
Berulang kali aku meyakinkan diri ini untuk berhenti mencintai yang tidak bisa mencintai diriku - Akira Shafeena Malik.
Matahari bersinar dengan cerahnya siang ini,membuat siapapun enggan untuk keluar rumah. Namun, tidak untuk Akira ia harus tetap keluar rumah walaupun cuaca panas setelah pekerjaannya selesai ia harus pergi ke kantor Farid.
Entah apa yang merasuki pria itu, ia menghubungi Akira dan memintanya membawakan makan siang.
Akira dengan senang hati menyiapkannya ia pikir ini sesuatu yang baik, sejak remaja ia memimpikan hal ini menjadi istri yang baik,membawakan makan siang, menyiapkan sarapan, dan segalanya yang menjadi tugasnya.
Dengan tanpa bantuan pegawainya ia menyiapkan beberapa jenis makanan untuk suaminya langsung di Home's Food.
Ia ingin memasaknya secara khusus karna ini pertama kalinya.
"Siap!" ucapnya senang setelah semua makanan telah siap.
Dengan senang ia melangkah keluar untuk mengambil kendaraannya. Namun, tanpa ia sangka Gio sudah ada didepan Restaurant menunggunya.
"Loh,kamu kok disini" tanyanya bingung.
" Saya ditugaskan untuk mengantar anda, Nona "
" Emm, kenapa tidak sekalian kamu bawa saja nih aku pulang saja" ucap Akira sambil menyerahkan kotak makannya.
" Tidak Nona, Tuan ingin anda langsung yang membawakan nya"
" Tapi - "
"Saya harap anda tidak melawan tuan"
" Ya baiklah baiklah"
Akhirnya Akira memilih ikut Gio yang menjemputnya ia mencibir Farid yang menyuruhnya mengantar makan siang tapi malah menyuruh Gio menjemputnya, itu sih namanya bukan mengantar tapi menjemput makan siang.
Ya, begitulah pikiran Akira yang kadang sulit dimengerti.
" Mari Nona, saya antarkan ke ruangan tuan"
tawar Gio.
" Emm,tidak usah aku sendiri saja" tolak Akira.
"Kalau begitu saya undur diri" pamit Gio datar seperti biasa.
Akira mengangguk pelan sebagai jawaban.
Lalu,segera dia menaiki lift menuju lantai teratas gedung ini.
Saat ia mau menutup lift ia seperti melihat seorang yang ia kenal.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan memanggil orang itu.
" Risa !"
"Akira,ngapain disini?"
" Harusnya aku yang nanya kamu ngapain, kamu gak urus toko kue bunda kamu emangnya?"
"Huh! Aku lupa cerita aku disuruh kerja disini sama kakakku, nyebelin deh itu orang katanya biar aku ada pengalaman" jelas Risa dengan wajah kesal.
"Oh, kalau biar ada pengalaman mah gak papa Sa, terima aja" sahut Akira tersenyum hangat.
" Ya,untung keterima disini "
" Iya, yaudah aku mau temuin Farid dulu, semangat Sa!" ucap Akira menyemangati yang dibalas senyum cerah dari sahabatnya.
Ia segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi,yaitu menuju ruangan suaminya.
Setelah sampai, ia bertanya pada sekertaris yang berjaga didepan ruangan suaminya.
" Emm, Farid ada?" tanyanya to the point.
" Ada nona,tapi-"
" Okey,terimakasih aku masuk dulu" sahut Akira tanpa mendengar kelanjutan kata - kata sekertaris itu.
Tok Tok
" Mas, aku masuk ya"
Akira dengan percaya diri membuka pintu ruangan tanpa menunggu jawaban dari si pemilik ruangan.
Ia bersiap menuju ke meja Farid. Namun, sesuatu yang tertangkap matanya menahan kakinya untuk melangkah lebih jauh.
Ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
Suaminya dan Rayrin sedang bermesraan dengan gadis itu berada dipangkuan Farid dan sedang asyik berciuman.
Sejenak, ia terkejut dan berpikir apa dua manusia itu tak tau kehadirannya? Apa se- terlena itu mereka?
Rasanya ia ingin berlari pergi tapi ia juga ingin menangkap basah mereka.
Jadilah, ia tetap disana menetralkan rasa sakit juga cemburu yang hinggap dihatinya agar jangan sampai menghasilkan air mata.
Dengan tenang, ia melangkah mendekat dan berubah dengan suara yang ia buat setenang dan setegar mungkin, juga bibir yang ia buat tersenyum senatural mungkin.
" Woaa, Mas Farid?" pekiknya. Bukan dengan nada kecewa,tapi dengan nada suara yang ia buat se-antusias mungkin.
Farid yang mulai menangkap suara istrinya dengan cekatan mendorong Rayrin dari pangkuannya.
" Akira kamu-"
" Ih keren akhirnya kamu buktiin kamu bukan gay!" pekiknya senang dengan senyum yang mengembang.
Farid dan Rayrin heran dengan respon Akira yang menurut mereka sangat aneh dan tak masuk akal.
Mereka menatap Akira lekat.
" Mas, jangan liatin aku gitu dong maaf ya ganggu, aku cuma mau bawain pesenan kamu aja kok" ujarnya memelas seperti takut dimarahi.
Lalu segera meletakan kotak makannya dimeja Farid.
" Yaudah, gitu aja aku pergi dulu,lanjutkan!" ujar Akira dengan nada menggoda dan mengedipkan sebelah matanya.
Setalah itu, dengan buru - buru ia keluar dari sana dengan air mata yang menggenang dan mulai menutupi pandangan.
Gio yang menyadari Akira telah keluar segera menawarkan diri untuk mengantar pulang. Namun, Akira menolaknya ia beralasan sudah dijemput oleh Via, dan berlari menjauh ia pulang dengan berjalan kaki.
" Huh! Apaan ini aku menangis yang benar saja, sudah lama aku tak merasa sakit hati karna seorang pria" gumamnya dengan tersenyum miris.
Tak lama ia merasa aneh karna sinar matahari mulai meredup, dengan sigap ia mendongakan kepala.
Mau ujan kali ya? batinnya.
Namun, karna ia merasa mendung belum tentu hujan apalagi tadi cuaca sangat panas, jadi ia tetap berjalan dengan santai agar bisa menenangkan pikirannya.
Tapi alam tak sejalan dengan pikirannya, hujan turun tanpa perkiraan dengan derasnya dan dengan angin yang cukup kencang membuat jalanan yang ia lalui jadi sangat sepi dan gelap.
Ini ceritanya si hujan mau nemenin aku bersedih gitu ya candanya dalam hati.
" Aduh ! Apaan si gak boleh gitu dong dia kan memang pacarnya Farid sedang aku cuma istri sementara, sadar Akira sadar! Malah cemburu lagi gak tau diri itu namanya!" jeritnya lalu menghentak- hentakan kakinya pada aspal jalan.
Ini kapan si sampai rumahnya, ntar kalau hujannya reda kan malu,akunya basah kuyup begini gumamnya kesal dalam hati.
Karena ia merasa sudah cukup lama berjalan.
Akira mendengar deru suara mobil mendekat tapi ia berpikir itu hanya halusinasinya saja karna terlalu sedih di tambah suara air hujan.
Sebelum akhirnya...
" Akira, hey Akira! " panggil seseorang dari dalam mobil.
Akira yang merasa ragu lama kelamaan yakin bila ada yang memanggilnya tapi siapa? Karna penasaran ia menengok ke belakang.
Alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang memanggilnya.
" Valen?"
" Iya, kamu ngapain hujan-hujanan?"
tanya Valen dengan nada penasaran.
" Emm,pengen aja" jawabnya sekenanya.
" Kamu tuh ya udah dewasa masih suka main hujan, aku anterin pulang mau? daripada kehujanan terus"
"Ngg..nggak usah Val,aku jalan aja"
"Ck, udah ayo masuk ntar kamu sakit loh kelamaan kena hujan mana ini jalan sepi lagi, buruan"
Dengan langkah ragu akhirnya Akira mau diantar Valen sampai ke rumah.
" Terimakasih ya, jadi ngrepotin" ucap Akira kikuk.
"Nggak papa, ternyata kamu masih aja gemesin kaya dulu suka main hujan" ucap Valen tersenyum lalu mencubit pipi chubby Akira dari jendela mobil karna Akira sudah lebih dulu keluar.
" Ehm iya ,yaudah sekali lagi terimakasih "
" Iya,yaudah sana masuk aku pulang" pamit Valen dengan mengacak rambut Akira pelan dan segera melesat pergi.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam dari jendela atas,dengan rahang mengeras dan gigi menggretak.
' Beraninya dia menyentuh milikku' gumamnya.
Akira merasa aneh karna dulu saja setelah putus Valen berusaha menjauhinya, tapi kenapa sekarang jadi begini.
Ah, yasudahlah mungkin cuma perhatian sebagai kawan,dulu kan kami memang teman dekat pikir Akira.
Segera ia memasuki rumah dan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya tapi saat baru memasuki kamar ia terhenyak mendapati kehadiran Farid yang dengan tenangnya menduduki sofa.
Akira berpikir untuk menghindar dan segera memasuki kamar mandi.
" Mau menjelaskan sesuatu Nona?" ucap Farid dingin yang segera menghentikan langkah kaki Akira.
" Apa maksudnya?" sahut Akira bingung lalu membalikan tubuhnya menghadap Farid.
" Darimana saja kau?"
" Kamu tau sendiri Mas, aku habis dari kantor kamu" jawabnya berusaha tenang.
" Oh ya? Lalu kenapa aku lebih dulu sampai"
" Itu, emm itu karna" Akira bingung mau menjawab apa tidak mungkin ia menjawab habis meratapi nasib dibawah guyuran air hujan.
" Jawab cepat! " bentak Farid mengagetkan Akira.
" Ak- aku aku sebenarnya tadi, aku"
" Biar aku tebak, kau habis berkencan dengan mantan mu ? Apa aku benar?" tebak Farid dengan menaikan sebelah alisnya.
" Aku itu tadi kehujanan,bukan berkencan" elak Akira.
" Bohong!"
" Nggak! Aku gak bohong, lihatlah baju ku basah !" pekik Akira mulai kesal.
Farid melirik pakaian Akira dan benar pakaian nya basah.
" Lalu, apa yang kau lakukan dengan pria itu hm?!"
"Apa saja..kau tak perlu tau" ujar Akira kesal dan segera menjauh.
Namun,langkah nya terhenti kala tangannya ditarik palsa oleh Farid hingga membuatnya menghadap pria itu.
" Beraninya kau !" lirih Farid dengan suara yang terdengar tajam dan mata yang mulai melotot tajam membuat Akira merasa terancam. Jantungnya berdebar karna takut.
" Katakan! Atau kau tau akibatnya gadis nakal" sambungnya dengan seringainya.
" Memangnya apa perduli mu, dia kan hanya mengantar aku pulang bukan menciumku seperti wanita itu menciummu !" pekik Akira dengan emosi yang meluap.
" Jadi kau cemburu?" tanya Farid dengan mata menyelidik.
" Ti- tidak ! Justru aku senang itu artinya kau bukan gay kan" ujar Akira memaksakan untuk tersenyum.
" Kau bilang aku apa barusan?Gay?"
" I-iya karna - "
" Kau akan tau aku gay atau bukan setelah ini" bisik Farid dengan mengeratkan cekalannya dipergelangan tangan Akira.
Dan mendekatkan wajahnya membuat jantung Akira semakin berdegup kencang.
"Aku sudah tau, tadi kau sudah menunjukannya dengan Ray-" sanggah Akira, namun terpotong karna Farid membungkam bibirnya tanpa ampun.
"Akan aku tunjukan padamu,kau milikku dan tidak ada yang boleh menyentuh milikku kecuali aku" ucap Farid diatas bibir Akira.
Akira tercengang mendengar penuturan pria itu, ia merasa tersakiti dengan kata-katanya.
Farid terus mencumbu Akira tanpa ampun,tanpa memperdulikan keadaan gadis itu yang telah menangis akan perbuatannya.
Farid menjatuhkan Akira ke atas tempat tidur,menguasai gadis itu dan mengunci pergerakannya.
Akira hanya bisa pasrah menerima perlakuan suaminya ia sudah tak bisa melawan lagi, ia hanya bisa mendesah pasrah saat tangan Farid menelusuri kulitnya yang halus dan meninggalkan tanda kepemilikan disetiap inci kulitnya.
Dan terjadilah penyatuan diantara mereka yang dipenuhi emosi dan rasa cemburu, di iringi rintikan air hujan dan hembusan angin sore, seakan berusaha menetralkan hawa panas yang mereka ciptakan.
Yah dan begitulah adegannya
Karna author tak sanggup mengetik adegan seperti itu tapi sanggup kalau baca yang begitu wkwk.
Yasudahlah jangan lupa vote, like and comment!
Semoga kalian menikmati ceritanya☺.