Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 12



Sore itu,


Astuti yang biasa di panggil Tuti sebagai pelayan dapur di rumah Farid itu, sedang mengintip rekannya yang entah memberikan apa pada susu yang di minta nyonya mereka.


Ia tak mau salah sangka, sebab Indah rekannya memang yang paling dekat dengan nyonya mereka di banding kan dirinya sendiri.


Mungkin saja, ya mungkin nyonya yang suruh.


Ia hanya bisa membatin begitu dalam hatinya.


Tapi, ia gelisah bagaimana jika benar Indah mau berbuat jahat?


Dengan rencana yang ia pikirkan masak-masak ia mau mendadak datang dan mengecek reaksi rekannya itu.


"Indah! Kamu masukin apa?!"


Seketika, wanita itu langsung gelagapan, Tuti jadi semakin yakin jika ada sesuatu yang rekannya sembunyikan.


"Emm, anu tadi nyonya minta susunya di tambah gula."


Tuti tak percaya, ia tahu Akira tak begitu suka rasa manis. Bahkan kadang ia sering melihat majikannya itu menambah air pada es teh yang ia buatkan.


"Bohong! Nyonya tidak suka manis." selanya sengit.


"Ya mungkin saja nyonya sedang ingin." balas Indah tak kalah sengit sebagai pertahanan agar ia tak terus di curigai.


"Coba mana susunya, aku akan bawa ini ke Pak Wisnu."


"Jangan macam-macam! Nyonya sudah menunggu."


"Aku tuangkan lagi yang baru, yang itu akan aku bawa ke Pak Wisnu untuk di selidiki!"


"Kamu curiga dengan aku?!"


Belum sempat Si Tuti menjawab, "Bibi, mana susu aku?!" teriak Akira dari ruang tengah.


Indah melirik tajam rekannya yang mencurigainya itu dan membawa susu itu pergi memberikan pada Akira.


"Akhir-akhir ini dia mencurigakan, aku harus cari tau." tekadnya mencari-cari bekas bungkusan sesuatu yang Indah campurkan pada susu itu tadi ia lihat bungkus nya seperti kertas obat yang di lipat.


Tapi, nihil.


Ia tak menemukan apapun meski ia mengobrak-abrik tong sampah.


***


"Ray, apa kamu yakin itu benar? Menghancurkan harapan kedua calon orang tua itu buruk." kata Kris membujuk kekasihnya.


"Kris, kamu udah janji kamu akan bantu aku kan, jadi terus bantu aku, aku mohon."


Wajahnya memelas, agar Kris tidak goyah saat membantu melancarkan rencananya.


Pokoknya, ia harus menyingkirkan Akira, Farid hanya boleh jadi miliknya, sejak dulu lelaki itu miliknya, predikat nyonya besar Danuarta hanya akan jadi miliknya seorang.


Sugesti itu tak pernah ia lupakan dari benaknya, mengingat betapa terikatnya Farid padanya dahulu.


"Tapi--"


"Kris, lagi pula bukan aku dan kamu yang turun langsung, pendukungku yang lain yang melakukan itu. Kita aman."


"Apa kamu tidak takut karma, Rayrin?"


"Kris! Kamu tidak serius mencintai aku!" tuduh Rayrin mendramatisir.


"Bukan begitu, Ray. Aku cuma---"


"Kalau kamu cinta aku, dukung aku! Kamu lihat aku sekarang! Aku di campakan karena kelicikan wanita itu, aku masih bersyukur kamu masih ada untuk aku, jangan bilang kamu juga mau campakin aku?!"


Refleks, Kris menyentuh kedua bahu bergetar itu dan mendekapnya erat.


"Tidak sayang, tidak. Aku akan selalu ada buat kamu." lagi-lagi di belakangnya Rayrin tersenyum penuh kemenangan.


Ia akan menghancurkan Akira tanpa perlu mengotori tangannya secara langsung.


***


"Sayang, beri aku susu." pinta Farid dengan manja melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Akira.


"Kamu, minta susu tapi akunya di kurung!" cecar Akira sambil bergerak-gerak kesal, dari tadi ia tak bisa menonton televisi dengan nyaman karena suaminya menempel seperti ulat bulu.


"Susunya kan ada di kamu."


Akira nampak berpikir sebentar, hingga akhirnya matanya membulat dan memukul pelan mulut nakal suaminya.


"Mas! Di bilang mulutnya jangan sembarangan."


"Kok aku?!"


"Emang apa yang salah dari kata-kata aku barusan, aku bilang susunya ada di kamu, bukan susunya kamu."


"Mas... " rengek Akira hampir menangis.


"Loh ya benar kan? Itu aku minta susu stroberi di depan kamu." ujarnya menunjukkan segelas susu stroberi yang gelasnya mengucurkan air akibat di dalamnya terdapat es.


"Jangan itu, aku buatin yang baru."


katanya lalu beranjak dari sofa melepaskan ikatan tangan Farid pada dirinya.


Farid terus membuntuti istrinya sampai ke depan lemari dingin.


"Sayang, kopi susu aja."


Akira menengok ke belakang, mengernyitkan dahinya, "Kenapa? Tadi mintanya stroberi."


"Apa kata dunia ini, pemilik Eartechnology minum susu stroberi?" sahutnya melipat kedua tangannya dengan gerakan sombong.


Akira meracik susu dan bubuk kopi, lalu menuangkan air panas dan mengaduknya, lalu memberikan kepada suaminya yang sekarang telah duduk di kursi, "Sombong." katanya mengejek suaminya.


"Aww!" bukan Akira tapi Farid yang merasa kepanasan karena langsung menyesap kopi susunya begitu saja. Ia langsung berdiri dari duduknya.


"Lidahku terbarkar!" lanjutnya sambil mengeluarkan lidahnya.


Akira nampak panik mendekati suaminya, "Kok bisa sih, kamu juga masih panas main di minum aja!" omelnya sambil meniup-niup lidah Farid yang menjulur.


Perlahan, Farid memasukan lidahnya ke dalam mulut dan mengulum senyumnya, melihat Akira yang masih saja panik dan meniup mulutnya padahal lidahnya sudah ia masukan.


"Kenapa kamu sangat mengkhawatirkan aku?" tanya Farid menikmati pemandangan wajah panik Akira, menatapnya penuh kasih.


Refleks, Akira memukul dada Farid pelan dan mencebik kesal.


"Kenapa, sayang?"


tanyanya lagi, karena Akira malah diam saja dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya yang nyaman.


Farid mendekatkan diri mereka memeluk erat pinggang Akira yang hampir saja mau kabur dari dirinya.


"Farid... " rengeknya manja, karena berulang kali ia mencoba melarikan diri dan berulang kali suaminya berhasil menarik dirinya kembali dalam dekapan hangatnya.


Lelaki itu menyatukan keningnya pada Akira, sambil menatap Akira, membuat wanita itu menundukkan pandangannya salah tingkah.


"Ayo, jawab yang tadi, aku cuma kepanasan dan kamu khawatirnya seperti aku akan mati saja. Kenapa bisa gitu?"


Kadar kasih sayangnya pada suaminya sangat tinggi dan jumlahnya sangat banyak, hingga dengan mudah lelaki itu bisa melihatnya. Ia benci ketika dirinya mudah di tebak seperti ini. Itu, membuatnya malu.


"Mas, aku mau main sama Leo." katanya mengalihkan pembicaraan, sebenarnya ia tak ingin main dengan Leo, ia sudah puas dengan Farid di sisinya saja. Farid melepaskan tautan kening mereka, mencium bibir Akira dan menikmati nya sedikit lama.


Saat Akira mulai kehabisan napas, ia melepasnya dengan tangan yang masih melingkar di pinggang ramping wanita itu.


"Bilang kamu sangat menyanyangi aku, kenapa seperti sangat sulit?"


Pipinya merona, "Anu, kan aku udah sering bilang, kenapa harus di omongin terus." sahutnya ketus tapi tergagap-gagap.


"Manisnya." puji Farid sambil mencubit pipi Akira yang merona merah, lalu mengecupnya singkat.


"Oke, besok sabtu kita akan bertemu Leo."


ujar Farid menyetujui permintaan Akira yang tidak benar-benar ia inginkan.


"Sekarang, kita buat adik sepupu Leo saja dulu, oke?" tangan kanannya berada di belakang lutut Akira dan tangan kirinya di punggung wanita itu, lalu ia mengangkatnya menuju ruangan mereka.


"Loh, mas turunin, kamu mau apa?!"


"Buatin Leo adik sepupu, sayang." sahut Farid sembari terus membawanya hingga masuk ke dalam kamar.


****


Wanita itu, Rayrin.


Mengepalkan tangannya penuh dendam.


"Kurang ajar!" teriaknya menyingkirkan semua barang-barangnya yang tersusun di meja riasnya.


"Masih bisa kamu bahagia, cewek bar-bar gak tau aturan!" teriaknya frustasi sambil menjambak erat rambut nya sendiri.


"Aku benci kau Akira. Karnamu karierku hancur, orang tuaku mengalami kerugian besar!"


Ya, Farid benar-benar menghancurkan Rayrin sampai ke akarnya.


Seandainya, ibunya Farid tidak membantunya mungkin sekarang Rayrin sudah diusir dari rumah mewahnya.