
Mentari menyapa hadirnya hari yang baru, dimana hari ini Akira bisa melakukan kembali rutinitas hariannya dirumah, ya kan dia sudah tidak diizinkan bekerja lagi, hanya cukup memantau sesekali, ingat kan?
Rencananya hari ini ia akan mulai bereksperimen, membuat sesuatu yang baru yang mungkin bisa ditambahkan ke daftar menu kafe barunya, segera ia menyiapkan segala keperluan suaminya dan juga menata sarapan, lalu kembali ke atas membantu memakaikan dasi Farid.
"Selesai" cicitnya sembari merapihkan lagi tatanan dasi suaminya, yang dibalas senyuman juga usapan dirambutnya.
"Setiap hari saja kamu memasangkan dasi" ujar Farid berbasa-basi.
"Makannya mas, jadi orang jangan nyeremin, sok jual mahal, sok jaga image, aku takut dong dulu mau deketin kamu!" ucap Akira yang langsung menohok hati Farid,
"Hah iya, Zia juga takut lo sama kamu padahal sepupu sendiri,tapi dibikin takut" cerocosnya lagi.
"Kenapa ya dulu waktu sekolah pada bilang kamu manis, padahal kamu tu kalau ngomong pedes banget" ungkapnya.
"Emang iya pada bilang aku manis?" pekiknya sok tidak percaya.
"Iyaa, banyak cowok bilang manis lah, mandiri lah, cantik lah, banyak pokoknya sebutannya, nakal tapi manis juga ada"
"Ih kamu suka nguping ya dulu?" tebaknya menggoda sang suami.
"Ya mereka saja kalau bicara didekat aku" sahut Farid mengelak.
"Tapi iya sih dulu banyak cowok chat aku, katanya aku manis, aku ngelak dong gak mau sombong, toh aku rasanya jauh dari kata manis" ungkapnya.
"Ya kamu tu pedes, tau apa-apa enggak, aku di katain gay. Kalau bukan kamu siapa lagi?"
celetuk Farid tak terima mengingat ejekkan Akira semasa sekolah.
"Hahaaha... Ya Tuhan mas masih inget? Kirain lupa" ucap Akira sambil tegelak kencang, sedangkan Farid hanya memberengut tak suka.
"Yaudah, udah siang nih ayuk sarapan!" ajaknya menyudahi perbincangan pagi bersama sang suami.
Pagi yang menyenangkan dengan bersenda gurau dengan suami impian.
Farid duduk dikursi kebesarannya, tapi ia tidak fokus bekerja, ia masih ingat kilasan kejadian akhir-akhir ini, bisa-bisanya ia bahagia bersama wanita yang dulu ia remehkan dan tidak disukainya. Ia tersenyum tipis mengingat kejadian tadi pagi, sifat asli istrinya terarah padanya, Akira yang sebenarnya jahil, selama ini Akira hanya bicara blak-blakan tapi belum pernah menertawainya begitu.
Lagi-lagi ada rasa sesal dalam benaknya, kenapa tidak sejak lama ia memiliki Akira.
"Tuan, maaf mengganggu meeting dengan para kepala bagian akan segera dimulai, saya sudah siapkan semuanya" ucap Gio dengan wajah datar dan dinginnya.
"Kau ganggu saja" celetuknya.
"Memangnya saya ganggu apa, sepertinya sejak tadi anda hanya melamun dan senyum-senyum tidak jelas Tuan" celetuk Gio cuek.
"Ah kau ini ya! Cepatlah menikah supaya bisa merasakan rasanya bahagia sampai senyum dipagi hari" nasihatnya.
"Tuan tau sendiri sebagian waktu saya, saya serahkan untuk anda" sahutnya datar.
"Kau mau dengan Zia? Sepupuku!"
"Maaf tuan, ini waktunya bekerja" sahut Gio mengalihkan pembicaraan.
"Sialan kau Sergio!" hardiknya kesal, merasa kalah profesional dengan sekertarisnya karna membicarakan hal pribadi waktu kerja,
"Ah iya aku hampir lupa, Gio kau ingat teman istriku yang melamar bekerja disini, apa yang kau lakukan padanya?"
"Maksud anda Deanno?" tanya Sergio memastikan yang dibalas anggukan dari Farid.
"Tidak ada, karna anda belum memerintahkan apapun, jadi saya belum memutuskan apapun untuk lamarannya"
"Terima saja, tempatkan sesuai dengan keahliannya"
"Baik tuan"
Sedangkan Akira, sedang bertempur dengan segala peralatan masaknya, hari ini ia akan mengundang teman-temannya untuk datang dan mencicipi masakannya.
Ia mencoba mencampurkan beberapa bahan dengan perisa vanilla dan cappucino untuk membuat minuman dingin yang memiliki cita rasa kopi yang manis dan pekat akan rasa cappucino.
"Emm..enak foto dulu ah" ucapnya mengambil ponselnya dimeja dapur.
"Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya Astuti.
Akira menepuk jidat saat ia melupakan terigu dan sekarang hanya ada tepung aci disini. Sedangkan ia mau membuat jamur tepung, bukan jamur krispy hanya jamur yang diberi tepung basah, tapi otak solutifnya membuatnya menjadikan segalanya mudah ia melumuri jamur dengan aci basah dan aci kering secara bergantian dan jadilah jamur yang krispy namun kenyal saat digigit.
Dilanjutkan dengan membuat saus tomat dan saus barbeque, karena biasanya ia menggunakan keduanya secara instant namun sekarang ia berusaha membuatnya.
Dan dengan gilanya ia membuat bolu pandan yang kemudian ia iris tipis dan dimasukan kedalam box makan siang dan dicampuri fla stroberi diatasnya, lalu ia timpa dengan bolu pandan lagi dan ia siram fla dengan perisa vanilla, begitu seterusnya hingga penuh. Sentuhan terakhir ia menaburkan keju parut dan potongan buah stroberi.
Ia sepertinya mencoba membuat dessert yang sedang popular saat ini, namun di ganti dengan seleranya sendiri.
Setelah selesai dengan acara memasaknya ia menelepon Zia untuk mengajak semuanya kemari.
"Zi, ajak anak-anak kesini ya lagi masak banyak aku butuh komentar kalian"
"...."
"Emm iya, Risa pasti sibuk kerja sama suami aku sih ya, yaudah gak papa kalian aja"
"..."
"Buruan ya, awas beneran jam satu lo, jangan telat!"
Akira menutup panggilan telepon setelah mendengar jawaban dari seberang.
Ia mengambil satu box dessert yang sudah ia buat tadi dari lemari pendingin dan berinisiatif membawakannya untuk suaminya, sembari menunggu teman-temannya datang.
Dengan diantar supir, ia sampai juga di kantor suaminya, dengan anggun ia melangkah menuju ruangan sang suami tanpa perduli tatapan para pegawai perusahaan yang memperhatikannya.
'Istri presdir kesini lagi, apa nanti bakalan ribut sama cewek lagi ya'
'Itu istrinya? bukan Rayrin yang model itu pacar presdir ya?' ucap seorang karyawati.
'Hush, kamu anak baru, tuan muda itu sudah menikah asal kamu tau' sahut seorang lelaki.
'Udah jangan ngomongin, nanti ketauan sekertaris Gio kena perkara kalian'
Kurang lebih begitu kasak-kusuk yang terjadi saat Akira melenggang dengan anggunnya.
Tapi ia masa bodoh lah, memang apa pentingnya omongan mereka.
Ia menuju meja sekertaris yang biasa di isi dua orang sekertaris perempuan.
"Nona, silahkan langsung masuk saja, tuan masih belum kembali dari meetingnya" ucap salah satunya sebelum Akira bertanya.
"Baiklah kalau begitu" sahut Akira sekenanya, dan memasuki ruangan suaminya yang bisa dibilang terlalu luas, ia menjatuhkan bokongnya disofa dan meletakan kantung berisi makan siang di meja.
Tak berselang lama pintu terbuka menunjukan sosok suaminya dan sekertarisnya yang mengekori.
"Ki, kamu disini?" tanya Farid bingung.
"Iya, bawain makan siang tadi sekertaris didepan bilang aku langsung masuk aja, gak apa-apa kan?" tanyanya was-was.
"Nggak apa-apa kok, yaudah mana makan siangnya?" tanya Farid yang langsung ditarik Akira untuk duduk disofa bersamanya.
"Nih cobain ya, aku baru buat tadi" ucapnya sambil mengeluarkan dessert yang ia coba buat tadi dengan referensi dari makanan yang sedang popular saat ini.
"Emm, sekertaris Gio mau ikutan makan? Ikut aja sini" ajaknya yang mendapat pandangan tak suka dari Farid.
"Gio bisa makan di kafetaria, cuma aku laki-laki yang boleh makan masakan kamu" ujar Farid posesif.
"Iya nona, saya permisi" ucap Gio yang melenggang pergi kemudian.
Padahal sebenarnya dia mau saja, tapi bosnya itu pelit sekali berbagi makanan yang istrinya masak.
"Dessert? Enggak ada nasi sama sayur gitu, laper banget aku padahal" celetuk Farid kecewa, menyadari makanan yang dibawa Akira.
"Ada kok jangan nangis gitu, aku sempet masakin tadi" ledeknya sembari mengeluarkan sekotak nasi dengan udang asam manis dan tumis kangkung.
"Wah makin berani kamu ledekin aku ya" ucap Farid dengan mata menyipit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Akira sehingga membuat Akira gelagapan.