Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 26



"Hallo!" sapa lelaki itu dengan kaku, sangat kaku. Pun dengan wanita di depannya yang juga tak tau mau bagaimana. Jarak dan waktu membuat segalanya jadi hancur. Hubungan mereka yang tadinya sangat dekat bagai saudara kandung, seolah lenyap ikatannya.


"Duduk sini!" pinta Akira menunjukkan bangku di depannya pada sahabat lamanya yang masih berdiri canggung di depannya.


"Emma! Bawain minuman ya, jus mangga dan kopi hitam." Akira berteriak melambaikan tangannya pada salah seorang pegawainya yang terlihat di pandangan matanya.


"Kamu masih suka kopi kan?" tanya Akira yang sukses membuat Deanno gugup.


Masih sama seperti dulu, selalu ingat hal kecil apapun tentang orang terdekatnya.


"Apa kabar?"


"Baik. Kamu gimana?" tanya lelaki itu dengan banyak kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti wanita di depannya masih terpuruk atau hal tersedih lainnya berkelebat dalam pikirannya, tapi...


"Sehat dan bahagia!" jawab wanita itu dengan menampilkan kedua belah lesung pipinya yang selama ini selalu membuat hati Deanno meleleh di buatnya.


Akira sedikit aneh, Akira sedikit merasa ini mimpi, karena terakhir kali lelaki di depannya begitu kasar padanya. Tapi mendadak tadi pagi, dengan nomor baru Deanno mengabari dirinya agar bisa bertemu siang ini di salah satu restoran miliknya yang berada di daerah sekitar rumah lamanya.


Hening.


Harus banget ya selalu aku duluan yang cari bahan pembicaraan?!


gerutu Akira dalam hati, Akira benci suasana canggung begini.


"Maaf." ungkap Deanno yang langsung di balas tatapan penuh tanya oleh Akira.


"Kenapa? Oh, pasti karena kejadian di pesta sama karena kamu jauhin aku ya? It's okay, aku hargai keputusan kamu untuk enggak mau dekat sama aku lagi." jawab Akira lirih dengan hatinya yang tak rela. Biar bagaimanapun, lelaki di depannya ini dulu yang selalu mendengar keluh kesahnya.


"Bukan itu."


"Terus?"


Deanno diam sejenak, membiarkan Emma menyajikan minuman mereka baru setelahnya ia mulai melanjutkan.


"Ada hal lain, aku punya kesalahan besar dan mungkin setelah ini justru kamu yang gak akan mau lagi bertemu aku."


Deanno memejamkan mata sejenak, mempersiapkan hatinya, mentalnya, mata bahkan telinga untuk mendengar cacian Akira nanti.


"Ya?"


"Kamu keguguran karena aku." ungkapnya dengan mantap, dengan satu tarikan napasnya, namun tangannya terus bergetar.


"Aku penyebab keretakan rumah tangga kamu, aku, aku cowok pengecut yang mencintai kamu dalam diam tapi sialnya aku yang menghancurkan kamu, pun dalam diam juga."


Sudut bibir Akira terangkat, ia tersenyum miring. Kejutan apa lagi ini?


"Kamu ini enggak lucu, haha..mendadak ngelawak." Akira memegangi kepalanya sambil menertawakan lelaki di depannya.


"Aku serius, aku--"


"Bercanda kamu, enggak lucu, aku keguguran ya karena kesalahan aku dan suami aku yang enggak hati-hati, rumah tangga aku retak itu karena... ya pokoknya bukan karena kamu!"


"Kenyataannya adalah itu karena aku, itu sebabnya aku takut ketemu kamu, aku menghindari kamu karena aku merasa bersalah." ungkap Deanno dengan nada yang ia tekan di setiap katanya agar sahabat yang ia cintai itu bisa serius mendengar pengakuannya.


"Kak ini enggak lucu sama sekali, omong kosong kamu ini enggak bisa di percaya, kepala kamu abis kebentur apa sih? Mending ngopi dulu deh kamu biar gak ngelantur."


Deanno melongo mendengar penuturan Akira yang biasa saja sejak tadi, padahal ia sangat ketakutan dan gugup saat akan mengungkapkan hal itu.


"Ra, aku serius."


"Kak, ngopi dulu deh!" Akira tetap mengalihkan pembicaraan Deanno.


"Akira, please! "


"Kak, lebih baik kita ngomong yang lain deh, udahan ya bercanda nya."


"Akira!"


"Kamu enggak jago sandiwara, tauk!" seloroh Akira.


"Ra, aku serius dengerin aku, semua penderitaan yang kamu lalui itu karena a--"


"Deanno!" mendadak Akira menyebutkan namanya dengan nada tinggi.


"Aku kira kamu ajak aku ketemu mau baikan mau kasih aku penjelasan, kenapa malah omong kosong terus sih yang aku denger dari kamu, serius dong!" bentak Akira yang kini pun hatinya mulai resah.


"Iya aku emang mau jelaskan semuanya, kalau aku yang bodoh ini kerja sama dengan Rayrin untuk pisahin kalian berdua, maafin aku, Ra."


"Aku ada urusan, lain kali kita ngomong kalau kamu udah waras!" tekan Akira pada kata terakhir, lalu meninggalkan Deanno yang jadi gila sendiri karena semuanya sia-sia.


Entah ia harus bersyukur atau malah sebaliknya.


"Apaan sih tuh orang, aneh banget baru juga ketemu bukannya jelasin kek kenapa kabur-kaburan, ehh malah ngacau!" gerutu Akira sambil terus memasukkan barang belanjaannya ke dalam keranjang.


Ia terus berjalan mencari apa yang ia butuhkan, menuju kasir, membayarnya lalu keluar dari supermarket masih dengan wajah murung dan mulut yang masih menggerutu pelan nyaris tak terdengar.


Saking sibuknya menggerutu ia sampai tak sadar kalau dari tadi ada seorang perempuan yang terus memanggilnya, baru saat ia mau memasuki mobilnya si perempuan berlari menghampiri Akira.


"Kamu, Akira kan?"


"Eh?"


"Kakaknya suami aku?"


"Iya, Fiora. Bisa kita ngomong?


Seketika itu juga, Akira langsung berdebar tak karuan, karena saat pernikahan dulu tatapan Fiora itu persis dengan tatapan mata mama mertuanya yang seolah tidak suka.


"Boleh, tapi dimana gak mungkin kan mau ngomong di parkiran."


Dan mereka berakhir di rumah, Akira beralasan bahwa ini sudah hampir sore, ia harus segera bergegas pulang dan menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Benar saja, ia sampai rumah pukul lima sore,


"Kakak silahkan mau ngomong apa?"


"Dengan keadaan begini?" tanya Fiora tak yakin sebab sekarang dirinya duduk di salah satu kursi yang biasanya di gunakan pelayan rumah untuk duduk dan makan sedangkan Akira sedang sibuk memotong sayuran.


"Iya, karena kalau gak gini nanti suami aku telat dong makan malamnya." sahut Akira yang membuat Fiora kagum sebenarnya, karena Akira seperti seorang istri ideal. Banyak pelayan di rumah ini, tapi Akira memasak sendiri makanan untuk suaminya.


Ataukah mungkin Akira memang sosok istri ideal bagi adiknya? Buktinya, Farid tidak pernah mau meninggalkan Akira padahal mamanya selalu bersikeras.


"Kamu cinta Farid?"


Akira tersenyum, menghentikan kegiatan memotong wortelnya, lalu kemudian tertawa renyah.


"Sebelum dia, aku lebih dulu cinta sama adiknya, kak Fio itu, hehe.. "


Akira berusaha sebisa mungkin agar suasana tidak dingin, karena Fiora itu sama datar nya dengan sang suami.


Bahkan lebih parah dari Farid mungkin, tingkahnya saja seperti baru kenal.


Eh memang baru kenal sih, soalnya kan selama ini cuma pernah ketemu aja, kenal sih kagak!


"Cinta orangnya atau uangnya?" tanya Fiora sedikit mencibir.


"Keduanya, kalau bisa, tapi sayangnya aku lebih cinta Farid, kalau uangnya aku cuma suka enggak cinta."


jawab Akira nyeleneh.


"Tck, apa bedanya, kamu tau karena siapa mama di gugat cerai papa?"


"Ya salah mama sendiri lah!" bukan suara Akira, suara Farid juga bukan, karena itu suara Farell.


"Farell!!" sebut dua wanita itu serempak.


"Kamu apaan sih, datang-datang langsung nyeletuk gak sopan kaya gitu?"


"Aku cuma jawab pertanyaan kakak aja, bukan salah kakak ipar lagi, kalau itu salahnya kakak ipar, kak Farid pasti udah marahin kakak ipar sejak kemarin, aku tau kakakku yang satu itu enggak pernah salah menilai dan mengambil keputusan."


"Cerewet! Nggak butuh ocehan anak remaja tanggung kaya kamu, ganti baju sana, terus pulang ikut kakak!"


"Males, enakan juga disini, kak Akira asik, gak kaya kak Fiora, kaku kaya kanebo kering!" ejek Farell yang langsung di hadiahi pelototan tajam dari Fiora.


Farell langsung berlari menuju kamarnya saat itu juga, bukan karena takut sih, tapi Farell sadar ia tidak perlu ikut campur dulu.


"Kenapa semua laki-laki di keluarga kami memihak kamu? Kamu main dukun?" nada Fiora itu tenang, tapi dalam ucapanya mengandung sesuatu yang mampu menyengat hati Akira.


Akira menengok sejenak ke arah Fiora duduk dan kembali mengaduk tumisan bumbunya di wajan.


"Mana mungkin? Yang jelas mereka tau aku enggak salah, mereka cuma membenarkan yang benar, bukan menyalahkan yang benar."


"Aku nggak pernah suruh kamu jauh dari adik aku, tapi kalau keberadaan kamu ini mengancam mama aku, aku gak terima."


"Aku nggak pernah mengancam mama kak, justru malah sebaliknya." balasnya sambil memasukkan sayur mayur ke dalam wajannya.


"Kamu!"


Tepat pada saat itu suara deru kendaraan terdengar di telinga Akira.


"Bi, tolong ini nanti tata di meja makan ya!" titahnya pada Tuti yang kebetulan baru saja memasuki dapur.


Ia langsung berlari ke depan, menyambut suaminya yang baru saja pulang disaksikan pula oleh Fiora yang ternyata mengikuti langkahnya.


"Siniin jas sama tasnya!"


Farid mengecup kening Akira sekilas,


"Jangan, biar Wisnu aja."


"Yang istri kamu aku apa Wisnu, biasanya kan juga gitu." ucap Akira setengah merengek.


"Yaudah iya, aku lelah, aku butuh mandi." ucap Farid sambil merangkul pinggang sang istri dan menjatuhkan dagunya pada bahu istrinya.


Saat akan melewati tangga, Farid merasa ada yang berbeda, seperti ia menangkap sosok lain di ruang tengah miliknya, yang memang berdekatan dengan tangga.


ish ish iishhh keyboard nya kek monyetttttt


ayo hargai usaha aku buat update dengan terus vote dan komen hayoooo


masih mau lanjut tapi keyboard nya lagi eror parahhhhhh hueee nyebelin.