
Akhirnya dengan ketegangan yang melingkupi mereka percakapan itu terjadi, yang berakhir dengan perdamaian seluruh anggota keluarga.
Hanya ada dua yang belum benar-benar ikhlas, yaitu Fiora dan Farell.
Farell sebenarnya sudah memaafkan Roy, namun ia masih jengkel. Sedangkan, Fiora hanya mau bicara pada mamanya saja, bahkan ia malas mendengar hal lebih jauh lagi tentang Marisa.
Fiora memilih pergi ke Amerika, namun Akira mencegah dengan dalih agar perempuan itu bisa menunggu hingga Akira melahirkan.
Beberapa hari berlalu, disini Rayrin membantu Kris untuk bangkit dari ranjang sebab ia akan membawa calon suaminya pulang, Kris sudah pulih hanya tenaganya masih agak lemah.
"Kita pulang, aku akan segera nikahi kamu." niat Kris menggenggam erat tangan Rayrin dan mendaratkan sentuhan lembut pada perut buncit perempuan itu.
Kris mengeluarkan sepasang cincin dari laci sebelah ranjangnya. Ada sepasang cincin emas dan satu cincinnya bertahtakan berlian mungil. Sederhana tapi sangat berarti bagi Rayrin.
Rayrin menganga, "Ini cincin kita?"
Kris mengangguk, "Aku sudah lama siapkan ini. Buat kita berdua." seketika Rayrin memeluk erat Kris, ia bodoh karena selama ini gengsi pada diri sendiri, jika saja ia menyadari lebih awal pasti ia benar-benar bahagia sejak lama bersama Kris.
Air mata wanita itu membuat kemeja putih yang di pakai Kris jadi basah.
"Tapi Kris, aku gak mungkin nikah dengan perut sebesar ini." Rayrin menunduk sedih.
"Kita tunggu putri cantik kita lahir. Oke?" Rayrin kembali tersenyum dan menghambur ke pelukan Kris.
..
Beberapa minggu kemudian.
Suasana rumah yang tadinya tenang jadi ribut karena teriakan Akira dan kepanikan Farid.
Awalnya semuanya baik, Akira hanya ingin berkunjung ke rumah mertuanya menikmati teh dan duduk di taman belakang bersama mama dan Fiora.
Farid yang sibuk berbincang dengan papanya, hingga saat mereka akan istirahat siang di kamar Farid karena Akira yang mengeluh punggungnya nyeri.
Mendadak, setelah Akira berbaring justru rasa sakitnya semakin menjadi, perutnya juga sangat mulas sampai ia merasakan pakaiannya basah.
"Mas! Aku mau lahiran!" teriaknya menghentikan Farid yang tadinya mau meninggalkan diriny untuk istirahat.
Sontak, Farid yang belum berpengalaman langsung panik bukan main apalagi rintihan kesakitan Akira yang tak ada hentinya.
Ia memanggil seluruh anggota keluarga, bahkan berteriak pada para pelayan dan sopir untuk menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit.
"Mas! Aku gak mau ke rumah sakit!" pekik Akira seraya memegangi pinggangnya.
Farid menjambak rambut nya bingung, istrinya mau melahirkan tapi kenapa tidak mau ke rumah sakit?!
"Mama, gimana?!" tanyanya frustasi pada mamanya.
"Duh! Jangan panik dong Far, tenang! Akira, Nak kamu mau melahirkan harus di bawa ke rumah sakit, nurut ya?" bujuk Rita dan Farid bersiap n mengangkat tubuh istrinya.
Namun, Akira mendorong dengan sekuat tenaga yang ia punya, "Nggak mau! Kan bisa lahiran di rumah, aku gak suka di sana, Mas!"
Ia sangat berharap suaminya itu mau menuruti apa maunya, karena ini pertama kali ia mau melahirkan ia jadi sampai tidak mengindahkan tanda-tanda akan melahirkan. Ia merasa ada yang tidak beres padanya sejak beberapa waktu lalu, tapi ia berpikir wajar karena perut besarnya membuatnya lelah. Dan sekarang ia tak mau berdebat panjang.
"Nak, kalau di rumah sakit lebih terjamin." ujar Roy memberi pengertian.
Akira menggeleng, ia tidak bisa membayangkan dirinya tidur di atas ranjang rumah sakit dan di tangani oleh dokter. Entahlah, pokoknya Akira merasa tidak nyaman di rumah sakit.
"Mas, ih! Kamu kan kaya katanya berkuasa ya suruh bidan aja kesini ya masa gak bisa, aku gak mau di rumah sakit! Nggak!"
Ya ampun, kepala Farid berdenyut nyeri, di saat panik seperti ini ia di hadapkan dengan wajah Akira yang penuh peluh tapi malah ngeyel mengajaknya berdebat.
"Mas, buruan aku gak mau dokter cowok ya, bidan aja yang pasti perempuan!" sungguh Akira sangat ribet! Karena ia tidak mau kalau daerah pribadinya di lihat lelaki lain selain suaminya, itu memalukan.
Dan di rumah sakit, ia tidak tahu siapa yang akan menanganinya nanti, bagaimana kalau dokternya lelaki?! Jika memanggil sudah pasti ia bisa memilih siapa yang ia inginkan.
Farid membuang napas kasar, lagian ia juga malas sekali kalau sampai milik istrinya di lihat lelaki lain.
"Mas! Kok diem sih?!"
"Farid, itu Akira gimana?" desak Fiora yang memancing emosi Farid hingga menggendong paksa Akira menuju rumah sakit.
Akira terus melayangkan protesnya, namun ia sedikit lega karena suaminya tidak membawanya ke rumah sakit tapi ke rumah dokter Adilla yang pernah memeriksanya saat dulu dirinya di gempur habis oleh suaminya.
Dokter Adilla mengarahkan Farid agar membawa Akira ke ruang praktik bersalinnya dan meminta agar perawat membantu segala persiapannya.
"Bagimana dokter?" tanya Rita saat setelah Adilla memeriksa jalan lahir Akira.
Dokter Adilla mengangguk, "Sebaiknya, kalian semua di luar saja, untuk Farid boleh menemani."
Adilla juga agak bingung karena ia bukan spesialis kandungan ataupun bidan, tapi setidaknya ia mengerti cara mengeluarkan seorang bayi dari perut ibunya.
Nanti, ia akan mengomel pada temannya karena membawa istrinya yang akan melahirkan kemari, bukannya ke klinik bersalin atau rumah sakit.
Farid menggenggam tangan Akira erat menyalurkan segala kekuatannya karena napas istrinya sekarang sudah tersengal.
"Jangan mengejan sebelum saya beri instruksi, ya tenang tarik napas perlahan." instruksi dokter Adilla.
Farid sebenarnya takut melihat perjuangan Akira, tapi ia harus berada di samping sang istri untuk memberikan semangat dan menyalurkan segala kekuatan agar Akira tetap kuat berjuang mengeluarkan bayi mereka.
Akira terus berusaha agar buah cinta mereka segera hadir dengan semua bisikan manis dari bibir Farid yang seolah bisa mengisi ulang tenaganya. Lelaki itu terus memberi asupan semangat, melalui bibirnya meski dengan mata terpejam karena tak tega melihat wajah lelah istrinya.
"Sedikit lagi, ayo sekali lagi, kamu pasti bisa!" dorong dokter Adilla saat ia merasa pasiennya seperti kelelahan, karena Akira diam cukup lama dan pada saat itu genggaman tangan Farid semakin erat.
Dan dorongan terakhir, akhirnya tangis bayi itu pecah meramaikan ruang bersalin yang menyatu dengan rumah dokter Adilla.
"Selamat, seorang pangeran telah lahir untuk kalian, sehat dan sempurna!" seru senang dokter Adilla membuat semua yang menunggu di luar tersenyum senang dan tak hentinya mengucap syukur.
Akira tersenyum lembut dalam kelemahannya, saat netranya menangkap sosok sang putra yang di serahkan pada perawat untuk di bersihkan.
Farid menangis haru lantas mengecup kening Akira sembari terus menggumamkan kata terimakasih untuk istrinya yang telah berjuang demi buah cinta mereka.
"Terimakasih, untuk telah memberiku seorang putra dan menyempurnakan hidupku." ucapnya yang membuat Akira ikut menangis haru.
"Aku mencintai kamu, Akira. Sekamanya cuma kamu." gumamnya dalam kecupannya di kening sang istri lalu beralih mengecup bibir Akira yang Akira respon dengan memejamkan matanya menikmati aksi syukur suaminya.
Jujur aku kasian sama dokter Adilla 🥺🥺
**OEMJI BENTAR LAGI MAU TAMAT BENERAN, MAU BILANG APA SAMA AUTHOR?
MAAP YA KALAU KURANG PUAS.
PART INI SINGKAT DAN PENUH DRAMA HAHA LAHIRAN AKIRA PENUH DRAMA WKWK**.