
Farid mendengus kasar di tengah kesibukannya mamanya malah menelepon dirinya berkali-kali. Meskipun sudah ia abaikan tapi mamanya seperti tak kenal lelah, dengan terpaksa ia mengangkat panggilan dengan kasar.
"Hallo."
Kamu dimana? Pulang ke rumah ada yang mau mama bicarakan.
"Enggak bisa ma, aku lagi ada urusan di Amerika."
Oh gitu, apa gak bisa di percepat?
"Nggak ma.."
Kalau gitu setelah selesai langsung ke rumah ya mama tunggu, oke?
"Hmm.." dehemnya lalu menutup telepon dengan kesal. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan sebelum satu minggu, bukan karena mamanya tapi karena Akira, ia harus segera membujuk Akira.
"Sialan, baru aku membujuknya malah.. Arghh sudahlah aku harus segera menyelesaikannya." ucapnya lalu kembali berkutat pada berkas dan laptopnya.
Akira mengetikan pesan pada sahabatnya bahwa ia menyuruh mereka kemari sekalian berlibur pasti menyenangkan, sekalian ia ingin bicara dengan Viara.
Viara,Tina, juga Zia dan satu orang yang membuatnya terkejut, Bima Juna Reynaldi.
Ikut kemari?! Akira menganga terkejut saat membuka pintu bercat putihnya.
"Anu Ra.. Tadi ini bocah kepo banget terus gue keceplosan eh dia minta ikut." gagap Viara menjelaskan dengan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Oh.. yaudah masuk." Akira mempersilahkan mereka masuk karena tidak mungkin ia mengusir Reynaldi, lagi pula ia sudah mau bercerai tak perlu lagi ia waspada.
Mereka berkumpul di tempat terindah rumah itu tentu saja halaman belakang tapi kali ini bukan di teras tapi di balkon pembatas di pinggir kolam renang.
"Nggak nyangka gue, Akira super kaya bisa bangun beginian." kata Zia sembari merentangkan tangannya menikmati pemandangan dan segarnya angin laut.
"Biasa aja kali." kata Akira.
"Dia korupsi banyak buat bikin ini makanya cabangnya cuma dikit, untung usaha sendiri." kata Viara.
"Kak kok perutnya rata?" kali ini Rey yang bersuara membuat suasana hening tak ada yang berani menyahut.
"Aku, bayi aku keguguran Rey." jawab Akira agak gugup.
"Kami mau cerai."
"What?!" pekik Rey keras karna merasa terkejut.
"Panjang kejadiannya, udah ya gak usah di bahas." mohon Akira, "Oya, Vi gue ada perlu, ikut bentar yuk."
Sedangkan di belahan dunia lain, Farid menggeram kesal mendengar laporan anak buahnya yang mengatakan bahwa ada pria muda yang ikut mengunjungi Akira yang ternyata salah seorang pria yang ia lihat pernah ada bersama Akira di foto yang Rayrin berikan.
"Baru tiga hari aku disini dan sudah ada yang mendekat, bagaimana kalau seminggu, apalagi kalau sampai kami benar bercerai?!" katanya marah menggebrak meja kerjanya dengan kasar."
Sementara Akira menyeret Viara ke dapur untuk mengajak gadis itu bicara, "Vi, kok Farid bisa nemuin tempat ini?" tanyanya berbisik.
"Hah? Kan kemanapun lo pergi dia pasti nemuin." katanya membenarkan dugaannya.
"Tiga hari lalu dia kesini karena nerima sinyal dari hp lo." geramnya dengan suara pelan.
"Wah tapi gue gak sengaja lo, gue selalu matiin hp dan gue idupin lagi kalau udah di wilayah rt sebelah biasa kita belanja." jelas Viara.
"Nah hanya dengan itu dia bisa nemuin gue Vi, gue kesini biar adem, tentram, malah.." Akira memegang kepalanya frustrasi.
"Terus sekarang kemana orangnya?"
"Nggak tau, dia pergi gitu aja tanpa pamit pas gue tinggal makan di belakang."
"Yaudah jangan di pikirin, toh dia gak kesini lagi kan, yuk siapin itu ada baso,pempek,mi ayam,chicken spicy kesukaan lo, banyak pokoknya." tunjuk Viara pada puluhan kantong plastik yang di taruh di meja dapur.
"Uhhh makasih... tau aja kalo gue kangen makanan begituan."
"Oya, Rey juga tadi bawain kue sama jajanan kesukaan lo, gue heran dia kok tau ya."
"Mantan penggemar gue dia." kata Akira sombong yang di balas kikikan geli dari Viara.
Pendek dulu ya
Author kepanasan nulisnya
Sumpah cuaca disini panas bener berasa matahari ada di atas kepala.