
Setelah 45 menit Akira melangkahkan kakinya, akhirnya ia sampai juga tapi dengan perut yang melilit efek bakso yang ia makan apalagi setelah itu ia pulang dengan berjalan kaki, jadilah perutnya melilit dan terasa terbakar.
"Nona, Anda dari mana saja, Tuan mencari Anda sejak tadi" ucap Wisnu yang sepertinya terus menunggu kehadiran Akira dipintu masuk.
Akira menggeram mendengar penuturan Wisnu, dia menepuk kepalanya pelan dan mendengus kesal.
"Huft, Wisnu tidak bisakah kau diam, aku lelah aku sakit aku harus segera masuk hentikan omong kosongmu tentang monster es itu!" pekik Akira dan berlalu meninggalkan Wisnu yang masih terkejut dengan bentakkan Akira.
Baru menuju tangga, suara Farid menghentikan langkahnya.
"Dari mana saja kau" tanya Farid berdiri dari sofa dan melangkah menuju Akira.
"Apa lagi ini" desis Akira kesal, karna sudah tak tahan dengan sakit perutnya dan ingin segera berbaring, akhirnya ia dengan berani mengabaikan pria itu.
Farid yang merasa diabaikan berteriak memanggil Akira. Namun, Akira tidak mengindahkan panggilannya.
Dengan perasaan kesal ia menyusul Akira ke kamar dan membuka pintu dengan kasar.
"Heh gadis nakal kau tidak mendengarku hm?!"
Akira diam tak menyahut dan memilih mengeratkan pelukannya pada guling dan sesekali berguling ke kanan dan ke kiri, menurutnya itu mampu meredakan sedikit rasa sakit dan terbakar diperutnya.
Farid yang merasa kesal menarik guling dipelukan Akira dengan kasar.
"Beraninya kau mengabaikan aku" geram Farid.
Akira mendengus malas menanggapinya dan beranjak untuk duduk.
"Jangan ganggu aku sebentar saja" ucapnya pelan, jujur saat ini ia malas berdebat dengan suaminya.
"Jawab pertanyaanku dulu!"
"Yang mana?"
Akhirnya, ia menyerah dan memutuskan untuk meladeni Farid, daripada pria itu semakin menggila dengan emosinya.
"Dari mana saja kau selama dua jam,kenapa tidak langsung pulang dengan Gio?!"
Akira diam sejenak,menata perasaannya agar tidak emosi.
"Aku hanya menenangkan diriku, aku pulang jalan kaki jadi lama" jelas Akira dengan suara pelan dan datar.
"Berkencan dengan Deanno itu yang kau sebut menenangkan diri?" ucap Farid sarkas.
Akira mendongakan kepala nya menatap wajah suaminya yang berdiri dihadapannya.
"Berkencan kau bilang? Aku hanya makan siang" ucap Akira tenang.
"Katakan yang sebenarnya atau laki - laki itu tidak akan mendapat tempat dimanapun karna aku usir dari perusahaan" ancam Farid.
"Kau mengusirnya?" tanya Akira dengan nada penasaran dan kaget sekaligus.
"Belum, tapi akan ku lakukan" ucap Farid mantap.
"Tidak bisakah kau berhenti mengancam aku? Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan sesuai perjanjian" ucap Akira dengan suara datar dan menekankan kata terakhir.
"Kau bahkan melanggar perjanjian dengan mendekati lelaki manapun!" bentak Farid.
"Aku hanya menyapa teman lama dan kau bilang aku mendekati? Hey Tuan Farid yang terhormat! Kau bahkan bermesraan dengan wanita lain!" ucap Akira dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Hah, teman lama? Apa ada sepasang teman yang saling berbagi cerita?" sinis Farid.
"Apa maksudmu?" tanya Akira was -was.
"Kau lupa siapa suamimu, aku tau riwayat pesanmu dengannya" ucap Farid dengan seringai sinis.
"Lalu apa masalahnya? Kami bersahabat!" elak Akira.
"Selama kau menjadi istriku jauhi dia, jangan balas pesannya atau kau tau akibatnya, kau tak mau hidup seseorang hancur karna dirimu kan?" ancam Farid dengan nada suara penuh penekanan dan berbalik menjauh bersiap keluar dari ruangan itu.
Akira menggertakan giginya kesal dan meremas sprei yang ia duduki, rasanya ia ingin menangis karna kesal tapi tidak, ia bangkit dan melempar ponselnya yang ada di nakas ke arah Farid.
"Siapa kau! Beraninya kau selalu mengancamku untuk melakukan semua yang kau mau! Sedangkan kau selalu berlaku semaumu, memperlakukan aku seenaknya, membiarkan aku pusing dengan kelakuan anehmu padaku!" jerit Akira tak kuasa ia menahan emosinya, air matanya jatuh membahasi pipi.
"Kau" Farid mendesis dan menatap ponsel yang Akira lempar ke arahnya, namun gagal mengenai dirinya.
Akira terduduk dilantai dan terisak. Rasanya ia sudah muak dengan segalanya.
Akira kaget dengan pergerakan Farid, ia hanya bisa mengikuti arah pria itu menyeretnya, hingga ia merasakan tubuhnya terhempas diranjang.
"Apa yang kau katakan? Coba ulangi, kau mau memberontak?"
Akira dengan sigap mendudukan dirinya, ia takut dengan suara Farid yang terdengar sangat penuh amarah dan ancaman perlahan ia mundur bersamaan dengan mata tajam dari Farid yang terus menatapnya.
"Ak- aku- "
"Katakan!"
"Aku lelah, aku tak mau hidup bersamamu, aku ingin seperti dulu saja, tak apa aku tidak bisa denganmu, tak apa aku mencintaimu sendiri dalam diam, asalkan aku bahagia dengan arti yang sesungguhnya bukan berpura - pura tegar dan senang seperti yang beberapa waktu ini aku lakukan" tidak ada bentakan dalam suara Akira, hanya suara pelan dengan nada memohon dan isakan tangisnya yang melengkapi sehingga mampu menunjukan betapa menderitanya hatinya saat ini.
Farid menghela nafas berat ia mendekati Akira dan mencengkram dagu gadis itu.
"Kau tak mau hidup bersamaku, hm? Kau mau lepas dariku dan perjanjian itu? Baiklah!"
Farid menghempas cengkraman tangannya.
Akira menatap tak percaya, namun penuh harap sebelum akhirnya Farid melanjutkan ucapannya.
"Tapi jangan salahkan aku kalau besok kau melihat keluargamu hancur dan mendengar cerita dari lelaki itu bahwa dia tidak mendapat pekerjaan dimanapun dan saat kau ingin membantu kau tak mampu, karna usahamu juga aku hancurkan!"
Akira menatap Farid dengan tatapan terkejut.
"Kau- kau tidak boleh melakukannya!" lirih Akira.
"Kalau begitu tetaplah disisiku, selama yang aku mau, aku akan mengubah isi perjanjiannya, kau milikku, kau dibawah kendaliku, kau tidak berhak melakukan apa yang kau mau seperti sebelumnya, itu hukuman untukmu! Aku sudah terlalu baik selama ini" tukas Farid tajam, kata - katanya mampu menusuk sampai ke jantung Akira.
"Ke- kenapa kau melakukan ini, apa salahku! Apa karna aku membalas serangan Rayrin hah?"
Farid mendekatkan wajahnya dengan Akira dan menatapnya lekat.
"Salahmu? Kau sangat pembangkang!" bisiknya didepan wajah Akira.
Akira mendorong Farid dan mulai berteriak.
"Aarghh...Aku bukan budakmu ! Kenapa kau melakukannya padaku, cari perempuan lain saja sana! Bahkan sekarang ada Rayrin apa yang kau cari lagi hah... Lepaskan aku! Aku menyesal mencintaimu, aku menyesal! Aku sudah gila bisa mencintaimu selama bertahun-tahun dan menerima perjanjian bodohmu itu!"
Farid terdiam mendengar kata demi kata yang Akira ucapkan.
"Kenapa kau lakukan itu padaku, padahal banyak orang lain, dengan alasan aku berbeda kau membuat aku gila dengan segala keanehanmu, kau bersikap seenaknya, kau terkadang sangat lembut dan manis tapi juga mengecewakan dan kenapa aku malah menerima peranku, kenapa aku malah mau kau bodohi? Melayanimu, berakting sebagai pasangan suami istri, menjadi istri yang baik, dan berharap suatu saat kau sungguh menjadikan aku istrimu, aku bodoh" sambung Akira lirih.
"Akira kau-"
"Maaf aku telalu banyak bicara, tadinya ini hanya masalah kecil kenapa malah jadi sebesar ini" ucapnya tenang lalu mengusap air matanya dan kembali tersenyum.
Ia segera melangkah turun dari ranjang.
Namun, cekalan tangan Farid menghentikannya.
"Berhenti, kau mau kemana? Aku belum selesai!" tegas Farid.
"Apa? Tolong lupakan yang tadi aku hanya emosi, maafkan aku, jika kau marah karna aku menyerang Rayrin, tolong ampuni aku sekali saja, hm?" pinta Akira dan segera melepaskan cekalan tangan Farid dengan buru - buru ia masuk ke kamar mandi sebelum Farid kembali menghentikannya.
Tepat setelah ia menutup pintu kamar mandi, tubuhnya merosot ke lantai seketika air matanya luruh rasa sakit menjalar mengenai jantungnya.
Ia menangis sejadi-jadinya, berteriak tanpa suara dan sesekali menepuk dadanya yang terasa sesak menahan suara tangis.
Sedangkan Farid masih berdiam diri memikirkan apa yang baru saja terjadi hingga akhirnya ia memukul kaca rias hingga pecah. " Arghhh... Sial!"
Farid meringis saat darah mulai keluar dari tangannya, tapi ia tak peduli dan menelpon Gio. " Gio ubah isi perjanjian itu, Akira tak mendapat hak apapun, ia dibawah kendaliku sekarang" ucap Farid geram.
"Tuan apa anda yakin?"
"Lakukan! Aku ingin besok sudah beres!" sentak Farid kemudian ia melempar ponselnya asal.
Hai guys
sekali sekali Akira nge drama lah ya
bosen seneng terus padahal dia terancam
gak lucu lah posisi dipaksa bahagia melulu wkwk