
Likenya sedikit banget, aku mau up jadi gimana gitu, berasa ceritanya udah gak laku wkwk, yaudahlah yang penting nulis sampe selesai.
"Ra, nggak bosen disini?" tanya Rey dengan wajah menghadap Akira dengan rambut berterbangan di terpa angin sore.
"Nggak, disini nyenengin, cuma jadi kangen sama jajanan sana."
"Ya ampun, yang di kangenin makanan." cibir Rey sembari mengusak rambut Akira dengan gemas, Akira memejam menikmati usakan gemas itu sembari tertawa. Normalnya, seorang wanita akan kesal karena rambutnya berantakan jika di usakan seperti itu, tapi Akira berbeda. Tentu saja.
"Kamu emang gak papa kesini terus?" tanya Akira, sebab sudah tiga hari berturut-turut Rey selalu mengunjunginya, padahal kesana-kesini kan jauh. Agar sampai pagi, harus berangkat pada pagi buta, jika berangkat pagi, akan sampai pada siang atau menjelang sore.
"Nggak papa, nemenin kamu." sahut Rey menatap penuh arti, membuat Akira jadi gugup sendiri, Akira bukan wanita sok bodoh yang tidak peka, ia selalu peka dengan perasaan lelaki yang mendekatinya, hanya saja ia memilih tidak menganggap kepekaannya agar tidak terjadi kecanggungan.
Tapi, jika Rey terus begini, ia jadi takut tidak bisa mengendalikan lelaki itu untuk terus mendekatinya.
"Kok diem?" celetuk Rey, yang menyadarkan Akira kembali dari pikirannya.
Akira menggeleng pelan sebagai jawaban, baiklah anggap saja kedekatan dengan teman sama seperti saat dengan Dean, pikir Akira.
Ah, ngomong-ngomong apa kabar Dean sekarang?
"Rey, aku ikut pulang sama kamu,boleh?"
"Kenapa tiba-tiba, katanya tadi betah?"
"Ada sesuatu yang ingin aku pastikan." jawabnya menatap Rey penuh harap, Rey yang pada dasarnya memang lemah terhadap Akira, mengangguk setuju kemudian.
"Okey, siap-siap saja."
***
"Kak, aku mau pulang, kalau kakak masih mau disini, disini aja aku ada perlu soalnya." pamitnya pada kedua kakaknya.
"Yaudah, hati-hati, selesaikan urusan kamu sampai tuntas jangan begini." pesan Ariana, pasti kakak iparnya itu berpikir ia akan mengurus Farid.
Sudahlah, Akira malas mengurusnya, ia saja masih bingung, apa mau lelaki itu.
Farid pikir memberi Akira waktu dengan tidak menemuinya adalah hal yang tepat, namun sudah dua kali ia melakukan itu, ia selalu kecolongan, Rey lelaki yang tampak biasa saja, namun berbahaya untuk posisinya di hati Akira.
Demi apapun, Farid tidak akan membiarkan dirinya kalah dari siapapun, termasuk Rey yang hanya bocah ingusan menurutnya.
Ia mendengar dari laporan anak buahnya bahwa Akira akan pulang dari sana, itu artinya ia tidak perlu takut di serang Akira dengan berbagai umpatan karena terus mengganggu wanita itu, karena Akira sendiri yang datang.
Maka dari itu, Farid menunggu kedatangan Akira, namun tidak juga ia rasakan kehadiran wanita itu.
"Gio, kamu yakin dia mau pulang?" tanya Farid tak sabar.
"Yakin, Tuan kami sudah meletakkan alat penyadap di seluruh sudut ruangan rumah Nona, dan yang kami dengar kakak iparnya bicara tentang menyelesaikan masalah disini, sudah pasti Nona akan pulang kemari." jelas Sergio tanpa keraguan.
Sergio, benar-benar totalitas, ia memasangkan penyadap bahkan tanpa sepengetahuan dan perintah, Tuannya.
Farid menggukan kepalanya mengerti.
Senyum terpatri di wajah tampan Farid, akhirnya ia akan bertemu dengan istrinya, istri yang sudah lama ia rindukan, harusnya setelah menyatakan cinta mereka berakhir bahagia, tapi Akira memang beda, berurusan dengan wanita seperti Akira akan berbeda dengan wanita semacam Rayrin, bukan?
Ia memandang bingkai foto yang menunjukkan foto Akira yang beberapa waktu lalu ia pajang, senyum manis wanita itu membuatnya ikut tersenyum, tanpa perduli tatapan aneh dari sekretarisnya yang masih setia di ruangan itu.
Sudah lama dari waktu yang diperkirakan, namun Akira belum datang juga ke rumah ini, ia semakin tak yakin karena harusnya Akira sudah sampai jika berangkat sejak semalam, paling tidak ia akan sampai di pagi hari jika bukan dini hari.
Farid memutar-mutarkan kursinya dengan jari yang berjentik gelisah karena yang ia tunggu tidak hadir juga.
Pintu di ketuk, Sergio mempersilahkan salah satu anak buahnya masuk.
Lelaki dengan pakaian serba hitamnya itu menunduk memberi salam kepada Farid, lalu mulai bersuara.
"Maaf, Tuan. Sepertinya, kami salah pengertian."
"Apa maksudmu?!" sentak Sergio yang segera di hentikan Farid dengan tangan yang terangkat keatas.
"Lanjutkan." katanya dengan wajah yang bisa di bilang menyeramkan, datar, tanpa ekspresi dengan mata seolah akan menusuk siapapun yang melihatnya.
"Nona, bukan akan kesini, dan perlu yang beliau maksud bukan Anda, tapi ia menemui temannya." jelas lelaki itu sampai selesai dan lugas meski ada rasa takut yang merambat dalam jiwanya.
"Teman?Apa teman yang biasanya, pulang kemana dia?"
"Tuan, soal itu,"
"Apa kau tidak tau? Untuk apa aku membayar mu jika kau tidak tau apa-apa dengan sempurna?!" gertak Farid dengan telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja kerja bersamaan dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya.
Lelaki itu langsung gelagapan dan berusaha membuka mulutnya, "Nona, akan menemui seorang pria bernama Dean dan sekarang beliau di rumah keluarganya."
Bersama dengan selesainya kata-kata anak buahnya, kepalan tangannya menggebrak meja dan menimbulkan suara keras yang mengagetkan kedua bawahannya.
"Beraninya kalian memberi informasi yang tidak jelas kebenarannya dan membuat aku berharap!" geramnya tertahan.
Farid marah, tentu sangat marah, ia sudah kesal karena cemburu dan sekarang ia hanya mendapatkan harapan kosong yang di berikan anak buahnya.
Astaga, kemana para bawahannya yang sangat profesional itu?!
Keduanya, langsung bergidik ngeri mendengar Tuan mereka sedang menahan emosi, sebab emosi Farid sudah lama terpendam saat tahu betapa kurang ajarnya Rey yang terus menemui wanitanya.
Jika emosi yang di tahan lama ini meledak, habislah mereka.
***
Melakukan perjalanan malam memang bukan pilihan yang bagus, ia bahkan merepotkan Rey yang kini tengah beristirahat di kamar tamu rumahnya karena menyetir hingga dini hari, tapi bukan Akira namanya jika tidak nekad dan segera memenuhi rasa penasarannya.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi dan ia baru saja bangun, jelas saja itu karena ia lelah sebab perjalanan jauh. Jika ia saja lelah bagaimana dengan Rey?
Lelaki itu menyetir semalaman, pasti sangat lelah, ah, Akira jadi merasa bersalah.
Ia harus melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya nanti.
Ia turun kebawah dan melihat seluruh rumahnya kosong, itu berarti Rey masih di kamar tamu. Ya biarlah, lebih baik ia sekarang membuat sesuatu untuk dimakan lelaki itu.
Rumah yang sudah cukup lama kosong, sudah pasti tidak akan ada sayuran atau ikan. Hanya ada bumbu dapur, telur,dan susu.
Mungkin ia bisa membuat nasi goreng dengan lauk telur mata sapi juga membuat susu.
"Hey, udah bangun?" tanyanya menyapa Rey yang baru saja muncul di dapur sambil menata piring.
"Iya, soalnya aku mencium aroma lezat dan mengikutinya sampai sini." katanya dengan mengibas-ngibas tangannya di depan hidungnya.
"Duduk, sarapan." titahnya pad Rey yang langsung menurut dan duduk di kursi.
Rumahnya bukan rumah Farid yang ruang makan dan dapur terpisah, tentu saja bukan.
Hanya rumah minimalis yang terlihat elegan karena ide yang ia tuangkan untuk rumah ini.q
"Enak banget, jadi gatel pengen buruan jabat tangan." celetuk Rey sembari mengunyah makanannya.
"Maksudnya?"
"Jabat tangan penghulu." celetuk Rey kemudian.
"Apaan sih, gak jelas!"
"Maaf, aku gak pandai ngerayu pake gombal-gombalan gitu, tapi aku pandai dalam hal ngebahagiain kamu." katanya lagi yang membuat Akira terdiam kaku lalu tersenyum paksa sebagai sopan santun.
Haduh, sepertinya ini sudah terlalu jauh, bagaimana jika ia berharap lebih?
Pikir Akira.