
Jangan lupa, bagi yang suka cerita dimana ceweknya enggak bucin duluan baca My Lazy, Rich Man. Aku gak menjanjikan cerita yang luar biasa, karena ini baru episode awal.
Dan bukan dengan tipe alur yang dewasa menikah, di paksa, dsb. Lebih kaya perjalanan cinta sewajarnya saja sih.
Masih pagi, dengan awal hari yang cerah dan damai, namun itu tak bertahan lama, kala Akira membangunkan emosi Farid.
"Usia kandungan kamu itu sudah masuk tujuh bulan, jangan pakai alasan ngidam." sangkal Farid dengan tegas. Bagaimana tidak di sangkal, kalau ngidamnya Akira itu seperti bukan ngidam, tapi keinginan dan malah menjadikan hamil sebagai alasan.
"Aku gak bohong kok, boleh yaa." dan tanpa lelah Akira berusaha membujuk suaminya dengan mata memelas berkaca-kaca.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak, Akira Shafeena!" Farid berjalan terus meninggalkan ruang makan sedangkan Akira mengekor di belakang. Tentu, Akira selalu mengatakan keinginan-keinginannya setelah sarapan usai. Akira tak hati, jika seandainya selera makan suaminya terganggu karena permintaan nya.
Takut, kejadian lama terulang Farid memelankan lajunya, lalu berhenti dan berbalik menghadap istrinya yang sedang mengejarnya dengan susah payah akibat postur tubuhnya yang agak membengkak dan tentu perutnya.
"Aku tidak akan mau mengulangi kesalahan yang sama, itulah kenapa aku selalu percaya sama kamu dan ingin selalu menuruti kamu, tapi untuk yang satu ini tidak." ujarnya pelan tanpa mengurangi nada ketegasan dalam ucapannya.
Akira menunduk lesu dan meremas ujung dress rumahan berwarna biru lembut itu. Bibirnya agak mengerucut dan raut kecewa jelas tergambar.
"Kamu main ke rumah mas kamu aja ya, sekalian sharing sama tante dan ipar kamu." bujuk Farid sembari menyentuh lembut kepala istrinya.
"Tapi aku maunya main sama Rayrin sama anaknya juga." jawab Akira menunduk. Farid menghela napasnya gusar. Mana rela ia membiarkan Akira bertemu Rayrin, walaupun tahu Akira tidak takut pada perempuan itu, namun kondisinya adalah istrinya sedang mengandung, Farid takut terjadi sesuatu.
Entah, inspirasi dari mana setelah ia melihat cuaca yang cerah, Akira jadi ingin jalan-jalan berdua dengan Rayrin yang ia ketahui juga tengah mengandung. Rasanya, mau pake banget.
"Kamu tahu kan rumahnya dia, antar ya."
"Enggak Akira, nurut atau aku kunci kamu di kamar seharian!" tegasnya yang sukses membuat Akira menangis seperti anak kecil. Di awali dengan sesenggukan kecil lalu semakin kencang. Jangan lupa, meski sudah seperti budak cinta Akira, sifat tegas, sombong, galak dan dominan Farid itu masih mendarah daging.
Farid mengusap kasar wajahnya yang tampan itu menghadapi Akira saat hamil sesulit ini memang.
Lebih baik, Akira minta makan bakso di tempatnya, beli nasi padang di kota Padang langsung, atau makan soto ayam pakai daging sapi dari pada mempertemukan mereka berdua.
"Kamu mau apa aku turuti, asal jangan itu." bujuk nya lembut. "Ya sayang yaa... ?" lantas memeluk tubuh Akira lalu sesekali melirik jam tangan, sudah banyak ia membuang waktu karena Akira.
'Awas saja, jika anak ini nanti tidak sepertiku, apalagi tidak berada di pihak ku. aku yang banyak berkorban demi dia dan ibunya' batinnya seolah mengancam calon anaknya sendiri.
Akira menggeleng dalam pelukannya, "Wisnu, ambilkan pakaian lainnya untukku." kemejanya basah oleh air mata ia harus mengganti pakaiannya.Wisnu bergegas melaksanakan perintahnya, tentu saja selama Farid akan pergi bekerja lelaki itu selalu ada di dekat jangkauan tuannya, pun saat lelaki itu mulai memasuki gerbang di jam pulang. Karena tugas utamanya memastikan segala-galanya tentang Farid terlaksana dengan baik.
"Aku harus cepat pergi ada pertemuan penting sebentar lag, jangan macam-macam." Farid memperingati dengan nada mengancam. Setelah, pakaian baru di bawakan oleh Wisnu, ia lantas mengecup kening Akira lalu bergegas pergi masalah ganti bisa ia lakukan saat ia sampai di kantor.
Sepeninggal Farid, ia menelepon tantenya, berkeluh kesah tentang rasa inginnya bertemu Rayrin ia ingin makan dan minum susu hamil bersama perempuan itu, entah mengapa, sumpah Akira tidak tahu kenapa dan apa sebabnya!
Tiba-tiba ia mendapat sebuah ide.
***
Ia menyesal membawa perempuan itu kemari, jika akhirnya mereka akan terpisah.
Bahkan dua penjaga sengaja Bram tempatkan di depan pintu kamar Kris dan juga di pintu utama. Penjagaan di sekeliling rumah di perketat meminimalisir kejadian Kris kabur dari sana.
Matanya, memanas.
Air matanya meluncur seketika saat bayangan hari kemarin ada dalam pikirannya. Saat obrolan santainya dan Rayrin yang sangat jarang terjadi kembali mereka lakukan setelah sekian lama.
"Astaga, Rayrin! Apa salahnya aku mencintaimu? Jika dulu kamu dan orang tuamu, maka sekarang orang tuaku, kenapa seluruh dunia seolah menentang?!" geramnya.
Disisi lain, perempuan itu ingat jelas dengan sangat jelas, kalimat terakhir yang terlontar padanya, hatinya serasa teriris.
Kala kilasan kejadian semalam terlintas dalam pikirannya.
Malam semakin gelap, bahkan rasa mencekam terasa malam itu karena Bram membuat atmosfer menjadi seseram itu memang.
"Tidak pantas, kamu menjadi menantu rumah ini!" bentaknya dan tanpa di duga menyerahkan amplop berisi uang di genggaman Rayrin dengan paksa, lantas menarik Kris berada di sisinya.
"Papa!" protes Kris malam itu, melihat penghinaan yang di lakukan papanya pada Rayrin. Sekar hanya bisa menganga tak percaya. Entah bagaimana perasaan gadis itu setelah di hina dengan kata tidak bermoral, murahan dan sebagainya, ia bahkan di beri segepok uang.
"Diam kamu,Kris! Dan kamu saya tahu betapa sulitnya keuangan keluarga kamu yang sombong itu saat ini, gunakan uang itu untuk merawat kandunganmu, setelah dia lahir aku akan mengurusnya dan kamu bebas berusaha merusak rumah tangga orang lain lagi." Rayrin melotot dan menggeleng tak percaya.
Penghinaan apa ini?!
"Saya tidak butuh!" ia membuang uang itu ke atas lantai marmer dingin yang menjadi saksi perseteruan mereka.
"Papa, lepaskan aku!" yang mana tak di perdulikan oleh Bram, justru lelaki setengah baya itu memanggil anak buahnya untuk menyeret Kris serta Rayrin.
Kris di kurung nya dan Rayrin di usir keluar dari sana.
"Sombong kamu! Harta keluarga mu bahkan tidak sebanding dengan keluarga Adijaya, tapi angkuh sekali menghina posisi Kris sebagai pewaris. Jangan injakkan kakimu kesini lagi, aku sendiri yang akan mengambil anak itu nanti, menjauh dari anakku, Haruka lebih baik darimu untuk Kris! Anakku terlalu baik untuk tersesat dalam keluarga mu yang licik." sarkas, Bram yang tentu sangat membuat Rayrin terhina dan setelah itu ia kembali ke rumahnya sendirian, mimpi indah untuk bersama Kris hancur. Ternyata karma datang secepat itu ya?
"Haruka? Jadi, itu nama perempuan pilihan orang tuanya? Apa dia mampu menyayangimu baby? Tidak! Hanya aku yang bisa, kamu cuma punya mommy, mereka gak berhak!" ia memeluk posesif perutnya sendiri dan menangis tersedu-sedu.
Dan
Disini banyak gluduk eh petir lah sama saja.
Aku ragu mau hidupkan wifi or data buat up.
Akhir-akhir ini di wilayah ku memang banyak petir guys, bahkan kemarin sempat badai petir +angin serem dah pokoknya.