalahgunakan kemampuanku." ucapannya meyakinkan gadisnya dengan tatapan penuh kasih.


Segera, wanita itu mendekap orang yang mencintainya itu.


Rayrin menemukan boneka baru selain Dean untuk mencapai tujuannya menjadi Nyonya Danuarta.


'Farid sangat menginginkan seorang anak, mari kita lihat sampai mana kau bisa memberikannya keturunan, Akira yang tak tau aturan! Jika ia tak mendapatkan apa yang ia mau darimu, ia pasti akan kembali padaku, Rayrin,hanya Rayrin yang berhak atas Farid Ahmad Danuarta.' ia tersenyum licik di balik pelukan Kris.


Kris yang malang.


***


"Sayang, ayo kita pergi ke luar." Akira merengek seperti anak kecil.


"Mau kemana sayang, di luar gerimis."


Farid menolak ajakan istrinya dan fokus terhadap layar televisi di hadapannya.


Akira melakukan segala cara, ia menggelayuti lengan suaminya bahkan duduk di pangkuan suaminya, menghalangi pandangan suaminya yang sedang menatap layar televisi dan lain-lain.


"Sayang, besok kita pulang, ayo ke suatu tempat, aku pengen makan ikan bakar. Ayoo." ia bahkan menarik tangan Farid sampai membuat lelaki itu terpaksa beranjak dari sofa.


Jujur, ia bosan di kurung di dalam kamar sejak tadi, bahkan sekarang sudah pukul empat sore.


Sedangkan, besok siang ia sudah di ajak pulang oleh Farid.


"Bukanya kamu enggak suka ikan, sejak kapan kamu merengek untuk makan ikan, apa adik bayi yang menginginkan? Bibit unggul ku sudah tumbuh disini?" ucapnya bersemangat sembari menyentuh perut sang istri.


"Ish, aku masih suka ikan gurame ya, satu lagi, aku gak hamil. Baru tiga puluh menit yang lalu aku pakai pembalut!"


"Kamu?"


"Iya aku halangan. Kenapa?"


"Malam terkahir kita disini dan kamu malah berhalangan? Yang benar saja sayang, bagaimana dengan jatahku?"


Akira melotot tajam menarik hidung mancung suaminya.


"Mesum banget kamu, astaga. Apa buat anak aja yang ada di otak kamu?"


"Hentikan, sayang aku susah bernapas, ayo kita makan ikan, oke?" ucap Farid yang membuat Akira terbahak-bahak, karena suara suaminya yang lucu akibat hidungnya ia jepit.


"Suamiku yang terbaik, ayo!"


Setelah beberapa lama, mereka kembali dengan banyak paperbag di tangan keduanya.


Tadi, di jalan pulang, Akira ingat bahwa ia harus membelikan teman dan keluarga oleh-oleh.


Mereka berjalan santai menuju lobi hotel hingga,


Brak


semua paperbag di tangan Farid terjatuh karena seseorang menabrak lengannya dari arah belakang.


"Maaf, Pak. Saya terburu-buru." ucap lelaki itu menunduk memunguti barang-barang Farid.


Sedangkan, Akira hanya mampu meneliti siapa lelaki itu, sebab ia seperti kenal.


"Sekali lagi saya minta maaf." ucap lelaki itu sembari memberikan barang kembali pada Farid.


"Deanno?"


Panggil Akira tepat saat lelaki itu hampir berbalik meninggalkan mereka.


Lelaki itu hendak kabur namun dengan sigap Akira menahan tangannya.


"Dean, kamu kemana aja?! Kenapa nomor kamu gak aktif? Terus kamu kok bisa disini,ngapain?" tanya Akira posesif tanpa perduli akan Farid yang mulai menatap cemburu.


"Aku--"


"Aku cari kamu, aku pikir kamu marah karna aku terlalu sibuk dengan suamiku dan lupa punya teman kamu."


"Akira aku buru-buru, aku harus menemui client disini." tolak lelaki itu hendak berbalik tanpa menjawab serentetan pertanyaan sahabat nya.


Tanpa bisa Akira cegah, Dean benar-benar berjalan cepat meninggalkannya penuh tanda tanya.


Sedangkan, Dean hanya mampu membendung perasaannya. Ia rindu Akira, sahabat yang ia cintai sejak lama, yang ia sayang sepenuh hatinya, yang selalu ia dengar keluh kesahnya tanpa menyalahkannya.


Air matanya mendesak untuk keluar, kalau saja denting suara lift yang terbuka tidak menyadarkannya segera bahwa ia harus tau diri.


Ia hanya sahabat tak berguna yang memberikan penderitaan mendalam pada sahabatnya.


Lanjoot gak nehhh


Penasaraannn gakkkk


HAYO VOTENYAAAAA SAMA JEMPOLNYA JAN SAMPE LUPA YAAA


gak yaudah, author cuma mau merealisasikan apa yang ada di otak author aja.


wkwkk jan baper ya readers