Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh lima



Di rumah sederhana itu kedua wanita hamil sangat asyik berbincang, Rayrin tidak lagi bersikap dingin saat Akira mengemukakan keinginannya untuk membantu Kris kembali bersama Rayrin, kini bahkan mereka terlihat sangat dekat.


"Usia kandungan kamu berapa?" tanya Akira sembari tangannya sibuk memakan ikan laut sambal tomat buatan Rayrin yang ternyata sangat enak dia bahkan sudah menambah nasi lagi. Mereka sarapan bersama karena makan Rayrin yang tertunda akibat kedatangan Akira.


"Tiga puluh minggu. Kamu?" tak jauh beda dengan Akira, Rayrin juga sama sedang makan.


Mereka kadang memberi jeda menjawab karena harus menelan makanan mereka dulu, baru bicara.


"Aku, berapa ya? Aku agak lupa sepertinya tiga puluh dua minggu." nampak Akira mencoba mengingat karena ia sedikit lupa.


"Usia kandungan sendiri lupa, aneh. Ngomong-ngomong, sekarang kamu lebih sopan, enggak pakai lo-gue lagi?"


Akira mendesah berat, lalu minum air.


"Aku akan di marahi Farid setiap harinya kalau masih seperti itu, Farid bilang selain istri, aku sudah mau jadi seorang ibu, jadi harus jaga sikap, emm.. tapi kalau lagi sama teman kadang yaa gitu deh."


"Ah ya, apa jenis kelamin anakmu?" tanya Akira antusias. Namun, ekspresi Rayrin tidak se- antusias Akira.


"Aku sudah lama tidak periksa kandungan, aku tidak tahu, bagaimana dengan kamu?" Akira tersenyum maklum, Rayrin pasti berhemat, mengingat cerita wanita itu tadi jika keluarganya membuangnya karena hamil di luar nikah, belum lagi ia di pisahkan paksa dari ayah sang bayi.


"Ah, aku juga tidak tahu, biar jadi kejutan saja, yang penting saat periksa, kami tahu bahwa anak kami sehat, apa kamu mau periksa kandungan sama aku?"


Rayrin tampak menggeleng pelan, "Aku rasa tidak perlu. Lebih baik kamu cepat pulang sebelum ketahuan suami mu." tak selang berapa lama Rayrin mengatakan itu, pintu rumah Rayrin yang masih terbuka menampakkan sosok yang mereka berdua waspadai sejak tadi.


"Sudah ketahuan, ayo pulang, apa yang kamu pikirkan, makan di rumah musuh?" tanya Farid dengan gaya angkuhnya.


"Cuci tanganmu dan pergi dari sini!"


"Kok kamu tahu aku disini?"


"Kamu kurang pintar. " jawab Farid yang membuat Akira berdecak kesal. Tentu saja, Farid tahu, walaupun supir pribadi Akira di suruh menyembunyikan kepergian perempuan itu, tapi tetap saja sang supir tak akan mampu berbohong pada Tuannya, saat ia di tanyai kemana istri Tuannya itu.


"Iya suamiku yang paling pintar di dunia." sambil memutar bola matanya malas, ia bergerak mencari tempat cuci tangan di dalam rumah itu.


"Rayrin, aku pamit. Besok aku akan kesini lagi."


pamitnya, yang memancing pergerakan tangan Farid untuk merengkuh pundaknya penuh kewaspadaan, "Tidak!" seru Farid, Akira menengadah ke atas melihat suaminya dengan tatapan tak suka, tapi Farid tak perduli dan langsung membawa pergi Akira.


Rayrin hanya bisa menggelengkan kepala tak mengerti kenapa Akira bisa seperti itu.


Kemana sikap waspada perempuan itu pada dirinya, padahal dulu Akira nampak sangat benci pada Rayrin.


**


"Aku baru meninggalkan mu selama empat puluh lima menit dan kamu sudah pergi entah kemana."


"Aku ke rumah Rayrin, aku ingin sekali main sama dia." decak Akira karena sejak tadi suaminya tak berhenti mengoceh. Akira tahu Farid khawatir, tapi tidakkah lelaki itu mengerti kalau Rayrin sudah berubah?


"Jangan bertemu dia lagi, Akira!"


"Tapi aku mau! Kasihan dia, Mas. Kamu tahu orang tua Kris memisahkan mereka secara paksa sedangkan kamu tadi lihat sendiri, Rayrin hamil besar."


"Bukan urusan aku!" jawab Farid cuek, membuang wajahnya tak mau menatap Akira yang membuatnya khawatir setengah mati.


"Mas, bayangkan kalau yang di posisi itu adalah aku sama kamu, bagaimana pera....."


"Buang jauh-jauh pikiran konyol kamu itu, sayang. Astaga, aku harus bagaimana agar kamu mengerti. Biar kamu tahu, aku takut dia celakakan kamu." geram Farid mengusap kasae wajahnya.


"Buktinya tadi dia tidak mencelakai aku, sekarang kami berteman baik." jawab Akira enteng, tanpa beban.


"Diamlah di rumah, sampai melahirkan!" putus Farid yang membuat Akira menganga lebar.


"Mas tapi aku sudah janji mau bantu Kris dan Rayrin!" seru Akira tak terima.


"Urusan keluarga kita saja masih belum selesai dan kamu mau mengurusi urusan orang lain?"


sontak Akira langsung terdiam seketika.


Dan maaf aku lagi capek banget, ini puasa dan aku banyak kerjaan lalu maksain puasa padahal udah sakit banget perutnya, mana ga enak badan bawaannya, tapi nanggung udah mau waktu buka, aku tahan . So what, aku jadi kaya orang sakit sekarang ,padahal mau up banyak niatnya. 😭


Maapin aku kalau isi part ini jelek banget.