Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
41




Jadi ini gengs, yang bikin aku males buka NT terus update, handsome kaannn, perfect boy in real life dia tuh 😭


bukan visual buat siapa siapa kok cuma buat aku semangat aja ngetik sambil liat fotonya dia hehe..


Sok baik, terlalu baik, pura-pura baik terserah mau di sebut apa Akira, yang ia tahu ia hanya melakukan yang terbaik untuk semuanya.


Bagaimana jika kalian berada di posisinya? Apa sampai hati kalian memenjarakan ibu suami kalian sendiri?


Banyak yang Akira pertimbangkan, bukan hanya tentang keluarga inti, tapi juga dampak pada harga saham perusahaan Danuarta dan perusahaan H. Corporation perusahaan keluarga Rita yang sekarang di pimpin oleh kakak kandung Rita sendiri.


Laporan yang akan ia dan Farid layangkan bukan hanya akan menghancurkan keharmonisan keluarga, tapi bisa menghancurkan bisnis keluarga.


Dengan berat hati dan dengan hati yang selalu ia coba agar ikhlas se- ikhlas-ikhlasnya, ia membawa keluarga Farid ke rumah Mattheo untuk berdamai.


Suasana tegang itu pasti, Theo masih belum ikhlas dan keputusan adiknya, "Saya gak terima!" tegas Mattheo.


"Mau berapa banyak lagi kalian sakiti adik kami?! Pokoknya, saya sebagai kakak ipar Akira tidak terima!" kini Ariana yang bersuara.


Akira bahkan tak sempat bersuara, baru ia ingin membuka mulut, "Jangan bodoh, Akira! Kakak tau kamu sakit hati, cuma karena kamu kasian kan sama dua keluarga kaya yang sombong itu makannya kamu maafin ibu mertua kamu?!" cecar Ariana.


"Bahkan kekayaan yang jadi bahan kesombongan kalian itu akan hancur ketika scandal Ibu Rita ini muncul ke media." senyum sinis menghiasi bibir Mattheo.


"Saya tidak keberatan jika kalian sekeluarga menuntut istri saya, tapi apa iya tidak bisa mengambil jalur damai?" ucap Roy, ia sangat berharap perdamaian, desas-desus tentang istrinya saja sudah membuat para dewan direksi dan pemegang saham khawatir jika sampai kabar bahwa istri pemilik perusahaan dan adik dari pemilik perusahaan terlibat kasus dan mencuat ke media pastilah itu akan berpengaruh pada harga saham dan citra perusahaan.


Ia tidak bisa membiarkan dua perusahaan yang sudah di bangun sejak dahulu hancur begitu saja.


"Seharusnya, istri anda berpikir dulu sebelum melakukan hal di luar akal manusia normal seperti itu." sahut Mattheo.


"Tolong, nak, maafkan adik saya. Saya berjanji setelah ini Akira akan selalu di lindungi oleh keluarga besar kami semua, bahkan jika sampai Rita melakukan kesalahan lagi kami sendiri yang akan mengusirnya." kata Mario, paman Farid sambil melirik sangat adik dengan tajam, sedangkan Rita hanya bisa duduk diam di antara kakak dan suaminya, ia jelas tak bisa berkutik.


"Emm, jangan laporkan Rayrin." kata Rita hati-hati yang sukses membuat Farid melotot tajam.


"Bahkan di saat begini, mama masih melindungi perempuan gila itu?!" tukas Farid tak suka.


"Tenang, mas." Akira mengusap lengan kekar yang tertutup kemeja hitam itu agar suaminya bisa tenang.


"Dia pasti akan menyeret saya juga ke dalamnya." sambung Rita, "Saya minta maaf kalau ada salah dengan keluarga kalian saya mohon demi nama baik keluarga kami semua, jangan perpanjang masalah ini sampai ke jalur hukum." sedangkan Mattheo hanya tersenyum kecut.


"Yang ibu lakukan itu keterlaluan!"


"Tapi saya tidak membahayakan nyawa Akira atau membuat fisiknya rusak, hanya penundaan kehamilan secara alami." elak Rita.


"Farid, Mas udah pernah bilang sama kamu, kalau kamu nggak bisa kasih keadilan buat adik Mas, balikin dia ke saya!"


"Kakak!" sentak Akira, lalu menatap kakak dan suaminya bergantian, ia tidak tahu jika kedua lelaki itu punya kesepakatan semacam itu.


"Mana mungkin, mas? Akira sedang hamil!"


"Terus kenapa? Kamu kira saya sebagai kakaknya gak bisa urus dia?" tantangnya,


"Saya gak akan perpanjang masalah ini dengan satu syarat." sambung Mattheo lagi, semua orang di ruangan itu langsung menatap Mattheo penuh harap, kecuali Ariana yang kelihatan tidak setuju.


"Apa syaratnya, nak?" tanya Mario.


"Kembalikan adik saya." ujarnya datar, membuat semua yang ada di ruangan itu bertanya-tanya dalam pikiran mereka.


Ariana pun menatap suaminya dengan penuh pertanyaan di matanya.


"Apa maksud mas?"


"Kembalikan adik saya Farid, yang artinya ceraikan dia!" ucap Mattheo lantang, yang sukses membuat semua orang terkejut.


"Mas, Akira hamil!" bisik Ariana memperingati, namun tidak di indahkan sama sekali.


"Kak, apaan sih, nggak mau, Akira cinta sama Farid, Akira lagi hamil!" tolak Akira sambil terus menggenggam erat pergelangan tangan sang suami sedangkan tangan kirinya sudah di tarik oleh sang kakak.


"Kakak memang kelihatan dingin sama kamu selama ini, tapi kakak sayang sama kamu, kakak gak mau biarin adik kakak satu-satunya tinggal di lubang neraka!" desisnya tajam, sarat akan sindiran.


"Kak.. "


"Kalau suami kamu gak bisa melindungi kamu, ada kakak!"


"Mas, tolong Akira sedang hamil dia butuh aku, suaminya!" tegas Farid.


"Halah, bisa apa kamu, buktinya Akira di siksa batin sama ibu kamu, kamu gak bisa berkutik kan?!"


"Kak! Farid selalu bela aku kok." bela Akira dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tidak mau di pisahkan oleh Farid. Tidak mau!


"Sombong kamu jadi anak!" ujar Rita lantang yang memancing emosi Mattheo.


"Bu, nasib ibu ada di tangan saya, jangan coba-coba."


"Dasar anak haram!" hina Rita tanpa sadar, ia emosi melihat Mattheo seolah menghina anaknya yang di bilang tidak bisa apa-apa.


Padahal, Rita sendiri yang menelan kecewa karena sang anak lebih membela istrinya.


"Jaga bicara Anda!" teriak Mattheo.


"Mama!" peringat Roy.


"Apa?! Mau bela anak haram kamu bersama Marina ini, ha?!"


Rita mulai menyulut api, ia kembali pada dendamnya.


"Mama, dia bukan anak papa, dia anak Marina dan suaminya!" bentak Roy.


"Marina hamil sebelum menikah kan? Sebelum menikah dia pacaran sama kamu kan? Ya pasti dia ini anaknya!" tuduh Rita lagi.


"Heh, anak sombong! Kamu tau kamu bukan anak kandung ayahmu!" sambung Rita lagi yang mengundang tatapan tajam dari sang kakak dan suaminya.


'Pantas, mereka tidak mau memaafkan Rita, mulutnya saja tajam begitu' sesal Mario dalam hati saat menyaksikan keburukan adiknya, Demi Tuhan, Rita sudah hampir menyentuh angka lima puluh dan kelakuannya seperti wanita dua puluhan yang menuduh suaminya selingkuh.


"Kamu, anak haram suamiku!"


"Rita!" bentak Mario.


"Kalian ini bicara apa, hah? Omong kosong apa ini? Dasar keluarga tukang drama! Lebih baik kalian pulang dan pikirkan syarat tadi baik-baik!" ia dengan tergesa-gesa menggiring Rita, Roy dan Mario agar keluar dari rumahnya, ia butuh ketenangan, untuk bisa mencerna tuduhan Rita barusan.


Kepalanya langsung nyeri, rasanya berat seperti tertimpa batu.


***


Hari-hari yang di lalui Rayrin terasa hampa, ia hanya berdiam diri, melamun seolah jadi rutinitas. Pandangannya kosong, ia hanya makan sekali dalam sehari. Itupun, kalau ia ingat bahwa ada kehidupan lain dalam dirinya.


Ia mulai merasakan apa yang orang bilang mengidam, tapi saat rasa itu datang ia hanya bisa menangis sampai lupa makan.


"Andai, andai Kris masih disini pasti dengan senang hati dia menuruti apa yang anak kami mau." gumamnya di atas bantal yang telah basah oleh air mata.


"Kenapa kamu belum kembali, biasanya satu hari gak ketemu aku, kamu udah rindu, besoknya pasti kamu akan disini seharian sama aku, tapi ini sudah dua minggu, kenapa kamu belum kesini?" ucapnya pada entah siapa, hanya ada ruang kosong dan udara yang mengisi ruangan itu.


Ia kembali menatap foto mereka berdua yang di sana nampak Kris dengan senyum cerahnya, sedangkan Rayrin dengan senyum terpaksanya. Ada rasa sesal saat ia melihat ekspresi wajahnya.


"Harusnya aku senyum lebih lebar lagi, pasti fotonya lebih bagus lagi."


Tapi masa lalu hanya masa lalu yang tidak bisa Rayrin ulangi lagi, ia sudah terbentuk sebagai perempuan penuh ambisi yang membuat dirinya jadi perempuan jahat, mengabaikan cinta yang telah menyertainya bertahun-tahun demi obsesi berkedok cinta yang tidak mungkin ia dapatkan.


Sesal, hanya sesal yang ia bisa rasakan kala sekarang ia merasakan sesuatu yang di namakan karma.