Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh delapan



Farid tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh lelaki di depannya sekarang. Lelaki itu sekarang tengah terbaring lemah karena kecelakaan tapi malah memohon-mohon untuk di bantu sesuatu yang dirinya saja enggan melakukan.


"Aku mohon, Far. Aku juga ingin bahagia seperti kamu dan Akira beritahu keberadaan aku pada Rayrin sekarang." pintanya dengan suara lemah dan lirih, sedangkan Farid membuang wajahnya dari pandangan Kris. Ia sudah malas berhubungan dalam bentuk apapun dengan wanita bernama Rayrin.


Masih dengan keangkuhannya, Farid berdiri di samping tempat Kris berbaring. Dengan wajah dingin dan datar ekspresi serta tangan yang melipat di dada, membuat aura kesombongan semakin terlihat darinya.


"Aku terkejut tau kamu di kurung oleh papa kamu, bahkan papa kamu mau mengambil alih saham mu di perusahaan." ya Bram melakukan itu karena jika saham itu atas nama Kris, maka meskipun ia mengusir dan mencoret Kris dari daftar keluarga, Kris akan tetap bisa hidup tanpa warisan darinya. Jadi pengalihan saham itu salah satu trik agar ia memutuskan tidak memilih Rayrin dan meninggalkan Haruka.


"Tapi setelah aku tahu alasannya, aku setuju pada beliau. Aku tidak menuntut kamu karena penyalahgunaan obat-obatan, harusnya kamu memiliki masa depan yang lebih baik, bukannya kembali pada perempuan seperti dia. Bahkan aku sudah menganggap mu teman dekatku." ketus Farid tanpa mau menatap Kris.


"Lihat belum kalian bertemu, tapi kamu sudah sial, jika tadi kamu tidak berhasil menghindari truk itu dan bukan menabrak pohon, kira-kira apa yang terjadi?!"


"Far! Perhatikan kata-katamu, Rayrin tidak membawa sial! Sama seperti Akira, dia sedang mengandung! Bagaimana perasaan mu jika Akira yang ada di posisinya? Mengandung anakmu tanpa ada kamu menemaninya." bentak Kris dengan susah payah, jujur tenaga nya masih belum terkumpul, tubuhnya masih terasa sakit semua, luka di kepalanya masih meninggalkan rasa pening.


"Sergio!" dengan emosi yang menggebu-gebu Farid memanggil sekretarisnya dan muncul lah Sergio dari luar ruangan.


"Ya, Tuan?"


"Panggil perempuan itu, beri tahu padanya kalau ayah dari anaknya ada disini." dan pada akhirnya, Farid masih memiliki belas kasihan. Bukan pada Kris atau Rayrin, tapi pada anak mereka apabila nanti lahir tak tahu siapa ayahnya.


***


"Apa mas? Kris kecelakaan?Kok bisa?"


Astaga, baru saja ia pulang dari acaranya membenahi permasalahan Kris dan sekarang istrinya yang super berisik ini sudah banyak bertanya.


"Takdir." jawabnya datar. Sungguh, ia sedang lelah sekarang, ia malas menjawab pertanyaan Akira apalagi itu tentang Kris dan Rayrin.


"Ish, mas! Jawab!"


"Tadi kan sudah."


Akira menggembungkan pipinya kesal, yang langsung Farid raih untuk ia cubit. Pipi Akira saat hamil tua jadi sangat chubby dan kenyal.


Karena tidak puas dengan balasan suaminya Akira menepis tangan Farid.


"Kenapa bisa?!" sentaknya memaksa.


"Hmm.. dia kabur, demi ketemu Rayrin. Puas?" jawab Farid malas.


"Terus Rayrin udah tau?"


"Heem." sembari melepaskan jasnya berikut kemejanya menampilkan tubuh atletisnya.


"Nggak usah! Jangan terlalu ingin tau urusan orang lain." larang Farid sembari mencengkram lengan istrinya. Lalu, memposisikan istrinya agar bisa di peluknya Akira dari belakang.


Tangannya memberi sentuhan lembut pada perut buncit sang istri dagunya ia letakan tepat di bahu Akira.


"Apa kabar anaknya papa?"


"Ish, kok bukan ayah aku mau di panggil bunda sama anak aku." protes Akira menengok ke arah Farid dan membuat wajah mereka hanya berjarak dua senti saja. Tanpa di minta, Farid mengecup bagian wajah istrinya dengan sayang.


"Papa saja, kamu mamanya."


Akira menggeleng tak suka.


"Mommy sama daddy aja gimana?"


"Papa sama mama saja, oke?"


"Oke.. " sahut Akira lemas, tidak apalah, apapun panggilannya, yang penting nanti anaknya lahir dengan selamat dan tumbuh sehat hingga mampu memanggilnya mama.


Akira menyikut pelan perut telanjang Farid, "Mandi sana!"


"Sama kamu?"


"Ish mas!" baru ia akan melayangkan protes-protes lainnya, namun suara bising dari lantai bawah membuat ia terdiam dan menatap serius sang suami.


"Mas dengar gak?" dan tanpa menjawab Farid langsung bergegas mengambil kaus dan memakainya terburu-buru. Akira mengikuti dengan susah payah, ia harus berjalan pelan mengingat kandungannya yang besar.


"Papa! Farel enggak mau pulang, aku mau disini aja sama mama, kakak dan kakak ipar!" tolak bocah remaja itu dengan berteriak kencang melawan orang tuanya.


"Rell, maafin papa, kita pulang ya?"


"Nggak! Papa selalu bersikap seolah papa yang selalu benar, padahal ternyata... Sudahlah, Pa. Papa pasti sudah di tunggu pacar papa. Mending papa pergi aja."


Roy menggeleng tak percaya, ia tak menyangka bahwa anaknya akan melawan dirinya seperti ini.


"Farrel, jangan kurang ajar sama papa, Nak!" Rita memperingati anaknya.


"Ada apa ini?" Farid muncul dari ujung tanggal teratas dengan suara dinginnya.


YOOK KOMENTAR SAMA LIKENYA JANGAN LUPA, BIAR AKU SEMANGAT NIH UP DISINI.


SOALNYA AKU LAGI SUKA BANGET SAMA CERITA AKU YANG MY LAZY RICH MAN, KALIAN JUGA BACA YAAA???