
Kalau dulu Akira menghabiskan weekendnya dengan bermalas-malasan ditempat tidur hingga matahari meninggi, lalu pergi hangout bersama teman-temannya. Berbeda dengan sekarang saat ia telah bersuami, meski sang suami suka menahannya ditempat tidur tapi ia tetap harus segera bangun,untuk memastikan sarapan dirumah tersaji dengan sempurna tanpa kekurangan.
Bukan ia ragu dengan asistennya yang bekerja didapur hanya saja, ia tidak tenang jika belum memastikannya. Ingatkan Akira, jika ia sangat sulit dalam hal makanan.
"Morning hubby?" sapanya pada sang suami yang berjalan menuju meja makan dengan wajah bantalnya.
Yang disapa hanya diam masih menahan kantuk yang teramat sangat terasa, menjatuhkan dirinya disalah satu kursi.
"Masih ngantuk? Makannya berhenti kerja, dirumah masih saja kerja" ucap Akira sembari mengusap rambut lurus legam milik suaminya, yang diusap hanya mendongak dengan matanya yang masih merah akibat mengantuk berat.
"Kalau aku berhenti kerja mau miskin?" kekeh Farid.
"Maksudnya tuh ya tau waktu mas, masa waktu udah mau pagi baru balik kamar"
"Kenapa? Takut tidur sendirian?" tanyanya menggoda dengan memeluk pinggang sang istri yang berdiri disamping tempat duduknya.
"Nggak! Gak begitu cuma kan gak bagus aja kerja terlalu keras" sahut Akira mengelak.
"Udah ah lepasin masih mau masak aku"
ucap Akira berusaha melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya.
"No! Tadi kamu udah ninggalin aku seenaknya ditempat tidur" tolak Farid.
"Salah sendiri!" ketus Akira lalu menerobos keluar dari pelukan Farid, dan kembali ke acaranya memasak sarapan.
Farid menghampiri istrinya yang sedang sibuk menumbuk sesuatu.
"Ini orang pagi - pagi kok mau makan sambel sih yang?" protes Farid yang berdiri disamping Akira.
"Apa?! Yang?! Alay ih manggil begitu!"
"Bodo! Ini kamu mau makan sambel pagi-pagi? Seneng ya cari penyakit?" tanya Farid terheran.
"Siapa yang cari penyakit, emang kenapa sih aku bisa makan sambel kapan aja tuh" sahut Akira mengelak dengan terus berkutat dengan cobeknya.
"Yaudah stop,suruh bibi aja ngapain punya asisten kalau kamu masih kerja kaya gini?"
"Ih ini tuh kesenangan tersendiri buat aku, ini hobi aku dan kewajiban aku untuk melayani kamu" cerocos Akira menjawab.
"Kewajiban kamu itu cukup layani aku diranjang aja sayang"
Pletak!
"Aw! sakit Ra" ringis Farid memegangi kepalanya yang baru mendapat sentilan maut dari Akira.
"Suruh siapa bicara sembarangan kaya gitu, aku baru tau kamu bisa ngomong aneh - aneh kaya gitu biasanya selalu formal" celotehnya dengan suara nyaring.
"Ya orang istrinya aja berisik,cerewet,barbar gimana aku gak kebawa arus coba?"
"Alesan!" hardik Akira dengan lirikan tajam, ia merasa sifatnya dan Farid sedikit tertukar pagi ini, entah sejak kapan pria itu jadi kehilangan wibawanya seperti itu.
.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 10.00 pagi, ah mungkin menjelang siang. Sepasang suami istri itu masih bersantai diruang tengahnya dengan sang istri yang sibuk menonton siaran televisi dan sang suami yang sibuk dengan gadgetnya.
Terdengar helaan napas bosan dari sang istri,yang mensedekapkan tangannya menghadap sang suami yang sedang sibuk menatap benda persegi panjang di genggamannya.
"Mas, keluar yuk!" ucapnya datar, yang dibalas deheman dari sang suami.
"Ih, kok cuma gitu jawabnya aku bosen tau!" ketusnya tajam, membuat sang suami menoleh ke arahnya.
"Kenapa Ra?" tanyanya akhirnya mengeluarkan suara.
"Ayo pergi keluar jalan - jalan gitu, aku bosan dirumah terus" rengek Akira dengan wajah memelas.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Ke pantai yuk" usuk Akira dengan mata yang berbinar penuh harap menatap sang suami.
"Jauh sayang,nanti kamu lelah" ucap Farid yang dibalas dengan wajah Akira yang menekuk kecewa.
"Yang lain aja ya, aku turutin tapi jangan dulu ke pantai" bujuk Farid.
"Ah gak asik!" protesnya sebal, sampai terlintas ide brilian di otaknya.
"Oh! Yaudah kalau gitu temenin aku belanja dan makan sepuasnya, gimana?" tanyanya antusias dengan binar mata yang lebih bersinar dari yang tadi.
"Okey, gunakan suami kayamu ini dengan bijak, sayang" sahut Farid santai yang dibalas senyuman puas dari bibir Akira.
"Yeay! The best lovely hubby!" teriaknya senang, lalu mengecup pipi suaminya singkat dan berlari ke arah kamar untuk bersiap.
.
.
"Mas, kok disini?" tanya Akira saat mobil mereka tepat berhenti diarea parkir.
"Katanya kamu mau berbelanja,makan,dan bersenang - senang?"
"Iya, tapi jangan disini"
"Lalu dimana?"
Akira tersenyum penuh arti dan menyuruh supir untuk keluar, sehingga ia yang mengendarai mobilnya.
"Nih, buat pak supir aku yang bawa mobil, anda bisa pulang!" titahnya dengan memberikan selembar uang seratus ribuan.
Sedangkan Farid, ia sudah akan memprotes tapi mulutnya dibungkam oleh Akira.
"Sst.. percaya aku okey?"
"Sampai!" ucapnya senang saat mobil mereka berhenti diarea parkir pasar tradisional.
"Untuk apa kesini Ra?" tanya Farid terheran.
"Ya belanja dong suamiku" sahutnya dengan wajahnya yang berbinar senang.
"Yuk turun!" ajaknya pada Farid.
Dengan terpaksa pria itu ikut masuk ke dalam pasar yang belum pernah ia jejaki seumur hidupnya, ini hal gila yang baru saja dilakukan seorang Tuan Muda penguasa teknologi Asia. Hanya demi istrinya, jelas ia tak mungkin membiarkan sang istri yang sedang mengandung anaknya berkeliaran ditempat yang rapat dengan manusia ini sendirian kan?
"Wah...mas lihat itu!" tunjuk Akira pada sebuah pakaian bayi dengan hiasan boneka gajah disisi perutnya.
"Aku mau beli itu ya?"ucapnya memohon lalu langsubg menghampiri lapak penjual baju tanpa sepertujuan suaminya.
"Kamu mau pakaikan itu untuk anak kita?" tanya Farid yang dibalas anggukan senang oleh Akira.
"Aku bisa belikan yang jauh lebih berkualitas dibanding itu" ujarnya tak setuju dengan niat Akira, ia tak rela anaknya memakai pakaian murahan sedangkan ia saja seorang billionare.
"Ck! Sombong, jangan lupa dia juga anak aku!" cebik Akira kesal.
"Pokoknya aku mau beli ini, walaupun ini dijual dipasar bukan berarti gak berkualitas tau?!" ketus Akira yang membuat sang suami bungkam seketika, mulut istrinya itu sungguh pedas kalau bicara melebihi dirinya.
Akira langsung bertransaksi dengan sang penjual, lalu menarik tangan Farid melanjutkan petualangan mereka. Sumpah demi apapun, Farid sangat risih bersenggolan dengan banyak orang seperti ini, yang baunya bermacam - macam.
"Mas, kamu harus ikut aku, disini ada penjual pempek legendaris, enak banget kamu harus coba!" ucap Akira semangat, tapi tidak dengan Farid ia hanya bisa menurut dan pasrah.
"Akira, sudah ayo pulang" ajak Farid yang sudah mulai lelah dan tidak tahan.
"Ih baru sebentar ini, aku belum makan mie ayam langganan aku yang suka aku makan waktu ke pasar"
"Ra, aku udah gak tahan disini, kita bisa ke mall atau ke restaurant atau apalah jangan disini juga" protes Farid.
"Ih kamu tuh, belajar hidup miskin mas, hidup gak ada yang tau nanti kalau tiba - tiba kamu miskin ntar kaget loh" ceramahnya yang mendapat delikan tajam dari suaminya.
"Hushh! Kamu jangan sembarangan bicara, ucapan itu do'a, mau punya suami miskin? Harusnya sebagai istri kamu do'akan yang baik untuk suami tampanmu ini" ujar Farid balik menceramahi.
"Udah ih, ayo aku lapar!"
Sampailah mereka dikedai mie ayam yang ada ditengah tengah pasar letaknya.
"Duduk sini" ajak Akira pada Farid yang terlihat ragu menduduki bangku kayu yang sudah menempel pada bokongnya.
"Sini!" ucap Akira kini sembari menarik tangan suaminya sampai terduduk disampingnya.
"Mbak, mie ayamnya dua porsi ya!" teriaknya pada penjual mie ayam.
"Ra?"
"Apa? Yuk dimakan" ajaknya lalu mulai menyuapkan mie nya yang telah dicampur saus dan sambal.
"Kamu jangan sembarangan makan,lagi hamil loh" larang Farid yang membuat Akira membatalkan suapannya.
"Ih hari ini sumpah kamu nyebelin, yaudah sana pulang tinggalin aku disini" sahut Akira sebal.
"Yaudah iya - iya, ayo makan lalu berbelanja lagi sepuasmu" ujar Farid mengalah.
Ah lihat saja aku balas semua kemalanganku nanti dirumah seringai Farid licik.
Masihkah ada yang menunggu novel ini update?
Mana komentarnya?
Vote nya jangan lupa, jujur author pengen novel ini masuk ranking ðŸ˜
Jadi tolong dukung karya ini yaa
Terimakasih😊🌻