
Sejak hari itu, Akira lebih manja dan benar-benar jadi istri penurut. Ia tak mau karena kesalahan yang ia tidak tau orang-orang di sekitarnya menjauhinya.
Cukup Risa dan Deanno saja, sahabat yang menjauhinya entah karena apa.
Ia tak tau dan mereka enggan menjelaskan, bahkan Risa benar-benar tidak tau dimana.
Ia pergi, kata Viara yang paling dekat dengan Risa sempat mengatakan perempuan itu di kirim ke Riau dimana neneknya tinggal.
Tapi, nyatanya perempuan itu tidak di kota itu.
Hatinya nyeri setiap sekelebatan bayangan dirinya bercanda ria dengan perempuan itu
melewati pikirannya.
Betapa dulu mereka sama bar-barnya saat bercanda dan sekarang?
Tak tau salahnya dimana dan kenapa.
Risa jauh dari dirinya.
Karena sekarang dia mau jadi istri baik, Akira benar-benar melepaskan diri dari kepengurusan Home's Food, bisnis itu benar-benar 75% dalam kepengurusan Viara.
Ia hanya jadi otak saja, mengirimkan resep terbaru, lalu datang untuk mencobanya bersama sebelum di luncurkan menjadi salah satu menunya, mengecek keuangan dan perkembangan usahanya.
Tentu, Farid sangat senang Akira jadi lebih sering di rumah.
Sebelumnya kan, meski ia lepas kendali juga, Akira masih saja sering ke sana dan main-main dengan teman-temannya.
Sekarang? Ia sangattt penurut.
Bahkan, mungkin, jatah satu malam tiga kali ia beri untuk suaminya. Mungkin yaa.
"Mas, ini udah satu minggu ya, papa masa belum pulang?" ia menagih janji sang suami yang mau mempertemukan mereka dengan papa Farid.
Farid menyentuh bibir bawah Akira penuh minat sambil memainkan jarinya disana.
"Mungkin besok baru sampai." jawab Farid tanpa mengalihkan pandangan dari bibir istrinya.
Pokoknya, ia sangat senang punya istri penurut dan manis seperti Akira!
Ia jadi tidak merasa pusing meski harus mengurus perusahaan, sekaligus masalah yang timbul mengusik ketenangan rumah tangganya.
"Kamu sekarang manis banget, penurut dan memprioritaskan aku, aku suka. Jadi semakin sayang."
Akira tersenyum puas, setidaknya ia bisa selalu membuat lelaki yang ia cintai senang dan bahagia. Meski sudah terlanjur kehilangan dua sahabat.
"Iya, makannya jangan tinggalin aku!" rengeknya manja lalu memeluk Farid yang masih belum mengenakan pakaian atasnya sejak percintaan mereka selesai beberapa menit yang lalu.
"Tidak akan sayang, aku kan sudah bilang. Kamu juga, apapun yang terjadi tetap di samping aku, jangan sedikit-sedikit kabur." mengecup bibir yang sejak tadi ia perhatikan.
"Sekarang jarang protes ya kalau aku serang mendadak?" ledek Farid mendusel pada leher Akira yang langsung kegelian.
"Biar kamu enggak bosen sama aku." jawab wanita itu jujur.
"Jangan gitu, jadi diri kamu sendiri aja sayang, jangan berusaha jadi seperti yang aku mau, aku tetap cinta kamu kok." ujar lembut lelaki itu memainkan kancing piyama Akira.
Akira terdiam rasanya bingung mau menjawab apa, ia tak pandai membalas kata-kata. Tapi kalau adu mulut pasti dia jago!
"Aku benci kancing ini."
Akira mengernyit bingung, "Apa salahnya kancing baju dalam hal ini?"
"Menyusahkan aku." Farid menatap sinis kancing piyama Akira.
"Dasar orang mesum!" cibir Akira dengan suara agak mendesis.
Farid hanya tersenyum kecil, selanjutnya mereka hanya diam menikmati hembusan napas masing-masing yang berlawanan menerpa kulit mereka.
"Mas? Gimana kalau kecurigaan mama bener?" mendadak Akira bertanya sesuatu yang paling Farid benci meski ia tak pernah menunjukkan itu pada sang istri.
Farid membenamkan wajahnya di ceruk leher Akira, "Kamu harum." katanya sambil menghirup aroma Akira.
Akira menghela napas jengah, suaminya selalu mengalihkan pembicaraan setiap ia mau berbicara serius tentang itu.
Harum? Harum apanya, mereka habis berkeringat bersama-sama, harum dari mana?!
Seakan bisa menebak isi kepala Akira, Farid mendongak melihat wajah Akira, " Aroma alami tubuh kamu enak, aku suka baunya."
"Ngeles!"
"Aku benci membicarakan hal yang hanya akan merusak kebahagiaan kita, biarkan aku menikmati kebahagiaan kita tanpa ada masalah lain, hm?"
Akira tersenyum samar, lalu mengangguk setuju, lelaki ini memang cenderung malas memikirkan sesuatu yang membuat sedih, tapi lelaki ini selalu bertindak menyingkirkan duri-duri yang mengusik jalannya tanpa perlu Akira saksikan.
Akira menyentuh lembut rambut hitam kecoklatan bergelombang, milik suaminya.
Selalu lembut dan harum khas laki-laki.
***
"Jadi? Ada apa kamu mendadak mau bertemu papa?" tanya lelaki paruh baya itu yang kini sudah duduk di sofa dalam ruangan kerja Farid yang berada tepat di lantai paling atas Earthechnology Tower.
"Mama berulah."
"Maksud kamu?"
"Pa, masa iya? Mama bilang papa dan ibunya Akira selingkuh di belakangnya? Dan anak-anak ibu Marina anak dari papa, kata mama. Itu enggak benar kan?"
tanya Farid langsung, walaupun di akhir kalimat ia ragu mengatakannya, ia bersuara lebih pelan pada kata-kata anak ibu Marina anak dari papa.
Lelaki tua itu tampak memjamkan matanya agak lama seperti ekspresi ia sudah menduga itu.
"Pa, itu gak bener kan, kalaupun iya? Aku sama kakak bukan anak papa kan?" kali ini Akira yang bertanya ia sungguh sangat - sangat penasaran.
Farid menggenggam tangan Akira yang dingin dan berkeringat, ia tahu Akira sangat takut mendengar jawaban papanya.
Tapi, mereka harus tau kebenarannya, bukan?
"Aku dan Marina saling mencintai. Kami bersama, meski saat itu pernikahan aku dan mama mu sudah di tetapkan."
"Jadi itu benar?!" air mata Akira meluncur begitu saja.
"Tapi, Akira kamu bukan anakku, tapi kakakmu, aku ragu."
Lelaki tua itu menunduk menatap lantai marmer di bawahnya.
Akhirnya ia menceritakan sejak awal, dimana Roy saat itu memang telah di jodohkan oleh Rita tanpa persetujuan dirinya sama sekali.
Orang tuanya bahkan tak bertanya apa ia menyukai seorang gadis? Apa ia suka dengan gadis pilihan mereka?
Yang orang tuanya pikirkan hanya hubungan bisnis yang harus terjalin antar dua perusahaan.
Rita gadis baik meskipun agak sombong, karena ia sejak lahir sudah seperti putri, ia pemilih dalam berteman.
Tapi, itu tak bisa membuatnya tertarik, hingga seorang gadis sederhana bernama Marina Larasati menggetarkan hatinya tepat saat pertemuan pertama mereka saat dirinya tak sengaja hampir menabrak gadis sederhana itu.
Wajahnya yang manis dan lugu, membuat Roy merasa damai saat memperhatikan Marina.
Pertemuan mereka berlanjut, dengan alasan Roy harus bertanggung jawab atas luka di lutut Marina karena ia menabraknya.
Setelahnya, Roy terus saja menemui Marina hingga mereka saling tertarik.
Marina juga mencintai Roy seperti lelaki itu mencintainya.
Mereka mulai berhubungan lebih jauh, melewati batas yang telah di buat oleh keluarga Roy.
Bahkan, Roy mengajaknya menikah tanpa memperdulikan Rita yang sudah di tetapkan untuk jadi istrinya.
Namun, hati Marina hancur kala ia di bawa ke rumah besar itu. Ia di usir dan di hina habis-habisan.
Marina yang tau diri menjauhi Roy, namun lelaki muda itu tak mau mengalah, ia terus mengejar Marina meskipun ayah Marina juga mengusir lelaki itu setiap harinya.
Marina hancur.
Roy semakin hancur kala ia mendengar bahwa Marina akan menikah dua hari lagi.
Dua bulan ia memperjuangkan hubungan mereka tetapi ayah Marina juga menjodohkan gadis itu dengan lelaki lain.
Kalimat terakhir dari Marina yang ia dengar saat dirinya nekat menemui gadis itu adalah, "Kalau aku gak menikah, bapak aku akan menanggung malu, aku hamil, mas. Aku harus menikah untuk memberi anakku seorang ayah."
Saat itu, ia merasa jantungnya seperti di remas, anak dalam kandungan Marina pasti anaknya, tapi lelaki lain yang menjadi ayahnya.
"Jadi mungkin saja, kakakmu anak papa."
"Nggak, itu gak mungkin, kakak gak mirip papa!" elak Akira dengan air mata mengalir, jika kakaknya sama dengan kakak suaminya juga. Mereka sama saja kakak beradik!
Roy sering berpikir Mattheo mungkin adalah anaknya, tapi sayangnya lelaki itu tidak terlihat mirip dengannya.
"Terus aku gimana, aku--"
Akira panik sendiri, Farid mengusap bahunya agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
"Bukan, nak. Kami menang pernah bertemu saat itu Marina sedang hamil kamu, dan Rita salah paham, dia bahkan mengira aku selingkuh lagi dengan Marina, padahal kami hanya berteman baik saat itu."
Akira mengela napas lega, meski masih ada ganjalan dalam hatinya.
"Papa jangan mengada-ada bisa saja, ibu Akira saat itu hamil dengan ayahnya Akira yang memang calon suaminya kan?!"
"Papa tidak tau." jawab lelaki tua itu dengan wajah lesu.
"Kenapa kalian tidak tes DNA saja?!"
"Theo pasti akan terusik, ia akan bingung nantinya, biarkan saja."
"Dan membiarkan rumah tangga kami tak tenang? Karena kakak istriku ternyata juga sedarah denganku? Jangan bercanda, pa!"
Farid emosi dengan tanggapan papanya yang menurutnya tidak tegas dan semakin membuat semuanya terasa abu-abu.
Tidak jelas! Suka tidak suka, setuju atau tidak setuju papanya harus melakukan tes darah dengan kakak iparnya.
**Eh, ini kalo di jadiin sinetron ikan terbang bagus nya apa ya judulnya?
Kakakku ternyata kakak suamiku**?