Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Decision



Memutuskan sesuatu perlu mempertimbangkan banyak hal, tapi kita tidak bisa hidup tanpa nemilih keputusan - Cotton Candy Zue.


Ayam tetangga sudah berkokok. Namun, matahari masih belum terbangun untuk melaksanakan tugasnya menyinari bumi, tapi Akira sudah mengerjap matanya, rasa lapar mengusik tidurnya ia ingat semalam ia tidak makan malam, setelah selesai dengan mandinya, suaminya tidak melepaskannya.


Waktu menunjukan pukul 3 dini hari, akhirnya, dengan terpaksa ia menyibak selimutnya dan melangkah keluar kamar dan menuju dapur, rasa laparnya sungguh tak tertahankan.


"Ughh, kalau bukan suami udah gue usir dari kamar, cinta juga nggak seenaknya minta jatah dan merenggut hak makan malem gue" gerutunya kesal dengan suara serak khas bangun tidur.


Matanya masih berat walau sudah terhitung 5 jam ia tidur, tapi tubuhnya terasa lelah.


Sesekali matanya terpejam saat mengoles selai pada rotinya.


Sedangkan Farid tak merasakan Akira yang tak ada lagi dipelukannya mulai mengerjapkan matanya melirik sedikit adakah istrinya disampingnya.


Ia langsung terduduk saat tak mendapati istrinya disampingnya, yang ada dipikirannya adalah kemungkinan bahwa Akira kabur darinya setelah membuatnya lengah dengan menuruti hasratnya dan kabur saat ia lelah dan tertidur nyenyak.


Ia berniat keluar kamarnya mencari Akira. Namun, niatnya batal setelah Akira masuk dengan kepala tertunduk dan mata yang setengah terpejam.


"Dari mana?"


Akira mengangkat wajahnya lalu berjalan kembali ke ranjang, manatap wajah suaminya dengan mata menyipit karna kantuk. " Hmm aku, aku makan"


"Makan? Jam segini?"


"Emm" jawabnya singkat, ia suka malas berbicara saat baru bangun tidur karna suaranya sangat serak dan terputus.


"Jawab yang benar Akira"


Akira menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya sebal.


"Iya, aku lapar lupa ya kamu nahan aku disini?" sahutnya lalu merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.


Farid ikut merebahkan tubuhnya kembali dan memeluk erat tubuh Akira, tanpa disangka Akira menepis tangan suaminya.


"Kenapa lagi, hm?"


"Jangan peluk, rasanya sakit disini kamu perhatian, tapi hati kamu gak buat aku" ucap Akira sendu.


"Apaan si Ki, aku itu suami kamu sah juga dimata hukum dan agama"


"Tapi gak sah dimata cinta" sahut Akira bersungut - sungut.


"Tadinya kamu biasa aja deh kenapa sekarang jadi bawel?"


"Bawel pantatmu! Aku biasa aja karna kamu gak nuntut hak kamu, lah sekarang? Sorry, aku gak mau kamu cuma manfaatin aku buat selesaiin kebutuhan biologis kamu, sedangkan diluar kamu sama Rayrin"


"Akira maksud kamu gi-"


"Kalau kamu aja larang aku deketan sama cowok ya kamu juga harus sadar diri, gak boleh deket cewek jangan mau menang sendiri" sahutnya menggebu - gebu.


"Jangan membangkang Akira" ucap Farid pelan berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi karna keberanian istrinya kembali lagi.


"Aku gak membangkang, aku cuma mau kamu putusin aja, udah kalau begitu sama aja kamu mau menang sendiri" jawabnya pelan dan menunduk, karna ia melihat tanda - tanda suaminya akan murka.


"Ah maaf, mana ada kalimat kamu mau menang sendiri, kamu berkuasa kamu selalu menang!" ucapnya sebal dan mencebikan bibirnya.


Farid mengangkat dagu Akira agar gadis itu menatapnya.


"Aku tidak berjanji, aku hanya akan berusaha" jawabnya datar.


"Kalau gak mampu gak usah, gitu aja gak bisa ambil keputusan" sahut Akira kecewa dan beringsut untuk tidur.


Entah dimana kekuasaannya saat ini, ia bahkan tidak bisa menguasai Akira sepenuhnya, ia merasa kalah dengan ucapan istrinya barusan, istrinya yang biasa ia ancam dan biasa ia kendalikan serta takut dengan ucapan datarnya. Tapi sekarang lihatlah, rasa kecewa Akira mengalahkan dirinya.


Tak terasa waktu terus berlalu sudah 6 hari Akira bertahan dengan hukuman suaminya.


Selama 6 hari pula, ia harus bersikap patuh atau hukumannya akan bertambah. Namun, ia tak banyak bicara, ia masih kecewa karna dirinya bukanlah apa - apa, ia dikendalikan tapi untuk membuat keadilan untuk dirinya saja tak mampu sama sekali, ia kalah telak oleh Farid yang berkuasa.


Dan ya selama itu pula sudah tiga kali mama mertuanya datang bersama Rayrin seperti tim pendukung saja.


Wanita tua itu selalu menceritakan kebaikan Rayrin yang seperti tak ada habisnya.


Tapi, sikap Farid sangat biasa tidak seperti diawal, ya dia kadang menghentikan ocehan mamanya kadang ia diam saja seakan membuka pintu masuk untuk Rayrin, dan itu cukup membuat Akira kesal setengah mati.


"Makan yang benar Akira" ucap Farid melihat makanan dihadapan Akira yang sejak tadi hanya diaduk - aduk tanpa minat.


"Gak nafsu" sahutnya datar.


"Jangan mengujiku"


"Kebalik kali" sahut Akira cuek.


Farid menghela nafasnya mencoba bersabar dengan tingkah kekanakan Akira yang sudah mendarah daging.


"Apa yang mau kau makan, bilang saja"


"Nggak ada" sahutnya cuek tanpa melihat ke arah suaminya.


"Akira jangan membuatku marah"


"Tsk, cuma gitu doang marah, harusnya gue yang marah"


"Bicara yang benar" ucap Farid mulai datar dan dingin.


"Kamu itu aneh tau gak, mengklaim aku sebagai milikmu, gak mau ceraiin aku lagi, tapi seenaknya terima perempuan lain" jelas Akira dengan suara serak menahan tangis.


"Stop! Aku tau aku enggak berhak, cuma diri kamu saja yang punya kuasa disini, maaf telah lancang, aku hanya menyuarakan isi hatiku yang tentu tak akan merubah apapun" ucapnya lagi saat melihat mulut Farid mulai terbuka akan menjawab.


"Masih soal itu?" tanya Farid yang tak dijawab oleh Akira.


"Baiklah, aku akan membuang Rayrin jauh jauh dari kehidupanku" ucapnya santai.


Akira membelalak tak percaya.


"Halah bohong, paling ntar dialusin dikit langsung tumbang" cercanya.


"Makannya, jadilah istri penurut agar suamimu tidak berpaling dengan wanita lain" ujar Farid santai.


"Kurang nurut apa coba aku"


"Kau itu nakal, buktinya kemarin kau kabur"


"Ya aku takut punya suami kaya kamu, ngomongnya formal banget lagi udah gitu datar, dingin, egois"


"Mau aku hukum lagi?"


"Jangan dong, baru besok selesai masa udah dihukum lagi sih"


"Ya sudah jaga bicara kamu"


"Salahnya ucapan aku itu dimana?"


Farid melihat Akira dengan mata seolah telah jengah berdebat.


Nyali Akira menciut menyadari tatapan suaminya.


"Aku selesai" ucapnya lalu berdiri dari duduknya.


"Boleh ikut gak?"


Farid menaikan sebelah alisnya bingung.


"Aku bosan terus dirumah" sambungnya lagi.


"Oke, tapi jangan buat masalah" sahut Farid setuju dan segera berangkat bersama Akira.


Hadeeh emang sejak kapan gue bikin masalah yang ada si Rayrin penyihir itu yang bikin masalah gerutu Akira dalam hati.


Diruangan kerja Farid, digedung Earthecnology, Akira mendudukan dirinya disofa yang ada diruang kerja pria itu, dan asyik memainkan ponselnya sembari sesekali berbalas chat dengan Via mengenai perkembangan kafe yang baru buka.


Tiba - tiba layar ponselnya menggelap pertanda akan ada panggilan masuk.


Ternyata, Tina ingin melakukan panggilan video dengannya tapi segera ia tolak mengingat suaminya sedang serius bekerja.


Ia langsung mengalihkan pada grup chat.


Tina


"Woy, kok gak ngangkat"


Akira


"Kenapa, lagi dikantor suami guys ga enak angkatnya"


Risa


Hangout yuk, lama gak ketemu


Akira


Heh lo kok bisa bales, kerja woy inget gue istri bos lo


Risa


Yaelah curi - curi dikit gak papa kali


Tina


Haha kok bisa loh


Yuk ngumpul yang lain mana nih


Zia


Via


Dimana?


Akira


Ntar guys, gue tanya boleh apa nggak


Setelah mengetik pesan terakhir, ia segera mengalihkan pandangannya pada suaminya yang tampak sangat serius, dia jadi takut mau izin apalagi tadi pria itu berpesan agar tidak mengganggu.


Hmm dia emang paling ganteng kalau lagi serius gumamnya dalam hati sembari mengulas senyum tipis.


"Biasa saja lihatnya, aku tau aku tampan" ucap Farid tiba - tiba.


"Hah, siapa aku dimana?" sahut Akira ngawur sembari pura - pura bingung dengan menengok ke kanan ke kiri.


Farid hanya terkekeh pelan dan melanjutkan pekerjaannya lalu bergumam.


" Gadis nakal" diakhiri sebelah sudut bibirnya yang terangkat.


Waktu menunjukan pukul 12.30, Akira menunjukannya wajah bosan dan lesunya karna lapar.


"Farid, lapar kok malah kerja terus sih gak istirahat" rengeknya.


"Tanggung, sebentar lagi" sahutnya tanpa memandang wajah Akira.


"Alah percuma karyawan banyak, sekertaris tiga tapi tetep aja sibuk" cibir Akira pelan.


Farid menggelengkan kepalanya heran ia sepertinya membawa anaknya bukan istrinya. Ia segera meraih gagang telepon yang ada dimeja kerjanya.


"Gio, masuk ke ruanganku sekarang, tanyakan apa yang mau dimakan oleh istriku"


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dengan segera Farid menyuarakan kata masuk. Tapi bukan Gio yang terlihat melainkan lagi dan lagi Rayrin diikuti syukurnya dengan Gio dibelakang perempuan itu. Farid memijit pangkal hidungnya perlahan sepertinya akan terjadi sesuatu lagi.


"Mau apa kau kemari, Gio kenapa kau bawa Rayrin apa aku menyuruhmu?" ucap Farid jengkel, sedangkan Akira hanya menatap bingung dengan mencebikan bibirnya kesal.


"Maaf Tuan, tadi saat saya akan masuk Nona Rayrin menerobos untuk ikut masuk"


"Kenapa profesionalitasmu berkurang sih"


"Maaf Tuan, Saya ceroboh"


"Emang kenapa Far, kemarin - kemarin juga biasa aja, kamu udah maafin aku kan kita juga jalan bareng, terus kamu gak nolak ci-"


"Gio urus dia" potong Farid, ia takut akan terjadi sesuatu yang menghebohkan jika mulut Rayrin melanjutkan ucapannya.


"Loh kenapa, aku kesini mau ajak kamu lunch sekarang udah jamnya kan, jangan kerja terus dong" sahut Rayrin masih belum menyadari keadaan dan dengan santainya menghampiri Farid dan menggandeng tangannya dan menariknya pergi.


Farid tak bereaksi ia mulai bingung sampai akhirnya Akira bangkit dari duduknya.


"*****! Tadi gue ngajak diem aja giliran ditarik sama nyai grandong langsung gak berdaya!"


Rayrin tersenyum penuh kemenangan mendengar umpatan Akira dan meliriknya sinis.


"Akira jaga bi-"


"Apa? Mau belain dia, gak usah buka suara kalau buat belain dia dihadapan gue, busuk tau gak omongan lo yang mau berusaha jauhin tu nyai grandong!"


"Akira!! Jaga ucapan kamu!" bentak Farid.


Akira kaget mendengarnya dan segera melangkah keluar sebelum air matanya jatuh.


"Shit!" umpat Farid menepis tangan Rayrin dan keluar mengejar Akira mengabaikan protes Rayrin karna ia tinggalkan.


"Akira berhenti atau - "


Akira behenti dan membalikan tubuhnya dengan kasar saat langkahnya sampai diluar pintu masuk.


"Apa? Mau mengancam? Kamu tuh ya egois, aku cuma mau keputusan kamu supaya itu adil buat aku, kalau kamu boleh larang aku gak deket sama teman laki - laki aku, ya kamu juga gak boleh terlalu dekat sama Rayrin, udah itu aja biar dalam pemaksaan kamu aku tetap merasa ada keadilan buat aku, tapi kamu gak bisa, malah suka banget belain dia" cecar Akira panjang lebar.


"Aku gak bela Rayrin, tapi ucapan kamu tadi itu sangat kasar Kira" sahut Farid mencoba melembutkan nada suaranya.


"Aku mau pulang, males liat kalian berdua"


"Yaudah sama Gio"


"Gak mau"


"Oke, sama aku ayo kita pulang"


"Maunya sendiri" ketus Akira.


"Jangan menguji aku Akira"


"Tuh kan masih gak bisa kasih keputusan malah nyalahin aku kesannya"


"Heh cewek gak jelas, ya jelas Farid milih gue orang lo aja kasar dan kekanakan gitu" cibir Rayrin yang sejak tadi hanya menonton.


"Gio, aku sudah bilang urus dia"


"Maaf Nona, Anda silahkan pergi dari sini"


Disaat mereka berdebat karna Rayrin yang sulit diusir dan Farid mulai lengah, Akira melangkah pergi.


"Damn it!" umpatnya kesal ia tidak rela Akira pergi sendirian dan berakhir seperti kemarin bersama Valen dan Deanno rasanya ia ingin meledak karna marah melihatnya.


"Gio, perintahkan penjaga dibawah agar tidak membiarkan Akira keluar selangkahpun!"


ujarnya dan berlari menuju lift.


Akhirnya, ia menangkap sosok wanitanya yang sedang berdebat di lobby karna tak bisa keluar dari sana.


"Akira!"


"Huh, apa lagi aku gak lawan nih, aku biarin kamu sama Rayrin"


"Aku tambahin nih hukumannya"


"Kok ngancem lagi" pekik Akira kencang.


"Yaudah diam, dan ikut aku katanya kau lapar hm?"


Akira tampak diam menimbang - nimbang semua yang terjadi.


"Oke, aku gak akan mendekati Rayrin lagi, sama sekali tapi kau jangan seperti ini dan kembali dengan pria lain"


"Are you sure? Seriously?"


"Sure, baby"


Akira merasakan debaran kuat dijantungnya mendengar ucapan Farid yang terdengar menggelikan.


"Aku mimpi gak ya?"


"Tidak sayang"


"Ih serius, kamu gak mungkin semanis ini sama aku kan?!"


Farid terkekeh pelan dan tersenyum lembut menatap Akira.


"Sudahlah, terima dan menurutlah maka aku tak akan menghukum dirimu"


"Hmm iya"


"Dan jaga mulutmu itu, bagaimana kau bisa berkata sekasar itu"


"Ya orang emosi gak bisa ditahan"


"Oke sudah, ayo pergi" sahut Farid menyerah dengan perdebatan dengan Akira dan menggandeng tangan Akira keluar dari sana.


Akira menghentikan langkahnya padahal baru saja mereka sampai diparkiran.


"Kenapa lagi?" tanya Farid.


"Promise?"


"Hah?"


"Tuh kaannn" kali ini Akira memekik kesal dengan kencang.


" I wanna you to promise with me!"


"Iya aku janji, apa lagi hm ayo ngomong"


"Udah, beneran ya?" tanya Akira menyelidik.


"Iya beneran" sahut Farid dengan nada meyakinkan.


Rasanya aku masih tidak percaya, aku tak mau terlalu percaya diri dengan menganggapnya cemburu sehingga melakukan ini semua sebelum dia yang mengakui sendiri, tapi entah kenapa aku rasa dia cemburu, ah sudahlah Akira yang penting dia sudah mengambil keputusannya.


batin Akira.


Entahlah, aku tidak tau apa yang terjadi padaku yang malah menuruti ucapan konyolnya, sekarang aku hanya ingin Akira didekatku bukan didekat pria lain, aku tak tahu apa aku cemburu, yang jelas aku tak suka melihat itu, persetan dengan Rayrin batin Farid.


---------


Jadi mereka saling membatin guys akhirnya


Seperti biasa vote, like and comment yaa😊