
Rencananya season kedua mau aku selesaiin satu bulan ini jadi mau ada yang baca kek enggak kek, ga masalah yang penting ini selesai dan tamatttttt
Suami Kualitas Premium ku ide nya udah meronta minta di ketik.
Ada yang ikutin Novelku yang itu ga?
mau pindah lapak aja deh keknya.
Deanno telah sampai ke rumah orang tuanya tepat dua hari sebelum pernikahan dan Akira di kediamannya pun mendapat undangan pernikahan dari keluarga Deanno.
Keluarga lelaki itu melepas rindu pada Deanno yang mendadak pergi ke luar kota.
Akira disana merengek pada suaminya agar di izinkan datang ke pesta pernikahan.
Semua kejadian telah di atur takdir.
"Farid, sayang. Masa aku gak boleh si dateng ke pernikahan kakaknya Dean?!" ia merajuk sekaligus marah.
Menurutnya suaminya keterlaluan, masa mempertahankan hubungan dengan keluarga sahabatnya tidak boleh?!
"Sedekat apa sih kamu sama lelaki itu? Bukannya kalian cuma sekedar saling berbagi cerita lewat chatting?" ketus Farid tanpa menatap wajah istrinya, matanya lebih memilih melihat ke komputer besarnya yang ada di ruang kerjanya di Earthecnology Tower.
Niat hati Akira mau merayu suaminya, membawa makanan kesukaannya, menyuapi nya, bahkan memijat bahu suaminya.
Tapi, tetap saja!
Suaminya masih cemburu buta.
"Ya, iya sih! Tapi kami dekat dia sama kaya Zia, Viara, Tina, Risa, kami pernah hunting, pernah jalan bareng sekedar refresing dan saling cerita , aku deket sama keluarga dia, mereka hangat sama aku." jelasnya panjang lebar.
Tanpa sadar, itu membuat Farid jadi cemburu lebih jauh.
"Sedekat itu? Kenapa gak nikah sama Deanno sekalian?" sahut Farid menantang.
"Kamu lupa kamu paksa aku nikahin kamu, pake anceman yang au ah gelap, entah serius entah enggak?!"
"Dan dengan bodohnya kamu mau mau aja tuh." ejek Farid.
"Aaahh sayang... " kali ini Akira pura-pura menangis.
"Tunggu dulu!" ucap Farid serius menghentikan rengekan Akira,
"Berarti kalau seandainya aku gak paksa kamu nikah, kamu mau dong nikah sama dia?!"
"Iya kali, btw Deanno gak jahat kaya kamu." jawab Akira sebal.
Farid melotot tajam ke arah Akira yang berguling-guling di sofa karena lelah membujuk suaminya.
"Mas! Aku gak enak aku deket loh sama mereka kadang suka numpang makan juga pas pulang sekolah."
Farid masih keras kepala mempertahankan rasa cemburunya yang bagi Akira tak beralasan.
"Aku marah sama kamu!" ancam Akira, yang tak di indahkan oleh Farid, ia berlalu pergi karena kesal.
Eh, baru ia mau berjalan, pintu terbuka menunjukkan wajah menyebalkan ibu mertuanya.
"Ish!" dengusnya dengan refleks.
Lalu, melenggang pergi melewati wanita paruh baya itu tanpa sapa menyapa.
Males banget dia di ajak ribut orang tua.
"Heh, menantu kurang ajar! Lihat itu wanita yang kamu nikahi? Gak punya sopan santun!"
cerocos Mama dengan suara menggelegar.
"Ma, ngapain sih kesini kalau cuma mau buat ribut?" Farid menatap jengah orang tuanya.
"Kamu berantem sama dia?"
"Nggak."
"Terus kenapa kalian gak nempel kaya biasanya, nyerang mama bersamaan?"
Tak menjawab, Farid memilih fokus pada komputernya.
"Farid, mama mau bicara." titahnya dengan nada tinggi.
Lelaki itu melihat ke arah mamanya dengan terpaksa.
"Farid, kamu sungguh gak anggap mama lagi? Berapa lama kamu gak jenguk mama ke rumah? Selalu mama yang datang ke rumah kamu." keluh orang tua itu dengan nada serius dan penuh tekanan di setiap katanya.
"Maaf, Farid masih belum bisa terima konspirasi mama dengan Rayrin, ingat ma, aku sakit hati sejak mama suruh aku gugurin anak kami, tapi mama dengan berani malah melanjutkan rencana itu."
"Farid! Seumur hidup mama gak sudi cucu mama di lahirkan oleh Akira yang dalam darahnya mengalir darah Marina penggoda suami orang!"
"Apa maksud mama?! Ibu Marin itu ibunya istriku, dan apa pantas menghina orang yang sudah meninggal?"
"Nyatanya, wanita itu memang hina!"
"Ma! Apalagi ini?!" tanya Farid frustasi karena ada saja alasan mamanya untuk terus menentang hubungan nya dengan Akira.
"Karena wanita itu seumur hidup papamu tidak pernah tulus mencintai mama mu ini!" Mama mulai terisak mengingat betapa suaminya mencintai wanita bernama Marina.
Sampai ia memberikan suaminya keturunan pun, lelaki itu masih mengingat Marina, kasih tak sampainya.
"Ma, papa gak mungkin begitu, itu cuma masa lalu, mama gak perlu berlebihan."
Farid berucap seolah apa yang mamanya kira selama ini salah.
"Kalau bukan karena kalian anak-anak mama, mungkin papa kamu, sudah meninggalkan aku." ungkapnya lagi mengutarakan apa yang selama ini ia pendam.
"Pokoknya, mama gak pernah ikhlas, kalau keturunan kamu di lahirkan oleh dia! Mama harap kamu mengerti perasaan mama."
"Nggak ma, Farid akan tetap sama Akira, selamanya, anak Farid hanya akan lahir dari Akira, bukan wanita lain. Apa yang baru mama ungkap itu hanya masa lalu, gak perlu di ungkit di masa depan."
"Tapi mama benci! Selamanya, mama gak akan anggap anak kalian cucu mama!"
"Ma.. "
"Bertahun-tahun lamanya sampai detik ini, mama masih bisa rasakan bagaimana sakitnya ketika suami mama selalu menggumamkan nama wanita lain, menatap foto wanita lain, yang tak lain adalah ibu Akira!"
Saat sampai di lobi, Akira tidak menemukan ponselnya, sepertinya tertinggal saat tadi ia menyuapi bayi besarnya yang cemburuan.
Dengan malas ia kembali ke ruangan Farid, ia malas sebenarnya bertemu mama mertuanya, ia malas ribut, bukan apa-apa.
Tapi, ia sangat butuh ponselnya.
"Marina dan papa kamu itu saling mencintai bahkan mungkin sampai wanita hina itu mati, ia masih mencintai papa kamu!"
Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar kalimat yang belum bisa ia mengerti.
"Marina? Apa itu Marina ibuku?" tanyanya dalam hati.
Ia tak terlalu mendengar apa kata suaminya, ia hanya menajamkan telinganya untuk mendengar fakta-fakta yang membuat dirinya penasaran dari mulut mertuanya.
"Karena saat itu keluarga papamu tidak setuju dia menikahi wanita dari desa, mereka berdua di pisahkan, Marina menikah dengan ayah Akira yang entah juga ayah kakanya atau bukan, aku curiga anak pertama Marina adalah anak papamu. Wanita murahan itu menikah hanya untuk menutupi kehamilannya dengan suamiku." ungkapnya dengan mata penuh amarah yang menyala-nyala.
"Mama cukup! Mama keterlaluan." bukan suara Farid itu suara Akira.
"Akira, sayang kamu balik lagi, ada apa?" tanya Farid lembut seolah mau menutupi apa yang terjadi.
Namun, ini sudah tak bisa di tutupi, mamanya yang mendadak datang dan membuat semuanya berantakan.
Akira menatap nanar bergantian ke arah mertua dan suaminya.
Bukan terkejut, Rita justru senang dan tersenyum puas.
"Baguslah kamu balik lagi, semoga setelah ini kamu sadar diri untuk tidak menempel pada keluarga kami." angkuh wanita tua itu.
"Ma!"
"Dengar! Dulu sebelum aku menikahi suamiku, dia punya simpanan bernama Marina. Pernikahan kami telah di tentukan, kami di jodohkan sejak remaja, tapi dengan lancangnya Marina menjadi orang ketiga dan mereka berdua saling mencintai." mata nya berkaca-kaca kala mengingat hal di masa lalu, di mana ia yang selalu mencintai lelaki yang di jodohkan dengannya dan menerimanya.
Tapi lelaki itu malah mencari wanita lain.
Masih jelas ia rasakan rasa sakitnya.
Dimana perhatian suaminya tak pernah tertuju padanya tapi pada Marina wanita entah dari mana.
"Syukurlah, Marina tahu diri dan pergi saat keluarga suamiku mengusirnya, tidak seperti kamu yang masih menempel seperti benalu!" ketus, angkuh, kejam menjadi satu menjadi nada dalam setiap kata yang mengalun dari bibir ibu mertuanya.
Tentu, itu mengigit hatinya.
"Tapi, sekali murahan ya murahan! Saking murahannya ibumu, aku pastikan kakakmu bukan anak ayahmu!" teriaknya tepat di depan wajah Akira yang mematung ddengan air mata yang mengalir deras mendengar hinaan untuk almarhum ibunya.
"Bahkan, ternyata, meski ibumu menikahi ayahmu dan aku menikah dengan suamiku, mereka masih saling bertemu, aku curiga kau juga anak suamiku!"
Tubuh Akira bergetar hebat, mendengar tuduhan yang di layangkan padanya, kemungkinan, ia anak hubungan gelap.
"Mama cukup!"
Dengan cekatan Farid mendekap tubuh istrinya yang seperti akan tumbang saja.
"Biar Farid, biar dia tau, biar kamu tau, dia tidak pantas di samping putraku. Sama sekali!"
Akira hanya menangis dalam diam. Memikirkan, entah takdir buruk yang mana lagi yang saat ini mengantri untuk datang padanya.
Sudah satu hari satu malam tapi Akira tetap memikirkan segalanya dengan diam.
Diam.
Wanita itu hanya bisa diam saat suaminya mengajaknya bicara.Ia hanya sesekali bergerak dari posisi tiduran menjadi duduk dan kembali berbaring, namun tatapan nya kosong.
"Sayang, kamu jangan pikirkan ucapan mama, aku yakin itu hanya tipuan agar kita berpisah."
Tapi, Akira tak sekalipun menanggapi.
Ia masih tak habis pikir dengan tuduhan-tuduhan yang mertuanya layangkan.
"Sayang, jangan diam aja, dari tadi pagi kamu cuma diam, kamu juga belum makan, ayo makan aku suapin." ucapnya sambil menerima piring makanan yang di bawa Wisnu, lalu mengibaskan tanganya ke arah pelayan itu agar meninggalkan mereka berdua.
"Ayo makan, aku janji aku kasih izin kamu ke pernikahan kakaknya Deanno, besok." bujuk Farid, namun masih tak berhasil, ia menaruh piring di nakas samping tempat tidur, agar ia lebih leluasa membujuk istrinya untuk makan.
Farid tetap tenang karena ia pun menganggap kata-kata mamanya hanya trik, hanya tipu muslihat saja agar ia terpisah dari istrinya.
"Mas!" panggil nya lirih yang membuat Farid senang bukan main, akhirnya Akira bersuara.
"Iya sayang?"
"Apa kita beneran saudara satu ayah?"
Reflek, Farid membekap mulut Akira dengan tangannya.
"Sstt.. bukan sayang, bukan."
Akira menepis tangan suaminya dari mulutnya.
"Berarti hubungan kita haram, kita satu ayah?"
Farid menggelengkan kepalanya dengan tangan yang kembali menutup mulut Akira.
"Dengar! Itu cuma akal-akalan mama aja! Mama kemarin, sebelum kamu datang gak ada bicara begitu! Dia pasti bohong karena tau kamu emosional." ucapnya penuh perasaan menatap lembut mata Akira yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Beneran?"
Akira melunak, kata-kata Farid sedikit memberi kelegaan.
"Iya sayang, kamu kaya gak tau mama saja. Apapun yang terjadi kamu hanya perlu percaya aku, jangan dengarkan kata orang lain selain aku. Oke?"
Akira mengangguk pelan dan merangsek ke dalam pelukan suaminya.
'Iya, aku hanya perlu percaya suamiku. Banyak yang mau memisahkan kami, Farid benar pasti itu cuma akal-akalan mama.' batinnya berusaha meyakinkan dirinya agar tak termakan ucapan yang belum tentu kebenarannya.
"Mas, kita harus tanya papa, tanpa sepengetahuan mama." usul Akira yang langsung di setujui oleh Farid.
"Iya, nanti kita tanya, aku atur pertemuannya nanti, sekarang makan dulu, ya?"
Akira menggeleng, "Aku gak mau makan sebelum semuanya jelas."
"Oke, sekarang juga aku panggil, papa biar kesini, jelasin semuanya ke menantunya yang manja." Farid mengecup pipi Akira kilat sebelum beralih ke ponselnya.
Akira hanya tersenyum tipis.
Ampun jangan bully author udah buat Akira menderita terus menerus
ampun yaaa 😁
gak menderita kok cuma jembatan konflik aja
eh hampir mo spoiler 😌