Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Spoiled



Hari ini gemericik air hujan membasahi bumi, hal ini dimanfaatkan oleh Akira untuk menahan Farid agar tetap berada dirumah.


Entah kenapa ia sangat tidak ingin ditinggal oleh suaminya.


"Waah, hujannya awet banget kamu gak bisa ke kantor dong?" ucap Akira sambil membawakan jas sang suami yang akan dikenakan kerja.


"Bisa lah kan pakai mobil perginya" sahut Farid membuat wajah Akira yang sedang memakaikan Farid jas, jadi cemberut.


"Yah hujan gini enaknya itu dirumah aja tau kamu malah kerja" ujar Akira bersungut - sungut.


"Aku kerja juga buat baby boy, iya kan boy?" ucap Farid sambil mengelus perut Akira.


"Kerjanya jangan lama - lama ya, ntar siang pulang" pinta Akira dengan wajah lesu.


"Mana bisa pulang di jam segitu?" tanya Farid seolah tak setuju.


"Katanya kamu itu bosnya, lagian kamu itu selalu sibuk, sampe lupa makan sekali - sekali bolos gitu"


Farid terkekeh pelan. "Tumben, biasanya gak begini kamu, lah ini kenapa?" heran Farid, karna setaunya Akira tidak pernah menyuruhnya membolos kerja seperti sekarang.


Akira hanya mendesah pelan dan melirik perutnya.


"Dia itu buat aku seakan gak sanggup kalau kamu gak ada dideket aku" jawab Akira lesu.


Seolah mengerti, Farid mengambil ponselnya yang berada disaku celananya, dan segera menghubungi Gio. "Gio, handle semua pekerjaanku dikantor,hari ini aku tidak pergi ke kantor" ucapnya lalu menutup telepon setelah mendengar jawaban Gio diseberang sana.


Farid segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Ia mencoba untuk terus melakukan apa yang istrinya mau akibat kehamilannya tanpa protes, tahu sendiri kandungannya lemah dan jika Akira stres hanya karna Farid tidak mau menurutinya bagaimana?


Akira tersenyum puas mendapatkan suaminya menuruti keinginannya. Ia senang karna suaminya selalu tulus melakukan segalanya untuknya sejak kehadiran si baby.


.


.


.


.


Farid hampir frustasi karna sejak tadi Akira tidak mau makan makanan yang ada dimeja makan padahal perempuan itu belum makan siang dan hanya meminum susu dan roti untuk sarapan, sebab setiap Akira memakan yang lain ia akan mual. Dan sekarang, perempuan itu sedang sibuk membujuk Farid untuk memberikannya mie instan, sedangkan Farid sangat tidak mau Akira memakan makanan itu apalagi istrinya itu sedang mengandung, bagaimana jika kandungan tidak baik dalam mie instan akan membahayakan bayinya? Farid sungguh terlalu protektif pada mereka.


"Akira, itu gak bagus buat kamu, kamu lagi hamil harus makan makanan yang bergizi bukan mie instan" jelas Farid menahan emosinya untuk tidak berteriak.


"Tapi aku gak mau makan yang lain selain itu titik!" Farid menarik nafasnya dalam dalam berusaha menetralkan emosinya.


"Akira dengar, baby butuh asupan yang bergizi kamu tega kasih dia makanan yang gak bergizi?" Akira nampak berpikir dengan wajah cemberut."Kan anak kamu yang minta! Sekali aja gak apa - apa kan?" ucapnya dengan bibir yang mencebik kesal.


"Tapi yang kamu minta itu, selain instan juga terlalu pedas nanti boy kepanasan didalem perut kamu gimana? ucap Farid ngawur.


"Ck, nyatanya semalem boy gak panas kok aku makan bakso pakai sambel lima sendok" sahutnya tetap ngeyel.


"Kamu minta yang lain aja deh aku turutin asal jangan makan itu aja Ra" bujuk Farid dengan nada suara seperti akan menyerah.


"Yaudah, aku mau mie ayam aja kalau gitu" ucap Akira pasrah dan ditanggapi helaan nafas lega dari Farid.


"Nah gitu dong, ntar biar bibi dapur yang buatin ka-"


"No!" pekik Akira sambil memajukan telunjuknya diwajah Farid dan menggerakan ke kanan dan ke kiri. "Maunya mie ayamnya mang Udin yang jualan dideket rumah aku"


Farid menganga tak percaya dengan ucapan Akira barusan. " Kenapa? Kamu gak mau turutin? Permintaanku berat banget?" tanya Akira was - was. Farid menggeleng pelan, " Enggak kok enggak iya aku bakal beliin sebentar aku ambil kunci mobil dulu" ucap Farid dan beranjak pergi dari meja makan.


"Ih mau kemana, suruh supir kamu aja atau pengawal kamu, kamu disini aja sama aku, masih gerimis luar" cerocos Akira yang mana mampu melegakan perasaan Farid. Setidaknya ini tidak terlalu kejam karna ia bisa menyuruh bawahannya.


.


.


.


Bahkan makan mie ayam tadipun, ia minta disuapi oleh Farid.


"Emm aku boleh gak besok pergi ke baby shop? tanya Akira dengan mendongakan kepalanya agar bisa menghadap wajah suaminya.


Farid memilih mengelus kepala Akira dibandingkan harus merenggangkan pelukannya pada istrinya untuk menatapnya.


"Mau apa kan belum tau kelamin bayinya, terus kamu gimana milih belanjaannya?"


Akira berdecak tak setuju dan melepaskan dirinya dari pelukan Farid.


"Ih kamu aneh padahal kamu yang suka panggil dia baby boy" cibir Akira yang membuat Farid tertawa geli.


"Okey, kamu bisa pergi tapi jangan sendiri ya"


Akira membelalak senang mendengarnya.


"Boleh aku ajak Tina? Boleh ya?" pintanya dengan tatapan memohon.


"Yaudah, tapi hati - hati jangan terlalu lama, nanti kamu capek"


"Yes! Thankyou!" pekik Akira lalu mengecup pipi Farid singkat. Farid terdiam mendapat kecupan di pipinya, ia memperhatikan Akira yang dengan semangatnya tersenyum bahagia dan bersiap menghubungi sahabatnya untuk pergi bersama.


Bolehkah aku mencintaimu sekarang Akira? batinnya bertanya - tanya.


Saat sedang serius memperhatikan Akira tiba - tiba suara Wisnu membuyarkan acara batin membatinnya.


"Maaf Tuan menganggu, didepan ada Nyonya bolehkah saya mengizinkannya masuk?"


"Ada saya disini, biarkan dia masuk!" titahnya. Akira yang mendengar percakapan mereka langsung berubah raut wajahnya jadi tegang.


Tampaklah wanita paruh baya yang berjalan menghampiri mereka dan mendudukan dirinya di sofa single sebelah mereka.


"Farid! Kamu apa - apaan sih, Mama ini ibu kandung kamu, masa mau masuk ke rumah anak sendiri aja susah ditahan - tahan kaya tadi apa coba maksudnya?!" celoteh Mama tanpa jeda.


"Udahlah Ma, gak perlu ribut Mama ada apa kesini?"


"Apa Mama butuh alasan buat ketemu anak sendiri? Tadi Mama ke kantor tapi Gio bilang kamu gak masuk, kenapa?"


"Akira minta ditemenin Ma, dia lagi hamil jadi suka manja gitu" jawab Farid tenang.


Mama melirik tak suka ke arah Akira.


"Nah ini nih yang saya gak suka, kamu itu bawa pengaruh buruk buat anak saya, suami kerja malah dilarang gak bener kamu itu" cecar Mama tak suka.


"Ma! Apaan sih, ini yang aku enggak suka dari Mama sampai harus suruh penjaga gak biarin Mama masuk kalau aku gak ada" sahut Farid kesal.


Mama mendengus kesal dan melirik tajam ke arah Akira "Pokoknya, Mama mau bicara sama kamu!" ucap Mama sambil menyeret Farid ke ruang kerjanya.


Akira hanya menatap khawatir ke arah suami dan mertuanya. Entah hal menyakitkan apa yang akan terjadi karna mertuanya.


Kira - kira Mama Farid mau bicara apa ya?


penasaran gak sih guys? Kalau penasaran


jangan lupa vote, like and comment


Terimakasih😊🌻


Happy Reading ya guys!