
Nggak tau kenapa aku takut mau lanjutin cerita ini, takut semakin di lanjut semakin di judge, nah gue berasa kaya artis yang banyak hatersnya, walaupun gue tau yang memberi kritik itu atas suruhan gue dan sebenarnya baca sampe episode paling ujung, tapi sumpah gue takut, nggak siap sumpah!
Harusnya sebagai penulis newbie gue harus lapang dada nerima kritikan dari ujung kulon sampe wetan, tapi nyatanya cuma kritikan sedikit aja udah bikin gue takut.
Oke abaikan!
"Kenapa kamu malah maafin mama mertua kamu?" Ariana bersedekap dengan wajah kesalnya, bahkan Mattheo pun memasang wajah tidak terima.
"Ya, mau marah berlebihan juga, akhirnya dia tetap mertua aku, seandainya masalah ini berlarut pasti akan ada jarak di antara keluarga, pasti nggak enak dong, kak."
"Lho, harusnya keluarganya juga paham, Akira ini bukan sinetron ya, yang kebetulan ada kamu sebagai protagonisnya yang baiknya kelewatan, memang kamu gak merasa marah dalam hati kamu?!" sembur Ariana, wanita itu sejak tadi terus menyerang adik iparnya dengan pertanyaan, berbeda dengan Mattheo yang lebih memilih diam dengan ekspresi datarnya.
"... "
"Itu kejahatan lho, bisa aja Bu Rita itu masuk penjara, kami sebagai kakak kamu merasa nggak terima!" tukas Ariana lagi, wanita yang biasanya lembut dan kaya akan senyuman itu kini hanya bisa menebar emosi ke seluruh rumahnya, ya rumahnya bukan rumah Akira, sebab tadi pagi Ariana menyuruh Akira untuk segera ke rumah mereka, agar lebih private.
"Sebenarnya, ada masalah apa sih orang itu sama kamu, heran." ujar Mattheo, raut wajahnya sangat menunjukkan ketidaksukaan.
"Tau gitu dulu kamu gak usah aja rujuk sama Farid, banyak kan yang mau sama kamu, temen kakak juga banyak yang mau lamar kamu, sial aja keduluan Farid." lanjut lelaki itu.
"Iya, aku juga bingung mas, salah adik kita apa, dulu Farid sekarang ibunya, alah jangan-jangan ibunya emang gak suka dari dulu, inget kan Bu Rita aja gak sampai acara selesai udah minggat, ayah meninggal enggak melayat juga kan?" mengingatkan pada acara resepsi pernikahan Akira dan Farid.
"Kak, sebenarnya mama itu gak sepenuhnya salah, mama cuma ada sakit hati sama keluarga kita." Akira mencoba mengungkapkan apa yang keluarga nya tidak tahu.
"Maksudnya? Memang kita pernah ada salah apa?" tanya Mattheo.
"Bukan kita, tapi ibu secara gak sengaja buat mama sakit hati, ternyata ibu itu mantannya papa mertua aku." ungkapnya.
"Yang bener?"
"Iya, kak. Bahkan sampai sekarang papa mertua aku katanya masih suka inget ibu."
"Mungkin bukan ibu, tapi tante Marisa kali." celetuk Mattheo.
"Tante Marisa kan di Taiwan, mana mungkin juga, orang mama itu sebutnya Marina ibu kita!" ujar Akira meyakinkan.
"Udah deh, pokoknya kakak tetap enggak terima, masalah kisah mereka itu kan udah dulu banget, gak bisa dong kaya gitu apalagi ini keterlaluan lho, jangan mentang-mentang mereka orang kaya, seenaknya saja!"
"... "
"Mas! Ngomong dong, Akira ini adik kamu kok dari tadi aku terus yang ngomong, kamu gak ada niat belain adik kamu?" sinis Ariana, agaknya ia kesal pada suaminya yang sejak tadi diam saja, sangat irit bicara.
"Akira ada benarnya, gak baik jatuhnya kalau masalah ini melebar, akan ada kesenjangan antar anggota keluarga." Ariana melotot nampak tak puas dengan jawaban suaminya.
"Terserah lah terserah! Kalian berdua ini sama aja!" serah Ariana.
***
Ia sedih, ia juga tak terima kebahagiaannya di rusak, kenyamanan rumah tangganya di usik, tapi yang melakukan adalah ibu mertuanya sendiri. Ia ingin benci, tapi jika mengingat Fiora, Farid, Farrel, ia merasa enggan untuk meluapkan betapa marah dan kecewa dirinya.
Obat terbaiknya sekarang cuma jajan, jajan junk food atau street food. Ia memilih untuk memakannya di dalam mobil sambil berkendara, setelah ia mendapatkan burger, kentang goreng, chicken dan milkshake stroberi nya, ia terus berkendara tak tentu arah.
"Oiya, tadi aku gak bilang sama kakak, kalau kakak di curigai sebagai anaknya papa, harusnya aku ngomong gak sih?!" ia menggerutu, mengunyah, menangis ia lakukan secara bersamaan.
Saat ia mau meminum milkshake stroberi nya ia jadi ingat susu stroberi yang selama ini ia minum membunuh bakal janinnya yang sudah susah-susah suaminya tanamkan di rahimnya, "iiihh.. sebel!" teriaknya sambil meminum minumannya sampai habis dengan kasar.
***
Malam tiba, Akira seperti mayat hidup saja, ia menangis seharian sampai matanya bengkak, dua suara hatinya terus bergelut dari tadi, pembelaan dari Ariana membuat dirinya ingin egois dan memberi balasan akan kejahatan Rayrin dan Rita. Tapi, ingat! Keharmonisan sebuah keluarga semakin di pertaruhkan karenanya.
"Aku harus gimana?" gumamnya di atas bantalnya yang kini basah karena air mata, rambutnya lengket acak-acakan, ia bahkan belum mandi sore. Oh ya, Farid bahkan belum pulang, entah apa yang lelaki itu lakukan, apa ia sedang menginterogasi mamanya?Pasalnya, tadi pagi sebelum berangkat, Farid bilang, ia akan usut tuntas dan perjelaskan semuanya.
Di tengah lamunan nya, ia ingat seseorang, Deanno! Ada yang belum selesai dengan lelaki itu, ia harus bicara!
Di tempat lain, "Kris, kamu bohongin aku?!" bentak Rayrin.
"Kamu yang bohong dan kamu yang udah manfaatkan aku, aku sayang sama kamu itu tulus, tapi ini balasan kamu?!"
Rayrin menatap nanar pada Kris, ia hanya punya Kris yang mencintainya tapi apa? Kris berhianat. Kris, mengatakan bahwa ia selama ini tidak meramu kontrasepsi alami lagi untuk Akira dan datang ke rumahnya untuk memutuskan dirinya.
"Kris, Akira jahat sama aku!"
"Kamu yang jahat sama dia, kamu pikir aku bodoh, hah?! Cukup untuk enam bulan ini, aku akan ke luar negeri jauh dari kamu!"
"Nggak, Kris gak boleh, kamu punya aku!" ia menahan lengan Kris yang mulai melangkah jauh.
"Jangan gila, Ray!" sentak nya membuat Rayrin tersungkur ke lantai. Rayrin merasa ia akan benar-benar sendiri jika Kris tidak ada.
"Jangan pergi! Aku mohon... " Kris tersenyum kecut, kemana Rayrin yang licik? Rayrin yang selalu tersenyum licik setiap dirinya memberikan apa yang perempuan itu mau untuk menyakiti Akira yang tak bersalah.
"Aku ada di sini cuma kamu jadikan boneka, kamu cuma memanfaatkan aku, jadi buat apa aku disini?! Lebih baik aku nurut sama ayahku meninggalkan kamu dan memimpin rumah sakit yang ada di Jepang."
"Kris, kalau kamu pergi aku sama siapa?"
"Jangan kaya manusia yang nggak punya keluarga!" bentak Kris. Rayrin hanya tersenyum getir, keluarga? Sejak dirinya berhenti jadi model, depresi dan di nyatakan memiliki gangguan kejiwaan, orang tuanya seakan tidak perduli, cuma Kris, cuma lelaki itu yang mendampingi dirinya, bahkan sejak ia meniti kariernya di Milan.
Hanya saja, ia saat itu enggan untuk menanggapi Kris, karena saat itu ada Farid di belahan negeri lain yang menunggu dirinya untuk pulang. Ia yakin Farid menunggunya saat itu, ia ingat betapa lelaki itu sangat suka padanya. Nyatanya, suka bukan berarti cinta. Cinta hanya di miliki oleh Akira.
Tepat, saat ia sadar dari lamunannya, saat ia sadar akan ketulusan pria yang ia sepelekan cintanya, Kris sudah menjauh dari pandangannya, keluar dari rumah kecil yang ia tempati, menyisakan dirinya yang tersungkur tak berdaya di lantai rumah itu.
"Kris! Jangan pergi! Aku sama siapa?" tangisnya pecah saat itu juga, Rayrin yang penuh kelicikan kini hanya Rayrin yang penuh air mata.
HUFT NGGAK NGERTI LAGI