
Hari masih pagi tapi Akira sudah menggerutu dan terus marah-marah sampai membuat para pembantunya heran, tidak biasanya majikan mereka secerewet itu.
"Ya ampun bibik... ini gimana sih, kenapa ayamnya di buat ayam kecap doang sih!"
Fiks, ini Akira sedang kerasukan, biasanya dia tidak sebegitunya jika pada para pembantunya di dapur.
"Anu, Nona, biasanya untuk Tuan, Anda memerintahkan masaknya seperti itu tidak perlu di goreng atau di masak berlebihan."
"Memangnya cuma dia doang yang makan, harusnya itu ayam di semur pedas." protesnya yang semakin membuat kedua pembantunya kaget dan kelabakan, jelas ini bukan seperti biasanya, biasanya jika mereka salah Akira hanya berkata 'ya sudah tidak apa' tapi ini?
Nona Akira mereka hampir membuat jantung mereka copot dan membuat gendang telinga mereka pecah.
"Ada apa ribut-ribut?"
Farid muncul dengan setelan kerjanya dengan kemeja hitam serta jas juga celana bahan warna navy, tak lupa sepatu hitam mengkilapnya.
Akira hanya melirik sinis dan kembali sibuk mempersiapkan sarapan.
"Maaf, Tuan tadi kami salah mengerjakan perintah Nona."
"Perintah apa?" tanyanya sembari melanjutkan geraknya menduduki kursi di ujung meja makan yang terbuat dari kaca bening.
Mereka berdua melirik Nonanya seolah mencari kepastian bahwa tidak akan kenapa-kenapa jika mereka menjawab pertanyaan Farid.
"Anu, itu tadi saya masak ayam kecap untuk Tuan seperti biasa, tapi kata nona salah, harusnya semur pedas." jawab Indah terbata-bata.
Kening Farid mengkerut aneh, ia menghela napasnya panjang.
Akira membuat keributan hanya karena hal sepele?
"Are you crazy Akira?" tanyanya dengan wajah meminta penjelasan.
*apa kamu gila Akira.
Akira yang sedang menata hidangan di meja menghentikan sejenak kegiatannya.
"Oh, Tuan sudah bisa bicara?" tanyanya sinis.
Jujur, Akira sebenarnya kesal pagi ini karena semalam Farid terus mengabaikannya, tidak menjawab panggilannya, menjawab pertanyaannya seperlunya, ia kesal. Sangat!
#Flashback
Akira duduk di atas ranjang menunggu Farid yang kini masih di ruang kerjanya mengerjakan pekerjaan yang terlupakan tadi.
Ia terkesiap menyambut Farid, ia harus mencoba membujuknya siapa tau ia punya salah dan membuat Farid marah namun tak mau meributkan nya, jadi ia mau mengalah saja dulu.
"Mas! Udah selesai?" tanyanya saat Farid berjalan menuju ranjang.
"Heem." hanya deheman singkat dan membuat Akira yang sudah tersenyum lebar jadi kecewa.
"Mas!" panggilnya namun Farid hanya menoleh tanpa menjawab.
Apa dia marah karena aku keterlaluan ya sejak baikan lagi aku kan suka enggak sopan, pikir Akira.
"Mas, capek?"
usaha Akira untuk membuka percakapan masih belum surut.
"Sedikit."
singkat lagi, ya ampun Akira nggak suka!
Oke, strategi tambahan.
"Mau aku pijitin, atau mau.. " Akira menjeda kalimatnya tangannya mengelus rahang kokoh Farid, lalu turun ke dada pria itu yang tertutup piyama tidurnya dan memainkan jemarinya disana.
Farid menahan napasnya, demi apa, ini sudah berhari-hari ia tidak menyatu dengan istrinya dan sekarang Akira sendiri yang menawarkan diri menjadi mangsanya.
Tapi sekelebat peringatan Sergio muncul di otaknya, " Jangan gampang luluh, Tuan!"
"Aku mengantuk!" jawabnya datar dan berbaring memunggungi Akira.
Akira malu, Ya Tuhan ini memalukan, menggoda dan di tolak?!
#end
"Hiliihh.. sok lupa! Apa memang udah lupa, terserah sih kalau mau ngambek, aku juga ngambek!" ucapnya lalu duduk di kursi yang jauh dari Farid, ia meraih selembar roti lalu memakannya tanpa selai. Ia malas makan masakan pagi ini, toh karena dia kesal bukan dia yang masak untuk Farid.
Farid memejamkan mata sejenak menggertakan gigi-giginya.
Sialan, Sergio, satu tahun kau kerja tanpa gaji!" batinnya.
***
Awan sudah hampir gelap waktu menunjukkan pukul 17.45, tapi Akira masih betah di luar memanjakan dirinya bersama dengan Tina, partner shoping and eating yang paling klop dengannya.
"Ra, kamu balikan sama Farid?"
Tina dan Akira jika berdua memang suka bicara lebih sopan dan santai tidak kasar dan menggebu saat berlima dengan yang lain.
Akira mengangguk lalu menyedot es kopi di cup yang ia genggam.
Mereka sedang berjalan di pinggiran jalan mencari sasaran jajanan, sebut saja mereka sedang kulineran.
"Katanya mau cerai, mana gitu aku gak di kasih tau lagi."
"Ya di saat kaya gitu mana aku kepikiran Na, lagian semua kejadiannya tiba-tiba."
jawabanya menatap ke depan sembari melirik ke kanan kiri mencari jajanan pinggir jalan yang kiranya mereka suka.
"Terus sekarang kaya gini dari siang sampe sore, gak di cari sama dia?" tanya Tina yang terus ingin tahu.
Akira hanya mengedikan bahunya lalu mendadak, "Kesel... kesel banget! Kemaren dia ngrayu biar aku balik eh dari tiga hari lalu ya dia cuekin aku, ih sebel gak si!" gerutunya kesal.
"Ah elaah.. minta di kekep itu palanya Ra."
"Tenang ntar aku kekepin sampe susah napas." katanya dengan tangan kanan yang mengepak seperti ayam.
"Kalo mati kehabisan napas ntar kamu janda dong, iiiyyy." ledek Tina yang sukses membuat tangan Akira melayang di lengannya yang berisi. Bukan gendut ya hehe.
Akira pulang dalam keadaan senang, ia dapat banyak jajanan semasa SD nya dulu, wah langka ini mah.
Ia memasuki rumah dengan senyum mengembang, namun ia berhenti saat mendengar perbincangan antara dua lelaki yang berdebat di ruang tengah, ia menempelkan dirinya di dinding ruang tamu mencoba menguping apa yang terjadi di ruang tengah.
"Istri saya belum pulang, sekarang sudah jam delapan dan ini gara-gara kamu!" tuding Farid terhadap Sergio.
"Kenapa saya Tuan, mungkin Nona hanya bersama temannya." sangkal Sergio.
"Wah, kamu sungguh ingin tidak aku gaji ya." ancamnya.
"Rencana kamu gak berhasil, awalnya saja dia mengelu-elukan aku, tapi tadi pagi dia mulai marah!"
"Sabar Tuan mungkin Nona sedang pms." tahan Sergio dengan kedua tangannya.
"Tuan, wanita seperti Nona itu perlu di gitukan sedikit agar ia bisa luluh dan penurut lalu selamanya akan takluk pada Anda."
"Pms kepalamu! Semalam saja dia masih menggodaku agar aku mau bicara dan karena rencana bodohmu aku kehilangan kesempatan menyatu dengannya saat dia sendiri yang ingin!" teriak Farid murka, pokoknya ia tidak mau mendengar saran Sergio, sekarang Sergio sudah tidak profesional!
Akira yang ada di belakang tembok bukan hanya menganga tak percaya, ia malu, malu! Ia meringis dan menepuk kepalanya sendiri mengingat kejadian semalam saat ia sudah pasrah mengajak Farid bicara, ia menggodanya dan tidak berhasil dan Farid malah membicarakan nya dengan Sergio, gila.
Napasnya menggebu, hidungnya kembang kempis karna napas yang terhembus bersama dengan emosi karena merasa di permainkan dengan langkah pasti Akira menghampiri keduanya.
"Farid! Sergio! Kalian.. !"
NUNGGUIN YA? SERIUS DEMI APA NUNGGU STORY INI UPDATE.
YANG NUNGGUIN KOMEN DONG ABIS INI
JANGAN LUPA VOTE JUGA YAAA
AKU UDAH NULIS LANJUTANNYA DARI SEMALEM ENTAH KENAPA REVIEW NYA LAMA BANGET
SUMPAH LAMA GARA-GARA ADEGAN DI FLASHBACK APA YA? WKWK
GIMANA KALAU GUE BIKIN EPISODE 18+ COBA
Baca juga novel baruku yaa, novel dadakan dapet imajinasi keburu lupa jadi tulis aja.