Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
empat puluh enam



"Kamu jahat ya sama aku!" cerca seorang wanita hamil pada dua insan di hadapannya, lebih tepatnya pada sang wanita.


Di hari minggu yang cerah ini yang ingin dihabiskan dengan bersantai bersama suaminya, eh malah berakhir dengan dirinya yang mengoceh tak jelas.


"Mas! Marahin sekretaris kamu itu! Nyebelin!" sewotnya lagi sedangkan Farid hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.


"Kok kamu diem, katanya presiden perusahaan, tapi kok..eh perusahaan sekarang apa namanya ya?" tanyanya pada diri sendiri, sembari mengelus dagunya.


"Earth Holding Company, Nyonya." beritahu Sergio.


"Diam kamu, saya gak nanya kamu!"


"Kok lo jadi marahin suami gue sih?!" protes Zia yang sedari tadi cukup diam.


"Bomat!" acuh Akira dengan tangan bersedekap.


"Ra, ya maaf kalau lo kecewa, tapi kan.. "


"Lo gak anggap gue sahabat lagi ya, Zi?"


kesal Akira, bagaimana tidak kesal? Baru saja, Zia datang dengan sebuah undangan, awalnya Akira kesal sedikit karena tidak di beri tahu sejak awal merencanakan pernikahan, namun saat membuka undangan yang tertulis bahwa ada tanggal di mana akad sudah di langsungkan, ia menjadi bingung.


Lalu, semakin kesal saat mendengar bahwa mereka sudah menikah lebih dulu seminggu yang lalu secara mendadak karena sebuah insiden satu malam yang menyebabkan Zia langsung hamil.


"Bisa ya elo, hamil duluan terus nikah, gue enggak tahu, dan tahu - tahu, elo adain resepsi dan baru undang gue. Parah!" cecar Akira.


"Gue tahu, elo tertutup dan sangat gengsian, tapi apa iya sih, Zi, sampai gak kasih tahu gue, sedangkan Tina sama Via aja lo kasih tau." jiwa ibu hamil yang sensian benar-benar menguasai diri Akira sekarang.


"Tck! Akira, pelan-pelan jalannya, lagi hamil juga." decak Farid khawatir melihat istrinya yang berjalan dengan cepat menaiki tangga, meninggalkan mereka semua di ruang tamu.


"Tuan?" panggil Sergio saat Farid beranjak ingin menyusul istrinya.


"Saya gak sangka, ini terjadi dan yang kamu lakukan itu, Zia masih sepupu saya, Gio! Bisa-bisanya." Farid menggelengkan kepala tak percaya.


"Kami malu jika mengundang kalian berdua saat pernikahan mendadak kami, jadi... " ucapan Zia terpotong.


"Kalau malu yang jangan berbuat maksiat, minimal ya main aman sampai kalian menikah. Benar-benar! Lagian kenapa harus malu, saya sepupu kamu, Akira sahabat dekat kamu juga kan?"


"Oke, kami minta maaf, tapi bujuk Akira agar datang, aku mau saat pernikahan resmi kami, Akira datang." pinta Zia.


"Aku tidak yakin, sejak hamil dia sangat sulit di bujuk dan pemarah, salah kalian sendiri." Farid angkat tangan dan meninggalkan keduanya.


Zia dan Sergio saling bertatap mata, "Kamu sih!"


"Kenapa aku? Kan kamu yang memutuskan sembunyikan semuanya."


"Coba aja kalau kamu main aman, kaya kata Farid atau kamu gak rayu-rayu aku. Aku gak akan hamil duluan." sewot Zia.


"Ih, Gio!" bentak Zia sembari melenggang keluar dari ruang tamu kediaman Farid dan Akira.


"Lho, kamu sendiri juga mau kok." gurau Sergio, menyusul langkah istrinya, lalu langsung mendapat capitan dari tangan ganas Zia.


"Kamu yang rayu aku duluan!" gemas Zia semakin kencang mencapit kulit lengan suaminya.


"Tapi kamu juga dengan senang hati, gak usah gengsi. Gengsi kamu telat!" ledek Sergio lagi.


***


"Zia ini sudah enggak anggap aku lagi apa ya?!" curhatnya pada Farid yang berhasil menyusul dan duduk di sampingnya, di atas tempat tidur mereka.


"Zia, malu sayang." dengan sabar Farid menanggapi emosi ibu hamil itu.


"Ih.. sebel! Cuma aku yang enggak tau, aku merasa gak di anggap, aku merasa enggak berguna jadi teman karena ketika dia tau ternyata dia hamil dan.. Ah! ya aku paham, mereka saling suka, pasti hamil duluan bukan bencana apalagi mereka sudah dewasa, tapi kan... " Akira jadi gemas sendiri, ia paling tidak suka jika ia di perlakuan seperti seolah tidak di anggap begitu. Akira benci itu!


"Kamu datang ya di pernikahan mereka, Zia berharap sekali." bujuk Farid.


"Malas!"


"Jangan begitu,kita harus datang,wajar kalau di tutupi itu aib keluarga,bahkan di keluarga aku, yang di beri tahu cuma papa dan mama, sayang. Hanya para orang tua saja yang tau saat itu."


"Tapi tuh.. " belum sempat Akira melanjutkan keluhannya, tangan Farid sudah menghentikannya, Farid mengelus perut buncit istrinya lembut, "Sudah, jangan marah-marah kasian anak aku di dalam sini." ujarnya sembari merebahkan kepalanya pada paha Akira dan menempatkan kepalanya berada tepat di depan perut sangat istri.


"Anak kita!" koreksi Akira.


"Iya anak kita, istriku yang galak." sembari menjawil hidung Akira dari bawah. Sedangkan, tangan Akira sibuk mengusap rambut suaminya.


"Hah? Galak?!"


"Iya kamu galak sejak hamil." jujur Farid.


"Mas ih, nyebelin, aku baik gak galak!" protesnya, tanpa menghentikan usapannya di rambut sanga suami.


"Iya, mama baik, mama paling baik untuk aku dan istri paling baik untuk papa." ujar Farid menirukan suara anak kecil.


Membuat, Akira jadi tertawa geli, karena itu sangat tidak cocok untuk Farid lakukan.


***


Sedangkan, di kediaman Rayrin.


Besok lagi saja dulu ya, hari ini Rayrin dan Kris gak muncul dulu. Setuju gak kalau mereka gak aku kasih bagian dulu hari ini?