Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Asal Muasal Rumah Akira



Besoknya, Akira tampak membawa kopernya menuruni tangga, lalu menghampiri Ariana yang sedang menyuapi Leo sambil menonton televisi.


"Loh, mau kemana kok bawa-bawa koper?" tanya Ariana dengan ekspresi kebingungan mengamati adik iparnya.


"Mau pulang." senyum Ariana terbit saat mendengar Akira mau pulang, sudah jelas akan pulang ke rumah suaminya, bukan?


"Syukurlah, kalau udah akur sama suami marah lama-lama, enggak bagus." ucap Ariana dengan tangan yang menyendok nasi dan potongan ikan untuk di suapkan ke anaknya.


"Bukan ke rumah Farid lah kak." celetuk Akira tiba-tiba.


"La terus mau pulang kemana? Ayah belum sampai tujuh hari juga lo dek." kata Ariana mulai khawatir.


"Pulang ke rumah aku lah."


"Memang kamu punya rumah?" tanya Mattheo yang datang dari arah dapur.


"Punya, di daerah ujung kota deket pantai." sahutnya dengan santai.


"What? Jangan bilang di pedalaman kamu tinggalnya?" kaget Mattheo.


"Ya enggak lah kak, walaupun susah sinyal disana tuh asik, rumah aku ada di atas tebing, nggak tinggi sih cuma kaya agak nanjak gitu." jelasnya dengan merinci.


"Oh pantesan, restoran rame tapi cabangnya dikit, duitnya kamu korup buat bikin rumah?" tebak Mattheo sambil menjewer telinga Akira.


"Aduh kak, lebay banget si gak usah njewer juga kali." protesnya yang membuat Mattheo berhenti menjewer telinganya.


"Yah..main ikut tante, Leo mau ke pantai, disana pasti ada lumba-lumba." celetuk Leo yang sejak tadi ternyata menyimak pembicaraan para orang dewasa di dekatnya.


Balita bermata bulat dengan kulit putih dan pipi gembilnya terlihat sangat menggemaskan. Leo itu sangat pintar di usia empat tahun ia sudah sangat lancar dan pandai berbicara sampai orang tuanya kewalahan bagaimana menjawab segala pertanyaan aneh balita tersebut.


"Hmm, ayuk temenin tante disana." jawab Akira antusias.


"Nggak, gak ada yang boleh kesana, gimana kalian mau hidup." tegas Mattheo.


"Ah,lebay, disana aku banyak tetangga nelayan, terus kalau mau makan sayur tinggal ke RT sebelah yang bukan area pantai, disana pas di timur pantai area perbukitan dan pedesaan,aku juga punya banyak teman ibu-ibu gosip disana." dengus Akira sembari menjelaskan hidupnya disana.


"Nggak boleh tetap gak boleh."


"Ih kakak seneng ya, kalau Farid ntar gampang nemuin aku." lagi-lagi ia mendengus kesal mendengar larangan sang kakak.


"Oke, kamu boleh deh kesana tapi lusa,nunggu tujuh hari sepeninggal ayah, kakak ikut sama kak Ana dan Leo, sekalian liburan dan mau tau rumah kamu yang di umpetin itu." putus Mattheo yang mendapat reaksi kesenangan dari Leo dan Akira.


Akhirnya, lusa yang di janjikan datang mereka segera pergi ke rumah Akira yang mungkin lebih pantas di sebut sebagai villa.


"Ampun.. Akira, ini rumah kamu?" Ariana nampak terkagum-kagum melihat rumah iparnya.


"Nggak terlalu besar, standar tapi keliatan mewah banget." komentar Mattheo.


"Ini sih udah bagus banget Mas, liat aja pintu kaca di sebelah yang langsung ngadep pembatas laut." balas Ariana pada suaminya.


"Mahal dek?" tanya Mattheo.


"Lumayan, kan aku musti dapetin tanahnya juga, susah lagi, karena ya ini kan pinggiran laut jadi agak susah gitu ya, banyak yang mau jadiin ini buat bikin villa juga."


"Wajar lah, pemandangannya bagus gini." balas Mattheo.


"Woaaa, ayah lautnya bagus banget." teriak Leo berlarian ke halaman belakang.


"Ini unik deh, pintunya di samping langsung ke halaman samping yang ngadep laut tapi juga langsung ke halaman belakang juga yang ngadep bukit-bukit." komentar Ariana takjub.


"Hehe, iyalah siapa dulu yang ngatur." bangganya pada diri sendiri.


"Abis berapa dek?" tanya Mattheo penasaran.


"Banyak kak..."


"Banyaknya berapa? Ratusan?"


"Miliaran." sahut Akira yang mengagetkan kedua kakaknya.


"Duit dari mana kamu dek?!"


"Penghasilan aku lah kak, di tambah mas kawin pernikahan aku dari Farid kan banyak jumlahnya." jelas Akira karena memang Farid memberikan mahar yang cukup banyak untuk meminangnya saat itu sebagai bukti bahwa ia menepati kata-katanya untuk memberikan apapun agar Akira mau menjadi istri sementaranya.


Huft...mendadak dadanya sesak mengingat itu, tidak ada rasa cinta sama sekali yang berkesan sebagai niat menikahinya.


"Awalnya aku beli tanah ini, gak sampai seribu meter sih, cuma karena jadi rebutan agak mahal, penuh perjuangan aku dapat ini tempat." katanya penuh kebanggaan sedangkan kedua kakaknya mendengar penjelasan adiknya karena sangat amat penasaran.


"Aku gak langsung bangun rumah ini karena aku hampir kehabisan uang waktu itu buat beli tanah ini aja abis banyak."


"Mahal banget, ini kan gak terlalu luas---luas banget." komentar Ariana.


"Tempatnya kak.. ini kalau dijual lagi bisa kaya aku."


"Terus tahun depannya lagi, aku mulai pembangunan, eh kehabisan duit aku berhenti sampai akhirnya, Farid nikahin aku kasih mahar gede ya aku pake deh."


"Oh..pantes usaha laris manis tapi gak ada wujudnya ternyata lari kesini toh.." cibir Mattheo sembari mengamati rumah adiknya yang memang keren walau tidak terlalu besar.


Mereka begitu menikmati pemandangan disana, terutama Leo yang sangat senang bermain bersama Akira di pinggir pantai, membeli seafood ke nelayan sampai ke warung Mak Atik.


Sedangkan, Farid setelah dua hari mencari cara untuk mengembalikan Akira ke pelukannya malah di hadapkan dengan kenyataan bahwa Akira pergi bersama keluarganya dari rumah.


Ia menemukan rumah keluarga Akira kosong tak berpenghuni.


Ia merogoh saku di balik jasnya mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Akira, tapi hanya suara dari operator yang menyatakan bahwa nomor wanita itu tidak aktif.


Ia berusaha menerka-nerka kemana perginya Akira. Mungkinkah, kembali ke rumah rahasianya itu lagi?


Ia mendial nomor Gio, sekertarisnya itu sudah kembali dari Amerika dan mulai melayani Farid lagi seperti biasa.


"Sergio, kerahkan anak buahmu untuk mengawasi keadaan rumah istriku dan laporkan padaku secara mendetail."


"Rumah yang mana, Tuan?"


"Ck, rumah yang dia pakai untuk kabur itu, cepatlah!" makinya dengan suara menggeram.


"Baik--"


Farid memutus sambungan secara sepihak sebelum Gio menyelesaikan ucapannya.


Di sana di ruangannya Gio menggerutu dalam hatinya, "Ya Tuhan, kalau bukan bos, kalau bukan teman dari lama sudah aku acak-acak wajahnya."


Farid berhenti sebentar di sebuah kedai yang menyediakan makanan ringan dan minuman yang biasa di datangi oleh remaja. Tapi dia kan bukan remaja lagi? Ah, biarlah keburu lapar dan haus, ia juga butuh tenaga untuk mengejar istri nakalnya itu.


Setelah, memesan satu cokelat panas dan strawberry cheese cake ia menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang terletak di pojok ruangan di dekat jendela kaca yang memperlihatkan aktivitas luar.


"Silahkan, pesanannya Tuan." ucap ramah seorang wanita mengantarkan pesanannya.


"Terimakasih." balasnya cuek.


"Tunggu, kamu suaminya Akira kan?" tanya wanita itu dengan raut wajah serius.


"Iya." jawabnya cuek. Wah, Farid ini memang suka begitu kalau dengan orang asing. Cuma masalahnya yang bicara dengannya sebenarnya bukanlah orang asing.


"Akiranya mana? Biasanya dia langganan disini, nggak ikut?" tanya wanita itu antusias seperti tidak menyadari bahwa Farid bersikap cuek sejak tadi.


"Anda siapa?"


Farid keheranan, kenapa wanita ini sangat ingin tau tentang Akira.


"Azza, temen Akira, teman kamu juga harusnya, kan kita dulu satu ekstrakurikuler."


Farid menautkan kedua alisnya, ia mencoba mengingat-ingat. Azza, yang menyadari bahwa lelaki di hadapannya tidak mengingat dirinya langsung menyahut.


"Ah, kamu juga pasti gak ingat kan kalau Akira satu ekstrakurikuler sama kamu, terlalu cuek dan dingin, tipe dia banget." cerocos Azza.


"Lagian siapa yang gak ingat perempuan yang nuduh saya gay lalu mendadak bilang menyukai saya, itu mustahil karena terlalu unik dan gila, tapi saya gak ingat kamu." jelas Farid.


"Astaga, padahal aku datang ke pernikahan kalian sama Valen." terang Azza mencoba memberi petunjuk dengan membawa nama Valen.


"Ohh.. pacarnya Valen yang buat Akira cemburu."


"Apa?!" kejut wanita itu.


Ups, Farid keceplosan.


"Enggak, saya salah bicara." timpalnya dengan wajah senormal mungkin, ini juga kenapa si tumben mulut jadi kaya Akira suka bocor, kalau dia tau Akira cemburu, turun juga harga diriku sebagai suaminya, pikir Farid.


"Hey, Far! Tumben kesini!" sapa Valen yang baru datang dan menemukan kekasihnya bersama temannya sedang berbincang dan langsung ikut menimbrung duduk di seberang Farid.


Farid tersenyum samar menanggapi sapaan Valen. Ughh, dasar Farid, manusia bukan sih.


"Sendiri? Akira dimana, biasanya dia suka nongkrong disini kalau lagi sendiri."


"Oh ya? Kesini sendiri, gak pernah dengan teman-temannya?"


Valen menggeleng yakin, "Paling sama keponakannya kalau kesini, seringnya sendiri." terang Valen.


"Apa yang dia lakukan disini?"


"Makanlah, yakali belanja." seloroh Valen, Farid mendengus tak sabar dan memasang wajah serius.


"Woo...santai dong, biasanya dia cuma kesini ngemil soalnya suka banget sama menu disini walaupun menurut perasa dia makanan disini kurang oke rasanya."


Katanya makanan disini kurang oke, kok sering nongkrong disini, jangan-jangan dia modus nih sama mantan, batin Farid.


"Iya sih, rasanya kalau di bandingkan dengan buatan Akira dan menu di tempat milik Akira memang jauh beda." kritik Farid tanpa ragu,sembari mengunyah cake yang baru ia masukan ke mulutnya.


"Yah, wajar kami baru merintis sedangkan Akira sebelum usaha sudah jago duluan masaknya." sahut Azza ikut nimbrung.


"Beruntung kamu dapet istri cantik,manis dan pintar masak kaya Akira." lanjutnya.


"Dan pacar kamu harusnya nyesel sudah meninggalkan wanita sempurna seperti istri saya." balasnya dingin yang membuat suasana disana menjadi mencekam.


"Tapi gak masalah, saya bersyukur karena pacar kamu membuangnya, jadi saya bisa memiliki hal terhebat dengan memilikinya." ujarnya sombong, yang pasti membuat hati dua manusia di hadapannya jadi tersentil.


Woy, Farid sadar dong! Kamu bahkan sedang merasakan rasanya menyesal menyia-nyiakan Akira.


Gila sih ini, Farid gak inget deh kayanya kalau Valen masih temannya. Asal njeplak aja itu mulut.


Yaudah deh gini aja, dapet komentar lebih dari biasanya aja udah wow.


Thanks, buat yang selalu dukung karya aku dengan selalu like,komen,dan vote.


Semoga dibalas kebaikannya sama Allah.😉