Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Baby Series : 42



Ada yang nunggu?


Aku lagi semedi di instagram gengs haha


Yok yok sajennya, jangan lupa oke?


"Mas, pindah yuk!" lagi dan lagi Akira mengajak untuk pindah.


"Nggak bisa sayang." jawab Farid sekenanya.


"Ih mas! Sebel aku tuh, sekarang kakak aku jadi ikutan resek!" ujarnya sebal, Farid mengusap kepalanya lembut, berharap usapannya mampu menenangkan kepala istrinya yang penuh api itu.


"Kalau kita pindah, mereka gak akan bisa ikut campur masalah rumah tangga kita! Sebenarnya yang nikah tuh aku sama kamu atau kakak sama mama kamu sih!" ocehnya yang membuat Farid terkekeh pelan. Akira yang cerewet akan selalu cerewet dan berisik, hanya pada saat tertentu, wanita itu akan bersikap diam dan dewasa. Contohnya, saat Akira marah benar-benar marah seperti waktu itu.


"Sudah... kasian adik bayi kita kalau mamanya marah-marah." bujuk Farid sembari mengelus lembut perut rata itu.


"Oh iya! Kalau nanti dia lahir, dia panggil aku apa yah bagusnya?" ucap Akira yang mendadak antusias. Ia menatap berbinar suaminya yang langsung merespon pertanyaannya dengan langsung memikirkan jawaban atas pertanyaannya.


"Apa ya? Mama bagus, atau Mommy?" usul Farid.


"Bunda saja gimana, terus panggil kamu ayah, jadi kerasa keluarga harmonis yang lembut!"


"Terserah kamu, yang penting kamu nyaman."


"Aku nggak sabar deh, nunggu dia tumbuh besar di perut aku, aku gak sabar buat belanja keperluan baby, terus liat dia yang kecil lahir ke dunia ini." cerocos Akira sambil menjatuhkan kepalanya ke dada Farid yang tengah berbaring nyaman di ranjangnya.


"Yaudah, kita lakukan sekarang saja, besok kita beli keperluan baby."


"Serius?!" sahut Akira antusias, tapi segera ia membuang napas lesu, "Mas, kata orang, kalau perutnya belum besar belum boleh belanja keperluan baby."


"Masa? Siapa bilang?" dengan tangan yang setia mengusap kepala sangat istri.


"Ya.. kata orang mas, katanya gitu!"


"Terus kamu percaya?"


"Ya percaya nggak percaya lah!" sahut Akira yang sukses membuat tangan Farid berpindah dari atas kepala ke dahinya dan menyentil pelan di situ.


"Ih, kok di sentil!" protesnya sambil menyentuh tempat yang di sentil suaminya.


"Ya kamu, jadi orang gampang banget percaya sama orang lain, gampang di bodohi dong!"


"Kamu kok gitu sama aku, nyebelin!" cebik Akira yang mengundang tawa Farid.


"Aku perlu tanya sama tante Marisa." ucap lelaki itu dengan risau. Ia gelisah sendiri saat mendengar tuduhan dari Rita.


"Kalau perlu, tante Marisa harus pulang!" putusnya, sambil menimang-nimang teleponnya.


"Harus sampai gitu ya mas? Bukannya tante Marisa gak mau balik ke Indonesia?"


"Ya harus mau, ini tentang keharmonisan antar keluarga, itu perempuan tua harus di bungkam mulutnya biar tidak sembarangan, dan tante Marisa pasti tau semua yang sebenarnya!" Matteo tetap ngotot untuk membawa pulang tantenya itu, sebab hanya ada tantenya yang tau tentang masa lalu dengan jelas.


Ia yakin, memang siapa yang paham sesuatu di masa lalu dengan jelas kecuali orang dari masa lalu itu sendiri?


***


Tokyo, Jepang.


Kris tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak sukanya saat seorang perempuan tiba-tiba hadir di dalam penthouse miliknya dengan sangat tidak tahu malunya.


"Kenapa aku harus malu, aku cuma mengunjungi teman masa kecilku." ujar perempuan berwajah kecil dengan mata agak sipit khas gadis Jepang. Cantik dan berkulit putih bersih, hidungnya kecil namun tetap bangir, bibir kecilnya sangat manis dengan warna merah muda alami yang terlihat glossy.


"Haruka, please... aku butuh waktu sendiri saat ini, pulanglah!" usir nya, dengan tampang tidak perduli, menatap langit malam tanpa melihat ke arah Haruka yang ada di sebelahnya.


"Kenapa sih! Aku kan cuma berkunjung, sudah lama kan kamu tidak ke Jepang, kita juga harus dekat, kan paman dan bibi menjodohkan kita." ujarnya seolah sedang menyarankan kedekatan mereka.


Kris memutar bola matanya malas, mata tajam yang agak sipit itu beralih menatap Haruka dan memandang perempuan itu serius.


"Belum resmi, Haruka. Ibu dan Ayah memberi aku pilihan." ucapnya lalu kembali pada posisi semula.


"Kamu enggak kasihan sama orang tua kamu? Mereka berharap kamu segera menikah, sedangkan kamu?"


"Bukan urusan kamu!" lalu berlalu dari hadapan Haruka, segera ia meninggalkan perempuan itu sendirian di dalam penthouse nya. Membiarkan, Haruka di teras balkon, menatap kosong jejak yang baru di lalui Kris.


Kris itu teman masa kecilnya, mereka berpisah saat Haruka di bawa ke Jepang, mereka sangat dekat, hingga ketika SMP ayahnya membawa dirinya ke Jepang. Uniknya, Kris dan Haruka sama-sama memiliki darah orang Jepang yang mengalir dalam darah mereka, ayah Kris dan ayah Haruka sepasang sahabat yang berasal dari Jepang dan sama-sama menikahi perempuan Indonesia.


Awalnya, Haruka tidak mau menerima perjodohan, namun setelah melihat wajah Kris dari foto yang di kirimkan oleh pamannya, apalagi setelah melihat langsung, ia jadi ingin menerima pria itu, sangat tampan.


Garis wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, mata menyipit tajam milik lelaki itu yang mampu memerangkap dirinya dalam pesonanya. Haruka, ingin Kris!



Ku langsung terbayang Kris Wu.


ex-EXO.