
Rasanya sangat bahagia hidup bersama pria yang ia cintai, ia tidak akan perduli dengan gangguan Rayrin, ia akan tetap bersama suaminya apapun yang terjadi, sebesar itu Akira mencintai Farid bahkan tanpa batas.
Meski tiada kata cinta terucap tapi ia percaya Farid tak akan ingkar dengan kalimatnya tentang sudah melupakan Rayrin dan hanya menginginkan dirinya sebagai istri juga ibu untuk anaknya, mengingat selicik apa wanita yang juga masa lalu Farid itu. Bedanya, Akira tulus dan Rayrin hanya mengincar status dan kekuasaan.
Bagi Akira cintanya cukup untuk mereka berdua, bodoh? Memang! Bahkan saat ini para sahabatnya menceramahinya mati - matian untuk segera meninggalkan suaminya.
"Ra, dari cerita tadi gue simpulkan bahwa lo lebih baik cerai!" tegas Zia sembari menunjuk - nunjuk permukaan meja ruang tamu rumahnya, tempat mereka berkumpul, rumah Zia.
Akira memejamkan matanya samar dan menggeleng tak setuju.
"Ra, gue setuju banget, kayanya emang si Farid itu masih ada main sama si nenek grandong itu" pekik Tina yang emosi setelah mendengar curhatan Akira.
Akira menganggap mereka seperti keluarga, bahkan mereka lebih mengerti dirinya ketimbang keluarganya sendiri, jelas tanpa ragu ia bercerita.
"Nggak bisa gitu dong guys, kalian tau secinta apa gue sama Farid, sudah tujuh tahun, dan gue dapat kesempatan milikin dia, gue gak mau lepasin dia meski sesakit apapun itu!"
"Bodoh! Lo bodoh tau Ra! Meskipun dia sepupu gue sekalipun gue tetap gak membenarkan ini semua!" tolak Zia tak sependapat.
"Yup! Toh, dia gak pernah bilang cinta sama lo!" sahut Viara ikut menimbrung yang diikuti anggukan kepala Risa.
"Mama dia aja benci kan sama lo, lebih baik lo tinggalin dia aja, jangan sampai lo yang ditinggal duluan" sahut Risa.
"Ra, kalau cuma masalah anak lo, kita bisa bantu asuh dia, soal pasangan lo gak kekurangan cowok, Rangga, Deanno, atau siapapun itu banyak yang menginginkan lo lebih dari suami lo sendiri" jelas Zia menggebu - gebu. Jelas Zia, tak terima sahabatnya yang sudah ia anggap seperti saudara hidup dengan lelaki yang ada dalam bayang - bayang wanita lain. Bahkan menerima gangguan dari wanita itu sendiri.
"Guys, gue masih sanggup bertahan dan hadapin ancaman Rayrin, yang pasti gue percaya Farid-"
"Lo gak bisa percaya dia gitu aja! Setelah apa yang terjadi selama ini!" teriak Viara, Viara yang biasanya tenang dan sabar kini berteriak.
"Vi, calm down " ujar Risa memperingati.
"Gimana gue bisa tenang Sa, ini anak gak bisa dikasih pengertian padahal dulu dia selalu kasih gue nasihat tentang cinta dan berhasil buat gue move on tapi dia sendiri? Liat, malah lebih bodoh dari gue" cerocos Viara dengan napas tersengal karena emosi.
"Inget Ra, secuek apa dia dulu yang gak pernah anggap lo ada, kemana harga diri lo yang selama ini lo junjung tinggi hai seorang Akira?" sambung Viara kini dengan suara merendah.
"Kami rasa, ninggalin Farid itu jalan terbaik buat lo, berada disamping dia terlalu buruk dan menyakitkan Ra" ujar Tina menimpali.
"Bukannya gak pernah dihargai, tidak disukai mertua, diancam pacar suami sudah bisa jadi alasan yang cukup untuk pisah?" tukas Zia bersemangat, karena mungkin saja ia bisa menjadi pengacara sang sahabat dipengadilan jika mereka benar-benar bercerai. Ia akan membela sahabatnya mati - matian itu pasti.
"No guys! Terimakasih atas segala perhatian kalian semua gue sangat menghargai itu, tapi Trust Me! Cintaku saja, cukup untuk kami berdua dan anak kami, sorry guys" ucap Akira final.
Mereka selaku sahabatnya hanya bisa menatap Akira tak percaya,jika itu menyangkut tentang perasaan mereka akan kalah debat dengan Akira. Akira selalu mempertahankan hatinya.
"Permisi, saya ingin membawa istri saya pulang" sapa seseorang diambang pintu masuk rumah Zia, yang disambut dengan tatapan tak bersahabat dari teman - teman Akira, berbeda dengan mereka,
Akira tersenyum mendapati sang suami menjemputnya.
"Aku pulang ya!" pamitnya pada para sahabatnya, yang dibalas oleh senyuman dari empat manusia itu.
"Ngobrolin apa aja kok kelihatannya tadi tegang sekali?" tanya Farid sembari menatap Akira penuh tanya.
"Apaaa ajaa" jawab Akira jahil, agar membuat suaminya penasaran.
"Wah, berani merahasiakan sesuatu dariku ya, siap aku hukum?"
"Hukum?" tanya Akira pura-pura takut.
"Iya, hukum karna sudah main rahasia sama suami sendiri"
"Aaa mau dong dihukum kamu" sahut Akira memekik manja, membuat Farid tercengang.
Tanpa basa - basi Farid langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Akira, menyesap rasa manis yang terkandung dibibir istrinya. Sedangkan Akira terdiam, tidak menyangka Farid benar - benar melancarkan aksi hukumannya itu.
Ingat bahwa ada Gio yang sedang menyetir ia langsung mendorong dada bidang suaminya.
"Lepas, mas masih ada Gio disini" protes Akira.
"Kan kamu sendiri yang bilang mau dihukum, iya kan?" tanya Farid dengan seringai menggoda.
"Ya gak gitu juga kali!" pekik Akira mencebikan bibirnya, yang dihadiahi cubitan dipipinya oleh Farid.
.
.
.
Akira menatap dirinya dicermin rias, mengambil hair dryer dan menyalakannya lalu dikeringkanlah rambutnya yang basah sehabis mandi sore.
Dengan santai ia menyisir rambutnya setelah dirasa sudah cukup kering, mengabaikan dering ponselnya yang sejak tadi berbunyi nyaring.
Sudah biasa ia tebak siapa yang menghubunginya berkali - kali.
Merasa risih dengan suara ponsel yang terus menerus berdering dengan terpaksa ia mengangkat telepon dari Rayrin.
"Aku sibuk, jangan ganggu aku lagi!" bentaknya langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Namun, urung karna suara Rayrin mengeluarkan ucapan yang membuatnya urung menutup telepon.
"Tunggu! Mau dengar sesuatu? Tentang kita bertiga? Bagaimana?"
"Tidak, jangan buang waktuku hanya untuk omong kosongmu!"
"Sialan! Angkuh sekali kau gadis liar tak tau aturan! Baiklah to the point saja, tinggalkan Farid saat ini juga atau kau tahu sendiri akibatnya!" bentak Rayrin kesal karna sejak tadi Akira menanggapinya dengan tidak mengenakan.
"Aku tidak takut! Aku percaya suamiku bukan dirimu yang pembohong!" sergah Akira tajam.
"Sialan kau, tinggalkan atau-"
"Tidak, sudah aku bilang tidak ya tidak! Aku dengan susah payah bisa bersamanya, aku tak akan menyiakan dirinya seperti kau menyiakannya!"
Rayrin semakin geram dengan balasan Akira dari seberang telepon.
"Okey, baik! Tunggu saja tanggal mainnya Akira!" ucap Rayrin lalu menutup telepon, yang membuat Akira lega karenanya.
Tenang Akira, tidak perlu takut dengan ancaman Rayrin demi cintamu dan anakmu, okey! Aku tidak takut Farid ada disisiku sekarang! ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Pendek dulu ya sehari gak up ternyata buat author lupa konsep ceritanya wkwk
Padahal udah direncanain mateng mateng
Terpaksa bikin alur baru yang mungkin akan memperlambat jalannya cerita dan datangnya konflik.
Soalnya author lagi pengen Akira sama Farid romantis- romantisan dulu hehe
Vote, Like, Comment nya ayoo jangan lupa
Vote nya dong, biar dapat ranking
kek gini berasa gak pantes dilanjut ceritanya 😴ðŸ˜