
Alam mulai menggelap, itu artinya sudah seharian Farid di tempat ini, di ruang kerjanya. Ya, ia menjadikan pekerjaan sebagai pelariannya.
Farid, dengan jengkelnya mengusap wajahnya gusar, ia mulai tidak fokus ketika mengingat masalahnya bersama Akira.
Ini bukan sebuah kesalahpahaman, bukan. Menurutnya, ini adalah tragedi dimana ia secara tidak sengaja membuat anaknya gugur dan di benci oleh istrinya, di benci oleh wanita yang sudah mulai memenuhi seluruh hati dan kehidupannya, Akira.
Jika di dalam laptopnya tidak terisi data penting, sudah ia banting benda itu sampai hancur saat ini juga.
Tiba-tiba terdengar getaran ponselnya di atas meja, menunjukan nama Sergio sebagai nama pemanggil, Farid dengan gesit mengangkatnya.
"Katakan!" sarkasnya.
"..."
"Apa? Jangan bercanda!"
"..."
"Kemana hilangnya kecerdasanmu Sergio! Sampai hal kecil begini saja kau kecolongan!" bentaknya.
"..."
"Sial, cari jejaknya temukan dia, temukan Akira saat ini juga!" titahnya dengan nada tinggi dan langsung menutup sambungan telepon dengan kasar.
"Kemana kamu Akira, apa yang kamu lakukan? Kenapa meninggalkan aku.. aku bahkan belum mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat." gumamnya menahan sesak di dadanya.
Farid tersadar dari perasaan sedihnya dengan cepat, ia tidak boleh diam saja dan hanya bersedih begini, ia harus mencarinya.
Pertama, rumah Tina, gadis itu yang paling dekat dengan Akira.
"Maaf, aku gak tau Akira dimana, lagian bukannya dia masih di rumah sakit?"
Farid menggeleng, pencarian pertama tidak membuahkan hasil, selama Sergio mencari jejak kepergian Akira, ia akan mencari di tempat-tempat yang mungkin ia datangi sebelum wanita itu benar-benar pergi, Akira masih lemah, rasanya tidak mungkin jika wanita itu ke luar negeri.
Kedua, rumah Zia bukan hasil tapi cacian yang ia dapat, "Cih! Akira ninggalin lo?! Lo memang pantes dapetin hal itu!" sarkas Zia yang membuat Farid semakin menyesal sedalam-dalamnya.
Ketiga, rumah mertuanya.
"Farid? Kesini kok gak sama Akira?" tanya Ariana dengan senyum ramah saat mengetahui yang ia kira tamu, ternyata adik iparnya sendiri.
"Justru, saya kesini mencari Akira." terang Farid, membuat kakak iparnya mengernyit bingung.
Ariana mempersilahkan Farid masuk dan duduk di ruang tamu.
"Memangnya, Akira nggak bilang mau kemana? Duh, kebiasaan itu anak udah nikah masih aja gitu kelakuannya." cerocos Mattheo yang kini sudah ikut menimbrung bersama Farid dan Ariana.
"Nggak mas, sebenarnya Akira baru saja keguguran, dia shock dan kabur gitu aja dari rumah sakit, saya khawatir, saya pikir dia pulang kesini." jelas Farid, tentu tanpa memberitahu pertengkaran mereka.
"Astaga, keguguran?!" pekik Ariana kaget.
"Maaf, saya tidak beri kabar, karena saya juga panik saat itu, Akira pendarahan hebat."
"Kira-kira dia kemana, saya sudah mencari ke rumah teman-temannya, dan lagi ini sudah sangat malam, saya khawatir." ujar Farid dengan nada panik.
Rumah keluarga Akira, adalah harapan terbesarnya, tapi Akira juga tidak kemari.
"Lebih baik kamu istirahat dulu di kamar Akira, ini sudah malam lanjut besok saja." ujar Ariana melirik jam dinding yang ada di ruang tamu, dan benar saja sekarang waktu menunjukan pukul 22.45 malam.
"Tapi saya gak bisa istirahat sementara Akira belum jelas dimana,"
"Tapi ini juga sudah malam, Farid. Benar kata Ariana, kamu bisa istirahat di kamar Akira." titah Mattheo tegas, yang tidak kuasa Farid tolak, ia menghormati pria itu sebagai kakak istrinya.
Dengan langkah terpaksa, Farid memasuki kamar Akira yang bernuansa soft pink dan putih, kamar yang penuh warna-warna lembut.
Ia mendudukan dirinya di atas ranjang sedang milik Akira, ia mengusap permukaan ranjang dengan tatapan rindu.
Tempat ini adalah milik Akira dan tempat pertama dimana mereka tertidur bersama, meski hanya tidur tapi baginya itu berharga.
Benar kata orang, jika sudah tiada, baru terasa, betapa berartinya kehadiran Akira bagi Farid baru terasa saat wanita itu sudah jauh dari pandangannya.
Farid merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memeluk bantal guling,menghirup dan merasakan aroma khas Akira yang masih tertinggal disana.
Baru ia memejamkan mata, getaran ponsel di saku celananya menyadarkannya.
"Halo, apa kau sudah menemukannya?" tanya Farid dengan cepat.
"Belum, tapi Nona menarik uang dalam jumlah sangat banyak dari rekeningnya, tidak ada namanya dalam jadwal penerbangan manapun, Nona tidak ke luar negeri, saya yakin ia masih di negara ini tapi tidak lagi di kota ini, ponselnya mati kami tidak dapat melacak keberadaanya."
"Segera selidiki lebih lanjut!" titahnya lalu melempar ponselnya ke atas ranjang.
Farid menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan mencoba menenangkan dirinya, saat matanya menangkap sebuah meja seperti meja belajar yang di penuhi barang-barang Akira, ia tertarik untuk menuju pojok ruangan di mana meja itu berada.
Ia tersenyum tipis melihat foto remaja Akira bersama sahabat-sahabatnya. Senyuman yang manis dan polos. Ia mulai penasaran dan melihat-lihat barang-barang disitu, ada pernak-pernik K-Pop juga foto para idol dari negeri ginseng tersebut. Melihatnya, ia tersenyum geli.
Ia memulai penelusurannya pada laci meja, ada album foto bertuliskan nama grup persahabatannya, tapi ia tertarik dengan album berjudul Me , itu pasti tentang wanitanya.
Benar saja, di dalamnya banyak foto Akira sejak kecil hingga sekarang, Akira sangat menggemaskan sejak lahir rupanya.
Betapa terkejutnya ia, saat lembar-lembar terakhir menemukan foro dirinya sendiri yang entah bagaimana wanita itu mendapatkannya, Farid tertawa pelan karenanya, "Gadis nakal, bisa-bisanya ia mendapatkan fotoku secara sembunyi-sembunyi begini, kau pasti sangat menyukaiku ya." gumamnya.
Farid, terdiam menyadari kalimat terkahirnya, "Apa aku begitu menyakitimu, sampai kau pergi dari sisiku meski kau sangat menyukai dan mencintai aku.." gumamnya dengan suara lirih.
Ia menutup album tersebut perlahan dan menaruhnya di tempatnya lagi, saat ia akan menutup laci meja, ia dibuat penasaran dengan buku berukuran sedang berwarna pink dengan motif bunga sakura, yang tertulis kata *Rahasia* di pojok atas buku tersebut, dengan rasa penasaran ia mengambil buku tersebut dan mulai membukanya, matanya menatap sendu setiap tulisan yang mengisi lembar demi lembar kertas tersebut.
Nah apa tuh isinya kira-kira?
Mau tau? Makanya, banyakin dukung karya authornya.
Vote, Like, Komen jangan ketinggalan ya😘😉
Luvyu readers 😆